Bukan Untuk Saling Mencinta

Aku pertama kali bertemu dengannya pada pertengahan tahun 2003. Sayangnya, aku nggak pernah ingat bagaimana momen pertama kali pertemuan dan perkenalan itu. Yang aku ingat, ia adalah anak yang jahil saat itu, tapi juga lucu. Kalau boleh jujur, sebenarnya leluconnya sama sekali nggak lucu. Tapi, entah kenapa aku hampir selalu tertawa saat melihatnya tertawa. Tawanya bagai virus penyakit yang secara cepat langsung menular kepadaku.

Aku nggak begitu ingat momen-momen apa yang mengiringi perjalanan perkenalan kami. Aku hanya ingat momen saat meminta alamat rumah dan nomor teleponnya untuk suatu data. Waktu itu, saat kusodorkan buku itu, ia tengah berdiri di tepi pintu. Tulisannya ternyata jelek. Entah karena terburu-buru atau karena cara menulisnya yang hanya dialasi dengan telapak tangan. Dan aku seolah tak mau tahu, ketika ternyata alasannya adalah karena ia merasa gugup di depanku.

Baca entri selengkapnya »

Seminar Gizi Nasional: Investasi Gizi Sebagai Jawaban Tantangan Kesehatan Indonesia

Hari Sabtu, 31 Oktober 2015 lalu, ada sebuah acara yang digelar di Auditorium RIK UI pukul 09.00–14.00 yang bertajuk Seminar Gizi Nasional: Investasi Gizi Sebagai Jawaban Tantangan Kesehatan Indonesia. Seminar ini diisi oleh dua orang Pembicara Utama, yaitu (1) Prof. dr. Nila Djuwita F. Moeloek, Sp.M selaku Menteri Kesehatan Indonesia yang diwakilkan oleh Bapak Anung, tentang Investasi dalam Bidang Gizi Sebagai Komponen Penting dalam Pembangunan di Indonesia; dan (2) Dr. Surya Chandra Surapaty, MPH, PhD selaku Kepala BKKBN yang diwakilkan oleh Ibu Rahayu, tentang Kesiapan Indonesia dalam Menghadapi Bonus Demografi.

Para Panelis dan Moderator pada Seminar Gizi Nasional 2015

Para Panelis dan Moderator pada Seminar Gizi Nasional 2015

Selain itu, ada juga empat orang panelis, yaitu (1) Ir. Doddy Izwardy, MA selaku Direktur Bina Gizi Kemenkes RI, yang memaparkan tentang Strategi Indonesia dalam Pencapaian Target World Health Assembly 2025; (2) Dr. Lily S. Sulistyowati, MM selaku Direktor Pengendalian PTM Dirjen PPPL yang diwakilkan oleh Ibu dr. Lily Banonah Rivai, yang membahas tentang Pencegahan PTM dalam Pendekatan Daur Kehidupan; (3) Safarina Malik, DVM., MS., PhD selaku Perwakilan dari Lembaga Biologimolekuler Eijkman yang memaparkan tentang Interaksi Zat Gizi dan Gen: Suseptibilitas PTM dan Upaya Pencegahannya dari Sudut Nutrigenomik; serta (4) Ir. Lilis Nuraida dari Institut Pertanian Bogor (IPB) tentang Pemanfaatan Pangan Fungsional dalam Pencegahan dan Penanggulangan PTM.

Baca entri selengkapnya »

Hikmah Mangkuk Pecah

Ada salah satu mangkuk di lemari saya yang terbilang jarang digunakan. Mangkuk itu dibiarkan tersimpan bersih karena memang hanya digunakan sesekali. Namun suatu hari saya pun menggunakan mangkuk tersebut. Sayangnya, usai makan malam, saya justru tertidur kelelahan dan tidak sempat mencuci mangkuk yang baru saja digunakan itu. Parahnya, esok paginya saya malah keasyikan nyuci baju hingga lupa waktu, dan ujung-ujungnya malah lupa mencuci mangkuk tersebut. Saya biarkan dia kotor, sementara saya berangkat ke kantor. Meninggalkan dia seorang diri.

Sepulangnya dari kantor, barulah saya menyempatkan diri mencuci mangkuk tersebut. Seperti ritual mencuci peralatan makan pada umumnya, setelah diberi air dan dibiarkan basah sebentar, mangkuk itu pun dibersihkan dengan spons lembut yang sudah diberi cairan pencuci piring. Gosok-gosok sebentar, dan setelah merasa nggak ada lagi kotoran yang menempel, mangkuk itu pun siap dibilas. Namun, apa yang terjadi? Tiba-tiba mangkuk itu terlepas dari tangan dan… pecah.

Baca entri selengkapnya »

Kajian Tauhiid Bersama Aa Gym

Masih dalam rangka pemulihan Sindrom Kangen Kuliah, hari ini saya pun terdampar di salah satu acara yang insya Allah bermanfaat ini. Kajian Tauhiid sepertinya dilakukan secara rutin setiap bulan, tetapi baru kali ini saya berkesempatan hadir. Tanggal 11 Oktober kemarin, Kajian Tauhiid ini digelar di Masjid Istiqlal pada pukul 09.00 pagi, yang selain diisi oleh KH Abdullah Gymnastiar alias Aa Gym, juga diawali dengan pemberian materi oleh KH Wahfiudin Sakam, SE, MBA. Selayaknya kuliah yang selalu diberi tugas, kali ini saya coba memberi tugas kepada diri saya sendiri untuk coba merangkum isi kajian ini. Semoga bermanfaat.

Kajian Tauhiid

Duduk di depan sekaligus di pojok, Aa Gym cuma terlihat dari layar :p

Baca entri selengkapnya »

Bedah Novel dan Talkshow Kepenulisan Novel & Skenario Bersama Asma Nadia

Belakangan ini saya sedang mengalami Sindrom Kangen Kuliah. Lucunya, hal yang paling saya kangenin adalah momen saat ujian, termasuk serba-serbi persiapan menjelang ujian itu sendiri, seperti berburu bahan ujian, berantem sama Abang fotokopian, tanya sana-sini materi yang nggak ngerti, belajar dan berbingung-bingung ria berjamaah, sampai belajar sendirian semalam suntuk yang berakhir dengan sebuah kata yang mengenaskan: ketiduran. Saya juga kangen momen-momen saat dosen menerangkan sesuatu di depan kelas. Saya juga rindu mengerjakan tugas yang deadline-nya selalu saja sempit. Tugas yang paling mengerikan sekaligus berkesan adalah Laprak alias Laporan Praktikum. Yak, intinya adalah, saya kangen berpikir dan menggunakan otak saya.

Para MC dan Pembicara Acara Bedah Novel dan Talkshow Kepenulisan Novel & Skenario Bersama Asma Nadia

Para MC dan Pembicara Acara Bedah Novel dan Talkshow Kepenulisan Novel & Skenario Bersama Asma Nadia

Sebagai pelarian, saya pun coba mencari beberapa acara yang berbau kuliah, seperti Kajian, Seminar, Talkshow, dan sejenisnya di berbagai media sosial, tentunya dengan waktu dan lokasi yang bersahabat untuk saya datangi sendiri. Dan, viola! Inilah salah satu acara yang saya datangi hari ini. Bedah Novel “Love Sparks in Korea” dan Talkshow Kepenulisan Novel dan Skenario bersama Asma Nadia. Acaranya digelar di Gramedia Matraman tanggal 10 Oktober pukul 15.30 tadi. Selain mbak Asma Nadia, acara ini juga diisi dan dimeriahkan oleh Boim Lebon (Penulis), Alim Sudio (Penulis Skenario), Guntur Soeharjanto (Sutradara), G. Santani (Produser), dan Morgan Oey.

Baca entri selengkapnya »

Itu Kangen

Suatu hari, di tengah cerahnya sinar mentari menyinari bumi, tiba-tiba seseorang bertanya padaku dengan wajah dan tatapan serius.

Pernah ngerasain nggak, momen ketika kamu pengen banget ngobrol sama seseorang, tapi kamu nggak tahu mau ngobrolin apa?”

Sepintas pertanyaan itu terdengar sangat galau, tapi juga serius. Karena itu, saat itu pun saya langsung menanggapi pertanyaan tersebut, tentunya dengan wajah yang (saya buat) serius. Jawaban yang terlontar begitu saja, tanpa perlu waktu lebih untuk berpikir panjang.

Oh, itu mah kangen…”

Baca entri selengkapnya »

Observatorium Bosscha, Rumah Bintang-Bintang!

Siapa yang tidak ingat dengan adegan film Petualangan Sherina? Salah satu adegan mengambil latar di dalam gedung Observatorium Bosscha. Di tempat itu pula Sherina kemudian menyanyikan lagu  berjudul Bintang-Bintang yang merdu itu. Hm, dan saya pun jadi nostalgia, teringat ketika menyanyikan lagu itu di dalam kelas saat pelajaran musik waktu SD dulu. Indah banget ya, masa kecil dulu. Disuruh menyanyikan salah satu lagu di dalem kelas, lagu yang dipilih ya lagu anak-anak macam itu, hihihi…

Nah, jadi ceritanya, tanggal 4 September lalu saya berkesempatan mengunjungi dan melihat bintang secara langsung pakai teropong di Observatorium Bosscha itu. Sebelumnya, bahkan saat menonton Petualangan Sherina itu, saya sama sekali tidak pernah terpikirkan dan bermimpi untuk mengunjungi tempat tersebut. Namun, secara ajaib kesempatan ini datang begitu saja kepada saya. Kesempatan ini memang sempat dihiasi dengan berbagai kejadian epic, tapi jujur, ini adalah salah satu perjalanan hebat yang pernah saya lakukan!

Awalnya, saya hanya sekadar mendengar cerita salah satu rekan kerja yang duduk tepat di sebelah saya, bahwa awal September ini dia dan temannya akan pergi ke Bosscha. Dia bilang, reservasi kunjungan malam di Bosscha itu susah. Harus sesuai jadwal, pengunjung dibatasi, harus reservasi jauh-jauh hari, dan beberapa syarat lain. Dia juga cerita bahwa dia dan keempat temannya sudah melakukan reservasi dan disetujui pihak Bosscha. Saat mendengar cerita itu, saya hanya manggut-manggut dan menjadi pendengar setia.

Baca entri selengkapnya »

Please “Don’t Cry”

Ada kalanya sesuatu yang tidak diharapkan terjadi menimpa kita. Sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu buruk, tetapi akal picik kita seakan-akan menganggapnya terburuk dalam hidup kita saat itu. Padahal setelah sekian lama berlalu, setelah diingat-ingat lagi, sesuatu yang terjadi saat itu tidak seburuk yang kita pikirkan sekarang.

Katanya, menangis adalah salah satu cara untuk meluapkan rasa sedih, kesal, atau bahkan bahagia yang menimpa. Pernah suatu ketika, baru-baru ini saya merasa begitu sedih, sampai-sampai ingin menangis, padahal saat itu saya sedang berada di (katakanlah) tempat umum, saat orang-orang cenderung akan menyadarinya. Coba mengalihkan, saya pun mengobrol dengan seseorang, sebut saja orang itu, yang sebenarnya juga sedang sama-sama sedih seperti saya.

Lantas, orang itu pada akhirnya justru berkata, “Dengerin lagu Don’t Cry aja…”

Baca entri selengkapnya »

Semut Pemberi Hikmah

Suatu hari, saat berniat untuk membayar hutang puasa Ramadhan keesokan harinya, seperti biasa sore hari saya akan membeli lauk “kering” untuk sahur nanti. Lauk faforit untuk sahur adalah ayam goreng, dengan alasan selain bergizi (setidaknya mengandung protein sekaligus lemak yang cenderung lebih lama dicerna), juga karena lauk yang bersifat kering itu akan lebih tahan lama dan cenderung tidak mudah basi. Biasanya setelah membeli, ayam goreng tersebut akan saya amankan ke dalam tempat makan tertutup atau setidaknya diletakkan di meja kamar begitu saja tapi dalam kondisi bungkus lauk yang tertutup.

Namun, entah apa yang membuat saya begitu ceroboh. Hari itu sepulang kantor (dan membeli lauk tersebut), saya letakkan bungkusan ayam goreng tersebut begitu saja di atas meja, dalam kondisi bungkus yang terbuka. Bungkus ayam goreng yang biasa dipakai memang berupa kotak kardus mini tertutup sehingga meletakkannya begitu saja di meja setidaknya akan aman karena kondisi bungkusnya memang tertutup rapat. Namun, bungkus yang kali ini dipakai adalah bungkus kertas semacam bungkus Rotib*y dalam kondisi dibiarkan terbuka. Oh my God! Alumni gizi macam apa yang bertindak seteledor ini terhadap makanan!

Namun, malam itu keajaiban pun terjadi.

Baca entri selengkapnya »

Jakarta, oh, Jakarta!

Jakarta itu keras. Ya, hidup di Jakarta memang sering dibilang keras. Namun, ternyata yang keras itu tidak hanya hidupnya, tetapi juga ucapannya, tindakannya, sifatnya…

Banyak “setan” alias godaan di semua tempat. Namun, salah satu “setan” berbahaya di Jakarta adalah di jalanan. Sepele. Godaan itu bernama godaan hawa nafsu. Emosi.

Masalah paling kecil sebut saja kemacetan. Jarak yang seharusnya bisa ditempuh selama lima belas menit, di Jakarta ini bisa menjadi tiga puluh menit (berangkat kantor H-1 lebaran VS berangkat kantor hari biasa). Jarak yang semestinya mampu ditempuh selama lima menit, di Jakarta ini bisa saja berubah menjadi satu jam (berangkat kantor hari biasa VS berangkat kantor saat musim banjir). Wow banget, kan? Nah, untuk soal kemacetan yang satu ini, ujian terbesarnya adalah sabar dan tidak boleh mengeluh. Berat? Berat banget!

Namun, ternyata “setan” alias godaan di jalan raya itu bukan cuma masalah kemacetan ini saja. Masalah internal masing-masing pengguna jalan juga bisa menjadi “setan” tersendiri di jalan raya. Apalagi jika ditambah macet! Pengendara atau penumpang yang sejak awal memang punya masalah sendiri, pasti akan semakin emosi menghadapi kemacetan. Nah lho, hari ini buktinya. Saya cukup menyebut si pengendara motor “aneh” tadi memang punya sedikit masalah pribadi dalam dirinya =_=

Baca entri selengkapnya »

« Older entries

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.