Satu Bulan dan Sejuta Bintang

Aku terkesiap pada sebuah catatan kecil di dinding. Beberapa waktu silam yang tak mampu terdefinisi. Catatan yang kembali menorehkan ucap penuh keluhan, “Ah, lagi-lagi orang-orang baru yang tak kukenal.”

Semester demi semester memang selalu terlewati oleh orang-orang baru tak kukenal dekat yang harus terpaksa menjadi rekan bersuka duka dalam satu ruang dan waktu. Tidak seperti teman lain yang dapat (paling tidak) mempunyai satu orang sahabat dekat dalam satu tim. Aku selalu bersama dengan orang-orang baru. Orang-orang asing yang sebelumnya mungkin tidak pernah kulempari senyum. Sampai orang-orang asing yang akhirnya mampu memberiku beberapa pengalaman beharga hingga membuatku tergerak memberikan sesuatu kepada mereka semua di semester yang keempat…

Termasuk juga kalian.

Orang-orang asing yang juga akhirnya berhasil mencuri kepingan-kepingan hatiku. Orang-orang asing di semester yang keenam…

***

Aku tak mengenal mereka. Hanya satu orang saja di antara mereka yang mempunyai tempat faforit yang sama denganku di kampus. Hanya satu dari yang lain saja yang pernah bekerja sama denganku di semester awal. Selebihnya aku asing. Aku tak pernah dekat dengan mereka. Sama sekali.

Namun di sini, aku menemukan berbagai sisi yang menarik. Aku memperoleh banyak sekali pembelajaran berarti dari masing-masing mereka yang asing. Lewat satu bulan dengan sejuta bintang, aku berhasil mengais sedikit demi sedikit serpihan lain dari kepingan yang bias. Lewat magang masyarakat semester keenam ini, aku menemukan berjuta pembelajaran menarik dari segala serpihan waktu yang kuhabiskan bersama mereka.

Lewat seseorang, aku belajar sebuah kebiasaan yang baik. Bagaimana seharusnya seorang wanita bisa bangun dan bebersih diri paling awal. Bagaimana seorang hamba seharusnya tepat waktu ‘menyapa’ dan ‘berbicara’ dengan Tuhannya. Bagaimana pula seorang yang masih muda bersikap dewasa dan menyesuaikan diri dengan lainnya. Aku pun belajar bahwa segala yang dinilai insan, tak sebaik dengan segala yang dinilai Tuhan.

Aku juga belajar sesuatu yang penting. Dengan sebuah kejadian, aku pun belajar arti kata privasi. Bagaimana kita dapat memberikan ruang tersendiri pada orang lain meskipun itu adalah keluarga atau bahkan anak sendiri. Bukan lewat dia. Aku belajar melalui dia sebagai perantaranya. Membuatku sadar sejenak bagaimana aku menempatkan diri sebagai makhluk kompleks yang ingin semuanya menjadi terlihat rahasia…

Dari seseorang yang lain, aku belajar pula arti kata tepat waktu. Mengerjakan sesuatu yang dapat dilakukan kini tanpa perlu menunggu nanti. Menjaga komitmen dan melakukan segala sesuatu sebaik mungkin. Selain itu juga tentang ketidakkikiran dalam memenuhi hak jasmani—karena jasmani juga ingin dimengerti—! Juga bagaimana membaca dan menerka berbagai misteri yang ada pada beberapa orang tertentu ^_^

Berbagai canda tawa pun mulai terasa dan tak lagi asing. Kekakuan yang sempat muncul di awal, makin lama semakin mencair. Obrolan malam pun kerap mampu kuperoleh pesan tersembunyi di dalamnya. Bagaimana makna sebuah penantian dan harapan meskipun terkadang memang tidak selalu sesuai harapan. Dan akhirnya, semua itu dapat berujung sia-sia, tergantung dari bagaimana sang takdir menentukan…

Lewat seseorang yang lain lagi, aku belajar pula tentang arti kerja keras. Bagaimana sebuah hasil dipetik melalui sebuah peluh yang tak sedikit. Menyusun sesuatu pun harus dengan konsep yang matang dan perlu direncanakan dan dipersiapkan sebaik mungkin sebelum terlambat. Bagaimana pula dalam persiapan itu ada kalanya perlu bergerak sigap ketika yang lain telah terlanjur siap. Melakukan sesuatu juga tidak selalu bergantung pada orang lain saat diri sendiri masih dapat menghadapi.

Bagaimana sebuah tugas harus diemban sesempurna mungkin. Bagaimana dalam bertaktik tidak perlu ada kebohongan dan kelicikkan. Semua tersusun matang pada cabang-cabang pembicaraan. Interaksi kepada semua orang penting, tetapi dengan tidak menanggalkan ketidakwaspadaan. Dan juga tentu saja, aku belajar bagaimana mengambil keputusan dengan cepat dan tepat. Dan terakhir, aku pun mendapat pelajaran bagaimana harus berkata untuk mengungkapkan sesuatu yang memang perlu diutarakan…

Seseorang yang lain, juga mengajarkan padaku tentang arti kata dewasa. Mengingatkanku akan sebuah fitrah terpenting yang terlupakan. Menyadarkanku akan waktu yang tak lagi pantas disebut main-main. Memberikanku pencerahan akan sebuah komitmen pasti. Mengarahkanku pula pada sesuatu yang sempat tertinggal olehku di sisi belakang.

Menjalani sesuatu pun tak perlu setengah-setengah. Semua harus pasti, dan segala hal tanpa keseriusan tak akan pernah mendapatkan hasil berarti. Gambaran kejamnya hidup terurai manis sebagai sebuah komitmen hidup. Pilihan tertentu ada kalanya pedih, namun sesungguhnya kepedihan itulah yang justru dipilih sebagai pilihan yang salah di tengah pilihan lain yang tanpa rintih. Pengalaman itu penting, masa lalu itu vital, tetapi pengalaman dan masa lalu tak selalu menggambarkan kepribadian kini…

Dari seseorang yang lain lagi, sebuah persepsi akan sebuah kedewasaan kembali tergali. Asumsi lain dari sebuah komitmen kembali terkuak melalui sudut pandang yang lain. Bagaimana seseorang menghargai keluarga lebih dari apapun hingga tetesan air mata pun menjadi saksi bisu. Perubahan setahap tak terelak pun mencuat manis dari sela-selanya. Melontarkan pertanyaan dan pernyataan menakjubkan melalui sekat-sekat tak terduga.

Menghadapi sesuatu yang buruk tak selalu dengan keluh. Senyum dan produktivitas jauh lebih manjur daripada obat manapun. Bagaimana kita belajar tidak mencintai sesuatu secara berlebih hingga akhirnya ketika pergi tak perlu ada penyesalan berarti. Waktu mampu menjawab semuanya. Waktu mampu menghapus semuanya. Waktu mampu mengganti semuanya. Dan dia percaya itu. Percaya bahwa waktu pula-lah yang akan memberikan jawaban pasti atas segala komitmen dan janji hidup yang pernah dia goreskan di dalam palung hatinya…

Seseorang yang terakhir, juga memberikan beberapa pelajaran tersirat berarti. Bagaimana sebuah kesabaran penting ditunjukkan dalam segala kondisi. Meski katanya “kesabaran ada batasnya”, tapi sesungguhnya kesabaran tidak memiliki batas. Batas itulah yang sengaja dibuat untuk menjadikan alasan menutupi kesabarannya. Bagaimana sesuatu harus serba diperjelas. Namun, ada kalanya diam adalah pilihan yang tepat, ketika tak ada lagi bantuan kekuatan.

Mempunyai pengalaman pertama, tetapi mampu lulus dengan baik—meskipun harus tergantung di batas tuntas. Menjaga pandangan dan pendengaran di tengah lingkungan luar yang begitu ramai. Bagaimana pula sebuah panggilan Tuhan harus diberikan aksi dengan segera melangkahkan kaki menuju-Nya. Lewat orang ini, aku juga mengerti beberapa yang tampak di luar tak selalu menggambarkan yang di dalam. Banyak dari yang terlihat justru tidak sebaik yang sebenarnya tersembunyi. Seperti pelangi, boleh jadi yang bias akan tampak jauh lebih indah (Nawawi, 2012).

***

Aku terkesan dengan segala waktu yang kuhabiskan bersama mereka dan mereka-mereka yang lain. Berinteraksi dengan segala jenis kehidupan, pertama kalinya. Aku berterima kasih pada beliau-beliau itu. Berinteraksi dengan anak-anak sebanyak itu, pertama kalinya. Aku juga berterima kasih atas sebuah kesempatan dan kepercayaan beharga yang dia berikan. Semuanya. Semuanya terlalu indah untuk terurai panjang lebar di sini.

Semuanya, semuanya terkesan seperti bintang yang sejenak mampu memberikan cahaya pencerahan pada duniaku yang sebelumnya gelap. Dan lewat satu bulan ini, aku pun akhirnya mengerti. Mengerti bahwa tidak ada lagi kata asing. Mengerti bahwa memang waktu lah yang mampu memberikan jawaban pada keterasingan ini.

Akhirnya aku pun mengerti, bahwa perintah untuk saling kenal-mengenal memang penting dilakukan (QS. Al-Hujurat[49]: 13). Dan aku pun sungguh bersyukur, bisa menjadi bagian dari kelompok kecil yang penuh semangat ini!🙂

Hingga mungkin karena terlalu berharganya,

foto ini pun hanya ada satu dari sekian banyak waktu yang telah dilalui.

Foto yang memotret kami secara lengkap yang kumiliki,

di sebuah tempat yang katanya Posyandu ‘Terbaik’ di Kelurahan Kedaung…

 Image

2 Comments

  1. eka setya said,

    12 November 2012 at 13:51

    waaah etika ternyataa…….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: