Mitos Kesehatan : Kegemukan

Kegemukan bisa dibilang menjadi momok dan hal yang ditakutkan oleh sebagian besar orang, terutama kaum hawa. Memang sih, kegemukan itu berhubungan erat banget dengan dua hal yang paling diperhatikan, yaitu penampilan dan kesehatan. Yap, bisa dikatakan kegemukan tsb dapat menurunkan estetika (seperti blog saya saja ^^) dari orang yang bersangkutan. Selain itu, kegemukan juga berhubungan erat dengan kesehatan. Lho? Iya, dong! Kegemukan kan, salah satu risiko beberapa penyakit, seperti diabetes mellitus, penyakit jantung koroner (PJK), stroke, dsb.

Nah, berikut ada beberapa mitos seputar kegemukan, nih! Semoga bermanfaat.

Minum Air Putih atau Air Dingin Terlalu Banyak Membuat Gemuk

Wah, agak aneh juga dengan mitos satu ini. Bukankah justru kita membutuhkan 8 gelas per hari untuk kesehatan dan fungsi tubuh yang optimal? Hm, justru yang pernah saya dengar, sebagian besar orang justru tidak mengonsumsi 8 gelas per hari untuk memenuhi kebutuhan air dalam tubuhnya.

Nah, penyebab kegemukan sendiri adalah jika total kalori yang dikonsumsi lebih besar daripada total kalori yang dikeluarkan. Adapun total kalori yang dikonsumsi didapat dari makanan dan minuman yang kita makan. Sedangkan total kalori yang dikeluarkan meliputi energi yang digunakan untuk aktivitas tubuh sehari-hari. Energi tsb meliputi energi untuk BMR (Basal Metabolic Rate = aktivitas yang dilakukan di dalam tubuh, misalnya aktivitas sistem pernapasan, kardiovaskuler, sistem intra dan ekstraseluler, dsb), SDA (energi untuk mencerna makanan), dan aktivitas fisik (aktivitas sehari-hari, misalnya bekerja, belajar, berpikir, olahraga, dsb). Cukup ribet juga, ya. Hehe. Nah, yang jadi kunci di sini adalah kalori yang dikonsumsi. Adapun besarnya kalori pada air adalah 0 atau tidak ada karena pada dasarnya air adalah untuk menjaga kesimbangan cairan dalam tubuh, melarutkan beberapa zat tertentu, dan menjaga keseimbangan pH. Dengan kata lain, air putih tidak menyebabkan gemuk.

Gemuk Karena Keturunan

Hm, mungkin kalimat di atas ada benarnya juga, tapi bisa dibilang kurang tepat. Adalah benar bahwa kita mewarisi gen dari kedua orangtua kita. Gen ini menentukan apakah kita tipe orang yang mudah gemuk atau tidak. Jadi, kalimat di atas kurang tepat karena adanya gen tsb bukan merupakan penyebab utama kegemukan.

Sebagian besar kegemukan pada dasarnya disebabkan karena kebiasaan yang diturunkan. Misalnya ayah dan ibu suka makan makanan manis, bersantan, berlemak, dan mengandung banyak kalori. Nah, maka otomatis apa yang tersedia di meja makan atau yang dikonsumsi sehari-hari adalah makanan semacam tersebut di atas. Yap, kalo sudah begitu, otomatis juga sang anak akan memakan makanan yang sama kan, yak? Nah, otomatis lagi, sang anak bisa menjadi gemuk karena memakan makanan tsb terus. Setuju kan, yak? Namun, sebetulnya hal semacam itu tidak perlu terjadi jika memang pandai mengatur pola makan, misalnya dengan secara rutin juga mengonsumsi sayur dan buah serta melakukan aktivitas fisik (olahraga).

Makan Malam Bikin Gemuk?

Hm, mungkin ada kesalahpahaman di sini. Makan malam nggak bikin gemuk, kok. Asalkan memang makan malam tepat pada waktunya. Normalnya sekitar jam 6 – 7 malam. Kalau bisa sih, jangan lebih dari jam tsb di atas. Lantas apa yang membuat gemuk? Nah ini dia. Misalnya saja makan jam 11 malam, kemudian karena terlalu kenyang atau memang sudah mengantuk, setelah makan langsung tidur! Wah, bahagia banget kayanya hidupnya! Habis makan tidur! Ini yang bahaya, nih. Pasalnya metabolisme tubuh saat tidur itu tinggi, jadi makanan cepet dicerna. Namun, karena tidur itu tidak ada aktivitas fisik yang dilakukan, maka makanan tersebut malah disimpan dalam tubuh dalam bentuk lemak. Mantep banget kan, rasanya! Sebagai bukti saat tidur makanan cepet dicerna adalah ketika kita sahur. Biasanya setelah sahur dan shalat subuh, kita tidur lagi kan ya? Padahal kan kita baru saja makan sahur. Hasilnya apa? Hasilnya, saat kita bangun di pagi harinya, badan kita akan lemes dan cenderung lapar. Bener nggak, sih? Jawab bener, pleaseeee…! Hehehe…😀

Sumber : Majalah Konsist Edisi 43/Th.IV/2010 rubrik Mitos Kesehatan halaman 60.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: