Alasan Dia Pergi

The reason why God allowed him to walk away is because you prayed for a good man, and he wasn’t.”

IMG-20160504-WA0006

Kutipan tersebut pernah dikirimkan salah satu teman ketika saya patah hati. (Ceilee, Alhamdulillah pernah patah hati jugaaa, hahaha). Awalnya sih berasa terhibur banget. Jadi lebih menerima takdir yang emang nggak selamanya sesuai dengan apa yang kita inginkan. Jadi berasa lebih ikhlas dan plong juga melepaskan seseorang yang bisa jadi memang tidak pernah tertulis untuk kita.

Namun, belakangan ini kutipan itu jadi cukup mengganggu saya. Terasa ada yang janggal. Pernah nggak, terpikir untuk membalik kata-kata itu untuk menampar diri kita sendiri?

The reason why God allowed him to walk away is because he prayed for a good woman, and you weren’t.

Jleb!!

Baca entri selengkapnya »

Di Balik Layar Lost in Vietnam, Ho Chi Minh I’m (Still) in Love!

Masih di Mui Ne

Saya baru saja tidur selama satu jam, ketika tiba-tiba pintu kamar kami diketuk. Jadwal keberangkatan bus adalah pukul 02.30, tapi entah kenapa seruan dari luar sana mengatakan bahwa bus sudah datang. Padahal saat itu jam masih menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Saat itu saya sempat tidak percaya dan kembali menarik selimut alias lanjutkan mimpi indah. But, ketukan semakin keras dan mulai tak sabar. Sadar akan situasi yang mendesak, akhirnya saya dan Miss A buru-buru berkemas. Beruntung barang-barang sudah rapi masuk ke dalam ransel meskipun tetap saja menyisakan beberapa barang “siap pakai” yang masih berceceran di luar. Buru-buru, saat itu saya pun tidak sempat ganti baju (apalagi dandan untuk menyamarkan muka bantal ini, hahaha) dan hanya mengenakan baju tidur yang dibalut jaket, kerudung, dan rok seadanya. Benar-benar seperti tentara yang disuruh segera apel!

Back to Ho Chi Minh (dokumen pribadi).

Back to Ho Chi Minh (dokumen pribadi).

Memalukan. Ternyata bukan bus yang datang, tetapi mobil travel yang di dalamnya sudah menunggu bule-bule yang juga akan naik bus. Rupanya, kasusnya sama seperti saat kami di Ho Chi Minh beberapa hari lalu, yaitu kami diantar terlebih dahulu ke tempat pemberangkatan bus dengan menggunakan mobil travel ini. Pantas saja mereka datang menjemput lebih cepat. Saat itu saya masih merasa kalau nyawa ini belum sepenuhnya berkumpul. Bahkan saat bus kami akhirnya datang, saya sudah tidak bernafsu lagi untuk pilih-pilih tempat tidur. (Saat awal naik sleeper bus ini kan berasa semangat banget pengen ngerasain tidur di kasur bagian atas, kkk). Begitu ada kasur kosong di bagian bawah, langsung blek, lanjut tiduuuur…

Catatan: Ini adalah tulisan tentang detail perjalanan dan pengalaman penulis yang diulas secara lengkap dan panjang lebar. Untuk referensi perjalanan secara lebih singkat, silakan kunjungi “Rangkuman Perjalanan Lost in Vietnam”😉

Baca entri selengkapnya »

Tentang Yang Pergi

“I’ve always been afraid of losing people I love, but sometimes I keep asking myself: Is there anyone who is afraid of losing me?”

Kutipan ini mungkin agak cocok dengan keadaan saat ini. Karena hari ini, lagi-lagi aku kembali menyadari, bahwa aku bakal kehilangan satu orang lagi yang cukup berarti. Kehilangan untuk terpisah akan jarak, tak lagi bisa saling sapa, bercanda, dan tertawa secara langsung, apalagi untuk sama-sama mengisi akhir pekan dengan pergi bersama.

Salah satu anugerah terindah dalam hidup adalah memiliki sahabat-sahabat baik yang saling menasehati dan menolong dalam kebaikan. Sahabat yang senantiasa mengingatkan kita akan Allah, akan akhirat, akan nikmatnya bersatu kembali di Jannah-Nya kelak. Sahabat yang membuat kita semakin baik, yang dengan bicara atau bertemu dengannya, tidak lain dan tidak bukan hanya kebaikan yang jadi tujuan. Dan jiwa-jiwa yang sehati (sama-sama baik) akan cenderung menarik jiwa-jiwa yang sejenis untuk terus bersama-sama. Maka tak heran, sahabat kita adalah cerminan diri kita.

Sayangnya, kebersamaan di dunia memang hanya sementara…

Baca entri selengkapnya »

Bercakap dengan Awan

Selama ini, aku hampir selalu memulai perjalanan di malam hari. Maka, pemandangan yang tampak di luar jendela hanya 2 macam. Gelap dan kerlip. Meski terkadang aku sempat menertawai diri sendiri, perempuan macam apa yang melakukan perjalanan keluar kota seorang diri di malam hari?

Namun, belakangan pernah kubaca bahwa Rasulullah pun lebih senang melakukan safar di malam hari. Karena banyak hikmah yang didapat, yaitu perjalanan malam cenderung lebih cepat sampai dan tidak mengganggu waktu shalat fardhu. Lantas, aku pun mulai mencari-cari cela, hingga akhirnya kutemukan dalih lain tentang keadaanku. Yaitu karena perjalanan yang kutempuh terbilang aman dan dibersamai dengan puluhan atau mungkin ratusan orang dengan tujuan yang sama, maka berharaplah aku atas keringanan dan ridho Allah untuknya.

Ya, kereta dan malam adalah dua teman baikku dalam menapaki jejak-jejak menuju tempat pulang. Namun, pembicaraan kali ini tidak berfokus ke sana. Karena saat ini, aku sedang ingin berkenalan dengan kereta dan siang. Atau mungkin lebih tepatnya, kereta dan awan.

Baca entri selengkapnya »

Di Balik Layar Lost in Vietnam, Mui Ne I’m in Love!

Masih di Dalat

Usai hari yang berat kemarin, saya mencoba menata hati dan memutuskan untuk terus menikmati sisa liburan ini. Rasanya sayang banget jauh-jauh datang ke sini hanya untuk galau dan bersedih hati, hihihi. Pagi-pagi kami sudah siap untuk melanjutkan perjalanan ke Mui Ne, dengan bus yang sudah kami pesan sebelumnya. Kata Mister U yang kepo ke resepsionis, kami akan dijemput di gusthouse ini sekitar pukul 07.15 waktu setempat.

Fairy Stream, Mui Ne. (took by Mister I and owned by @zakiyahnurunnisa).

Fairy Stream, Mui Ne. (took by Mister I and owned by @zakiyahnurunnisa).

Tepat waktu. Jam 07.15 petugas bus sudah meminta kami segera naik ke dalam bus. Setelah (agak rempong) mengurus administrasi penginapan, kami pun langsung naik bus. Bukan sleeper bus, ini hanya bus biasa yang sekelas dengan bus eksekutif, and of course, nyaman banget! Bangku 2-2, ber-AC, dan ada TV serta DVD. Kalau tidak salah tarifnya sekitar 150.000 VND. Rupanya banyak bule-bule juga yang ikutan naik bus ini untuk menuju Mui Ne. Anyway, perjalanan dari Dalat ke Mui Ne ini memakan waktu sekitar 3 jam.

Catatan: Ini adalah tulisan tentang detail perjalanan dan pengalaman pribadi penulis yang diulas secara lengkap dan panjang lebar. Untuk referensi perjalanan secara singkat, silakan kunjungi “Rangkuman Perjalanan Lost in Vietnam”😉

Baca entri selengkapnya »

Di Balik Layar Lost in Vietnam, Dalat I’m in Love!

Dalat, Vietnam

Perjalanan dari kota Ho Chi Minh ke Dalat menghabiskan waktu sekitar 5 sampai 6 jam. Kami sampai di Dalat sekitar pukul tiga dini hari. Usai beberes dan mengenakan sepatu kembali untuk keluar dari bus… brrrrrr!!! Ternyata di luar dingin banget!!! Sebelumnya kami memang sudah sempat searching-searching kalau udara di Dalat ini dingin, tetapi mungkin karena pengaruh bangun tiba-tiba di pagi-pagi buta dan belum banyak persiapan, udara dingin langsung berasa menusuk-nusuk tulang meskipun kami semua sudah pakai jaket.

DSC_0043_1

Bunga berbentuk bendera Vietnam di Dalat Flower Park. (dokumen pribadi)

Oh ya, kami diturunkan di suatu tempat yang sepertinya adalah terminal. Namun, mungkin karena pagi-pagi buta itu, tempat ini masih terlihat sepi dan suram. Hanya terlihat beberapa supir taksi yang menawarkan jasanya. Alhamdulillah, kami sempat searching tentang angkutan yang bisa kami pakai dari tempat ini menuju hotel. Yaitu mobil minibus yang bentuknya mirip-mirip dengan minibus yang mengantarkan kami semalam dari agen Phuong Trang menuju terminal. Saya dan Mister I lalu menanyakan kepada salah satu bapak supir minibus tadi—yang tentu saja awalnya dia nggak ngerti kami ngomong apaan. Setelah ditunjukkan nama dan alamat hotel yang kami maksud, dan bertanya sebelumnya apakah ini free, lantas dia pun menjawab free sambil membukakan pintu dan membantu kami mengangkut barang ke dalam mobil. Yeay! Alhamdulillah!😀

Catatan: Ini adalah tulisan tentang detail perjalanan dan pengalaman pribadi penulis yang diulas secara lengkap dan panjang lebar. Untuk referensi perjalanan secara singkat, silakan kunjungi “Rangkuman Perjalanan Lost in Vietnam”😉

Baca entri selengkapnya »

Di Balik Layar Lost in Vietnam, Ho Chi Minh I’m in Love!

Pada pertengahan Maret 2016 lalu, saya berkesempatan untuk menginjakkan kaki, menapaki, sekaligus mengagumi sisi lain bumi Allah. Pilihan Vietnam, lebih tepatnya Ho Chi Minh City, awalnya tertuju karena adanya tiket pesawat promo yang kami beli sekitar setahun yang lalu. Namun, diskusi rencana perjalanan yang lebih matang, termasuk pembelian tiket kepulangan, baru kami lakukan sekitar satu bulan menjelang keberangkatan. Yang membuat saya penasaran dan bersemangat adalah, rencana perjalanan tersebut disusun sedemikian rupa, sehingga hanya dalam waktu 5–6 hari tersebut kami bisa mengunjungi 3 negara ASEAN sekaligus. Secara garis besar, persinggahan kami adalah Malaysia, Vietnam (Ho Chi Minh, Dalat, Mui Ne), dan Singapura.

Jalanan Ho Chi Minh di depan Reunification Palace.  (dokumen pribadi).

Jalanan Ho Chi Minh di depan Reunification Palace.
(dokumen pribadi).

Menurut saya, ini adalah salah satu perjalanan yang unik dan berkesan. Pertama, ini adalah pertama kalinya saya berpetualang jauh ke negeri orang yang notabene-nya benar-benar asing dan sangat baru bagi saya, baik dari segi astronomis, geografis, bahasa, budaya, termasuk juga agama. Kedua, saya pergi ke sana bersama orang-orang baru yang belum pernah saya temui sebelumnya. Dari empat orang yang pergi bersama, satu-satunya orang yang sudah saya kenal sebelumnya hanyalah seorang sahabat perempuan yang selalu satu sekolah dan kampus sejak SMP. Dua cowok kembar yang lain baru bertemu satu bulan menjelang hari H, dan seorang cowok lagi bahkan baru bertemu di TKP alias sesampainya di Ho Chi Minh. Dua hal baru dan asing tersebut cukup menjadi tantangan saya, di tengah kehidupan saya yang serba monoton. Alhasil, kejadian unik dan berkesan yang terjadi selama perjalanan ini benar-benar menjadi salah satu pengalaman beharga yang pernah saya miliki.

Catatan: Ini adalah tulisan tentang detail perjalanan dan pengalaman pribadi penulis yang diulas secara lengkap dan panjang lebar. Untuk referensi perjalanan secara lebih singkat, silakan kunjungi “Rangkuman Perjalanan Lost in Vietnam”😉

Baca entri selengkapnya »

Rangkuman Perjalanan Lost in Vietnam

Salah satu foto candid dan momen faforit saya, yaitu saat kami "menggelandang" dan berjalan kaki mengitari kota Saigon (Ho Chi Minh). Captured and owned by one of our friend, Mister U. Thanks for a nice pict ^^

Salah satu foto candid dan momen faforit saya, yaitu saat kami “menggelandang” dan berjalan kaki mengitari kota Saigon (Ho Chi Minh).
Captured and owned by one of our friends, Mister U. Thanks for a nice pict ^^

Ini adalah rangkuman perjalanan selama 6 hari pada pertengahan Maret 2016 lalu, dengan rute persinggahan MalaysiaVietnam (Ho Chi Minh, Dalat, Mui Ne)—Singapura. Kami pergi berlima, dua orang cewek dan tiga orang cowok. Tiket pemberangkatan dibeli dengan harga promo sekitar setahun yang lalu, sedangkan tiket kepulangan baru dibeli sekitar sebulan sebelum hari H. Dari CGK kami berangkat hanya berempat karena seorang lagi menyusul dan langsung bertemu di Vietnam nanti.

Perjalanan menuju bandara CGK saya awali sendiri dari Stasiun Gambir dengan menggunakan Bus Damri bertarif Rp 40.000 selama sekitar satu jam, yaitu berangkat pukul 17.00 dan sampai pada pukul enam lebih. Waktu boarding adalah pukul 20.25 sehingga sebenarnya di bandara masih ada waktu untuk shalat, makan, dan santai-santai (tapi kami hanya sempat shalat karena satu dan lain hal). Pesawat yang kami gunakan adalah Air Asia tujuan KLIA.

Hari Pertama, Malaysia

Kami sampai di KLIA menjelang tengah malam. Lapar karena belum sempat makan malam, kami memutuskan makan malam di KFC yang ada di dalam bandara. Menu paket standar, yaitu paha goreng dan minum (tanpa nasi), dipatok seharga 4,6 MYR. Usai makan, kami mencari spot untuk istirahat, yaitu di dalam Mushola yang ada di dekat KFC itu. Di dalam Mushola kami bisa tidur (saat itu tidak terlalu ramai, tapi banyak pula akhwat yang tidur di sana). Ruangan di sini sangat dingin sehingga disarankan menyiapkan jaket dan selimut tipis/kain bali/pashmina.

Baca entri selengkapnya »

Bicara Tentang Baper

Suatu saat ketika masih kuliah, saya merasa tidak enak badan. Akhirnya, saya terpaksa tidak masuk kuliah pagi dan memilih untuk tidur sebentar di kosan. Menjelang siang, tiba-tiba saya merasa sayang untuk melewatkan jam kuliah sore. Karena sudah lebih segar usai istirahat tadi, saya pun memutuskan untuk berangkat kuliah sore.

Pada forum diskusi, beberapa teman sekelompok sempat menanyakan mengapa saya tidak masuk kuliah pagi. Sakit. Bisa jadi jawaban itu terdengar sangat klasik untuk suatu alasan bolos kuliah. Buktinya, saat pembagian tugas kelompok, beberapa anggota tidak terlalu peduli dengan keadaan saya. Sampai akhirnya, tiba-tiba seorang pria berkata, “Dia sama aku aja ngerjain tugas yang gampang. Dia, kan, lagi sakit.”

Baper? Bisa jadi.

Baca entri selengkapnya »

Kajian Tauhiid Bulan November Bersama Aa Gym

Tanggal 8 November 2015 yang lalu, di Masjid istiqlal kembali digelar Kajian Tauhiid yang seperti biasa diisi langsung oleh Aa Gym. Karena datang agak terlambat, saya tidak sempat menyimak paparan ustad yang mengisi sebelumnya, dan hanya sempat mendengarkan pemaparan Aa Gym di bagian akhir acara. Meskipun terbilang terlambat, berikut rangkuman yang saya coba tulis kembali. Siapa tahu bisa sedikit bermanfaat.

Ilmu merupakan salah satu hal yang harus kita miliki. Sebagai umat Islam, tentunya ilmu yang sangat wajib kita miliki adalah ilmu tentang keislaman. Ada 3 macam ilmu islam yang harus dipelajari, yaitu (1) ilmu akidah, (2) ilmu syariat, dan (3) ilmu akhlak.

Ilmu akidah merupakan ilmu yang bertujuan sebagai pegangan hidup. Ilmu akidah ini akan mengantarkan seseorang kepada keimanan. Ilmu akidah ini diibaratkan dengan contoh berikut. Saat kita akan pergi ke Bandung dari Jakarta, tentu ada bermacam kendaraan yang bisa kita pilih sebagai “pegangan” dalam perjalanan kita. Ada bus, kereta, motor, mobil, atau mungkin dengan kaki sendiri. Kendaraan itu yang diibaratkan sebagai ilmu akidah. Karena tanpa kendaraan tersebut, mustahil rasanya kita bisa sampai ke tempat tujuan. Sama seperti tujuan kita menuju ridho-Nya, kita tentu perlu suatu “kendaraan” bernama akidah. Ilmu akidah ini tercermin dalam enam rukun iman. Tidak hanya sekadar hapal, tetapi juga memahami dan mengimani di dalam hati, serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Baca entri selengkapnya »

« Older entries

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.