Mekah-Madinah Hari-3: City Tour Mekah

Jalanan kota Mekah. Ada pohon, tapi tetap terkesan gersang.

Jalanan kota Mekah. Ada pohon, tapi tetap terkesan gersang.

Hari ketiga adalah saatnya city tour di kota Mekah. Menurut jadwal, tempat-tempat yang akan dikunjungi hari ini adalah Jabal Tsur, Padang Arafah, Jabal Rahmah, Muzdalifah, Mina, Masjid Ja’ronah, dan Jabal Nur. Syukur Alhamdulillah city tour ini diisi oleh seorang muthawif atau yah sebut saja ‘pemandu wisata’ sehingga sambil mengunjungi tempat-tempat tersebut, para jamaah juga mendapatkan penjelasan singkat mengenai tempat bersejarah tersebut. Mengunjungi tempat-tempat itu terasa cukup menggetarkan hati saat teringat bahwa Rasulullah juga pernah datang ke sana. Perjuangan Rasulullah juga menjadi sangat terasa ketika mengunjungi tempat-tempat tersebut secara langsung. Berikut penjelasan singkat yang saya ingat berdasarkan pemaparan muthawif mengenai tempat-tempat bersejarah tersebut.

Jabal Tsur atau Bukit Tsur.

Jabal Tsur

Jabal Tsur

Ini adalah tempat persembunyian Rasulullah dan Abu Bakar saat dikejar oleh orang-orang kafir. Rasulullah dan Abu Bakar bersembunyi di salah satu goa yang ada di bukit tersebut saat melarikan diri dari area sekitar Baitullah tempat beliau tinggal. Yang mengejutkan, perjalanan saat itu dari sekitar Baitullah ke Jabal Tsur memakan waktu sekitar 15 sampai 30 menit dengan menggunakan bus (tanpa macet, tentunya). Bayangkan berapa lama perjalanan yang ditempuh Rasulullah saat itu di tengah pengejaran tersebut. Terlebih lagi jalanan saat itu tentu tidak semulus sekarang. Bukit-bukit gersang dan gurun pasir di sepanjang kanan-kiri jalan menjadi salah satu bukti sulitnya medan perjalanan saat itu.

Jika ada yang ingat kisah Abu Bakar yang menahan rasa sakit lantaran digigit binatang yang tinggal di dalam gua tersebut karena tidak ingin membangunkan Rasulullah yang tertidur di pangkuannya, kejadian tersebut terjadi di salah satu tempat di bukit Tsur ini. Betapa sahabat Rasul ini sangat mencintai beliau sampai-sampai rela menahan rasa sakit yang ia rasakan. Selain itu ada pula kejadian menggetarkan saat tiba-tiba Abu Bakar merasa sangat ketakutan karena kafir Quraisy semakin mendekat. Saat itu Abu Bakar sampai menangis hingga kemudian Rasulullah bertanya mengapa ia menangis. Setelah Abu Bakar menjawab pertanyaan Rasulullah, kalimat yang diucapkan Rasulullah kemudian langsung berhasil menenangkan Abu Bakar dan membuatnya tersenyum.

“Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” (QS. At-Taubah: 40)

Pernyataan tersebut memang terdengar sangat simpel, tetapi maknanya dalam sekali. Konon, setelah itu pertolongan Allah pun datang untuk kedua manusia mulia tersebut. Mulut gua tempat mereka bersembunyi, sesuai kehendak Allah, ditutup oleh sarang laba-laba yang tinggal di sana. Kafir Quraisy yang tiba di sana tidak memeriksa isi gua tersebut lantaran beranggapan bahwa tidak mungkin ada orang yang ada di dalam sana (kalau ada orang masuk, sarang laba-laba ini pasti akan rusak). Akhirnya, selamatlah Rasulullah dan Abu Bakar dari kejaran para kafir Quraisy. (Catatan: ada pendapat yang mengatakan bahwa laba-laba tidak boleh dibunuh; pendapat tersebut kemungkinan besar karena adanya kisah ini meskipun secara umum kita memang tidak boleh membunuh binatang, kecuali karena alasan tertentu seperti mengancam jiwa.) Setelah mendengar penjelasan muthawif dan melihat secara langsung bukit Tsur tersebut, kisah Rasulullah dan Abu Bakar ini pun menjadi salah satu kisah faforit yang menginspirasi saya. Benar-benar kisah persahabatan terindah sepanjang masa. Mereka berdua tidak hanya bersatu di dunia, tetapi juga di akhirat, di surga yang Allah janjikan.

Padang Arafah.

Usai dari Jabal Tsur (di sini kami hanya mampir sekitar 10—15 menit), rombongan beralih ke tempat lain, yaitu Padang Arafah. Ini adalah tempat berkumpulnya seluruh jamaah haji pada tanggal 9 Dzulhijah. Jamaah haji yang tidak berada di Padang Arafah pada tanggal tersebut, maka hajinya tidak sah. Padang Arafah ini bahkan memiliki batas-batas (tempat jamaah haji harus melewati daerah tersebut supaya terhitung masuk Padang Arafah), yang ditandai dengan palang berwarna kuning di sisi jalan masing-masing batas tersebut.

Masya Allah, padang ini ternyata sangat luas. Padang Arafah memang sangat gersang, panas, dan… (mungkin boleh dikata) bergurun alias terik-kering, tetapi menurut muthawif kami tempat ini sudah banyak mengalami perbaikan. Terdapat beberapa pepohonan yang sengaja disediakan bagi jamaah haji agar tidak kepanasan, serta beberapa fasilitas seperti toilet, tempat wudhu, dsb. Di sini bahkan ada sebuah rumah sakit yang buka setiap satu tahun sekali, yaitu saat jamaah haji datang ke sini pada musim haji.

Melihat orang-orang berpakaian putih di dalam Padang Arafah ini, sekilas saya terbayang akan Padang Mahsyar, tempat semua orang dikumpulkan kelak setelah dibangkitkan dari kubur. Gambaran Padang Mahsyar yang selama ini sempat saya bayangkan dari kisah-kisah yang pernah saya baca atau dengar, mirip dengan keadaan di Padang Arafah ini. Saat itu keadaan di Padang Arafah itu sangatlah panas. Begitu keluar dari bus ber-AC, kepala saya mendadak terasa pusing karena teriknya matahari (padahal kan saya pakai kerudung, entah bagaimana nasib bapak-bapak tanpa penutup kepala itu). Kemudian saya teringat kisah bagaimana “siksa” di Padang Arafah ini berupa panas matahari yang terasa di atas ubun-ubun kepala. Na’udzubillah, semoga saja kita semua terhindar dari itu semua dan termasuk ke dalam orang-orang yang mendapatkan syafaat T_T

Jabal Rahmah.

Jabal Rahmah dari Dalam Bus

Jabal Rahmah dari Dalam Bus

Jabal Rahmah atau “Bukit Kasih Sayang” berada di dalam kawasan Padang Arafah. Jabal Rahmah adalah tempat bertemunya kembali Nabi Adam dan Siti Hawa setelah mereka berdua diturunkan oleh Allah dari surga ke dunia karena telah memakan buah khuldi atas bujuk rayu syaitan (Catatan: Pohon yang dilarang Allah untuk didekati [apalagi dimakan buahnya] tidak dapat dipastikan, sebab Al-Qur’an dan Hadist tidak menerangkannya. Ada yang menamakan pohon khuldi sebagaimana tersebut dalam surat Thaha: 120, tetapi itu adalah nama yang diberikan syaitan [QS. Al-Baqarah: 35 dalam Al-Quran Digital V.2.0, 2004]).

Oh ya, tempat ini katanya sangat bagus untuk berdoa, khususnya doa terkait jodoh. Hihihi… Meskipun termasuk orang yang percaya bahwa doa bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja, tetapi tidak ada salahnya (bahkan lebih baik) untuk berdoa pula di Bukit Kasih Sayang ini. Selain mendoakan diri sendiri, insya Allah teman, sahabat, dan rekan-rekan lain yang masih sendiri dan senantiasa menjaga hati dan dirinya juga ikut saya doakan. Saya dan keluarga memang tidak naik sampai atas bukit (apalagi memegang atau menuliskan nama seseorang di puncak bukit). Selain karena cuaca yang super duper panas dan terik (panasnya itu silau banget dan bikin kulit sakit), orang-orang yang datang dan naik ke puncak bukit sangatlah banyak. Saya dan keluarga tidak ingin ambil risiko berdesakan dengan orang-orang tinggi besar itu di tengah tangga bukit yang cukup terjal dan curam. Alhasil, kami berempat hanya foto-foto seadanya saja di salah satu sudut tangga ataupun pijakan luas yang berada di salah satu sisi bukit tersebut.

Jabal Rahmah dari tempat yang bisa kita capai. Orangnya banyak sekali...

Jabal Rahmah dari tempat yang bisa kita capai. Orangnya banyak sekali…

Saran saya, saat wisata kota seperti ini sebaiknya sediakanlah masker dan kacamata hitam. Apalagi saat cuaca sedang terik-teriknya. Saya sendiri hampir selalu mengenakan masker tiap kali keluar bus atau ruangan (kecuali saat foto-foto, hahaha) karena debu dan pasir yang bertebangan di sini cukup banyak. Terlebih lagi udara kering di sini juga cukup menusuk hidung. Untuk kacamata hitam sendiri saya agak menyesal karena belum sempat memesan kacamata hitam dengan lensa minus. Alhasil, saya harus bertahan habis-habisan untuk menghindari sinar matahari yang silau banget.

Muzdalifah dan Mina.

Kedua tempat ini adalah tempat yang selanjutnya dikunjungi para jamaah haji usai berkumpul di Padang Arafah. Kami semua hanya melewati tempat-tempat ini dengan menggunakan bus, sembari mendengarkan penjelasan muthawif mengenai tempat-tempat tersebut. Melewati tempat-tempat ini seakan sedang manasik haji. Penjelasan muthawif soal tempat tersebut yang kemudian dikaitkan dengan ibadah haji cukup memberi sedikit gambaran. Sepanjang perjalanan, bapak dan ibu saya yang pernah datang ke sini sebelumnya juga sempat bernostalgia. Menurut mereka keadaan sudah sangat jauh berbeda (tentu saja, udah sepuluh tahun lebih juga). Namun, mereka masih mengingat beberapa tempat yang familiar. Ungkapan seperti “Waktu itu di situ ya, Ma?” atau “Dulu nunggu di sana ya, Pa?” sesekali terdengar dari percakapan mereka berdua. Hmmm seneng banget deh, dengernya. Berharap suatu hari nanti saya juga berkesempatan datang ke sini bersama orang tercinta, dan mendiami salah satu tenda di barisan tenda-tenda di Mina itu…

Masjid Ja’ronah.

Ini adalah salah satu tempat miqot bagi jamaah umroh yang sudah ada di Mekah. Di tempat ini, beberapa jamaah yang berniat umroh lagi akan melaksanakan miqot. Tahapannya sama persis dengan miqot saat di pesawat yang pernah dipaparkan sebelumnya. Yang membuat saya pribadi merasa bingung, sebagian besar jamaah berniat untuk meng-umroh-kan arwah atau orangtua mereka yang sudah meninggal. Entah ya, mungkin karena masih dangkalnya ilmu saya, tetapi setahu saya semua amalan orang yang sudah meninggal akan benar-benar terputus, kecuali sodaqoh/jariyah, ilmu bermanfaat, dan doa dari anak-anak yang sholeh. Sementara itu, ada juga pendapat yang mengatakan bahwa umroh sebenarnya tidak perlu dilakukan lagi karena Rasulullah sendiri hanya melaksanakan umroh satu kali. Namun, ada juga hadist yang mengatakan bahwa umroh satu ke umroh yang lain akan menggugurkan dosa. Wallahu a’lam, hanya Allah yang tahu. Jadi, di tempat ini, jamaah yang mau umroh lagi pun melaksanakan miqot mereka, sedangkan yang tidak umroh lagi hanya sekadar mengunjungi masjid, shalat tahiyatul masjid, atau sekadar berjalan-jalan di area luar masjid yang banyak juga diisi oleh para pedagang. Pilihan umroh lagi atau tidak bersifat fleksibel, sesuai dengan pemahaman dan keyakinan masing-masing. Namun, kalaupun mau umroh lagi, saya pribadi kurang merasa sreg jika umrohnya diniatkan untuk arwah. Wallahu a’lam.

Jabal Nur.

Ini adalah tempat turunnya wahyu pertama Allah kepada Nabi Muhammad SAW, QS. Al-Alaq: 1—5, saat beliau tengah berkhalwat di Gua Hira’. Mirip dengan Jabal Tsur, Jabal Nur berbentuk bukit cokelat (bergurun dan gersang) yang besar dan tinggi (tapi sepertinya Jabal Nur lebih terlihat besar dan tinggi daripada Jabal Tsur). Di sini rombongan tidak sampai turun dari bus, melainkan hanya sekadar melihatnya dari dalam bus yang bergerak kembali menuju Baitullah. Wahyu pertama Allah itu adalah perintah membaca, membaca dengan (menyebut) nama Tuhan yang telah menciptakan. Surah ini menerangkan secara implisit bahwa membaca adalah salah satu cara memperoleh ilmu dan pengetahuan. Allah sendiri yang mengajarkan manusia melalui perantara kalam, yaitu perantara baca dan tulis. Allah mengajarkan kepada manusia tentang apa yang mereka tidak ketahui.

Yuhuuu~~~ dan perjalanan city tour pun berakhir di sini. Sisa hari yang ada, selebihnya diisi dengan ibadah dan kegiatan rutin yang lain. Benar-benar pengalaman yang menyenangkan! Salah satu tujuan saya menulis adalah agar pengalaman indah ini masih tetap meninggalkan bekas meskipun sudah lama berlalu. Semoga pelajaran dan hikmah yang ada juga akan tetap terasa setelah belasan bahkan puluhan tahun mendatang.

Bersambung…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: