Sebuah Teguran Manis

Saat itu seperti biasa, pukul lima sore adalah waktu yang paling ditunggu rata-rata pekerja kantoran untuk segera kembali ke rumah. Dua orang gadis berjalan beriringan menuju tempat biasa mereka menunggu angkutan umum tujuan tempat tinggal masing-masing. Saat tengah berjalan, tiba-tiba sebuah truk besar berhenti beberapa meter di depan mereka, dan sukses menghalangi langkah mereka. Jalan besar tempat mereka berjalan adalah jalan satu arah dan mereka tengah berjalan melawan arus kendaraan yang berlalu-lalang. Truk yang berhenti tepat di depan mereka, membuat mereka sempat berpikir bagaimana mereka bisa lewat di tengah lalu lintas yang cukup lengang itu. Lalu lintas lengang tersebut, justru membuat sebagian besar pengendara kurang memperhatikan kecepatannya, sehingga perlu perhatian ekstra untuk berjalan agak ke tengah. Sementara itu, trotoar jalanan di sana juga sudah tidak berfungsi lagi, sehingga mau tidak mau, kedua gadis itu memang harus berjalan agak ke tengah untuk melalui truk tersebut.

Satu di antara gadis itu, merasa ketakutan dan memperlambat langkahnya. Sedangkan gadis yang lain, dengan sombongnya berjalan santai melalui truk itu. Gadis yang ketakutan sedikit berteriak memperingatkan gadis itu supaya hati-hati sambil kemudian malah berdecak kagum atas “keberanian” temannya itu.

Namun, pujian memang seperti bumerang. Dia bisa berbalik menyerangmu ketika kau lengah.

Mendengar pujian itu, gadis itu lantas malah berujar sombong, “Kenapa, sih? Kamu takut apa? Tenang, nggak akan ada yang berani nabrak aku!”

Temannya spontan ber-cieee membalas ucapan sombong tersebut. Namun, tiba-tiba saja gadis itu terkejut dengan apa yang baru saja dia ucapkan. Bagaimana mungkin dia bisa mengatakan hal seperti itu? Bagaimana jika dalam perjalanan pulang ini dia justru tertabrak atau angkutan yang nanti dia tumpangi mengalami kecelakaan? Yang merasakan sakit bukan saja dia, tetapi orang-orang yang dicintainya pun akan sangat khawatir mendengar musibah yang dialami gadis perantau yang tinggal seorang diri di ibukota itu.

Dengan cepat, Allah langsung menegur gadis itu melalui nuraninya. Seketika, gadis tersebut pun beristighfar berkali-kali dan memohon ampun. Temannya yang mendengar itu pun mendadak paham dengan situasinya. Mengetahui gadis sombong itu tiba-tiba saja menyadari kesalahannya dan meminta maaf atas kesombongannya, temannya itu pun dengan spontan langsung meng-amin-kan dan turut sadar akan situasi yang baru saja mereka alami. Mereka berdua pun melanjutkan perjalanan sambil beristighfar di dalam hati dan menyesali kesalahan masing-masing.

***

Usai kejadian itu, gadis sombong itu dengan mudah segera melupakan apa yang telah terjadi. Hari-hari berjalan biasa, dan syukurlah gadis itu tidak mengalami hal buruk apapun. Semua berjalan normal apa adanya.

Hingga suatu sore, seperti biasa gadis itu pulang ke rumah. Berjalan melewati jalur satu arah selama beberapa ratus meter, menunggu angkutan, naik angkutan selama sekitar tiga puluh menit, dan berjalan beberapa meter menuju tempat tinggalnya. Saat berjalan, dari jauh tampak sebuah kendaraan panjang yang berwarna-warni. Orang sekitar biasa menyebut “kereta-keretaan” atau “odong-odong”. Beberapa anak kecil menaiki kendaraan ramai itu, dan orangtua mereka sebagian berjaga di sebelahnya atau ada pula yang turut duduk di bangku yang kosong.

Gadis itu mengamati kendaraan unik tersebut sambil berjalan mendekat. Saat tepat berjalan di belakang kendaraan tersebut, gadis tersebut sempat terdiam mengamati anak-anak kecil lucu yang menaikinya. Gadis itu pun berjalan agak ke tengah untuk melewati kendaraan yang masih diam tak bergerak menunggu “penumpang kecil” lainnya itu. Namun, tiba-tiba saja saat gadis itu tepat berjalan di samping kendaraan itu, secara mengejutkan kendaraan itu berjalan dan spontan membuat gadis itu secara refleks melangkah menjauh karena cukup terkejut dengan gerakan yang tiba-tiba tersebut. Tanpa disadari, refleks menjauh gadis itu justru membawanya melangkah ke bagian tengah jalan, dan secara tiba-tiba…

Sebuah motor tepat “menyambar” tubuhnya yang tiba-tiba bergerak ke bagian tengah jalan. Lengan bagian belakang gadis itu sukses terkena kaca spion dan setir motor yang tengah dikendarai oleh seorang gadis yang lebih tua beberapa tahun dari dia. Beruntung pengendara motor itu cekatan menekan dan menginjak rem, sehingga tubrukan yang terjadi itu tidak terlalu keras. Spontan saja, gadis itu menoleh ke belakang dan menyadari dirinya baru saja tersambar motor. Secara refleks, gadis itu langsung meminta maaf pada gadis pengendara motor yang juga terlihat terkejut itu. Sambil menahan rasa sakit di tangannya dan mengatur napasnya, gadis itu perlahan berjalan ke pinggir jalan sambil terus meminta maaf pada pengemudi motor yang masih diam di tempat (mungkin karena pengemudi itu pun sama-sama syok).

Sambil terus mengatur rasa syoknya, gadis itu tiba-tiba saja terlintas pikiran, “Mengapa aku yang ditabrak dan aku pula yang meminta maaf? Bukannya biasanya yang menabrak malah yang meminta maaf dan merasa bersalah?”

Namun, seiring langkahnya, tiba-tiba saja dia teringat kejadian beberapa hari lalu yang sempat menimpanya. Kesombongan yang pernah dia lakukan, dengan mengatakan “tidak akan ada yang berani menabraknya”. Kata-kata itu secara tiba-tiba terngiang-ngiang, dan jawabannya adalah kendaraan roda dua itu telah “berani menabraknya”! Maka, saat kendaraan roda dua pun berani menabraknya, bagaimana dengan kendaraan roda tiga, empat, enam, atau bahkan lebih lainnya?

Dalam perjalanannya, tiba-tiba saja gadis itu merasa sangat bersyukur sekali. Allah begitu baik karena “hanya” menegurnya lewat kendaraan roda dua itu. Terlebih lagi teguran itu bahkan tidak terlalu menyakiti raganya. Raganya tetap utuh dan gadis itu bisa terus melanjutkan perjalanannya dengan mudah ke tempat tujuan. Dalam sisa perjalanannya, gadis itu beristighfar dan terus bersyukur atas teguran tersebut. Pelajaran beharga telah gadis itu dapatkan. Dengan adanya kejadian itu, gadis itu pun kapok telah berujar sombong dan berjanji akan lebih memperhatikan lisannya.

Betapa baiknya Allah dengan menegur hamba-Nya untuk segera kembali kepada-Nya J

Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (QS. Al-Isra’: 37)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: