Aku-Kamu Untuk Kemudian Kita

“Dua kepala tidak mungkin sama persis. Begitu pula keluarga,” katanya sore itu.

Hari, minggu, dan bulan pertama merajut kisah bersama selalu penuh dengan kejutan. Ada yang namanya tak-mengerti untuk kemudian memahami, ada yang namanya kecewa untuk kemudian memaklumi, ada yang namanya salah untuk kemudian memperbaiki, ada yang namanya was-was untuk kemudian mengantisipasi, dan ada yang namanya asing untuk akhirnya beradaptasi. Bisa dikata, ini merupakan suatu siklus hidup yang lazim dilalui.

Tak-mengerti untuk kemudian memahami.

Tak kenal maka tak sayang. Sudah menjadi rahasia umum untuk mengetahui dan mengenal seseorang terlebih dahulu untuk lebih memahaminya. Begitu pula dengan kisah ini. Jadi, bagaimana menurutmu ketika ada orang asing yang belum pernah ditemui sebelumnya tiba-tiba mengajakmu serius? “Serius?!” bisa jadi itu yang keluar dari dalam hatimu, dengan nada bicara ala-ala sinetron FTV. Maka, ketika rentang waktu antara awal komunikasi hingga pertemuan dan pengambilan keputusan terlalu sempit, tentu tidak banyak waktu yang dihabiskan untuk sekadar saling mengerti dan memahami. Bahasa kasarnya, boro-boro mengerti dan memahami, mengenal saja belum tentu 100%!

Read the rest of this entry »

Advertisements

Sebuah Catatan Pengalih Kerinduan

“Sabar, ya…”

Belakangan ini, kalimat serupa atau sejenis itu sering terlontar dari orang-orang sekitar saya. Ucapan yang terkadang terkesan “basa-basi” belaka sebagai wujud tanda prihatin, tetapi tidak halnya dengan yang saya alami. Ada tatapan tulus yang saya tangkap setiap kali mereka menguatkan saya dengan kalimat klise tersebut.

Sekarang ini sudah sebulan lebih sejak tanggal 10 April 2017 setelah saya—yang orang-orang biasa sebut sebagai—menggenapkan separuh agama. Menukil kisah Uqail bin Abi Thalib dalam buku Baarakallahu Laka… Bahagianya Merayakan Cinta, ada kegundahan tatkala hari pernikahan mereka diisi dengan doa-doa seperti, “Semoga bahagia dan banyak anak”. Karena, yang Uqail bin Abi Thalib harapkan adalah doa yang sesuai dengan sunnah Rasulullah, yaitu “Baarakallahu laka, wa baaraka ‘alaika, wa jama’a bainakumaa fii khaiir” yang artinya semoga Allah karuniakan barakah kepadamu, limpahkan barakah atasmu, dan himpun kalian berdua dalam kebaikan”.

Karuniakan barakah kepadamu mengandung makna tersirat bahwa barakah yang diharapkan ialah yang berasal dari hal-hal yang disukai. Namun, limpahkan barakah atasmu juga mengandung makna tersirat bahwa barakah diharapkan pula tetap ada pada hal-hal yang tidak disukai. Terakhir, doa pun ditutup indah dengan himpun kalian berdua dalam kebaikan. Jadi, dari doa yang disunnahkan Rasulullah saja sudah mengandung sebuah perenungan bahwa menggenapkan separuh agama tidak hanya soal hal-hal yang disukai dan tidak hanya senang-senang saja, tetapi juga hal-hal yang tidak disukai dan tidak disenangi. Selanjutnya tinggal bagaimana semua tetap terhimpun dalam kebaikan yang diridhoi oleh Allah, baik saat suka maupun duka.

Read the rest of this entry »

Pandangi Langit Sesuka Mauku

Percaya nggak, kalau saya bilang belakangan ini langit Jakarta indah banget? Bukan, ini bukan gombal, kok. Beneran indah. Kaya kamu, hihihi (yang ini baru gombal). Setiap pulang kantor, saya hampir selalu melewati jembatan penyeberangan untuk kembali ke peraduan. Di sana adalah salah satu spot favorit saya menatap langit ibukota, terlebih jam pulang kantor yang memang identik dengan waktu senja. Kalau sedang beruntung, senja ibukota juga nggak kalah indah. Termasuk kemarin, saat menatap senja sepulang kantor dari jembatan penyeberangan yang tak jauh dari kosan. Sinar jingga terang dari mentari yang malu-malu sembunyi di balik awan, ditambah siluet gedung-gedung tinggi Atrium Senen yang tampak dari jauh, agaknya sedikit menghipnotis dan merayu kaki ini untuk sejenak memperlambat langkah.

Sabtu pagi ini, langit Jakarta juga indah. Kali ini bukan karena senja, tetapi karena langit biru cerah dan awan putih berarak yang bagus banget. Di dalam bus Transjakarta yang sepi penumpang, sambil bersandar di bangku yang lowong, langit sepanjang Sarinah, Semanggi, sampai Blok M ini bisa banget bikin saya terpukau (kalau biasanya mah, baru nempel kursi berapa menit udah langsung pejamkan mata, hahaha). Yah, meskipun terkadang harus terpotong juga dengan gedung-gedung tinggi yang tetiba menghalangi pandangan. Hingga pada akhirnya, muncullah ide tulisan alay yang melahirkan tulisan ini.

Langit-langit terindah yang pernah saya lihat? Banyak! Tapi lewat tulisan alay ini, ada tiga tempat yang menurutku “the best”. Sebenarnya kenapa hanya di tiga tempat ini yang ditulis, jawabannya ialah karena hanya di tiga tempat ini yang gambarnya sempat terabadikan sehingga lebih mudah di-sharing. Hahaha… tapi percayalah, gambar di foto yang diambil dengan kamera buatan manusia ini, nggak akan seindah dan seberkesan gambar yang diambil langsung dengan mata kita yang merupakan “kamera” buatan Allah. Sepakat? 😉

Read the rest of this entry »

Rangkuman: Rediscovering The Fatihah by Nouman Ali Khan

Beberapa hari lalu salah satu teman mengirimkan sesuatu di grup WhatsApp. Tertarik, saya pun mencari videonya di Youtube. Judul videonya adalah “Nouman Ali Khan Rediscovering The Fatihah” yang terdiri dari part 1 sampai 3, dengan masing-masing video berdurasi sekitar 1 jam. Rupanya, materi yang disampaikan tersebut sudah terbilang cukup lama, yaitu disampaikan oleh Ustad Nouman Ali Khan pada salah satu acara bertajuk “Rediscovering The Fatihah”, yang diselenggarakan pada Sabtu, 7 September 2013 di Suntec Singapore.

Setelah menontonnya, insya Allah saya berani mengatakan bahwa isinya sangat bagus. Saya jadi merasa sayang jika hanya sekadar menonton, merenungi, membenarkan, tetapi kemudian malah melupakannya begitu saja. Lewat tulisan ini, saya berharap bisa lebih memahami lagi materi yang disampaikan, dan mungkin juga bisa bermanfaat kelak untuk pembaca, terkhusus bagi saya pribadi yang masih sesekali iseng membaca tulisan lama milik sendiri. Semoga apa yang tertulis ini sesuai dengan isi video sebenarnya, Insya Allah, (mengingat pembicara menyampaikannya dalam bahasa Inggris yang tidak tersedia subtitle terjemahannya dan kemampuan english saya yang bisa jadi masih serba kurang). Segala kesalahan mutlak berasal dari saya pribadi, dan mohon koreksi jika memang demikian. Video lengkap bisa klik di daftar tautan link yang ada pada bagian akhir tulisan ini.

Read the rest of this entry »

Agar Tak Sekadar Sampai ke Tujuan

Kendaraan merupakan salah satu nikmat yang Allah SWT berikan kepada kita. Kendaraan memudahkan kita saat bepergian untuk mencapai tempat tujuan yang terbilang jauh atau sulit dicapai. Zaman dulu kala, manusia harus bepergian dengan berjalan kaki atau menunggang hewan. Selanjutnya, terciptalah kendaraan tradisional seperti gerobak, sampan, atau sepeda. Seiring kemajuan teknologi, kendaraan semakin berkembang lagi dan sudah menggunakan mesin, seperti sepeda motor, mobil, kapal laut, hingga pesawat terbang. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi bahkan terus mendukung perkembangan kendaraan menjadi jauh lebih modern, yaitu kendaraan dengan fasilitas yang nyaman untuk para penumpang, serta kendaraan super cepat dengan waktu tempuh yang relatif singkat.

Di zaman sekarang ini, kendaraan dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu kendaraan pribadi dan kendaraan umum. Kendaraan pribadi merupakan kendaraan yang menjadi milik pribadi (perorangan) dan hanya digunakan oleh dan untuk kepentingan si pemilik. Contohnya seperti sepeda, motor, atau mobil yang kita miliki sendiri. Sementara itu, kendaraan umum ialah kendaraan yang dapat disewa atau dimanfaatkan oleh orang banyak. Sebut saja angkutan umum, bus, kereta api, atau pesawat terbang.

Dan suatu tanda (kebesaran Allah) bagi mereka adalah Kami angkut keturunan mereka dalam bahtera yang penuh muatan, dan Kami ciptakan untuk mereka (angkutan lain) seperti apa yang mereka kendarai itu.” (QS. Yaasin: 41-42).

Read the rest of this entry »

Kajian Tauhiid Bulan Oktober: Tingkatan Surga dan Bagaimana Menjadi Sabar

Kajian Tauhiid di Masjid Istiqlal Jakarta rutin diselenggarakan tiap hari Minggu kedua di setiap bulan. Bulan Oktober ini, Kajian Tauhiid dilaksanakan pada tanggal 9 Oktober 2016. Pematerinya adalah KH Tengku Zulkarnain dan KH Abdullah Gymnastiar. Berikut rangkuman materi yang dapat saya tuliskan kembali.

Pada materi sesi pertama oleh KH Tengku Zulkarnain, dibahas tentang tingkatan-tingkatan surga. Sebagai hamba Allah yang beriman, kabar baiknya adalah kita sama-sama (insya Allah) berkesempatan menginjakkan kaki di surga-Nya kelak. Namun, bukanlah amal-amal kita semata yang bisa membawa kita ke surga, melainkan karena rahmat dan ridho Allah SWT. Jadi, pada dasarnya tiada guna kita membanggakan amalan-amalan kita apalagi membandingkannya dengan orang lain. Meskipun percayalah, kabar baiknya lagi adalah rahmat dan ridho Allah kepada kita itulah yang pada hakikatnya mengantarkan kita kepada amalan-amalan yang kita lakukan. Kesempatan kita untuk beramal, beribadah, dan melakukan hal-hal baik lainnya, adalah salah satu rahmat dari Allah yang juga harus kita syukuri. Bukankah kita bisa beribadah karena kesehatan dan keimanan yang Allah anugerahkan kepada kita? Bukankah kita bisa bersedekah karena kesehatan dan limpahan rizki yang Allah berikan kepada kita?

Karena tidak terlalu utuh dan fokus menyimak isi ceramah di sesi pertama ini, saya coba mencari sendiri referensi lain terkait tingkatan-tingkatan surga ini. (Sumber diambil dari web RZ dan annida-online.com).

Read the rest of this entry »

Di Balik Layar Lost in Vietnam, Singapore I’m in Love!

Alhamdulillah. Akhirnya ada juga niat dan kesempatan untuk melanjutkan tulisan yang sempat tertunda ini. Postingan ini adalah tulisan terakhir edisi Lost in Vietnam. Hari terakhir perjalanan ini, nyatanya lebih banyak didominasi oleh pengalaman pribadi yang unik dan kocak.

Bandara Than Son Naht

Sekitar pukul 23.30 kami sampai di Bandara Than Son Naht. Agenda selanjutnya adalah menuju ke Singapura sebelum kembali berpulang ke tanah air. Jadwal penerbangan menuju Singapura adalah pukul 07.10 esok hari. Sesuai kesepakatan yang memang telah dibuat sebelumnya, kami berencana bermalam di bandara ini. Namun, bandara ini berbeda dengan KLIA yang punya mushola di dalamnya. Saya yang sudah super ngantuk dan lelah, berasanya udah nggak niat lagi untuk jalan-jalan atau sekadar berkeliling mencari informasi.

Nggak lama kemudian, teman-teman yang berkeliling datang memberi tahu kalau ada spot bagus di salah satu sudut bandara. Dan tempat itu memang oke! Ada beberapa deret kursi kosong yang bisa dipakai untuk berbaring. Bahkan ada dua deret kursi yang menghadap membelakangi jalan orang-orang lewat. Tempat yang cenderung lebih aman untuk cewek seperti saya dan Miss A. Ah, kawan-kawan ini pengertian sekali…

Catatan: Ini adalah tulisan tentang detail perjalanan dan pengalaman penulis yang diulas secara lengkap dan panjang lebar. Untuk referensi perjalanan secara lebih singkat, silakan kunjungi “Rangkuman Perjalanan Lost in Vietnam” 😉

Read the rest of this entry »

Laki-Laki Pendiam

Sebenarnya, salah satu alasan saya menulis ini adalah karena saya mendadak jadi kangen sama papa dan adik saya, dua laki-laki yang (dari saya lahir sampai sekarang) menurut saya paling hebat dan paling bisa saya percayai. Laki-laki pendiam itu adalah mereka. Yang sering kali tidak terlalu banyak komentar atau berbagi kisah, tetapi sekali bicara bisa bikin manggut-manggut, atau malah tertawa. Namun ternyata, ada kalanya laki-laki pendiam berlaku juga untuk semua laki-laki di dunia ini. Iya kah?

Sebagai perempuan yang sejak kuliah sampai kerja sekarang ini selalu didominasi oleh lingkungan bermayoritas kaum hawa, ada kalanya sempat merasa penasaran (atau malah takjub) dengan makhluk bernama laki-laki. Pernah suatu ketika ada salah satu teman yang curhat sesuatu, lalu dia merasa kagum dengan tanggapan saya tentang pria. Katanya, “Kok kamu bisa tahu? Kan, temen kamu cewek semua?” Ups, benar juga. Kok bisa tahu, ya? Lalu belakangan jadi kepikiran.

Jawabannya ternyata datang dari papa dan adik saya. Dua orang ini cukup mewakili dan memberi saya pelajaran penting, bagaimana sifat dan cara pandang laki-laki pada umumnya. Selain itu, pencerahan juga datang dari kejadian-kejadian di masa lalu, yaitu ketika saya masih ‘bebas’ bergaul dengan laki-laki akibat ketidaktahuan dan kejahiliyahan di masa itu. Tak lupa, terima kasih pula untuk berbagai kisah menarik yang sering saya dengar lewat curahan hati teman-teman engineer cewek yang cenderung ‘dikelilingi’ banyak pria, atau teman-teman lain yang kuliah dan bekerja di lingkungan bermayoritas pria.

Laki-laki pendiam. Yap, pendiam yang dimaksud di sini lebih kepada bagaimana reaksi mereka ketika mendapat suatu masalah. Dan jujur, ini adalah salah satu sifat yang membuat saya takjub dengan makhluk satu itu.

Read the rest of this entry »

Bukan Demi Pundi-Pundi

Sekarang ini, bisnis online sedang cukup populer. Saya masih ingat ketika pertama kali memutuskan untuk turut serta terjun di dalamnya hampir satu tahun yang lalu. Tidak berani “jalan sendiri”, akhirnya sempat mengajak teman sana-sini untuk bekerja sama. Namun, kesulitan membagi ruang dan waktu sering menjadi alasan klise hingga akhirnya rencana hanya tinggal rencana. Sampai akhirnya bertemulah dengan partner yang paling memungkinkan diajak kerja sama.

Waktu itu usai jam pulang kantor. Kami berdua mampir ke mall dekat kantor sekalian makan malam bersama. Saya masih ingat menu apa yang kami pesan. Mie hot plate. Di situ kami mulai berbincang. Kami memilih untuk menjual produk-produk muslimah, seperti khimar, gamis, atau apapun yang bersifat syar’i. Fokus pertama adalah pada khimar segiempat setelah kami tentukan supliernya. Tak lupa kami pun memilih nama untuk olshop kami. Pada akhirnya, nama “Purika” pun terpilih, singkatan alay dari Putri dan Etika.

Read the rest of this entry »

Karena Aku Sibuk

Waktu ibarat pedang. Jika engkau tidak menebasnya, ialah yang akan menebasmu. Dan jiwa yang tidak kau sibukkan dalam kebenaran, maka ia akan menyibukkanmu dalam kebatilan. (Imam Syafi’i)

Hiks, makjleb banget, ya? Kalau kata Aa Gym yang juga agak-agak mirip dengan ucapan Imam Syafi’i di atas, “Orang yang tidak sibuk dengan kebaikan akan mudah sibuk dengan kesia-siaan bahkan keburukan”. Na’udzubillah.

Namun, sebenarnya ungkapan sibuk itu terasa kurang pas jika ditujukan untuk diri kita sendiri. Karena sejatinya, kita ini hanyalah sok sibuk. Allah-lah yang Maha Sibuk. Dikutip dari buku Tuhan, Maaf, Saya Sedang Sibuk karya Ahmad Rifa’i Rif’an, kita ini bukan hanya “sok sibuk”, tetapi malah merasa sok sibuk (lebih nggak tahu diri lagi). Kita sering terlambat menghadap Allah, padahal Allah tidak pernah sepersekon pun terlambat memberi kita rizki. Kita sering melalaikan kewajiban, padahal Allah tidak pernah lupa menerbitkan mentari. Setiap saat keburukan kita naik ke langit, tetapi setiap saat itu pula kebaikan Allah selalu tercurah kepada kita. Ya, Allah Maha Sibuk. Karena Allah senantiasa dalam keadaan menciptakan, menghidupkan, mematikan, memelihara, memberi rizki, dan lain-lain (yang semua itu mudah saja bagi Allah).

Semua yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan. (QS. Ar-Rahman [55]: 29)

Read the rest of this entry »

« Older entries