Belajar dari Batu Bata

Pernahkah berpikir bahwa dalam suatu bangunan megah nan mewah tersusun dari unsur-unsur ‘pendukung’ yang tidak tampak secara kasat mata?

Aku ingin berfokus pada sebuah batu bata…

Batu bata terbuat dari lumpur atau tanah liat, yang kemudian membutuhkan bantuan sedikit air untuk memadukan satu partikel lumpur yang satu dengan yang lain. Lumpur bukanlah sesuatu yang menarik, bahkan lebih sering disebut menjijikkan. Lumpur diinjak dan tidak dipedulikan. Siapa yang mau baju, sepatu, kaos kaki, atau barang-barangnya terkena lumpur?

Setelah dibentuk sedemikian rupa, lumpur itu akan dijemur. Bahkan yang lebih ekstrim, lumpur itu akan dibakar pada suhu tertentu. Mungkin seandainya mereka bisa berteriak, mereka akan berteriak sekeras-kerasnya, memohon bantuan dari Sang Sumber Pertolongan.

Namun, Allah memang Maha Adil. Usai sakitnya derita itu, lumpur itu berubah menjadi batu bata yang kokoh dan tampak ‘lebih cantik’, dengan warna khas hasil pembakaran yang lebih baik daripada warna lumpur sebelumnya.

Lumpur menjelma menjadi batu bata yang lebih berguna. Dicari oleh banyak orang untuk keperluan membuat rumah, gedung, bangunan, dan sebagainya. Mereka menjelma dari benda hina yang menjijikkan, menjadi sesuatu yang lebih berguna dan bermanfaat.

Akan tetapi, cobaan Allah datang lagi untuk mereka. Batu bata itu harus ikhlas menerima posisinya yang pengap dan tidak nyaman. Terpisahkan dengan rekan yang lain lewat perantara semen-semen, dan tertutup atmosfer luar oleh semen dan cat dinding.

Batu bata mungkin bersedih. Posisinya kembali seperti semula, tidak dianggap orang-orang lagi. Tidak ada yang mampu melihat batu bata yang menopang kokoh bangunan, sebagus dan semewah apapun bangunan itu.

Mungkin terkadang mereka iri dengan batako yang dibiarkan menghirup udara luar tanpa tertutup semen. Atau rekan batu bata lain yang sisa hidupnya digunakan untuk menopang rumah-rumah tanpa semen kalangan bawah.

***

Aku ingin seperti batu bata. Yang sabar dan ikhlas atas segala yang telah Allah gariskan.

Aku ingin seperti batu bata. Yang qanaah dan menerima dengan segala yang Allah berikan.

Aku ingin seperti batu bata. Yang berguna besar, tanpa ada yang tahu bahwa ia terlibat di dalamnya.

Bagaimana mungkin?

Sifat asliku terbentuk dari gumpalan rasa sombong dan congkak. Aku terlanjur terkontaminasi akan sikap riya’ dan ingin dilihat. Hatiku ternoda akan segala keluhan yang jauh dari kata ikhlas.

Aku kerap mengeluh. Bagaimana mungkin di usia yang tidak lagi muda, tidak mampu memberikan sesuatu pada orang lain? Bagaimana mungkin aku menjadi seseorang yang tidak berguna untuk orang lain?

Aku merenung dalam setiap kesendirian yang kerap membunuhku. Membunuh perasaan hati karena rasanya sakit tak tertahan. Ditambah lagi, sejauh ini belum ada obat atau resep dokter mana pun yang sanggup mengeliminasinya.

Di tengah kesendirian itu, aku kembali terpental ke dalam jurang kemelut persepsiku sendiri. Aku tercabik di tengah prestasi orang-orang. Aku terkoyak di antara segala ‘bintang’ yang menaungi orang tersayang. Aku terlempar di tengah segala ‘pengakuan keberadaan’ orang terkasih.

Hingga akhirnya kata-kata itu mampu menjelaskan semua persepsiku selama ini. Menegaskan bahwa segala persepsi-persepsi itu adalah benar adanya. Kata-kata itu, sakit, tetapi kutanggapi dengan senyum. Karena aku tahu, bahwa kata-kata itu benar-benar menjawab segala persepsiku yang semu, menjadi lebih nyata.

Benarkah segala bintang dan prestasi itu penting? Tentu saja.

Namun, segala yang terpenting dalam hidup, adalah ridho Allah pada kita atas segala yang kita lakukan.

Sudahkah prestasi itu diridhoi oleh-Nya? Sudahkah ‘bintang’ itu diridhoi oleh-Nya? Sudahkah pengakuan keberadaan itu ridhoi oleh-Nya?

Cita-cita dan impianku sederhana. Namun, cobaan mendapatkannya sungguh tak terhingga.

Aku menghibur diri. Mungkin aku memang seperti batu bata. Tidak tampak, tidak layak dikenal, tidak patut diperhatikan, dan segala hal lain yang meng-embel-embel-kannya.

Namun, aku ingin sepenuhnya belajar dari batu bata. Yang ikhlas dan rendah hati, menerima atas segala keadaan, apapun dan di mana pun itu.

 

—estEtika—

1 Comment

  1. theadrieans said,

    7 July 2013 at 16:49

    Nggak sengaja td lg googling salah satu ayat Qur’an, abis,itu nemu blog ini. Suka sama tulisannya, reminder buat diri sendiri. Makasih yaaa..btw, salam kenal:)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: