Menyikapi Mimpi

Baru saja saya memperoleh pelajaran dan pengetahuan tambahan dari sebuah kata bernama ‘mimpi’. Karena itu, sebagai rasa syukur atas teguran dan tambahan pengetahuan tersebut, maka saya pun ingin menuliskan sesuatu yang berhubungan dengan ‘mimpi’ untuk menambah pengetahuan kita bersama😉

Mimpi biasa disebut bunga tidur. Kadang kala mimpi yang kita dapatkan adalah mimpi yang baik dan menyenangkan hati kita. Namun, kadang kala mimpi justru menakutkan kita dan membuat kita menerka-nerka sendiri kemungkinan dari dampak mimpi buruk tersebut pada kehidupan kita sesungguhnya. Untuk itulah, Islam pun memaparkan dengan jelas bagaimana sebaiknya seorang muslim menyikapi mimpi yang diperolehnya.

“Dan jika ia melihat yang selain itu dari mimpi yang tidak ia sukai, maka itu berasal dari setan. Hendaklah ia berlindung kepada Allah dari keburukannya dan jangan menceritakannya kepada seorang pun. Niscaya mimpi itu tidak akan memudharatkannya (HR Muslim)

Itulah jawabannya terkait kebimbangan kita menyikapi mimpi yang buruk. Setelah bangun tidur dan tersadar akan mimpi buruk yang barusan dialami, sebaiknya secara otomatis kita langsung mengingat Allah. Sesuai hadist di atas, mimpi buruk adalah dari setan, dan dengan mengingat Allah-lah, kita dapat menjauhkan diri dari tipu daya setan tersebut.

Tidak cukup dengan sekedar mengingat Allah, kita pun perlu berdoa dan memohon perlindungan Allah dari godaan setan tersebut. Cara yang paling sederhana adalah dengan membaca ta’awudz atau ditambah dengan beristighfar. Selain itu, Rasulullah juga mengatakan bahwa jika memperoleh mimpi buruk, sebaiknya kita juga meludah ke arah kiri sebanyak tiga kali, dan berlindung pada Allah dari godaan setan tersebut. Setelah itu, kita dapat memalingkan tubuh kita dari posisi sebelumnya.

“Bila seseorang dari kalian bermimpi hal yg dibenci hendaklah meludah ke arah kiri sebanyak tiga kali dan berlindung kepada Allah dari gangguan setan tiga kali serta memalingkan lambung/rusuk ke arah yg berbeda dgn yg sebelumnya (HR Muslim).”

Memalingkan lambung/rusuk (tubuh) dari posisi sebelumnya, merupakan jawaban dari pertanyaan bagaimana posisi kita sebaiknya jika akan melanjutkan tidur kembali seusai mendapati mimpi buruk tersebut. Yah, jika kita terbangun tengah malam seusai mendapat mimpi buruk dan masih ingin melanjutkan tidur karena masih mengantuk, itulah posisi tidur yang dianjurkan. Yaitu mengubahnya/membaliknya dari posisi tidur sebelumnya. Misalnya yang sebelumnya menghadap ke kiri, menjadi menghadap ke kanan. Hal ini juga sebagaimana tertuang dalam hadis riwayat Ibnu Majah dari Abu Hurairah berikut.

“Jika salah seorang dari kalian melihat mimpi yang tidak ia sukai, hendaknya ia mengubah posisi tidurnya, meludah ke kiri tiga kali, memohon kepada Allah kebaikan mimpi itu, dan berlindung kepada-Nya, dari keburukannya.”

Nah, tetapi tentu saja, yang lebih baik dari itu bukanlah sekedar bangun lalu langsung tidur lagi, tetapi melanjutkannya dengan berwudlu dan mengerjakan shalat. Maka dijamin insya Allah, hati akan terasa lebih tenang, dan ketakutan akan mimpi buruk atau menyeramkan itu akan diganti dengan rasa tenang dan damai bertemu dengan Sang Rabb tercinta😉

Dan yang paling penting dan patut digarisbawahi adalah terkait isi hadist riwayat Muslim yang paling pertama di atas. Yaitu tentang larangan menceritakan mimpi buruk kepada siapapun! Ya, tidak usah lah, kita menceritakan hal-hal buruk kepada siapapun, termasuk itu hanya sebatas mimpi. Selain bisa membuat orang yang mendengar ketakutan akan sesuatu yang belum pasti terjadi (terlebih kalau mimpinya berhubungan dengan dia), juga dapat menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Padahal sesuai hadist di atas kan, sudah dikatakan bahwa jika kita tidak menceritakannya kepada siapapun, niscaya mimpi itu tidak akan menjadi kemudharatan bagi kita, kan?

Eits! Namun, bagaimana ya, jika yang diperoleh adalah mimpi yang baik dan menyenangkan?

Rasulullah SAW bersabda bahwa sesuatu yang baik, termasuk mimpi, adalah datangnya dari Allah. Maka tentu saja, setelah kita memperoleh mimpi yang baik dan menyenangkan dari Allah tersebut, kita patut bersyukur kepada-Nya. Syukur-syukur alhamdulillah, jika mimpi tersebut nantinya bisa menjadi kenyataan. Iya, kan?😀

Namun, apakah mimpi tersebut harus diceritakan? Nah, saya mendapatkan pelajaran berharga dari sini. Ketika akan menuliskan kisah menarik dari mimpi yang menurut saya bukan termasuk kategori mimpi buruk di blog ini, saya pun akhirnya mendapatkan jawaban bagaimana sebaiknya kita bersikap pada mimpi baik yang kita alami.

Saya menemukan sebuah hadist di salah satu situs sebagai berikut.

“Jika salah seorang di antara kalian bermimpi sesuatu yang ia sukai, sesungguhnya itu berasal dari Allah, maka hendaklah ia memuji-Nya dan menceritakan mimpi itu.” (HR. Bukhari dari Abu Sa’id Al-Khudri)

Yah, sebelumnya memang itu yang menjadi rujukan saya, mengapa saya berniat menuliskan kisah mimpi bahagia yang masih saya ingat setelah bangun tidur itu. Namun, di sebuah situs lain dikatakan bahwa pada riwayat hadist yang lain, disebutkan bahwa mimpi yang baik tersebut sebaiknya hanya diceritakan pada orang yang dicintai saja. Dalam hal ini yang saya tangkap adalah orang yang kita anggap dekat dan mencintai dan dicintai kita. Yah, sebut saja keluarga, saudara, sahabat seiman, pendamping hidup… Hehehe…

Karena katanya tinggalkan yang ragu-ragu, maka untuk lebih amannya kita ambil saja pernyataan yang lebih lengkap. Karena kekurangpengetahuan saya mana hadist yang shahih dan lengkap, maka untuk amannya saya pun mengambil yang sepertinya terlihat lengkap. Syukur-syukur jika pembaca juga bisa memberikan tambahan informasi mengenai hadist ini😀

Maka dari itu, urung niat saya mengabadikan kisah mimpi spektakler saya di blog ini yang bahkan sudah selesai saya tulis, yang kemudian bisa tersebar luas ke sana kemari di seluruh penjuru nusantara bahkan dunia. Dan sebagai muslim yang baik, pelajaran semacam ini menjadi sesuatu yang menarik bagi saya, untuk saya bagi kepada orang lain. Setidaknya, semoga yang sebelumnya sudah punya niatan sama seperti saya, menuliskan atau menceritakan mimpi bahagianya kepada khalayak luas, seperti di status, timeline, atau posting lainnya, bisa berpikir dua kali untuk hanya menceritakannya kepada orang spesial di samping Anda :p

Karena perempuan, akan jauh lebih ‘cantik’ dengan segala rahasia pada dirinya!

A secret makes a woman woman😉

Wallahu ‘alam.

Sumber :

Republika Online dan blog.re.or.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: