Pekerjaan Hebat

Lebih berhasil dan sukses daripada dirinya adalah salah satu harapan semua orangtua di dunia ini kepada anaknya. Jika orangtua lulusan SD, setidaknya mereka ingin anak mereka berhasil menamatkan pendidikan dasar 9 tahun atau bahkan lebih. Jika orangtua lulusan SMA, mereka tentu ingin anaknya mengenyam bangku kuliah dan berhasil mengenakan toga. Namun, ternyata tidak hanya urusan pendidikan saja. Dalam hal materi, orangtua juga pasti ingin anaknya lebih mapan daripada dirinya. Buktinya mereka selalu saja mau menyediakan segala kebutuhan anaknya, mulai dari yang paling kecil, kebutuhan pokok sandang-pangan-papan, hingga kebutuhan lain seperti handphone-laptop-dsb.

Salah satu indikator kesuksesan bagi orangtua terhadap anaknya adalah pekerjaan anaknya kelak ketika dewasa. Pekerjaan anaknya (ketika ia sudah bekerja) hampir selalau ditanyakan pada setiap acara reuni atau obrolan orangtua dengan teman mereka. Orangtua yang mampu menjawab pertanyaan ini dengan bangga akan merasa telah berhasil membesarkan anaknya dengan baik. Obrolan pun berlanjut positif lantaran ada saja hal-hal menarik lain yang bisa dibanggakan mereka tentang pekerjaan dan keberhasilan anaknya. Namun, saat orangtua tidak bisa menjawab pertanyaan ini dengan bangga (mis., anaknya belum dapat kerja, anaknya kerja di tempat yang ‘kurang layak’, dsb.), bisa saja mereka kemudian akan merasa gagal mendidik mereka. Apalagi ketika kondisi orangtua lebih baik daripada anak. Pasti ada sedikit rasa prihatin atau bersalah terhadap anaknya. (Mungkin…)

Pemaparan di atas mungkin tidak sepenuhnya benar karena saya sendiri juga belum merasakan jadi orangtua. Namun, pada kesempatan ini saya ingin membahas masalah tersebut dari sudut pandang anak, khususnya saya sendiri.

Pekerjaan saya boleh dikata biasa saja. Tidak terlalu ‘wah’, tetapi juga tidak terlalu ‘menyedihkan’. Sayangnya, pandangan orang mungkin bisa saja berbeda. Orang bilang saya lulusan universitas bagus. Tentu saja ekspektasi mereka adalah saya akan bekerja di perusahaan besar atau bahkan menjadi petinggi/pemimpin di perusahaan tersebut. Sebaliknya, saya tidak merasa begitu. Saya bisa jadi memang lulusan universitas bagus, tetapi tidak berarti itu bisa digeneralisasi bahwa semua lulusan universitas bagus pasti akan kerja di perusahaan besar atau jadi pemimpin hebat. Nyatanya, pekerjaan saya toh hanya biasa saja meskipun (seperti yang saya bilang sebelumnya) tidak terlalu menyedihkan juga.

Menurut pandangan dangkal dan sederhana saya, salah satu pekerjaan hebat adalah pekerjaan yang jika disebutkan nama perusahaan atau jenis pekerjaannya saja, semua yang mendengar langsung tahu dan berpikir bahwa ‘Oh, anak ini udah sukses!’. Sebut saja Pertamina, Astra, BI dan bank-bank lain, BUMN, PNS, dan sebagainya. Sedangkan pekerjaan yang menurut pandangan dangkal dan sederhana saya termasuk pekerjaan yang biasa saja adalah pekerjaan yang ketika disebutkan nama perusahaan atau jenis pekerjaannya, semua orang yang mendengar akan balik bertanya ‘Perusahaan apa itu?’ kemudian ketika dijawab ia hanya menampakkan wajah ‘Ooh’ dan tidak lagi tertarik untuk bertanya lebih jauh, atau malah balik bertanya dengan pertanyaan ‘negatif’ semacam ‘Kenapa kerja di sana?’, ‘Kenapa nggak di sini saja? ‘, ‘Kenapa kerjanya nggak sesuai dengan jurusan kamu?’, atau pertanyaan-pertanyaan sejenis yang sebenarnya bersifat ‘mengomentari’ pekerjaan tersebut.

