Hari Paling Membahagiakan

Hari ini ingin rasanya ada yang menanyakan berapa usia saya sekarang supaya saya masih bisa menjawab, “23 tahun” kepada si penanya. Sayangnya, hari ini tidak ada. Mungkin baru besok akan ada yang iseng bertanya, “Yang ke berapa?” dan akhirnya saya pun terpaksa menjawab, “Ke-24,” hiks. Itu pun kalau besok ada yang ingat ataupun menyadarinya. Ha-ha-ha.

Ulang tahun. Sejak kecil orangtua saya tidak pernah mendidik saya dan adik saya untuk familiar dengan istilah tersebut. Berbeda dengan anak tetangga yang suka mengundang teman-temannya berpesta, atau saudara sepupu yang sekadar membeli kue dan memasang lilin serta meniupnya kemudian mengajak kami semua makan bersama, atau malah anak para artis yang ulang tahun pertamanya dirayakan bak perayaan pesta pernikahan. Sejak dulu keadaan ulang tahun kami semua di rumah selalu sama. Tanpa kue, tanpa hadiah, tanpa perayaan. Yang ada hanya bunyi alarm bersaut-sautan tepat pukul 06.30 dari reminder hape masing-masing.

Tanpa kue. Yap, orangtua saya tidak pernah membelikan kue tart atau kue apapun di hari ulang tahun saya. Entah itu ulang tahun ke-5 atau sweet seventeen sekali pun. Percaya atau tidak, seingat saya pertama kalinya saya mendapatkan kue adalah pada tahun 2012 lalu dari salah seorang teman kosan saya di Depok. Itu pun bukan kue tart atau kue ulang tahun bertuliskan nama saya di tengahnya, melainkan sekotak kue brownies. Namun jangan salah, meskipun “hanya” sekotak kue brownies, tetapi itu adalah kue pertama yang paling berkesan! Butuh usaha besar bagi saya untuk berpura-pura tetap kalem di hadapan teman saya itu (padahal di dalam hati, sungguh, rasanya terharu banget!). Sedangkan kue kedua yang saya terima adalah tahun 2013 lalu. Waktu itu saya udah matiin lampu dan siap-siap tidur, tapi tiba-tiba pintu kamar saya diketuk. Saat itulah saya pertama kalinya mendapatkan kue tart mini dengan lilin di atasnya dari dua orang teman kosan saya di Jakarta. Maka saat itu pun otomatis, umur ke-23 adalah saat pertama kalinya dalam hidup, saya meniup lilin dan memotong kue ultah! Iya, norak banget, kan?

Namun, meskipun orangtua saya tidak pernah membelikan saya dan adik saya kue ulang tahun, mereka selalu memberikan kami kue-kue yang lain setiap waktu. Ibu saya, setiap saya atau adik saya pulang ke rumah, selalu membelikan jajanan dan memasakkan makanan yang enak-enak. Kalau beliau keluar rumah, pulang-pulang sering tiba-tiba bawa es kelapa muda, dawet, tahu aci, jajanan pasar, atau buah pisang-nanas-pepaya kesukaan adik saya. Meskipun kami belum tentu minta, ibu saya pandai memberi kejutan karena beliau sudah hapal betul apa saja jajanan dan makanan yang kami suka. Sementara itu, bapak saya agak berbeda. Beliau adalah orang yang paling tidak bisa diberi kode, tetapi jika mengatakan atau memintanya secara langsung, beliau adalah orang yang paling tidak pernah mengatakan tidak. Momen yang paling sering terjadi adalah ketika kami sms atau BBM agar sepulang kerja bapak saya membelikan kami jajanan, beliau tidak pernah menolak. Bahkan saat kami hanya meminta dibelikan martabak, terkadang beliau malah menambahnya dengan tahu aci atau martabak telor, sekalian untuk makan malam. Keren, kan? Dan kalaupun beliau lupa atau nggak sempat beli sepulang kerja, malamnya beliau suka tiba-tiba keluar dan beli, atau malah ngasih uang dan minta tolong adik saya buat beliin.

Jadi, apa kue ulang tahun yang cuma ada setahun sekali itu bisa dibandingkan dengan kue-kue yang lain ini, yang bahkan bisa kami terima kapan pun?

Tanpa hadiah. Yap, orangtua saya tidak pernah memberikan hadiah atau kado apapun di hari ulang tahun saya. Entah itu ulang tahun ke-5 atau sweet seventeen sekali pun. Seingat saya, pertama kali saya mendapat hadiah adalah saat SD, dari dua orang teman perempuan saya. Uniknya, kedua teman itu sama-sama memberikan saya tempat pensil yang berisi beberapa pulpen di dalamnya! Kayanya mereka berdua juga nggak janjian, sih. Lagipula salah satu teman yang kasih hadiah itu juga mengaku kalau sebenarnya dia berniat mau kasih hadiah kenang-kenangan karena dia mau pindah rumah keluar kota, tapi karena kebetulan saya juga ulang tahun, jadi katanya “sambil menyelam minum air”, deh. Hihihi… Sejak lulus SD itu, saya pun tidak pernah lagi dapat hadiah ulang tahun. Jangankan hadiah, ucapan langsung juga kagak! Ha-ha-ha, bahkan saya pernah mengeluh bahwa kenapa ya, tanggal ultah saya selalu bertepatan dengan libur panjang sekolah? Sedih, kan? Namun akhirnya beberapa tahun kemudian saya pun bersyukur. Setidaknya saya nggak perlu dikerjain atau repot mengurusi permintaan traktiran teman-teman, hihihi. Dan barulah saat kuliah saya jadi sering dapat hadiah, entah dari teman kuliah atau kakak senior di organisasi. Uniknya, hadiahnya hampir selalu berupa buku notes! Hahaha, mungkin mereka semua tahu kalau saya memang suka corat-coret kali, ya?😀

Namun, meskipun orangtua saya tidak pernah memberikan saya dan adik saya hadiah ulang tahun, mereka selalu memberikan kami hadiah-hadiah yang lain setiap waktu. Saya ingat hadiah pertama yang bapak saya berikan saat saya mendapat ranking pertama di sekolah. Sebenarnya bapak saya bukan tipe yang suka berjanji bakal memberikan reward tertentu kalau saya berhasil melakukan sesuatu, dan saat itu saya pun tidak pernah meminta reward tersebut. Maka karena itulah hadiah itu terasa istimewa! Tidak ada janji, tidak ada ekspektasi. Tiba-tiba viola! Boneka beruang super besar itu pun sukses dibawa pulang. Yaaah, meskipun setelah kita sekeluarga tahu bahwa nggak boleh “pasang” gambar, patung, atau boneka menyerupai makhluk di rumah, boneka itu pun pada akhirnya terenggok begitu saja di sudut ruang tertutup, sih.

Sebenarnya bukan hadiah boneka itu saja yang istimewa. Sepanjang hidup ini, sudah beribu-ribu atau malah berjuta-juta kali lipat hadiah-hadiah lain yang mereka berdua berikan kepada saya dan adik saya. Bapak dan ibu saya adalah tipe orang yang selalu memberikan apa yang saya dan adik saya butuhkan, bukan sekadar apa yang kami inginkan. Ah, tidak, tidak, saya dan adik saya bahkan sering kali tidak sempat mengutarakan apa yang kami inginkan karena mereka berdua hampir selalu sudah menyediakannya sebelum kami sempat meminta. Contoh sederhana saja adalah membelikan laptop saat kami kuliah. Hoho, saat adik saya diterima kuliah dia bahkan belum sempat meminta sudah langsung dibelikan, kok. Padahal awalnya ada niatan supaya adik saya pakai laptop turunan dari saya, tetapi sungguh bapak-ibu saya adalah orang yang paling tahu apa yang kami butuhkan, mereka tahu bahwa saya sendiri sebenarnya masih butuh laptop ini. Oh ya, contoh sederhana lain adalah waktu wisuda kemarin. Siapa yang dapat bunga dari keluarga? Saya tidak. Sama sekali. Orangtua saya sama sekali tidak memberikan saya bunga atau hadiah wisuda apa pun. Kenapa? Karena mereka tahu bukan itu yang saya butuhkan. Jawaban simpel apa yang ibu saya ucapkan saat saya iseng bercanda dengan beliau dan menanyakan kenapa tidak membelikan saya bunga? “Oh? Mama nggak tahu tuh, kalau wisuda harus kasih bunga. Lagian kenapa bunga, ya? Kan, sebentar lagi juga layu?” kata beliau polos, sembari menambahkan ucapan lain bahwa hadiah sebenarnya itu bukan bunga, melainkan kehadiran Mama-Papa dan adik saya jauh-jauh ke sana. Aw… so sweeeet :3

Jadi, apa hadiah ulang tahun yang cuma ada setahun sekali itu bisa dibandingkan dengan hadiah-hadiah yang lain ini, yang bahkan bisa kami terima kapan pun?

Tanpa perayaan. Yap, orangtua saya tidak pernah menyelenggarakan perayaan atau pesta apapun di hari ulang tahun saya. Entah itu ulang tahun ke-5 atau sweet seventeen sekali pun. Pertama kalinya saya merayakan ulang tahun? Ha-ha-ha. Tidak pernah. Bahkan karena terlalu cupu-nya, waktu dapat kue ultah tahun lalu itu saya sampai bingung gimana cara dan urutannya tiup lilin serta potong kue. Kedua teman yang kasih kejutan sampai gemes xD Ada juga bukti lain ke-norak-an saya sama kue ultah, yaitu saat perayaan ultah salah satu sepupu saya. Waktu itu mungkin saya masih TK, kami para cucu-cucu nenek berfoto bersama di depan kue ultah salah seorang sepupu saya. Semua bergaya oke menghadap kamera, sedangkan saya tampak melongo takjub menatap kue ultah itu dengan polos! Mungkin dalam hati, “Ini apaan, ya?” xD

Namun, meskipun orangtua saya tidak pernah merayakan pesta ulang tahun saya dan adik saya, mereka selalu memberikan kami perayaan-perayaan yang lain setiap waktu. Sejak saya (dan adik saya) tinggal di perantauan, momen saat kami berempat bisa berkumpul kembali di rumah adalah salah satu perayaan terbesar dalam hidup saya. Baru-baru ini saya sadar, perayaan terbesar bagi saya adalah saat saya-ibu-bapak-adik berkumpul bersama. Dulu saya pikir pulang ke rumah adalah salah satu kebahagiaan, tetapi sejak adik saya kuliah, saya jadi tahu bahwa kebahagiaan sebenarnya yang saya cari bukan “pulang ke rumah”-nya, tetapi “berkumpul bersama di rumah”-nya. Meskipun judulnya sama-sama “pulang ke rumah”, sekarang ini beda rasanya kalau saya pulang tetapi adik saya tidak pulang. Perayaan istimewa kami adalah makan bersama. Faforit adik saya adalah sate kambing, faforit ibu saya adalah sayur asem, rekomendasi faforit bapak saya adalah ayam goreng, sedangkan saya memfaforitkan semuanya! Faforit saya adalah saat kami berempat bisa makan sate kambing, sayur asem, ayam goreng, atau makanan apa pun bersama-sama dengan penuh rasa syukur dan canda tawa. Karena itu, bagi saya perayaan terhebat adalah saat saya, ibu, bapak, dan adik saya bisa berkumpul bersama. Karena alasan itulah saat beberapa waktu lalu kami berempat bisa berkumpul bersama di tempat suci itu, saya pun menyebutnya sebagai surga dunia. Saat itu saya merasa hanya ada “Allah-Aku-Mama-Papa-Dede”, dan saya sungguh berharap perayaan itu akan terus berlanjut hingga ke Surga-Nya kelak. Aaamiin…

Jadi, apa perayaan ulang tahun yang cuma ada setahun sekali itu bisa dibandingkan dengan perayaan-perayaan yang lain ini, yang bahkan bisa kami terima kapan pun?

***

24 Juni 1991 adalah hari paling membahagiakan dalam hidup saya karena atas izin-Nya saya dipertemukan dengan dua orang yang paling mencintai saya tanpa alasan (dan 4 tahun 1 bulan kemudian kami menjadi lengkap berempat). Semoga hari saat saya terakhir kali menghembuskan napas kelak juga menjadi hari yang paling membahagiakan dalam hidup saya…

estEtika

*Ditulis menjelang detik-detik pergantian hari saat tulisan ini diposting. Semoga tidak ada yang salah paham, tulisan ini bukan kode loh ya!😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: