Memori Indah Para Generasi Bahagia

Akhir-akhir ini banyak sekali postingan menarik, baik di Facebook maupun WhatsApp, tentang meme atau cerita dan kebiasaan lucu di tahun 70 sampai 90-an. Mulai dari kebanggaan siswa yang belajar dengan papan tulis hitam dan kapur putih, kelakuan iseng nempelin kertas bertuliskan “saya bodoh” di belakang baju teman, sampai barang-barang unik yang ada di zaman itu. Sungguh lucu sekali melihat dan membaca postingan-postingan tersebut. Lantas saya pun jadi berpikir, generasi tersebut memang the best! Peralihan dari zaman “jadul” ke zaman modern yang oke punya! Bersyukur rasanya termasuk ke dalam kelompok anak-anak dengan “masa kecil yang terlalu bahagia” itu😀

Karena termasuk generasi 90-an, berikut beberapa memori indah di tahun 90-an yang pernah saya alami sendiri.

Warnet. Tempat ini memang masih ada sampai sekarang, tetapi mungkin sekarang ini fungsinya sudah jadi agak berubah. Dulu warnet banyak dijadikan sarana untuk mengerjakan tugas, atau bagi yang mau bersantai akan menjadikannya sarana ngobrol alias chatting. Siapa yang pernah chatting pakai MlRC? Hahaha, pasti nggak asing lagi sama istilah “Asl, please”, kan? Lantas jawabannya adalah “23 f Jkt”. Wkwkwk. Kalau boleh nostalgia, dulu di dekat rumah saya ada dua warnet dengan kecepatan internet yang lumayan. Namanya Baruna net dan Hoky net. Seiring berkembangnya teknologi internet rumahan dan modem, kedua warnet ini pun pensiun dini. Dulu saya sampai hapal muka-muka operatornya. Ada yang melankolis, ada juga yang sengak. Sekarang warnet memang masih ada, tapi fungsinya sudah lebih untuk mainan game online. Kalau zaman dulu, game yang paling saya suka mainin di warnet paling-paling game Hangaroo dengan icon kanguru yang cerewet dan menyebalkan (tapi juga kasihan) itu. Ada yang pernah main?

Wartel. Astaga, generasi 90-an pasti nggak asing lagi dengan tempat ini. Wartel alias warung telepon adalah tempat saat kalian ingin menghubungi seseorang tapi di rumah nggak ada telepon, atau saat kalian ingin menghubungi seseorang tanpa sepengetahuan orang rumah (hahaha, yang terakhir evil, memang). Di zaman-zaman cinta monyet dulu, wartel bisa cukup membantu menghubungi si doi lho. Namun, siap-siap saja kalau yang mengangkat telepon rumahnya itu bapak atau ibunya yang galak, hihihi… Hal konyol yang pernah saya lakukan adalah misscall lewat wartel agar ibu saya menjemput saya di sekolah. Hah? Kok bisa? Oke, berhubung sekarang udah nggak ada lagi wartel, saya coba buka trik saya yang bisa saja justru menurunkan omset pemilik wartel ini. Caranya, telepon nomor handphone dari wartel, kemudian catat nomor yang masuk di phonebook hape, viola! Kalau saya telepon dari wartel ke hape ibu saya, beliau pun akan tahu kalau itu adalah saya. Cukup tunggu beberapa detik dan matikan, maka ibu saya pun akan langsung datang menjemput saya di sekolah. Ha-ha-ha… Ini cara jahat ya, jangan ditiru. Maklum lah, uang saku dulu kan, juga terbatas hanya untuk beli jajan. Selain itu, wartel juga menyimpan kenangan tersendiri bagi saya. Seperti yang sempat disinggung sebelumnya, wartel adalah salah satu saksi bisu kisah cinta monyet zaman dulu (tapi jangan salah, kenangan yang dimaksud bukan karena saya neleponin orang yang saya taksir, lho). Yang jelas, menurutku kisah cinta monyet di zaman wartel ini nggak kalah seru dengan kisah cinta monyet di zaman hape. Yang pernah punya pengalaman ini pasti setuju, deh, hahaha😀

Kartun minggu pagi. Saya masih ingat beberapa jam tayang dan jadwal saya menonton kartun faforit di hari minggu pagi saat masa-masa indah itu. Yang jelas, kartun faforit di hari Minggu itu ada Ufo Baby, Kobo Chan, Ninja Hatori, P-Man, dan Doraemon di RCT*, lalu Digimon Adventure dan Detektif Conan di Indosia*, sempat pula Dr. Slump dan Monster Farm (alias Monster Rancher) di SCT*. Menjelang remaja, kartun faforit seperti Magical Doremi, Dr. Rin, dan Tokyo Mew-Mew di RCT* serta Bleach di Indosia* pun sempat muncul. Mau kartun yang lebih jadul? Dulu juga sempat ada Sailor Moon, Wedding Peach, dan Card Captor Sakura. Tahu tokoh bernama Li Syaoran di serial Card Captor Sakura?  Kalau diingat-ingat, sepertinya dia adalah “cinta pertama” saya di dunia semu! Hahaha… Laki-laki “semu” yang pertama saya sukai! Sikapnya yang cool tapi jadi kaku di depan Sakura, jaim tapi bisa juga konyol di depan Sakura, dan dingin tapi terus-terusan melindungi Sakura, uuuh… lucuuu! Saking “cintanya” sama Li Syaoran, baru-baru ini saya bahkan sampai beli DVD Card Captor Sakura full demi bisa nostalgia ngelihat tingkah cool dan kocak cowok keturunan Hongkong ini xD

Petak umpet. Tahun 90-an memang sudah ada handphone, tetapi anak-anak zaman itu masih terbilang aktif dan lebih senang main di luar rumah. Buktinya waktu SD setiap sore atau malam minggu, jalanan depan rumah pasti ramai. Mainan faforit saya dan anak-anak tetangga adalah petak umpet (atau kalau di tempat saya disebut sebagai rok umpet). Selain itu ada juga rok rembet dan rok bangun-tidur, atau mainan bentengan dan gobak sodor yang dimainkan saat anak-anak yang ikut lebih banyak. Kejadian berkesan saat main petak umpet adalah karena saya terlalu “gigih” dan terlalu “menjiwai” permainan ini hingga rela manjat pagar, masuk tong sampah (iya, tong sampah), sampai-sampai pernah suatu ketika baju saya sobek saat turun dari pagar rumah orang. Lucunya, saya ingat waktu tahu baju itu nyangkut dan sobek, saya langsung izin pulang sebentar, tapi bukannya ganti baju, melainkan malah sok-sokan ngejahit baju itu seadanya, lalu langsung keluar lagi dan lanjut main xD

Bobo. Majalah faforit zaman SD! Terbit setiap hari Kamis, pagi-pagi dianterin sama mas-mas loper koran pakai sepeda. Ada Bobo, Coreng, Upik, Bona, Rong-Rong, Nirmala, Oki, ya ampuuuun… Beruntung banget karena dulu belum marak hape, orangtua saya justru kasih saya langganan majalah ini. Waktu itu saya bahkan pernah iseng mengirimkan beberapa puisi karangan saya ke rubrik “Halamanku” di Bobo itu, dan dimuat! Ada dua puisi saya yang dimuat, saya ingat judulnya adalah “Padamu Langit” dan “Syair”. Puisi pertama dapat hadiah dari Bobo berupa kaos oranye dan topi hitam Bobo yang oke punya! Sedangkan puisi kedua dapat hadiah berupa sekotak Nutrijell sachet dan kaos putih Nutrijell. Baru-baru ini, karena mendadak kangen masa kecil, saya pun iseng membeli majalah Bobo yang baru terbit, hanya sekadar ingin tahu bagaimana tampilan majalah itu sekarang. Ya ampun, nostalgia banget tiap baca lembarannya. Lucu, waktu baca surat pembaca, “Halamanku”, “Arena Kecil”, dan “Tak Disangka” yang dikirim pembaca yang notabene-nya adalah anak-anak. Semoga saja anak zaman sekarang masih ada minat baca, ya? Nggak hanya suka main gadget saja🙂

Sahabat pena. Siapa yang punya? Hahaha, karena dulu karya saya sempat dimuat di majalah Bobo itu, saya pun pernah punya sahabat pena. Sayangnya, saya lupa dia berasal dari kota mana. Yang jelas seingat saya bukan dari Jakarta atau kota besar lainnya. Namanya pun lupa, entah Ina, Intan, atau siapa, ya? Seru juga lho, dia suka kirim surat pakai kertas surat warna-warni yang dulu juga pernah populer di kalangan anak perempuan tahun 90-an. Saya sudah nggak terlalu ingat dengan apa yang kita bicarakan di surat itu, tapi momen saat menerima surat, membacanya, menulis balasannya, mengirimkannya, dan menunggu balasannya adalah momen yang seru dan nggak akan bisa keulang lagi sekarang ini.

Surat cinta. Kalau tadi surat dari sahabat pena, sekarang surat dari pengagum rahasia. Hihihi, ada yang pernah dapat atau pernah tulis? Saya pernah. Hahaha. Waktu SMP kalau nggak salah, tiba-tiba di kolong meja ada surat, hihihi… Lucu deh, kalau ingat cerita-cerita kocak cinta monyet zaman dulu. Saya bahkan pernah dapat surat yang di dalamnya juga ada cincin mainannya sebagai hadiah. Kocak, kan? xD Teman dekat saya bahkan pernah dapat surat cinta yang disertai dengan sebuah kotak besar, yang ternyata isinya adalah beberapa batang cokelat! Wow! Adaaaa aja ya, kelakuan anak zaman dulu xD Eh, tapi jangan salah, meskipun mungkin sekarang-sekarang ini cara itu dibilang “pengecut”, kirim surat begitu juga “romantis”, lho! Hahaha, daripada via sms yang serba instan, kayanya via surat itu kesannya lebih gimanaaa gitu, kan? Lebih terkesan ada effort lebih dan so sweet! xD

Pesan rahasia. Hmm sebenarnya agak bingung bagaimana menyebut istilah ini. Sebenarnya “pesan rahasia” yang dimaksud di sini adalah saat kalian sedang pelajaran, kemudian ingin mengobrol dengan teman yang ada di bangku sebelah tapi tidak ingin ketahuan guru, kemudian kalian menuliskan pesan tersebut pada secarik kertas dan memberikannya diam-diam pada orang yang dimaksud. Adakah yang pernah? Saya pernah. Pesan rahasia saya yang berkesan adalah pesan rahasia antara saya dan salah satu teman laki-laki saya saat kelas 2 SMP. Saya nggak ingat persis dengan apa yang kita bicarakan di sobekan-sobekan kertas itu, tetapi mengobrol dengan orang itu lewat pesan rahasia adalah salah satu hal menyenangkan yang pernah ada. Sebenernya pesannya juga nggak penting-penting amat, tetapi tiap kali teman lain iseng kepo atau mau merebut sobekan kertas itu, teman saya itu akan mempertahankannya habis-habisan, seolah-olah obrolan kita di kertas itu sangat confidential. Padahal yakin, deh, itu nggak penting banget! Ha-ha-ha. Saya bukan tipe orang yang dekat dengan laki-laki, tapi sampai sekarang ini entah kenapa teman saya itu adalah salah satu laki-laki yang masih tetap asik untuk diajak ngobrol. Sudah berbulan-bulan lalu sejak terakhir kali kita mengobrol lewat WhatsApp (bukan lagi lewat pesan rahasia, hehe), entah pengalaman baru apa lagi yang sudah ia lalui dan belum sempat diceritakan dengan gayanya yang ngocol, hihihi…

Kaset pita. Nah, ini nih, salah satu koleksi lain saya selain komik, majalah, dan buku cerita sewaktu masih kecil. Saya punya banyak kaset lagu anak-anak, mulai dari yang paling faforit saya, Maissy, sampai ke Tasya, Trio Kwek-Kwek, Joshua, Saskia-Giovani, Chikita Meidi, Enno Lerian, dan masih banyak lagi! Bedanya, kalau Maissy dan Tasya biasanya saya khusus punya kasetnya yang satu album, sementara artis cilik lain biasa beli kasetnya dalam bentuk “Campur-Campur” alias “The Best Of”. Perbendaharaan lagu anak-anak saya juga banyak! Liriknya biasanya centil dan semangat, tapi ada unsur pesan moralnya, yang tentu khusus ditujukan untuk anak-anak. Salah satu lagu faforit saya adalah lagu “Kuman Nakal”-nya Maissy yang kasih pesan-pesan singkat apa yang harus dilakukan saat mau sekolah agar terhindar dari kuman nakal dan penyakit. Lalu ada juga lagu “Mata Uang” dan “Katanya” Trio Kwek-Kwek yang kasih pengetahuan ke anak-anak tentang mata uang dan keunikan beberapa negara-negara di dunia. Karena adanya lagu ini, pengetahuan anak-anak tentang negara laln secara nggak langsung juga bertambah, lho!

Radio. Nah, lho! Ada apa di radio? Banyak! Di radio kita bisa kirim-kirim salam, request lagu, sampai ikutan kuis! Waktu SMP, tepatnya kelas 2, teman sekolah banyak yang suka kirim-kirim salam di acara radio jam tujuh malam. Mulai dari yang pakai nama samaran, sampai yang terang-terangan nyebutin nama dan nyalamin orang yang dia sukai, hahaha! Nggak hanya itu, lewat radio kita juga bisa ngerekam lagu faforit kita di pita kaset kosong xD Adakah yang pernah? Saya pernah. Karena belum adanya teknologi mp3 dan download­-an, merekam lagu pun dilakukan secara manual pakai kaset kosong. Kalau di radio ada tanda-tanda lagu faforit bakal diputer, langsung siap-siap tekan tombol record, deh. Belum lagi kalau kita ingin ikutan nyanyi, tapi nggak hapal lirik! Setelah lagu sukses terekam, baru deh kita siap-siap pulpen dan kertas, lalu catat manual tuh lirik lagunya dengan menekan tombol playrewindplayrewind! xD Cerdas-cerdas banget kan, anak generasi 90-an itu? Hahaha…

Nah, tadi itu adalah beberapa hal yang bikin saya jadi nostalgia masa lalu yang terlalu indah itu. Hm, masa kecil dan remaja saya memang sepertinya terlalu amat sangat bahagia!😀

estEtika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: