Mekah-Madinah Hari-2: Free Program, Family Time!

Setelah melaksanakan ibadah umroh tengah malam tadi dan mulai tidur sekitar pukul 02.00 waktu setempat, sekitar pukul 04.00 pagi saya dibangunkan oleh ibu saya. Beliau menawarkan saya dan adik saya, apakah kami ingin ikut ibu dan bapak saya sholat shubuh berjamaah di Masjidil Haram. Ini adalah salah satu sisi menarik orangtua saya. Dalam hal tertentu, mereka lebih sering memberikan kesan “menawarkan” dibandingkan “memerintah”. Bukan mengatakan, “Ayo ikut Mama-Papa ke Masjid!”, melainkan “Mau ikut Mama-Papa ke Masjid nggak?”. Kesannya lebih ‘halus’ dan friendly. Tapi, tapi… kalau udah sekali bilang “Mau”, konsekuensinya harus mau terima juga. Disuruh cepet-cepet mandi dan diketok-ketok jangan lama-lama mandi dari luar kamar mandi :p

Adzan shubuh di sana adalah sekitar pukul setengah enam. Kami baru keluar hotel tepat ketika adzan shubuh berkumandang (karena ‘leyeh-leyeh’ bangun dari kasur, antre mandi, lama gerak, dsb.). Masya Allah, ramai sekali! Orang-orang sudah berbondong-bondong datang ke Masjidil Haram. Dan mengejutkannya lagi, jamaah sholat subuh sudah mencapai sepanjang jalanan menuju Masjidil Haram! Udah kaya sholat Jumat atau malah sholat Idul Fitri saja! Akhirnya, setelah berhasil ‘menyusup’ sana-sini, saya dan keluarga berhasil mengambil shof di salah satu sudut pelataran Masjidil Haram (dan kedinginan). Masya Allah, sholat subuh di sana lamaaa sekali (bacaan surahnya panjang; memang itu yang benar), tapi malah terkesan khusuk dan santai. Oh ya, setelah sholat fardhu berjamaah selesai, di Masjidil Haram selalu dilaksanakan sholat jenazah. Karena itu, jika ada waktu dan tidak sedang terburu-buru, silakan ikut juga sholat sunnah ini.

Setelah sholat jenazah selesai, kami berempat (bapak dan adik saya kebetulan dapat tempat shof pria yang dekat dengan shof wanita tempat saya dan ibu saya berada) sukses ‘diusir’ oleh orang-orang keamanan dan kebersihan masjid. Pasalnya, selain karena mau dibersihkan, shof di pelataran masjid memang sering kali mengganggu ruang jalan bagi jamaah yang mau pulang. Namun, bukannya pulang, kami berempat malah memutuskan untuk jalan-jalan sebentar ke dalam Masjidil Haram. Lumayan. Sesuai jadwal, hari ini adalah free program alias hari bebas untuk istirahat, ibadah, atau pun jalan-jalan. Yippy! Free program, it means family time!😀

Sekitar tujuh belas tahun yang lalu, ibu dan bapak saya memang sudah pernah datang ke sini. Mereka sempat mengatakan bahwa keadaan Masjidil Haram saat itu dan sekarang sudah jauh berubah. Bangunan tinggi dan menara jam itu belum ada. Dulu bahkan belum ada lantai dua dan tiga tempat thawaf jamaah berkursi roda. Meskipun sempat kecewa karena lantai tingkat itu jadi ‘menutupi’ Ka’bah saat dilihat dari jauh, ibu dan bapak saya tetap terlihat kagum dengan perubahan-perubahan yang mereka saksikan sekarang. Maka jadilah momen ‘jalan-jalan’ itu menjadi ajang nostalgia tersendiri bagi mereka berdua🙂

Pukul 08.00 pagi seharusnya adalah jadwal awal sarapan prasmanan di hotel. Dari history foto-foto yang sempat kami ambil, sekitar pukul 07.30 kami memang masih berada di kawasan sekitar Ka’bah. Hmmm jadi kami sampai di hotel sekitar pukul 08.30 mungkin, ya? Karena jadwal sarapan adalah sampai pukul 10.00 waktu setempat, kami masih pede aja naik ke lantai atas restoran untuk sarapan usai kembali ke hotel. (Dan ternyata restoran sudah sepi). Hahaha #tawagetir kami kehabisan sarapan! Eits, tunggu dulu. Alhamdulillah setidaknya masih ada nasi dan telur dadar. Hahaha sedih rasanya melihat plato dan mangkuk-mangkuk besar yang sudah pada kosong. Bahkan sayur, sambal, dan buah pun sudah habis semua. Alhamdulillah lagi, masih ada susu (dan seingat saya ini adalah susu terenak yang pernah aku rasa! [entah karena kandungan lemaknya yang tinggi atau karena jenis sapi perah Arab yang bagus, ya?]). Maka jadilah pagi itu saya dan keluarga hanya makan nasi-telur-susu. Tapi… tetap enak kok😀

Usai sarapan seadanya itu, ada kejadian lucu yang sangat aneh dan konyol! Sebagai informasi, kamar para jamaah tur kami ada di area gedung B hotel, sedangkan restoran ada di gedung A hotel. Lift untuk kedua tempat tersebut tentunya berbeda karena ada di gedung yang berbeda. Entah karena masih lapar karena kehabisan sarapan atau kurang konsentrasi karena kurang air putih (minumnya susu, sih), kami melakukan hal ‘bodoh’ saat hendak kembali ke kamar.

Cerita berawal ketika kami sedang menunggu lift untuk kembali ke kamar. Secara naluri, niat kami memang turun dan kembali ke lobi, ke tempat awal kami sebelum naik ke restoran tadi. Begitu ada lift terbuka, kami refleks langsung masuk. Namun, ternyata lift itu mau ke atas dulu. Saya refleks menahan pintu sebelum pintu itu tertutup, tetapi tiba-tiba bapak saya berkata, “Langsung ke kamar aja!” sambil menekan tombol angka 6. Kemudian dengan polos saya pun menjawab, “Oh, iya, ya!”

Lantai 6. Pintu lift terbuka dan kami berempat keluar lift. Terdiam. Lho? Ini di mana?! Dengan muka bingung, heran, dan ketakutan masing-masing, kami berempat saling berpandangan, bertanya-tanya kenapa bentuk ruangan lantai 6 ini sangat berbeda dengan ruangan lantai 6 kamar kami. Saat itu, tiba-tiba muncul rombongan ibu-ibu dan bapak-bapak sesama anggota tur kami dari salah satu belokan di lantai 6 itu. Mungkin ada sekitar 7 sampai 10 orang. Rupanya mereka juga kebingungan! Hahaha kami ternyata tidak sendiri! Saat itu, salah satu bapak bertanya pada cleaning service gedung itu yang ternyata bisa berbahasa Indonesia. Dari kalimat awal mas-mas CS itu, saya langsung paham dan menertawakan diri sendiri kalau kita salah gedung! Adik dan bapak saya juga sepertinya sudah paham, sementara ibu saya sepertinya baru sedikit paham alias masih bingung. Beberapa bapak-bapak juga menertawakan dirinya sendiri. Ada salah satu bapak yang bercerita pengalaman nyasarnya juga di gedung ini. Hahaha, rupanya ini bukan pengalaman pertamanya! Ada juga bapak-bapak yang bercerita kalau dia sempat naik lift, niatnya mau ke lantai 6, tapi malah nyasar sampai lantai 12, kemudian turun lagi ke lantai dasar! Ya ampun, kocak-kocak banget nih bapak! xD

Tidak lama setelah itu, salah satu pintu lift pun terbuka. Rombongan ‘bingung’ itu langsung masuk, termasuk saya dan keluarga. Ups, tapi ternyata lift-nya penuh, tidak cukup dimasuki kami semua. Kalau tidak salah ada dua atau tiga orang yang tertinggal. Saya dan keluarga sempat merasa bersalah (karena kami baru datang tapi pergi duluan), tetapi pintu lift keburu tertutup dan menuju ke bawah. Sesampainya di lantai dasar, bapak, adik, dan saya langsung berniat keluar lift. Namun, entah kenapa bapak-bapak yang berdiri di depan pintu malah bengong nggak bergerak, dan otomatis menghalangi jalan kami. Lalu tiba-tiba seorang bapak berseru, “Nah, sekarang ke 6!” sambil menekan tombol angka 6 pada panel lift.

“Lho, Pak? Enggak, dong! Turun di sini dulu!” saya refleks berkomentar sementara bapak dan adik saya sudah berhasil keluar lift. “Turun sini dulu, Pak. Ganti lift!” seru saya panik sambil buru-buru keluar, menyusul bapak dan adik saya (inilah salah satu keuntungan berbadan kecil, mudah menyusup sana-sini). Entah karena suara saya yang terlalu kecil atau orang-orang itu yang tidak fokus, mereka semua tetap diam tak bergerak di dalam lift. Yang kasihan itu ibu saya. Beliau yang berdiri di pojok belakang lift, panik melihat saya-bapak-adik sudah berada di luar lift. Dengan jurus andalannya, ibu saya langsung refleks berteriak dan ‘menyingkirkan’ orang-orang yang menghalangi jalan keluar lift. Ibu saya berhasil keluar, dan pintu lift pun tertutup. Kami terbengong di pintu luar lift, dan beberapa saat kemudian tawa pun pecah!

Ya Allah… bapak-bapak itu gimana, sih? Dikirain udah paham sama penjelasan CS tadi? Orang di dalem lift tadi mereka juga terkesan ‘merangkum’ penjelasan mas-mas CS tadi, kok. Seolah-olah mereka emang udah paham. Yang bikin saya geli parah, saya itu jadi membayangkan bagaimana reaksi CS tadi saat bertemu rombongan itu lagi! Pasti CS itu juga geli liat kelakuan bapak-bapak itu. Kalau bapak saya, beliau ketawa gara-gara ngebayangin gimana kalau tadi ibu saya terperangkap di dalam sana (nggak bisa keluar lift) dan kebingungan bersama mereka! Sementara ibu saya, selain bersyukur banget banget karena berhasil keluar dan nggak misah sama kita-kita, beliau juga geli parah karena rombongan tadi itu malah jadi terkesan mau menjemput ibu-ibu yang masih ketinggalan di atas dan nggak bisa masuk karena lift yang penuh tadi! Pasti ibu-ibu itu juga bingung kok rombongan ini balik ke sini lagi? Hahaha, sedangkan adik saya, dengan tawa khasnya itu dia malah berkomentar, “Jangan-jangan bapak tadi mikir lift-nya bisa kaya gini…” (sambil menggerakkan tangannya naik, ke samping, dan ke atas, seolah-olah lift-nya itu nggak cuma naik-turun tapi juga bisa geser kanan-kiri pindah gedung) xD Ya Allah, adik saya kalau ngelawak kebangetan, deh! Tapi pengalaman ini kocak banget buat saya! Beberapa hari setelah kejadian itu, saya selalu harus menahan ketawa tiap liat salah satu bapak yang ada dalam rombongan itu! xD

Niat hati balik lagi ke Masjidil Haram untuk jalan-jalan usai sarapan, eh nyatanya nggak demikian. Mendadak tubuh yang ‘remuk’ ini baru terasa. Yang paling parah itu bagian kaki. Bagian betis rasanya jadi sangat keras dan mengkel. Saya bahkan merasa betis saya sudah agak bengkak. Pegel-pegel di bagian telapak kaki juga mulai terasa. Selain itu badan juga terasa capek dan ngantuk. Mungkin karena masih kurang tidur, ya? Atau malah karena capek ketawa gara-gara kejadian tadi? Hahaha… Tapi akhirnya, kami pun memutuskan untuk istirahat sebentar di hotel (tidur) dan kembali lagi ke Masjidil Haram saat waktu dhuhur nanti.

Shalat shubuh tadi mengajarkan kita agar “harus sudah ada di dalam masjid satu jam sebelum adzan jika ingin shalat fardhu berjamaah di dalam masjid”! Yap, dan sejak saat itu, setiap satu jam sebelum waktu shalat fardhu tiba, saat ada kesempatan dan sedang tidak ada jadwal tur, kami harus sudah ada di dalam masjid. Tapi nyatanya, satu jam sebelum adzan pun masih relatif sulit mencari shof untuk jamaah perempuan. Rata-rata sudah penuh dengan muslimah-muslimah yang baca Qur’an, berdzikir, sholat sunnah, dsb. Sementara itu, jamaah laki-laki cenderung masih lowong (mungkin karena tempatnya yang lebih banyak dan luas). Alhasil, bapak dan adik saya ‘terpaksa’ harus mengikuti saya dan ibu saya mencari tempat. Setelah kami dapat tempat dan sudah tau lokasinya, baru lah bapak dan adik saya mencari tempat di dekat-dekat sana.

Hal-hal yang harus banget dilakukan sebelum berangkat ke masjid adalah buang air dan wudhu! Seperti yang sempat saya bilang sebelumnya, toilet dan tempat wudhu di Masjidil Haram sangat jauh. Jika sudah masuk masjid, akan sulit untuk ke toilet karena letaknya ada di area luar masjid. Untuk berwudhu, beberapa orang bahkan terpaksa menggunakan zam-zam. Namun, siap-siap saja diomelin petugas kebersihan masjid jika wudhu-nya itu bukan di tempat semestinya dan malah bikin becek serta kotor masjid.

Sementara itu, hal-hal yang bisa dilakukan di dalam Masjidil Haram sambil menunggu adzan adalah thawaf sunnah, shalat tahiyatul masjid, dzikir, baca Al-Qur’an, dan kegiatan-kegiatan positif lainnya. Meskipun datang satu jam lebih awal, entah mengapa menunggu adzan tidak terlalu terasa lama. Selain itu, dengan datang awal dan sudah duduk di tempat shof shalat, kita jadi lebih khusuk mendengarkan dan menjawab adzan saat sedang berkumandang. Setelah adzan, kita juga bisa berdoa dengan baik karena salah satu waktu mustajab untuk berdoa adalah antara adzan dan iqomah. Shalat rowatib juga bisa dilakukan dengan ‘santai’ dan baik.

Salah satu kebahagiaan terbesar berada di sini adalah, saya jadi lebih fokus memikirkan ‘akhirat’. Selain makan dan tidur, hampir tidak ada hal duniawi lain yang terpikirkan, khususnya saat momen-momen ibadah. Foto-foto pun terbilang jarang karena hanya dilakukan saat free time, jalan-jalan, atau city tour (apaan, padahal di album udah ada seratusan foto, haha). Eh, tapi salah satu momen ‘duniawi’ yang saya suka adalah saat makan! Entah kenapa makanan di sini selalu saja enak! (Bahkan saat kehabisan sarapan tadi). Dan yang paling nikmat itu adalah susu! Terkadang saya menambahkan sedikit kopi ke dalam susu tersebut (biar jadi kopi susu), dan tetap saja enak! Ini adalah saat-saat perbaikan gizi yang paling baik! Harus bisa saya manfaatkan! Terbukti, berat badan pun berhasil naik (cuma) 2 kg setelah nimbang BB di rumah (makan banyak pun BB masih segitu-segitu aja, hiks). Dan benar, beberapa hari setelah nimbang itu saya sempat sakit batuk ringan dan tidak nafsu makan (kemungkinan besar BB-nya kembali lagi ke asal, bzzz). Intinya, berada di sana itu benar-benar damai tanpa gangguan duniawi. Kalau kata muthawif kami, “Selama di Mekah ini maksimalkan dan perbanyak ibadah, jangan mikirin urusan yang lain. Di Madinah nanti, (selain ibadah) baru deh, boleh jalan-jalan dan mikirin oleh-oleh!” Hihihi…

Bersambung…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: