Pelajaran dan Pengalaman yang Kudapat

Pelajaran dan Pengalaman yang Kudapat

Pada tanggal 27 sampai 29 Juli 2010 yang lalu, aku mengikuti sebuah acara sosial ber-title FKM UI Peduli 2010. Aku mengikuti acara yang bertempat di sebuah desa kecil di Bogor ini. Acara tersebut diisi dengan berjualan dengan yg lebih dikenal dg pasar murah, mengunjungi adik2 di SD, kerja bakti, pengobatan gratis, penyuluhan gizi dan kesehatan serta lomba untuk anak2, dan sembako murah. Kebetulan aku bertugas menjadi salah satu staf bagian perlengkapan sekolah yang masuk ke katagori pasar murah.

Dari awal mengikuti acara ini, jujur aku merasa malas karena acara ini bertepatan saat aku masih libur kuliah. Rasanya malas sekali untuk kembali ke Depok ketika aku masih nyaman di rumah. Namun, niat buruk untuk ‘kabur’ akhirnya berhasil kuatasi. Aku pun berangkat ke Depok tepat sehari sebelum acara tersebut dan tidak tanggung2, sampai di sana pun beberapa jam sebelum keberangkatan ke Bogor.
Aku sampai kos sekitar pukul 04.30 dan langsung disuruh berkumpul untuk berangkat ke Bogor pukul 06.00 tepat. Setan sempat membisikiku untuk bermalas-malasan, tetapi rupanya tubuhku kuat juga untuk siap2 dan packing barang untuk ke Bogor yg memang sebelumnya belum dipersiapkan sama sekali. Tapi, pada akhirnya aku pun hanya bisa berangkat pukul 06.30 lebih.

Nyaris sampai di tempat tujuan, rupanya kendaraan yang kutumpangi tidak bisa masuk ke area desa yang jalannya parah banget. Terpaksa kami berjalan dari jalanan yang masih aspal, hingga sampai ke tempat tujuan yang jalanannya ‘naudzubillah’ banget (maksudnya gak banget alias parah banget). Jalanan desa itu dihiasi bebatuan dan lumpur di mana-mana, serta tentu saja, lubang yang tidak terhitung. Tak hanya itu, jalanan yang naik turun serta berbelok itu semakin menyulitkan langkah mengingat kami membawa barang2 kami yang rata2 dua sampai tiga tas.

Rupanya tak hanya itu. Setelah sampai di desa tujuan, kami harus membantu memindahkan barang dari mobil tronton ke rumah induk dengan berestafet. Sungguh perjuangan cukup berat karena jalan pijakan kami benar2 licin. Sandal beberapa orang pun terbukti berhasil menjadi korban. Apalagi saat mengangkut barang itu pun sempat gerimis.

Oh ya, saat gerimis itu aku sempat berteduh di sebuah gubuk berdinding bambu yang dianyam. Sungguh aku pikir ini adalah kandang, entah itu kandang ayam, kambing, kerbau, atau semacamnya. Tetapi anehnya, aku tidak mendengar suara binatang2 tsb. Hingga akhirnya aku terkejut karena ternyata dari dalam terdengar suara orang sedang berbicara. Ya, rupanya itu sebuah rumah! Ya Allah, ternyata rumah seperti ini yang sering kulihat di acara reality show bertema sosial yang ada di televisi memang benar2 ada. Aku hanya bisa diam.

Akhirnya, perjuangan mengangkut barang tersebut diakhiri dengan disambutnya kami di sebuah rumah sederhana yang letaknya cukup jauh dari rumah induk tempat kami semula berkumpul. Rumah itu memang sudah berdinding bata, tetapi dengan cat yang terkelupas di sana-sini. Ibu pemilik rumah menyambut kami dengan rumah yang sudah bersih disapu, tikar yang sudah tergelar rapi, kamar yg sudah tersedia, serta bantal yang banyak, seolah memang sudah dipersiapkan untuk tidur kami semua yg jumlahnya tidak sedikit ini.
Ibu yang sudah menjadi Nenek ini sangat baik meskipun kami tidak bisa (lebih tepatnya kesulitan) berbincang dengannya karena alasan bahasa. Ya, bahasa Sunda memang kurang familiar di telinga kami. Tapi, sungguh aku tahu bahwa ibu ini sangat baik.

Di acara pertama yang kuikuti, pasar murah, kami menjual beberapa barang2 murah untuk penduduk sekitar. Perlengkapan mandi lengkap dg harga 2rb, perlengkapan sekolah lengkap 1500, pakaian layak pakai dg harga 1000-3000, sandal dan sepatu, dsb.
Kegiatan ini sungguh menarik karena aku berhasil melihat senyum mereka yg geli melihat tingkah kami yang menjual dg cara yg mungkin menurut mereka aneh. Aku bahkan sampai menjemput ibu2 yg baru dateng agar beli alat sekolahku meski mereka ternyata lebih tertarik menuju ke perlengkapan mandi dan pakaian. Namun, aku senang karena kami berhasil menjual sekitar 100 perlengkapan sekolah walau masih tersisa 50 buah.

Di hari kedua, aku mengikuti kegiatan kerja bakti membersihkan musholla. Ya Allah, sesampainya di sana aku terdiam. Inikah yg mereka sebut musholla? Bahkan ini mungkin lebih ‘jelek’ daripada tempat sholatku di rumah. Kami pun membantu merenovasi musholla itu. Mengecat tembok dan pagarnya, membersihkan atap dan kacanya, menyapu lantainya, membereskan dan mengganti rak buku dan Al-Qurannya, serta mengepelnya.

Sekilas musholla itu pun tampak lebih bagus setelah kami dan warga sekitar bergotong-royong membersihkan dan merenovasinya kembali. Sayang memang aku tidak melihat musholla itu ketika sudah selesai dibenahi karena aku lebih dahulu pergi untuk sarapan. Dan untuk sarapan pun, aku dan kawan2 harus berjalan menuruni bukit terjal dan penuh lumpur serta jalanan yg licin. Bahkan lagi2 sandal salah satu teman putus dalam perjalanan ini.

Setelah kerja bakti dan sarapan, kami membantu mempersiapkan kegiatan selanjutnya, yaitu pengobatan gratis. Sebagian besar yg datang adalah manula dan anak-anak. Bahkan ada yg kesulitan berjalan karena sudah berusia lanjut. Seorang anak pun ada yg tangannya entah patah atau terkilir, tapi hanya dibantu dengan selendang yg seharusnya dibantu dengan gips.

Sayang, pada kegiatan ini lagi2 aku merasa kurang berguna karena aku kurang begitu mengerti apa yg mereka bicarakan. Aku sama sekali tak tahu bahasa Sunda. Akhirnya aku hanya dapat berdiri di pinggir jalan dan tersenyum sambil menyapa pasien yg hendak pulang dg ucapan, “Semoga cepat sembuh ya, Pak, Bu, Teh, Dek…” bukan dg bahasa Sunda. Entah mereka tahu atau tidak yang kuucapkan, tetapi aku senang karena mereka semua tersenyum padaku😀

Hari ketiga, bagiku hari yg paling menyenangkan. Pada saat pembagian sembako murah dg harga 10rb saja, aku kembali berjualan perlengkapan sekolah yg kemarin belum habis. Kali ini aku lebih semangat. Aku berteriak lebih keras dan menyapa semua ibu2, teteh2, atau bapak2 yg lewat. Tapi kali ini dg harga yg lebih murah. Seribu per paket. Yeah, rupanya mereka antusias juga! Ibu2 yg kutemui jg mulai berbeda2, yg sebelumnya blm pernah kutemui. Aku pun melihat banyak senyum dari mereka. Terutama senyum anak2 yg senang menerima paket perlengkapan sekolah itu. Entah mengapa aku sangat senang melihat senyum mereka. Apalagi ketika akhirnya perlengkapan sekolah yg kujual berhasil laku keras tak bersisa. Hehehe…

Akhirnya kegiatan ini hampir mencapai batas. Kami akan pulang dan kembali ke Depok. Tak terasa sekali 3 hari telah berlalu. Sungguh banyak sekali pengalaman yg kudapat di sini. Akhirnya aku merasakan juga bagaimana sulitnya mandi, bagaimana sulitnya berjalan di jalanan terjal berlubang dan berlumpur, sulitnya mendapatkan air dan makanan, dll. Ke kamar mandi saja harus minimal berdua karena kondisi kamar mandi yg memprihatinkan. Ditambah lagi tidak ada MCK. Sungguh menyedihkan. Bahkan setiap rumah tidak mempunyai kamar mandi. Mereka biasa mandi atau buang air di sungai atau pancuran.

Ketika aku dan teman lain selalu melihat ke bawah ketika berjalan, anak-anak di sana justru berlarian di jalan yang sama sepulang sekolah. Aku takut melihatnya jika membayangkan mereka jatuh karena berlarian di jalan semacam ini. Tapi aku baru sadar, inilah kelebihan mereka. Ya, ini yg mereka punyai dari apa yg tidak aku dan teman lain punyai.

Pengalaman berharga lain aku temukan ketika seorang ibu mengunjungi rumah tempat kami menginap. Ibu itu memberikan kami jajanan dari sagu yg mereka sebut geplak dan entah apa aku lupa, jajanan yg terbuat dari ketan. Ibu yg lain juga memberikan kami pisang yg besar dan terlihat enak sekali. Ibu itu juga mengajak kami berbincang meski kami agak kesulitan mengerti apa yang beliau ucapkan. Kami pun sedikit belajar bahasa Sunda dari ibu yg bernama ibu Iti tersebut.
Dari ibu Iti, kami pun tahu betapa penduduk desa ini sangat solid. Ibu Iti yang bertempat tinggal di bagian atas (anggap saja di atas bukit yg jauh dari rumah tempat kami tinggal), kenal dengan penduduk desa yg tinggal di bagian bawah. Ini adalah bukti betapa hebatnya masyarakat pedesaan.

Tak terasa, ini waktunya aku pulang. Ada sebagian teman yg berkata bahwa 3 hari yang lalu adalah mimpi. Mimpi di mana ketika kita sampai di Depok, kita akan kembali ke dunia nyata. Bagiku, sungguh 3 hari itu banyak sekali pengalaman yg kudapat. Sayangnya, aku kurang bisa berkomunikasi dengan masyarakat sana karena masalah bahasa. Hmmmm apa aku perlu belajar bahasa Sunda, ya? Hehe…

Oh ya, ada lagi pengalaman yg tak terlupakan, yaitu ketika kaki ku mati rasa dan benar2 kayak orang lumpuh saat dalam perjalanan pulang dari Bogor karena posisi dudukku yg tak nyaman dan berdesak-desakkan, serta pengalaman mencuci dan membersihkan baju kotor karena di sana selama 3 hari 2 malam, aku hanya mandi 2x karena alasan kamar mandi (hehe) dan sepatu berlumpur yang menjijikkan. Hehehee…

Terima kasih bagi yang berkenan membaca. Semoga bisa menjadi pelajaran untuk kita semua untuk lebih bersyukur dan membantu orang yg kurang beruntung daripada kita.

Spesial untuk Nisafit, nyesel gak nih, gak ikut Peduli??? Hehehe… Jangan lupa durennya ya, Maniiiisss!😉

Diambil dari tulisan asli di facebook saya,
http://www.facebook.com/note.php?note_id=473697994781

2 Comments

  1. ? said,

    12 June 2011 at 06:44

    dih malas mandi anti

    • 16 June 2011 at 21:24

      Karena mandi di sana susah. Kamar mandi terbuka dan nggak nyaman. Lagipula udara di sana cukup dingin dan segar, jadi walau nggak mandi, badan juga nggak bau ^^


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: