Orang Pandai VS Orang Beruntung, Orang Tidak Pandai VS Orang Tidak Beruntung

Ada dua kelompok. Orang pandai dan orang beruntung.

Sumber Gambar : klik pada gambar.

Saat ujian masuk universitas, orang pandai akan dengan mudah menjawab soal-soal sesulit apapun soal yang keluar, sehingga kemudian dapat diterima di universitas yang diharapkan. Berbeda dengan orang beruntung. Saat ujian masuk universitas, orang beruntung bisa jadi mengalami kesulitan menjawab soal-soal, tetapi karena keberuntungannya itulah entah bagaimana jawaban yang ia tuliskan termasuk ke dalam jawaban yang benar, yang mampu mengantarkannya ke universitas yang ia inginkan pula.

Saat ujian keluar universitas, orang pandai akan dengan mudah menjawab pertanyaan yang diajukan, se-expert siapapun penguji yang hadir dan sehebat apapun jenis pertanyaan yang ditanyakan. Orang pandai akan mengerjakan tugas akhirnya dengan baik, sesulit apapun medan yang ia tempuh, serumit apapun responden dan metode penelitian yang ia pilih.

Berbeda dengan orang beruntung. Saat ujian keluar universitas, orang beruntung bisa jadi akan kesulitan menjawab pertanyaan yang diberikan, tetapi karena keberuntungannya itulah entah bagaimana penguji yang dihadirkan justru menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang sehari sebelumnya sempat ia baca, sehingga ia bisa menjelaskannya dengan baik. Orang beruntung akan mengerjakan tugas akhirnya dengan baik, karena keberuntungannya itulah entah bagaimana medan yang ia tempuh terasa mudah dicapai, responden dan metode penelitian yang ia pilih pun entah bagaimana menjadi sangat koorperatif dan mudah diselesaikan.

Namun, pada kenyataannya sulit menemukan orang yang benar-benar pandai 100% tanpa keberuntungan, dan orang yang benar-benar beruntung 100% tanpa kepandaian.

Orang yang pandai, bisa menjawab soal-soal sesulit apapun itu karena ada sepersekian persen faktor keberuntungan. Sebaliknya orang beruntung juga bisa menjawab soal-soal tersebut karena ada sepersekian persen faktor kepandaian yang ada di dalam dirinya. Namun, dikatakan sebagai orang pandai adalah karena persentase kepandaiannya lebih besar daripada persentase keberuntungannya. Dikatakan sebagai orang beruntung juga karena persentase keberuntungannya lebih besar daripada persentase kepandaiannya.

***

Ada dua kelompok lagi. Orang tidak pandai dan orang tidak beruntung.

Saat ujian masuk universitas, orang tidak pandai akan kesulitan menjawab soal-soal karena memang tidak mengerti sama sekali permintaan dari soal-soal tersebut. Berbeda dengan orang tidak beruntung. Saat ujian masuk universitas, orang tidak beruntung bisa jadi bisa menjawab soal-soal yang diajukan, tetapi karena ketidakberuntungannya itulah sebagian besar soal yang bisa ia jawab, entah bagaimana termasuk ke dalam jawaban yang salah, seperti misalnya karena terlalu tipis memberi jawaban atau karena pensil yang ia gunakan palsu.

Saat ujian keluar universitas, orang tidak pandai akan kesulitan menjawab pertanyaan yang diberikan, sesederhana apapun penguji menjelaskan dan semudah apapun jenis pertanyaan yang ditanyakan. Orang tidak pandai akan mengerjakan tugas akhirnya dengan pas-pasan, meskipun medan yang ia tempuh sangat mudah, ataupun responden dan metode penelitian yang ia pilih sebenarnya terbilang koorperatif dan sederhana.

Berbeda dengan orang tidak beruntung. Saat ujian keluar universitas, orang tidak beruntung bisa jadi sebenarnya bisa menjawab pertanyaan yang diberikan, tetapi karena ketidakberuntungannya itulah entah bagaimana lidahnya kelu mengutarakan jawaban, otaknya mendadak kesulitan berpikir, sehingga ia pun gagal menjelaskannya dengan baik. Orang tidak beruntung bisa jadi bisa mengerjakan tugas akhirnya dengan baik, tetapi karena ketidakberuntungannya itulah entah bagaimana medan yang ia tempuh justru dianggap tidak cocok sebagai target penelitian, responden yang ia pilih menghasilkan hasil penelitian yang tidak mendukung analisis, dan metode penelitian yang ia pilih mendadak terasa rumit karena minimnya penelitian serupa sebelumnya.

Namun, pada kenyataannya sulit menemukan orang yang benar-benar tidak pandai 100% tanpa ketidakberuntungan, dan orang yang benar-benar tidak beruntung 100% tanpa ketidakpandaian.

Orang tidak pandai, tidak bisa menjawab soal-soal semudah apapun itu karena ada sepersekian persen faktor ketidakberuntungan karena tidak membaca contoh soal serupa sebelumnya. Sebaliknya orang tidak beruntung juga tidak bisa menjawab soal-soal tersebut karena ada sepersekian persen faktor ketidakpandaian yang ada di dalam dirinya, sehingga dia tidak tahu bagaimana cara memberi jawaban yang tepat dan bagaimana seharusnya memilih pensil yang asli untuk ujian. Karenanya, dikatakan sebagai orang tidak pandai adalah ketika persentase ketidakpandaiannya lebih besar daripada persentase ketidakberuntungannya. Dikatakan sebagai orang tidak beruntung adalah ketika persentase ketidakberuntungannya lebih besar daripada persentase ketidakpandaiannya.

***

Jadi, kita termasuk ke dalam kelompok yang mana, ya?

-estEtika-

1 Comment

  1. Darmawan said,

    9 July 2013 at 14:47

    selamat buat s.gz nya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: