Hari Paling Membahagiakan

Hari ini ingin rasanya ada yang menanyakan berapa usia saya sekarang supaya saya masih bisa menjawab, “23 tahun” kepada si penanya. Sayangnya, hari ini tidak ada. Mungkin baru besok akan ada yang iseng bertanya, “Yang ke berapa?” dan akhirnya saya pun terpaksa menjawab, “Ke-24,” hiks. Itu pun kalau besok ada yang ingat ataupun menyadarinya. Ha-ha-ha.

Ulang tahun. Sejak kecil orangtua saya tidak pernah mendidik saya dan adik saya untuk familiar dengan istilah tersebut. Berbeda dengan anak tetangga yang suka mengundang teman-temannya berpesta, atau saudara sepupu yang sekadar membeli kue dan memasang lilin serta meniupnya kemudian mengajak kami semua makan bersama, atau malah anak para artis yang ulang tahun pertamanya dirayakan bak perayaan pesta pernikahan. Sejak dulu keadaan ulang tahun kami semua di rumah selalu sama. Tanpa kue, tanpa hadiah, tanpa perayaan. Yang ada hanya bunyi alarm bersaut-sautan tepat pukul 06.30 dari reminder hape masing-masing.

Baca entri selengkapnya »

Lagu Ciptaan Saya Sendiri

Hari ini jalanan cukup padat dan menyebabkan sedikit kemacetan. Buktinya, saya yang biasa sudah sampai kosan sebelum gelap dan adzan magrib berkumandang, hari ini terpaksa sampai kosan saat mushola sekitar kosan sudah memulai shalat jamaahnya sekian rokaat. Namun, lucunya kemacetan hari ini tidak terlalu terasa. Biasanya, saat macet seperti ini saya akan tertidur lelah atau pun mengomel di dalam hati, tetapi kali ini jauh berbeda. Macet kali ini tidak terasa. Tiba-tiba setelah sadar, eh udah tinggal beberapa ratus meter lagi sampai di depan jalanan menuju kosan.

Sekitar satu atau dua kilometer dari tempat saya pertama kali naik metromini, barisan mobil di depan sana sempat membuat sedikit stres. Ya ampun, ini hari Senin, tidak biasanya jalanan sepadat ini. Jalanan begini biasanya terjadi di hari Jumat, saat semua orang secara bersamaan ingin segera pulang dan sampai ke rumah untuk berakhir pekan. Di bangku metromini itu pun saya hanya bisa termenung menatap keluar jendela. Setidaknya Alhamdulillah saya dapat tempat duduk dan tidak perlu lelah berdiri.

Hingga akhirnya, datanglah Bapak itu. Bapak yang benar-benar sukses mengubah jenuh dan panasnya kemacetan ibu kota. Unik! Bapak yang sangat unik dan pertama kalinya saya temui!

Baca entri selengkapnya »

Memori Indah Para Generasi Bahagia

Akhir-akhir ini banyak sekali postingan menarik, baik di Facebook maupun WhatsApp, tentang meme atau cerita dan kebiasaan lucu di tahun 70 sampai 90-an. Mulai dari kebanggaan siswa yang belajar dengan papan tulis hitam dan kapur putih, kelakuan iseng nempelin kertas bertuliskan “saya bodoh” di belakang baju teman, sampai barang-barang unik yang ada di zaman itu. Sungguh lucu sekali melihat dan membaca postingan-postingan tersebut. Lantas saya pun jadi berpikir, generasi tersebut memang the best! Peralihan dari zaman “jadul” ke zaman modern yang oke punya! Bersyukur rasanya termasuk ke dalam kelompok anak-anak dengan “masa kecil yang terlalu bahagia” itu :D

Karena termasuk generasi 90-an, berikut beberapa memori indah di tahun 90-an yang pernah saya alami sendiri.

Baca entri selengkapnya »

Mekah-Madinah Hari-3: City Tour Mekah

Jalanan kota Mekah. Ada pohon, tapi tetap terkesan gersang.

Jalanan kota Mekah. Ada pohon, tapi tetap terkesan gersang.

Hari ketiga adalah saatnya city tour di kota Mekah. Menurut jadwal, tempat-tempat yang akan dikunjungi hari ini adalah Jabal Tsur, Padang Arafah, Jabal Rahmah, Muzdalifah, Mina, Masjid Ja’ronah, dan Jabal Nur. Syukur Alhamdulillah city tour ini diisi oleh seorang muthawif atau yah sebut saja ‘pemandu wisata’ sehingga sambil mengunjungi tempat-tempat tersebut, para jamaah juga mendapatkan penjelasan singkat mengenai tempat bersejarah tersebut. Mengunjungi tempat-tempat itu terasa cukup menggetarkan hati saat teringat bahwa Rasulullah juga pernah datang ke sana. Perjuangan Rasulullah juga menjadi sangat terasa ketika mengunjungi tempat-tempat tersebut secara langsung. Berikut penjelasan singkat yang saya ingat berdasarkan pemaparan muthawif mengenai tempat-tempat bersejarah tersebut.

Jabal Tsur atau Bukit Tsur.

Jabal Tsur

Jabal Tsur

Ini adalah tempat persembunyian Rasulullah dan Abu Bakar saat dikejar oleh orang-orang kafir. Rasulullah dan Abu Bakar bersembunyi di salah satu goa yang ada di bukit tersebut saat melarikan diri dari area sekitar Baitullah tempat beliau tinggal. Yang mengejutkan, perjalanan saat itu dari sekitar Baitullah ke Jabal Tsur memakan waktu sekitar 15 sampai 30 menit dengan menggunakan bus (tanpa macet, tentunya). Bayangkan berapa lama perjalanan yang ditempuh Rasulullah saat itu di tengah pengejaran tersebut. Terlebih lagi jalanan saat itu tentu tidak semulus sekarang. Bukit-bukit gersang dan gurun pasir di sepanjang kanan-kiri jalan menjadi salah satu bukti sulitnya medan perjalanan saat itu.

Baca entri selengkapnya »

Tidak Mengatakan Apapun

Bohong adalah salah satu sifat buruk. Sekali berbohong, maka akan ada kebohongan-kebohongan lain yang digunakan untuk menutupi kebohongan yang pertama. Bahkan berkata bohong bisa memasukkan kita ke dalam predikat orang munafik.

Ingat ciri-ciri orang munafik? Apabila berkata ia dusta, apabila berjanji ia mengingkari, dan apabila dipercaya ia berkhianat. Sebenarnya ketiga hal itu pada dasarnya sama, yaitu bohong. Bohong melalui kata-kata, bohong melalui hati, dan bohong melalui tindakan.

Dampak bohong juga berbahaya. Tidak hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk orang lain. Bahkan pernah ada kutipan bahwa “Dampak kebohongan bisa jauh lebih menyakitkan daripada akibat yang ditimbulkan oleh kebohongan itu sendiri”. Karena dampak kebohongan bisa sangat luas, bisa langsung terjadi di dunia secara langsung, atau mungkin ditunda dulu untuk kemudian diperlihatkan di hari perhitungan kelak. Sementara akibat yang ditimbulkan oleh kebohongan itu sendiri biasanya cenderung hanya terjadi di dunia saja. Contoh mudahnya dimarahin orangtua, misalnya, atau diputusin pacar gara-gara ngebohongin dia, hihihi…

Salah satu taktik untuk menghindari berkata bohong adalah dengan bersiasat atau dengan tidak mengatakan apapun. Contoh kisah bersiasat adalah ketika seseorang ditanyai oleh penjahat apakah ia melihat si Fulan, maka orang itu akan menjawab bahwa “Hari ini saya tidak melihat si Fulan,” (padahal kemarin si Fulan baru saja memohon agar disembunyikan di rumahnya agar tidak tertangkap si penjahat). Orang itu bersiasat dan tidak berbohong karena hari ini dia memang tidak melihat si Fulan, melainkan kemarin.

Sementara itu, taktik untuk tidak berbohong dengan cara tidak mengatakan apapun pernah saya alami sendiri. Namun, kali ini pemeran utamanya bukanlah saya, melainkan teman saya. Saya paham betul bahwa saat itu dia tidak ingin berbohong sehingga memilih untuk tidak mengatakan apapun. Namun, baru-baru ini saya jadi tersadar akan sesuatu.

Ada kalanya dampak tidak mengatakan apapun juga terasa sama sakitnya dengan berbohong.

Baca entri selengkapnya »

Berhenti Menunggu atau Kembali Menunggu

Beberapa waktu lalu saya sempat menulis sebuah postingan berjudul “Waiting…” yang isinya tentang bagaimana momen menunggu menjadi sangat menyebalkan. Salah satu di antaranya adalah saat sesuatu atau seseorang yang ditunggu tersebut tidak sadar bahwa dirinya sedang ditunggu. Postingan lebih lengkapnya bisa lihat di daftar Pos-pos Terakhir di bagian bawah.

Namun, beberapa hari lalu saat saya sedang iseng scrolling album foto lampau di handphone saya, tiba-tiba saya menemukan sebuah quote yang lebih “mematikan”. Saya tidak ingat kapan dan dari mana quote “mematikan” tersebut berasal. Quote itu sudah tertimbun ratusan foto dan gambar-gambar lain di album tersebut. Namun, setelah saya pikir-pikir sejenak, memang pernyataan quote tersebut ada betulnya juga, sih. Seketika itu pula saya jadi berpikir bahwa tulisan saya tentang momen menyebalkan dalam menunggu itu langsung dibantah oleh quote “mematikan” ini. Ternyata ada lagi yang lebih parah!

Jadi, quote-nya kaya gimana, sih?

Baca entri selengkapnya »

Mekah-Madinah Hari-2: Free Program, Family Time!

Setelah melaksanakan ibadah umroh tengah malam tadi dan mulai tidur sekitar pukul 02.00 waktu setempat, sekitar pukul 04.00 pagi saya dibangunkan oleh ibu saya. Beliau menawarkan saya dan adik saya, apakah kami ingin ikut ibu dan bapak saya sholat shubuh berjamaah di Masjidil Haram. Ini adalah salah satu sisi menarik orangtua saya. Dalam hal tertentu, mereka lebih sering memberikan kesan “menawarkan” dibandingkan “memerintah”. Bukan mengatakan, “Ayo ikut Mama-Papa ke Masjid!”, melainkan “Mau ikut Mama-Papa ke Masjid nggak?”. Kesannya lebih ‘halus’ dan friendly. Tapi, tapi… kalau udah sekali bilang “Mau”, konsekuensinya harus mau terima juga. Disuruh cepet-cepet mandi dan diketok-ketok jangan lama-lama mandi dari luar kamar mandi :p

Adzan shubuh di sana adalah sekitar pukul setengah enam. Kami baru keluar hotel tepat ketika adzan shubuh berkumandang (karena ‘leyeh-leyeh’ bangun dari kasur, antre mandi, lama gerak, dsb.). Masya Allah, ramai sekali! Orang-orang sudah berbondong-bondong datang ke Masjidil Haram. Dan mengejutkannya lagi, jamaah sholat subuh sudah mencapai sepanjang jalanan menuju Masjidil Haram! Udah kaya sholat Jumat atau malah sholat Idul Fitri saja! Akhirnya, setelah berhasil ‘menyusup’ sana-sini, saya dan keluarga berhasil mengambil shof di salah satu sudut pelataran Masjidil Haram (dan kedinginan). Masya Allah, sholat subuh di sana lamaaa sekali (bacaan surahnya panjang; memang itu yang benar), tapi malah terkesan khusuk dan santai. Oh ya, setelah sholat fardhu berjamaah selesai, di Masjidil Haram selalu dilaksanakan sholat jenazah. Karena itu, jika ada waktu dan tidak sedang terburu-buru, silakan ikut juga sholat sunnah ini.

Setelah sholat jenazah selesai, kami berempat (bapak dan adik saya kebetulan dapat tempat shof pria yang dekat dengan shof wanita tempat saya dan ibu saya berada) sukses ‘diusir’ oleh orang-orang keamanan dan kebersihan masjid. Pasalnya, selain karena mau dibersihkan, shof di pelataran masjid memang sering kali mengganggu ruang jalan bagi jamaah yang mau pulang. Namun, bukannya pulang, kami berempat malah memutuskan untuk jalan-jalan sebentar ke dalam Masjidil Haram. Lumayan. Sesuai jadwal, hari ini adalah free program alias hari bebas untuk istirahat, ibadah, atau pun jalan-jalan. Yippy! Free program, it means family time! :D

Baca entri selengkapnya »

Mekah-Madinah Hari-1: Kupenuhi Panggilan-Mu, Ya Allah… (2)

Kita dan rombongan tiba di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah, sekitar pukul 18.00 waktu setempat (di Indonesia mungkin sekitar pukul 22.00). Setelah sholat Maghrib di bandara, rombongan bersiap naik bus menuju kota Mekah. Perjalanan Jeddah—Mekah memakan waktu sekitar 5 jam. Sepanjang perjalanan di dalam bus, usai makan malam, brifing, dan melantunkan kalimat-kalimat talbiyah, rombongan sempat diberi kesempatan untuk istirahat (tidur) sejenak. Pasalnya, sesampainya di Mekah nanti, usai membagi kamar hotel dan meletakkan barang-barang, rombongan akan langsung berangkat ke Masjidil Haram dan melaksanakan ibadah umroh. Allah memang selalu mempermudah segala perjalanan ini. Kami langsung tertidur pulas sesaat lampu bus dipadamkan. Namun, saat lampu bus dinyalakan, kami yang terbangun mendadak itu sama sekali tidak merasa kaget atau pusing. Tubuh kami bahkan terasa lebih sehat dan kuat. Semangat kami semakin besar. Apalagi ketika bentangan kota Mekah sudah sukses berada di depan mata.

Kami sampai hotel sekitar pukul 23.00 waktu setempat. Pembagian kamar hotel berlangsung cepat dan tertib. Alhamdulillah ibu-bapak-adik-saya berada dalam satu kamar hotel di lantai 6. Usai meletakkan beberapa barang tentengan ke kamar, kami kembali ke lobi untuk segera berangkat ke Masjidil Haram yang letaknya tidak jauh dari hotel tempat kami menginap.

Hanya butuh waktu sekitar 5 menit berjalan kaki untuk mencapai Masjidil Haram. Meskipun demikian, medan jalannya cukup berat. Menurun saat berangkat dan menanjak saat pulang. Sepanjang perjalanan kalimat talbiyah selalu dilantunkan. Meskipun sudah larut malam, suasana di sana sama sekali tidak berbeda, tetap saja ramai. Semakin malam, semakin banyak pula orang yang datang. Saat itu pemandangan ‘lucu’ itu pun tampak. Orang bule pakai baju ihram. Serius, bule macam bintang film Hollywood! Bener-bener deh, ihram itu adalah saat-saat ketika tidak ada perbedaan di antara semua orang. Mau kulit putih, cokelat, bahkan hitam sekali pun, pakaiannya sama semua, ihram putih-putih. Istimewanya, ihrom juga menjadi saat-saat ketika kita benar-benar menjadi ‘diri kita sendiri’. Maksudnya, tidak ada kosmetik (tidak peduli cantik-jelek semua tetap kelihatan cantik dengan balutan air wudhu), tidak ada wewangian (tidak peduli wangi-bau semua tetap terlihat segar dengan semangat taqwa), tidak ada baju bagus (tidak peduli kain apa pun yang dipakai semua tetap terlihat putih bersih).

Ihram itu seakan bukti bahwa semua manusia memang sama derajatnya di hadapan Allah…

Baca entri selengkapnya »

Mekah-Madinah Hari-1: Kupenuhi Panggilan-Mu, Ya Allah… (1)

Ini adalah salah satu nikmat terbesar yang Allah berikan kepadaku dan keluarga. Akhir Februari lalu, tepatnya tanggal 16—24 Februari 2015, aku, kedua orangtua, dan adikku berkesempatan mengunjungi suatu tempat yang menjadi impian untuk dikunjungi seluruh kaum muslimin. Sungguh suatu nikmat tiada tara. Rasa syukur dan senang ini tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Begitu sadar banyaknya rekan, kenalan, hingga saudara yang juga ingin ke sana, rasa syukur itu kembali meluap. Syukur karena Allah bersedia memberikan kesempatan ini kepada sosok yang ‘hanya seperti ini’. Syukur pula karena Allah memberikan kesempatan emas ini di kala tubuh masih sehat dan kuat, pikiran masih jernih dan tajam. (Semoga orang-orang lain yang Engkau ridhoi juga bisa segera menyusul).

Hari Jumat tanggal 13 Februari pukul 15.00 saya izin pulang cepat dari kantor untuk pulang ke Tegal terlebih dahulu, menggunakan kereta dengan jadwal keberangkatan pukul 18.35 WIB. Saya memutuskan untuk izin pulang cepat karena koper dan beberapa barang masih ada di kosan. Dari kosan saya naik Transjakarta untuk menuju stasiun antarkota. Masya Allah, kemudahan demi kemudahan datang silih berganti. Sesaat sebelum keluar kosan, langit mendadak mendung dan hujan rintik-rintik. Namun, setelah keluar kosan sesuai rencana yang disusun sebelumnya, yaitu sekitar pukul 16.30, gerimis mendadak reda. Dari kosan ke halte busway butuh waktu sekitar 5 menit berjalan kaki atau hanya terbilang ratusan meter saja. Meskipun demikian, beban koper dan tas cukup berat. Dengan bantuan kekuatan dari Allah, akhirnya saya tiba juga di shelter busway. Tidak beberapa lama bus pun tiba. Namun, secara mengejutkan tiba-tiba hujan lebat turun di tengah perjalanan. Benar-benar lebat. Jalanan sempat macet. Daaan… begitu tiba di shelter busway stasiun antarkota, secara ajaib hujan lebat itu pun berhenti! Alhamdulillah saya tetap ‘kering’ dan bisa aman berjalan dari shelter menuju stasiun.

Maka, kebahagiaan saya pun dimulai dari sini. Saat akhirnya pulang dan bertemu dengan orang-orang yang paling saya sayangi di dunia ini…

Baca entri selengkapnya »

Pekerjaan Hebat

Lebih berhasil dan sukses daripada dirinya adalah salah satu harapan semua orangtua di dunia ini kepada anaknya. Jika orangtua lulusan SD, setidaknya mereka ingin anak mereka berhasil menamatkan pendidikan dasar 9 tahun atau bahkan lebih. Jika orangtua lulusan SMA, mereka tentu ingin anaknya mengenyam bangku kuliah dan berhasil mengenakan toga. Namun, ternyata tidak hanya urusan pendidikan saja. Dalam hal materi, orangtua juga pasti ingin anaknya lebih mapan daripada dirinya. Buktinya mereka selalu saja mau menyediakan segala kebutuhan anaknya, mulai dari yang paling kecil, kebutuhan pokok sandang-pangan-papan, hingga kebutuhan lain seperti handphone-laptop-dsb.

Salah satu indikator kesuksesan bagi orangtua terhadap anaknya adalah pekerjaan anaknya kelak ketika dewasa. Pekerjaan anaknya (ketika ia sudah bekerja) hampir selalau ditanyakan pada setiap acara reuni atau obrolan orangtua dengan teman mereka. Orangtua yang mampu menjawab pertanyaan ini dengan bangga akan merasa telah berhasil membesarkan anaknya dengan baik. Obrolan pun berlanjut positif lantaran ada saja hal-hal menarik lain yang bisa dibanggakan mereka tentang pekerjaan dan keberhasilan anaknya. Namun, saat orangtua tidak bisa menjawab pertanyaan ini dengan bangga (mis., anaknya belum dapat kerja, anaknya kerja di tempat yang ‘kurang layak’, dsb.), bisa saja mereka kemudian akan merasa gagal mendidik mereka. Apalagi ketika kondisi orangtua lebih baik daripada anak. Pasti ada sedikit rasa prihatin atau bersalah terhadap anaknya. (Mungkin…)

Pemaparan di atas mungkin tidak sepenuhnya benar karena saya sendiri juga belum merasakan jadi orangtua. Namun, pada kesempatan ini saya ingin membahas masalah tersebut dari sudut pandang anak, khususnya saya sendiri.

Baca entri selengkapnya »

« Older entries

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.