Saya termasuk yang kedua.

Sering kali setiap orang lain (terutama teman-teman dan teman orangtua saya) bertanya langsung kepada saya tentang pekerjaan saya, mereka akan balik bertanya dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Mereka tidak terlalu familiar dengan nama tempat saya bekerja, mereka akan ‘mengomentari’ kenapa tidak kerja di rumah sakit atau di Tegal saja, dan mereka juga ‘mengomentari’ mengapa pekerjaan saya tidak sesuai dengan jurusan. Lucunya, pertanyaan dan ‘komentar’ yang ketiga itu tidak benar. Nyatanya saya masih terbilang kerja di bidang dan jurusan saya meskipun tidak dalam bentuk praktik. Sementara itu untuk ‘komentar’ yang kedua saya tentu punya alasan dan paksaan keadaan tersendiri.

Sedihnya, ‘komentar’ pertama itu adalah ‘komentar’ yang paling sering menjadi bahan renungan saya. Sebenarnya komentar itu tidak terlalu menyakitkan dan biasa saja (toh mereka hanya ingin tahu dan memastikan di mana saya bekerja). Namun, entah mengapa komentar itu bagai sembilu tersendiri bagi saya ketika komentar itu diikuti dengan pernyataan lain seperti “Kalau si X sekarang kerja di Perusahaan X. Udah sukses dia. Gaji sekian, sering ke luar kota dan keluar negeri, disekolahkan gratis sama kantornya, blablabla…” Terlebih lagi jika ucapan itu dikatakan di depan orangtua saya sendiri. Entah mengapa saya merasa biasa saja jika posisinya hanya saya yang mendengar ucapan itu. Namun, hati ini sakit rasanya ketika tahu bahwa orangtua saya mendengar pula ucapan tersebut.

Suatu hari saya dan ibu saya pergi bersama ketika akhirnya ibu saya bertemu dengan salah satu temannya. Setelah basa-basi sejenak dan bertanya kepada saya “Kelas berapa, Mbak?” (Astaga, beliau bahkan awalnya menanyakan ‘KELAS berapa’, bukan ‘SEMESTER berapa’ ==’) kemudian saya menjawab “Sudah kerja, Bu,” selanjutnya beliau pasti refleks bertanya kerja di mana. Saat itu skenarionya mirip dengan contoh kasus di atas. Sebagai respons jawaban saya, beliau justru menceritakan salah seorang keponakannya yang bekerja di salah satu perusahaan terkemuka sambil sesekali membangga-banggakan dia di depan saya dan ibu saya. Sebenarnya saya biasa saja dan coba berpikir positif, tetapi entah mengapa saya merasa sedih ketika ibu saya juga mendengar cerita tersebut. Pikir saya saat itu, ibu saya pasti iri karena anaknya tidak bisa seperti itu; ibu saya pasti sedih karena anaknya hanya seperti ini, tidak seperti keponakan ibu itu.

Beberapa saat sejak kejadian itu, saya masih terus kepikiran. Mungkinkah orangtua saya memang sedih karena anaknya ‘hanya seperti ini’? Mungkinkah mereka kecewa? Mungkinkah mereka menyesal? Hingga akhirnya saya pun memberanikan diri untuk bertanya kepada ibu saya, “Ma, Mama malu nggak kalau ada orang tanya aku kerja di mana?

Saat itu saya ingat betul ibu saya dengan mantap dan tanpa pikir panjang langsung menjawab, “Malu? Ya enggak, lah! Sih malu kenapa?!

Saat itu, entah bagaimana semua beban yang sempat ada di pundak ini sirna seketika. Saya seakan mendapat jawaban dari semua kegelisahan saya selama ini. Ya, kenapa harus malu? Apa alasannya untuk malu?

Beberapa hari setelah itu, orangtua saya pun mengirimkan sebuah gambar bertuliskan tulisan motivasi. Inti tulisannya adalah…

“Saat kau mendapati seseorang lebih baik daripada dirimu dalam urusan dunia, maka kalahkanlah ia dalam urusan akhirat!”

Saat itu pun akhirnya saya tahu. Orangtua saya memang adalah orang paling hebat dan paling mengerti yang pernah saya temui. Damai dan bahagia rasanya saat tahu bahwa orangtua saya memang tidak melulu memikirkan materi dan hal-hal yang tampak. Mereka juga berpikir dan mengerti soal hal-hal tak tampak yang tidak kalah penting. Mungkin bagi orang-orang sukses di luar sana kalimat itu terdengar seperti ‘penghibur’ bagi orang-orang gagal, tetapi bagi saya itu adalah penyemangat tersendiri.

Setelah itu, pandangan dangkal dan sederhana saya soal pekerjaan menjadi sedikit berubah. Menurut pandangan baru saya, pekerjaan yang hebat adalah pekerjaan yang halal dan berkah dalam segala bidang. Saya pun jadi teringat akan kriteria pekerjaan yang ingin saya lakoni di masa mendatang (waktu itu saya belum lulus kuliah dan belum bekerja). Beberapa kriteria tersebut adalah pekerjaan yang halal, berkah, tetap memiliki waktu luang, Sabtu-Minggu libur, tidak pulang malam, aman bagi perempuan, lingkungan yang baik, sesuai dengan prinsip saya (menghormati agama, aurat, dan pandangan pribadi saya akan hal prinsipil lainnya), dan terakhir yang paling penting adalah pekerjaan yang membuat saya semakin dekat atau setidaknya tetap dekat dengan-Nya.

Siapa yang tidak mau pekerjaan yang halal dan berkah? Bagi saya, pekerjaan yang halal berarti pekerjaan yang diridhoi Allah dan dilakukan tanpa mendzolimi atau merugikan orang lain. Sementara berkah berarti pekerjaan yang selalu mendatangkan manfaat, baik untuk diri sendiri maupun orang lain, serta pekerjaan yang membuat hidup tetap terasa tenang dan nyaman.

Siapa yang tidak mau pekerjaan yang santai dan tetap ada waktu luang? Pernah dengar seseorang yang harus bekerja pagi-siang-malam tanpa peduli waktu? Berangkat pagi-pagi buta, sampai rumah tengah malam, waktu istirahat hanya saat tidur malam dan itu pun diganggu tiba-tiba oleh jam weker di pagi-pagi buta berikutnya. Pernah dengar seseorang yang harus kerja 24 jam 7 hari seminggu non-stop? Sabtu-Minggu harus tetap kerja dan menghabiskan waktu di luar rumah tanpa peduli apa yang terjadi di dalam rumah.

Kerja yang santai pasti dambaan banyak orang. Setidaknya sebelum berangkat kerja kita bisa berkumpul dulu bersama keluarga (sholat subuh, sarapan, nonton ceramah/berita pagi), kemudian sepulang kerja juga masih ada waktu bersama keluarga (sholat magrib/isya, makan malam, nonton tv dan bercengkrama bersama) hingga akhirnya saling menutup hari dengan ucapan selamat tidur dan masuk ke kamar masing-masing. Atau setidaknya kita punya hari libur spesial, Sabtu dan Minggu, untuk berkumpul seharian dengan seluruh anggota keluarga, menghabiskan hari bersama atau bahkan pergi liburan. Waktu luang adalah salah satu nikmat dari Allah sehingga memilikinya di sela-sela pekerjaan tentunya menjadi nikmat tersendiri yang tiada tara.

Siapa yang tidak mau pekerjaan yang aman dan memiliki lingkungan yang baik? Menurut saya, pekerjaan yang aman, khususnya bagi perempuan seperti saya, adalah pekerjaan yang menghargai kodrat dan sifat alami perempuan. Pekerjaan yang tidak terlalu kasar dan ‘keras’, pekerjaan yang menghormati perempuan, serta salah satunya adalah pekerjaan yang tidak membiarkan perempuan pulang malam-malam terlebih lagi sendirian. Di Jakarta ini misalnya, banyak sekali pekerjaan yang tetap mengharuskan perempuan untuk lembur atau bahkan pulang tengah malam. Dalam kasus perempuan itu dijemput, misalnya, mungkin bukan suatu masalah besar. Namun, katakanlah saya yang anak kost-an, siapa yang mau menjemput dan mengantar pulang? Maka bersyukurlah, wahai seluruh perempuan di dunia ini, yang bisa sudah sampai di rumah sebelum magrib atau hari gelap. Dan bersyukurlah pula kalian yang masih ada yang bersedia menjemput dan mengantar pulang dengan halal dan aman. Sementara itu, pekerjaan dengan lingkungan yang baik menurut saya adalah pekerjaan yang berisi orang-orang (para sesama pekerja) yang baik dan diridhoi Allah. Percayalah, pada suatu tempat tidak mungkin semuanya orang baik. Namun, sebagian besar orang baik tentu akan menang melawan sebagian kecil orang jahat. Jika dalam suatu tempat pekerjaan lebih banyak orang yang lebih suka berpesta dan foya-foya usai kerja, tentu tidak lebih baik daripada saat lebih banyak orang yang lebih suka menjaga diri di rumah atau berkumpul bersama dalam suatu majelis bermanfaat, misalnya. Dan ingatlah, lingkungan bersifat lebih berbahaya daripada diri kita sendiri. Kita bisa saja menahan diri kita sendiri untuk tidak bolos kantor, misalnya, tetapi kita pasti akan lebih sulit menahan ajakan teman-teman kantor untuk bolos kantor berjamaah. Iya, kan?

Terakhir, siapa yang tidak mau pekerjaan yang membuat kita semakin dekat atau SETIDAKNYA tetap dekat dengan-Nya? Menurut saya, pekerjaan semacam itu adalah pekerjaan yang tetap membuat kita melakukan hal-hal baik dan tidak semena-mena merampas hak kita untuk menghadap kepada-Nya. Pernah dengar pekerjaan yang mengharuskan seseorang meninggalkan sholat hanya untuk menunggu dan menjemput klien, misalnya? Sungguh amat sangat sayang. Maka bersyukurlah semua orang-orang di dunia ini yang masih bisa melakukan sholat fardhu dengan baik di tengah-tengah pekerjaannya, termasuk juga yang bahkan sampai bisa memanfaatkan sela waktu kerja untuk ibadah sunnah lain seperti sholat dhuha, rowatib, atau tadarus. Sungguh itu adalah salah satu nikmat dan keberkahan terbesar yang Allah berikan kepada dirimu!

Well, kebaikan dan keberkahan pekerjaan memang tidak selalu terletak pada gaji dan pundi-pundi uang yang didapat. Banyak hal-hal lain yang tidak terlihat, yang bisa saja justru memiliki nilai keberkahan yang lebih besar. Apa gunanya gaji 10 juta jika pemiliknya malah sakit-sakitan dan uangnya habis untuk berobat? Apa gunanya gaji 10 juta jika habis dimanfaatkan untuk foya-foya? Bukankah lebih baik gaji 1 juta jika pemiliknya selalu sehat wal’afiat dan tidak pernah meninggalkan sholat? Bukankah lebih baik gaji 1 juta jika habis dimanfaatkan untuk menafkahi keluarga dan dinafkahkan di jalan-Nya (zakat, shodaqoh, ditabung)?

Di dunia ini memang tidak ada yang sempurna karena hanya Allah-lah yang Maha Sempurna. Tentu tidak ada pekerjaan yang sempurna. Semua punya sisi positif dan negatif, tinggal bagaimana kita memandangnya. Selalu berpikir positif-lah, bersyukur dan qonaah dengan segala yang kita punya. Di luar sana masih banyak orang dengan pekerjaan-pekerjaan lain yang mungkin tidak lebih baik daripada kita. #NoteToMySelf sekarang saya sadar betul ucapan orangtua saya. Ya, kenapa harus malu?!

Akhir kata, ada sebuah kutipan hadist yang bagus untuk meningkatkan rasa syukur kita kepada Allah.

“Barang siapa dari kalian yang aman dalam kelompoknya, sehat badannya, dan mempunyai bahan makanan untuk kesehariannya, maka seakan-akan ia menguasai dunia.” (HR. Tirmidzi)

Jadi, saat pekerjaan halal kita juga dibarengi dengan rasa aman, sehat jasmani, dan kecukupan makanan, lantas kenapa harus malu?

estEtika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: