Di Dalam Mesin Berwarna Biru

Di tengah perjalanan menggunakan bongkahan mesin biru beroda empat, kusandarkan sejenak kepala di daun pintu keluar. Melepas lelah dan penat yang hinggap selama sehari itu. Agak berbahaya. Daun pintu itu terhubung langsung keluar. Menghubungkan langsung tubuh ini dengan aspal-aspal yang berjalan. Namun, ini adalah posisi yang paling nyaman. Aku terlena dan nyaris memejamkan mata. Tiba-tiba…

“Assalamualaikum! Permisi, Ibu, Bapak, Kakak…”

Dua orang asing spontan melompat ke dalam mesin. Meneriakkan sesuatu tak asing yang mereka sebut dengan mengais rejeki. Aku terlonjak sejenak dari kenyamanan yang berubah drastis menjadi keanehan. Mereka memasuki personal space-ku tanpa izin. Seorang yang satu duduk di kursi dekat mulut pintu sedang yang lain duduk di bawah tepat di sebelah kakiku. Ruang pribadiku terusik.

Untuk beberapa saat aku mematung. Aku tersentuh dengan nyanyiannya yang bercerita tentang seorang Ibu. Aku kenal lagu itu, tetapi kini memang sudah jarang terdengar.

Oh Ibuku…

Engkaulah wanita

Yang kucinta…

Selama hidupku…

Maafkan anakmu

Bila ada salah

Pengorbananmu tanpa balas jasa…

               Ya Allah…

               Ampuni dosanya

               Sayangilah…

               Seperti menyayangiku…

               Berilah dirinya

               Kebahagiaan

               Di dunia, juga di akhirat…

Suasana hati sekejap berubah teduh. Terbayag sejenak sosok Ibu yang kebetulan beberapa hari lalu sempat terpantul di lensaku. Aku mulai menyimak bait demi bait dan bersimpati sejenak pada sang penyanyi.

Namun, mungkin memang belum rejekinya dan belum waktunya kuberikan sebagian rejekiku padanya. Aku yang sebenarnya sangat membenci peminta-minta kecuali dalam keadaan dan kondisi khusus, akhirnya memang tidak memberikan imbalan untuk mereka yang sudah menghibur tanpa diminta. Alasannya karena tidak ada uang kecil. Sepele.

Akhirnya lagu itupun selesai dimainkan. Saatnya untuk mereka meminta haknya yang tak wajib diberikan. Tak ada satupun yang bergerak. Semua penumpang mematung, termasuk diri ini. Sampai beberapa detik kemudian salah seorang dari mereka masih gigih menengadahkan tangannya. Hingga akhirnya…

Personal space-ku kembali terancam! Yang menengadahkan tangan, memasang posisi tangannya dekat sekali dengan tanganku yang sedang memangku di atas tas yang kuletakkan di pangkuan. Mungkin jaraknya selisih 5-3 cm hingga akhirnya menempel. Aku gusar. Spontan kutarik perlahan tanganku menjauh dan kuletakkan di dagu. Sampai akhirnya ucapan itu terlontar dari sang penengadah tangan.

“Hih? Kenangapa? Jijik? Najis nemen, Mba?”

Aku terhenyak, tetapi tak berani menatap sosok yang kemudian melompat keluar dari mesin sambil tetap mengeluh dan ngedumel tak jelas. Rasa kesal dan malu bercampur menjadi satu. Namun sedikit rasa lega juga hinggap lantaran ruang pribadiku kembali aman. Namun, kata-kata itu… agaknya terlalu berlebihan.

***

Hal yang sama pernah terjadi ketika kusodorkan tangan kepada seorang Ayah dari temanku. Niat hati untuk tetap sopan dan menghormat dengan sedikit ilmu yang kuanggap tidak mengapa berjabat tangan dengan seseorang tanpa shahwat, membuat tangan ini bergerak perlahan. Namun, ilmu itu pun tertepis dengan ilmu radikal lain yang mengatakan tidak bolehnya menyentuh yang bukan muhrim. Siapapun dan untuk apapun itu, kecuali tanpa sengaja.

Yak, dan hasilnya kejadian itu menyadarkanku lantaran sang Bapak menghindari jabatan tangannya denganku dengan cara menarik tangannya perlahan. Saat itu aku sempat bergumam, jahat sekali Bapak ini yang membuat diriku malu di hadapan banyak orang dan terlihat begitu rendah. Namun, beberapa saat kemudian aku pun tersadar bahwa Bapak itu melakukannya bukan karena keinginan pribadi, tetapi karena Allah. Karena rasa cinta mendalam kepada Allah atas segala perintah dan larangan-Nya. Kemudian aku pun tersadar bahwa Bapak itu sungguh menyayangi dirinya sendiri, istrinya, termasuk juga diriku yang ditolaknya untuk berjabat.

Di sisi lain, kuingat ketika tengah menaiki pijakan berpola menghindari lalu lintas yang makin garang, sepasang muda-mudi berpegangan tangan dengan mesra. Tak mau terlepas bahkan ketika orang lain dari arah berlawanan kesulitan melintas lantaran ruang sempit yang hanya mampu menampung dua orang berbanjar.

Kemudian spontan teringat akan adik laki-lakiku sendiri yang bahkan ‘tidak mau’ saat kugandeng untuk menyebrang di jalan Margonda yang menakutkan. Waw, agaknya cukup aneh untuk seorang yang bukan muhrim dapat dengan santainya berpegangan tangan ketika di sisi lain bersama adik atau kakaknya yang jelas-jelas adalah muhrimnya dia justru enggan.

***

Jika memang tragedi di dalam mesin berwarna biru, berjabat tangan, dan bergandengan itu agak lebay, maka izinkanlah diri ini untuk meminta maaf. Meskipun ada yang berpendapat bahwa menyentuh bukan muhrim tanpa syahwat adalah boleh atau mubah, tetapi bukankah tidak ada salahnya jika sebaiknya dihindari? Mengingat kita pun tak akan pernah tahu kapan si syahwat itu akan datang.

Maka izinkanlah diri ini memetik dari semua hikmah yang tersirat dalam tiap bait perjalanan hidup singkat dan mendapatkan koreksi serta masukan dari apa yang terlihat kurang tepat dan menyimpang🙂

Tidak pernah sekali-kali Rasulullah SAW menyentuh tangan seorang wanita yang tidak halal baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ditikam seseorang dari kalian di kepalanya dengan jarum dari besi, itu lebih baik daripada menyentuh seorang wanita yang tidak halal baginya.” (HR. At-Thabrani).

Wallahu ‘alam.

*estETIKA yang masih harus banyak belajar untuk menjadi lebih berestETIKA🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: