‘Berbicara’ dengan Allah

Mungkin postingan ini berhubungan dengan postingan sebelumnya yang sangat singkat. Ya, ketika tidak ada seorang pun yang dapat dan mau mendengarkan kita, mungkin saat itu Allah sedang ingin hanya kepada-Nya lah kita ‘berbicara’. Hanya kepadanya-Nya lah kita mengadu dan membagi kisah. Namun, bagaimanakah caranya ‘berbicara’ dengan Allah?

Seharusnya semua orang tahu bahwa Allah SWT adalah Maha Mendengar. Tidak ada satu suara pun yang luput, bahkan suara dan bisikan hati kecil sekali pun. Suara yang masih tertambat erat di bibir, maupun yang tersembunyi dalam di dasar hati. Semuanya Allah tahu. Tanpa terkecuali.

Terdapat sebuah kisah tentang seorang anak gembala. Setiap hari sembari menggembalakan ternaknya, dia melagukan ungkapan hatinya kepada Allah SWT. Dia ‘berbicara’ kepada Pencipta Alam Semesta. Dia bergumam, menyerukan isi hatinya.

“Di manakah Engkau, supaya aku dapat menjahit baju-Mu, memperbaiki kasur-Mu, dan mempersiapkan ranjang-Mu? Di manakah Engkau, supaya aku dapat menyisir rambut-Mu dan mencium kaki-Mu? Di manakah Engkau, supaya aku dapat mengilapkan sepatu-Mu dan membawakan air susu untuk minuman-Mu?”

Ketika bergumam demikian, Nabi Musa kebetulan lewat dan bertanya dengan siapa seorang gembala tersebut berbicara.

Sang Gembala pun menjawab, “Dengan Dia yang telah menciptakan kita. Dengan Dia yang menjadi Tuhan yang menguasai siang dan malam, Bumi dan langit.”

Mendengar jawaban tersebut, Nabi Musa marah, “Betapa beraninya kamu bicara kepada Tuhan seperti itu! Apa yang kamu ucapkan adalah kekafiran. Kamu harus menyumbat mulutmu dengan kapas supaya kamu dapat mengendalikan lidahmu. Atau paling tidak, orang yang mendengarmu tidak menjadi marah dan tersinggung dengan kata-katamu yang telah meracuni seluruh angkasa ini. Kau harus berhenti bicara seperti itu sekarang juga karena nanti Tuhan akan menghukum seluruh penduduk bumi ini akibat dosa-dosamu!”

Gembala tersebut sangat ketakutan, terlebih ketika akhirnya mengetahui bahwa yang tengah berbicara dengannya adalah seorang Nabi.

Dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya, ia mendengarkan Nabi Musa yang terus berkata, “Apakah Tuhan adalah seorang manusia biasa sehingga Ia harus memakai sepatu dan alas kaki? Apakah Tuhan seorang anak kecil yang memerlukan susu supaya Ia tumbuh besar? Tentu saja tidak. Tuhan Maha sempurna di dalam diri-Nya. Tuhan tidak memerlukan siapa pun. Dengan berbicara kepada Tuhan seperti yang telah engkau lakukan, engkau bukan saja telah merendahkan dirimu, tetapi kau juga merendahkan seluruh ciptaan Tuhan. Kau tidak lain dari seorang penghujat agama. Ayo, pergi dan minta maaf, kalau kau masih memiliki otak yang sehat!”

Singkatnya, kemudian si gembala tersebut pun pergi, sementara Nabi Musa juga melanjutkan perjalanannya menuju kota terdekat. Namun, tiba-tiba, Allah Yang Mahakuasa menegurnya.

“Mengapa engkau berdiri di antara Kami dengan kekasih Kami yang setia? Mengapa engkau pisahkan pecinta dari yang dicintai-nya? Kami telah mengutus engkau supaya engkau dapat menggabungkan kekasih dengan kekasihnya, bukan memisahkan ikatan di antaranya.”

Tuhan berfirman, “Kami tidak menciptakan dunia supaya Kami memperoleh keuntungan darinya. Seluruh makhluk diciptakan untuk kepentingan makhluk itu sendiri. Kami tidak memerlukan pujian atau sanjungan. Kami tidak memerlukan ibadah atau pengabdian. Orang-orang yang beribadah itulah yang mengambil keuntungan dari ibadah yang mereka lakukan. Ingatlah, bahwa di dalam cinta, kata-kata hanyalah bungkus luar yang tidak memiliki makna apa-apa. Kami tidak memperhatikan keindahan kata-kata atau komposisi kalimat. Yang Kami perhatikan adalah lubuk hati yang paling dalam dari orang itu. Dengan cara itulah Kami mengetahui ketulusan makhluk Kami walaupun kata-kata mereka bukan kata-kata yang indah. Buat mereka yang dibakar dengan api cinta, kata-kata tidak mempunyai makna.”

Suara dari langit selanjutnya berkata, “Mereka yang terikat dengan basa-basi bukanlah mereka yang terikat dengan cinta dan umat yang beragama bukanlah umat yang mengikuti cinta karena cinta tidak mempunyai agama selain kekasihnya sendiri.” Tuhan kemudian mengajarinya rahasia cinta.

Setelah itu pun, Nabi Musa pergi mencari gembala itu. Susah payah mencarinya, akhirnya mereka pun dapat bertemu kembali atas kehendak Allah. Kemudian Nabi Musa pun berkata pada gembala tersebut.

“Aku punya pesan penting untukmu. Tuhan telah berfirman kepadaku bahwa tidak diperlukan kata-kata yang indah bila kita ingin berbicara kepada-Nya. Kamu bebas berbicara kepada-Nya dengan cara apa pun yang kamu sukai, dengan kata-kata apa pun yang kamu pilih. Apa yang aku duga sebagai kekafiranmu ternyata adalah ungkapan dari keimanan dan kecintaan yang menyelamatkan dunia.”

***

Pelajaran yang kupetik :

  1. Sambil melakukan apapun (menggembala sekalipun), kita dapat terus mengingat dan bersyukur kepada Allah.
  2. Tidak seharusnya ‘mengkafirkan’ seseorang atau mengatai orang dengan sebutan kafir.
  3. Allah tidak sama dengan apa dan siapapun. Allah Maha Sempurna dan tidak membutuhkan suatu apapun.
  4. Pentingnya menyegerakan taubat dan meminta maaf.
  5. Kita dapat berbicara dengan Allah dengan cara apapun dan dengan kata-kata apapun yang kita pilih.

***

Ya, kita bebas berbicara dengan Allah dengan kata-kata apapun yang kita mau (asalkan tetap merendahkan diri, lembut, dan baik). Allah Maha Mendengar dan tidak melihat dari seberapa bagusnya kata-kata yang kita susun dan ucapkan. Allah ‘mendengarnya’ melalui hati kita. Bagaimana hati berbicara kepada-Nya, lebih menunjukkan seberapa besar ketulusan dan rasa cintanya pada Allah.

Mungkin kita sering melihat atau mendengar pertanyaan, misalnya seperti, “Bagaimana doa khusus supaya kita kaya?” atau “Ada nggak bacaan doa khusus biar lulus ujian?”

Bagaimana dengan hal itu?

Seharusnya kita tahu bahwa tidak ada doa-doa khusus semacam itu. Maksudnya adalah segala keinginan yang kita inginkan, kita dapat mengatakan dan mengutarakannya kepada Allah dengan kata-kata kita sendiri. Kita tidak perlu susah payah merangkai kata sedemikian rupa atau mencari tahu bahasa Arabnya. Allah sudah mengerti dari dalam hati kita apa yang dimaksud dari doa yang kita panjatkan. Allah juga memahami segala bentuk bahasa yang kita utarakan. Allah tidak hanya mengerti bahasa Arab saja, Allah mengerti semua jenis bahasa, termasuk bahasa kalbu sekalipun.

Kita dapat berbicara dengan Allah di mana dan kapan saja. Yakinlah bahwa Allah pasti melihat dan mendengarnya. Akan tetapi, ada beberapa waktu atau saat yang tepat untuk ‘berbicara’ kepada Allah.

Ketika shalat malam atau tahajud, adalah salah satu waktu yang tepat untuk ‘berbicara’ dengan Allah. Saat itu, insya Allah semua pinta diijabah, semua dosa diampuni, atau setidaknya diganti dengan sesuatu yang lebih baik. Saat seperti itu tengah sepi. Tidak akan ada yang mengganggu. Kita bebas meminta dan mengutarakan apa saja kepada Allah.

Sebab itulah, ketika saya pernah melihat seseorang bertanya pada ustad-nya mengenai doa khusus supaya bisa lulus ujian, maka dijawablah bahwa tidak ada doa khusus seperti itu. Yang bersangkutan hanya diminta untuk lebih rajin shalat malam dan berdoa dengan bahasa dan kata-kata kita sendiri. Dan tentu saja, dengan diikuti ikhtiar yang sungguh-sungguh, belajar dengan sebaik-baiknya.

Wallahu a’lam.

Semoga bermanfaat. Mari ‘berbicara’ dengan Allah!🙂

Referensi :

Cinta Seorang Anak Gembala

Sumber gambar :

www.islamcan.com

www.fase16workshop.blogspot.com

1 Comment

  1. Darmawan said,

    30 May 2012 at 22:09

    subhanallah…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: