Berhenti Menunggu atau Kembali Menunggu

Beberapa waktu lalu saya sempat menulis sebuah postingan berjudul “Waiting…” yang isinya tentang bagaimana momen menunggu menjadi sangat menyebalkan. Salah satu di antaranya adalah saat sesuatu atau seseorang yang ditunggu tersebut tidak sadar bahwa dirinya sedang ditunggu. Postingan lebih lengkapnya bisa lihat di daftar Pos-pos Terakhir di bagian bawah.

Namun, beberapa hari lalu saat saya sedang iseng scrolling album foto lampau di handphone saya, tiba-tiba saya menemukan sebuah quote yang lebih “mematikan”. Saya tidak ingat kapan dan dari mana quote “mematikan” tersebut berasal. Quote itu sudah tertimbun ratusan foto dan gambar-gambar lain di album tersebut. Namun, setelah saya pikir-pikir sejenak, memang pernyataan quote tersebut ada betulnya juga, sih. Seketika itu pula saya jadi berpikir bahwa tulisan saya tentang momen menyebalkan dalam menunggu itu langsung dibantah oleh quote “mematikan” ini. Ternyata ada lagi yang lebih parah!

Jadi, quote-nya kaya gimana, sih?

Sabar dulu. Ada cerita lucu juga di balik quote tersebut.

Iseng, lagi-lagi saya melakukan tindakan tanpa sadar. Karena kebetulan saat itu saya sedang senang-senangnya buka instagram, akhirnya tanpa sadar saya pun meng-upload kutipan tersebut di halaman instagram saya. Maklum, karena pengguna baru (lebih tepatnya udah bikin sejak lama, tapi baru mulai upload sekarang-sekarang ini) dan masih newbie, tentu saja “heart” yang didapat paling juga cuma satu, hahahaha… Karena itu, saya pun cuek bebek dan menganggap tindakan iseng saya itu tidak terlalu berdampak. Toh, hanya upload kutipan “nggak penting”.

Nyatanya, saya lupa kalau saya sudah follow dan di-follow salah satu teman kantor yang duduknya persis di sebelah saya. Haiyah! Dia langsung ngikik sambil nunjukin handphone-nya, dengan layar berupa postingan saya di instagram. Hahaha… Agak memalukan, tapi ya udalah ya… Setidaknya karena itu akhirnya saya jadi dapat tambahan “heart” dari dia. Hahaha xD

Beberapa lama setelah itu, tiba-tiba lampu LED handphone saya menyala berwarna biru, tanda ada notifikasi Facebook yang masuk. Eng-ing-eng! Ternyata salah satu teman trip Jogja-Pacitan saya waktu itu men-tag saya di statusnya. (*Rencananya pengalaman seru dan berkesan saya ngetrip ke Jogja-Pacitan akhir tahun lalu juga mau ditulis di sini, tapi belum sempat-sempat, hahaha). Ternyata mbak-mbak rekan kerja yang duduk di sebelah saya itu nge-capture postingan saya di instagram itu, ditulis di status, dan di-share lagi sama mbak-mbak teman trip saya itu. Nggak hanya itu, di instagram dan facebook mereka juga men-tag salah satu teman kami berdua yang juga tekenal dengan sebutan “Ratu Galau”. Astaga, rusak sudah image “kalem” saya dan semakin meningkat pula reputasi saya sebagai “Ratu Gombal” di mata mereka (hanya gara-gara saya iseng mem-posting quote itu di instagram).

Baiklah, dan alhasil postingan share mbak-mbak temen trip tadi pun jadi lebih ramai daripada postingan asli instagram saya sendiri, hahaha…

Namun, nggak cuma berhenti di situ. Ternyata quote itu juga berubah jadi ilham buat si mbak teman kerja saya itu sebagai bahan tulisan dia di blog. Ouw~~~ so sweeeet, eh, so saaad… Ternyata ada pengalaman pribadi dia yang mirip-mirip dengan quote itu. Hmm… #manggutmanggut pantas saja.

Jadi, apa di sini ada yang punya pengalaman menyedihkan seperti quote itu juga?

Ada yang lebih menyedihkan daripada menunggu,

yaitu saling menunggu tapi tak saling tahu.”

Hiks, so sad, kan? Tragis lagi kalau saling menunggunya itu kemudian sama sekali tidak berlabuh. (Ya ampun, bahasanyah!). Di zaman modern seperti sekarang ini, sepertinya kejadian serupa nggak mungkin banget terjadi, ya? Ngapain juga saling nunggu tapi nggak saling tahu kalau udah ada handphone? Bukannya tinggal telepon, tanya kamu mau nunggu di mana, jam berapa? Kalau nggak dateng-dateng juga tinggal telepon lagi, “Woi, lama amat!”

Tapi, tapi, di komik Detektif Conan pernah ada kejadian mirip, loh. Di komik ke sekian ada cerita singkat tentang isi novel klasik yang ditulis oleh si pelaku yang merupakan novelis. Di stasiun, si cewek dan si cowok saling menunggu bersandarkan dinding, tanpa tahu bahwa di balik dinding itulah mereka saling menunggu. Dengan kata lain, mereka saling menunggu tapi tak saling tahu bahwa sebenarnya mereka hanya dipisahkan oleh sebuah dinding! Mengapa mereka tidak saling berbalik? Mengapa mereka hanya diam di situ? Seandainya saja salah satu di antara mereka berbalik sedikit saja, mungkin kisahnya bakal berubah drastis. Happy ending!

Ah, tapi nggak juga. Kalau memang sudah takdirnya sad ending, mau diapakan juga pasti sad ending. Siapa tahu saat salah satu berbalik, si cewek malah bilang, “Ini pertemuan terakhir kita. Sebenarnya aku mau mengucapkan salam perpisahan karena besok aku akan menikah dengan orang lain.” (Astaga, drama banget yah, sayah! Hahaha…)

Kejadian menunggu di atas sifatnya memang “nyata” karena yang ditunggu itu konkret, nyata, dalam bentuk orang secara utuh. Namun, saat yang ditunggu itu sifatnya “abstrak”, kejadian di quote tersebut bisa saja terjadi. Buktinya, mbak-mbak di atas menuliskan kisahnya sendiri di blog, yang mirip dengan quote tersebut.

Ada sebuah cerita yang pernah ada. Entah di sinetron, ftv, novel, atau apapun itu. Dua orang sahabat cewek-cowok sejak kecil selalu bersama. Mereka deket banget, sekolah bareng terus, sekelas terus, dan sebagainya. Seiring bertambahnya usia, persahabatan berubah menjadi perasaan lain. Masing-masing punya perasaan aneh yang sama, tapi tak saling jujur dan hanya memendamnya sendiri. Alasan klasiknya adalah karena mereka sahabat. Jika jujur terhadap perasaannya, konsekuensinya hanya ada dua. Diterima, lalu menjadi pasangan dan hilanglah kata “sahabat” dalam diri mereka. Atau ditolak, lalu menjadi kaku, asing, dan hilanglah pula kata “sahabat” dalam diri mereka. Klasik, hanya ingin mempertahankan kata “sahabat” itu saja meskipun secara lebih dalam sebenarnya yang mereka inginkan bukanlah “sahabat” melainkan “agar-masih-bisa-tetap-bersama”. Haish.

Karena itu, pada dasarnya ada sebuah quote lain yang mampu menjawab quote “mematikan” soal saling menunggu tersebut.

Cinta tak pernah meminta untuk menanti.

Ia mengambil kesempatan. Itulah keberanian.

Atau mempersilakan. Yang ini pengorbanan.

(Salim A. Fillah)

Jadi, daripada saling menunggu tapi tak saling tahu, bukankah lebih baik tak saling menunggu tapi saling tahu? Bertindak. Nyatakan. Toh, konsekuensinya juga hanya ada dua. Berhenti menunggu, atau kembali menunggu.

Hihihi… Intinya, sih, sama-sama menunggu. Bedanya, yang pertama berhenti menunggu si dia, sedangkan yang kedua kembali menunggu rencana Allah yang lain.

Keduanya bukan hal yang buruk, kan?😉

estEtika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: