Adek VS Bunda

Hari Sabtu ini, saya dan teman-teman pergi ke sebuah acara bertajuk JakBook & Edu Fair 2015 di kawasan Senayan. Acara ini sudah berlangsung sejak seminggu yang lalu, yang diisi dengan sejumlah acara panggung seperti hiburan, seminar, dan talkshow, serta pameran buku dan perlengkapan sekolah. Kebetulan Sabtu ini kami datang ke acara tersebut untuk mengikuti “Workshop Literasi: Menulis Semudah Membaca” yang dibawakan oleh Bapak Bambang Trimansyah. Namun, motivasi awal saya mengikuti acara itu sebenarnya bukan khusus karena workshop tersebut, melainkan lebih karena “dipaksa” kedua teman kerja saya yang cantik-cantik itu. Hihihi…

Kami datang terlambat. Acara sudah dimulai ketika kami tiba. Namun, karena workshop tersebut digelar di tempat terbuka di salah satu sudut Plaza Parkir Senayan, akhirnya dengan muka badak kita pun langsung bergabung dan duduk menikmati acara. Oke, isi workshopnya bagus. Apa yang diterangkan juga boleh dikata sesuai dengan bidang pekerjaan saya yang berhubungan dengan membaca dan menulis sehingga cenderung mudah dipahami. Namun, ada kejadian unik yang terjadi hari ini. Unik karena boleh dikata memang baru terjadi pertama kali dalam hidup saya.

Singkat cerita, saat sesi tanya jawab dibuka, tiba-tiba teman kantor yang duduk di sebelah saya itu mengangkat tangan. Pertanyaan bagus yang selain berhubungan dengan presentasi tadi, juga dikaitkan dengan bidang pekerjaan kami yang berhubungan dengan penulisan dan penerbitan buku nonfiksi. Nah, tapi yang unik di sini adalah saat sang moderator memanggil teman kantor saya yang lebih tua beberapa tahun dari saya itu dengan sebutan “Dek” alias “Adek”! Pfft… Saya dan seorang teman lain langsung cekikikan karena menganggap kejadian itu sangat lucu. Ah, pasti Mbak itu senang sekali, deh, hihihi…

Namun, klimaksnya adalah kejadian beberapa lama kemudian. Saat itu acara sudah selesai, tetapi tiba-tiba MC meminta sang narasumber untuk memberikan beberapa pertanyaan terkait workshop tadi kepada para hadirin. Pertanyaan pertama adalah tentang 3 macam jenis tulisan. Jawabannya adalah fiksi, nonfiksi, dan fraksi. Penjawab pertanyaan itu adalah seorang Bapak, dan hadiahnya adalah… tas sekolah Hello Kitty! Hihihi, maka sang Bapak pun langsung memberikan hadiah itu kepada anaknya yang ternyata… laki-laki. Hihi, tapi rejeki mah emang nggak boleh ditolak, Pak!😀

Nah, ini nih, klimaksnya! Pertanyaan kedua pun diajukan. Pertanyaannya adalah sebutkan 5 langkah dalam menulis. Heuheu. Sebenarnya jawaban pertanyaan ini sudah diterangkan saat presentasi tadi. Namun, yang membuat saya ingat jawabannya bukan karena saya selalu menyimak presentasi tersebut dengan fokus-perhatian 100% (orang saat presentasi saya dan teman malah berkali-kali cekikikan sendiri), melainkan karena saya familiar dengan hal tersebut dari tempat saya bekerja. Kebetulan sekitar sebulan yang lalu saya memang sempat latihan simulasi presentasi Penulisan dan Penerbitan di kantor. Nah, salah satunya juga membahas tentang 5 langkah dalam menulis.

Sejak lulus SMP saya bukan tipe orang yang senang mendapat perhatian. Meskipun waktu SD dan SMP dulu saya senang tunjuk tangan saat di kelas, rebutan jawab soal saat guru memberikan kuis, percaya diri nyanyi sampai baca puisi di depan kelas, sering tampil acara perpisahan kelas hingga marching band keliling kota, sejak SMA saya sukses menjadi pribadi pemalu dan pendiam yang tidak suka menjadi pusat perhatian. Yah, meskipun kalau udah sama orang yang deket saya bisa juga berubah malu-maluin dan ramai, sih, hihihi… Karena itu, pada dasarnya saya bukan tipe orang yang bakal angkat tangan dan menjawab pertanyaan tersebut. Namun, karena di awal tadi saya sudah mengatakan bahwa kejadian ini unik, pernyataan tadi pun sukses terbantahkan. Hari ini secara ajaib tangan saya justru secara refleks terangkat.

Unik! Lagi-lagi kejadian yang unik dan juga LUCU! Saat saya refleks mengangkat tangan, secara spontan MC pun menunjuk ke arah saya, “Yak! Bunda!”

Eng-ing-eng! Secara refleks, saya dan teman saya langsung menoleh ke belakang. Ada seorang Bunda di sana yang sedang duduk dengan santai. Ah, kalah cepet, batin saya. Nggak mau GR juga daripada malu-maluin. Namun, ujung-ujungnya saya memang malu-maluin! Saya dan teman-teman sukses melongo saat MC itu justru datang ke arah saya dan menyerahkan mic ke saya! Syok. Masih syok dan kaget, sambil memegang mic pun saya refleks berujar, “Aduh, saya belum Bunda,” yang akhirnya disambut cekikikan teman-teman, para MC, dan (mungkin) beberapa hadirin juga. Seketika itu pula MC pun langsung meralat, “Oh iya, maaf. Kakak, ya?” Astaga, tahukah bahwa ketika saya sudah jadi bahan cekikikan teman-teman, maka saat itu pula kau sudah terlambat untuk meralat itu semua, wahai Tuan MC yang terhormat?

Beberapa saat setelah itu, teman saya pun langsung berkomentar sambil masih tertawa-tawa geli, “Masa mbak dipanggil Adek, kamu malah Bunda?”

Zzz… itu dia masalahnya! Seandainya saja mbak itu nggak dipanggil Adek, setidaknya harga diri saya tidak akan terasa “terinjak-injak” seperti sekarang (#lebay). Selama ini orang-orang cenderung memanggil saya dengan sapaan Mbak atau malah Adek. Parah-parah Tante, lah, sama keponakan atau ibu-ibu bawa balita yang kebetulan menyapa kalau ketemu di jalanan atau angkutan umum. Atau setidaknya panggilan Ibu, yang katanya sudah masuk sebagai salah satu panggilan formal untuk perempuan dalam dunia bisnis, pelayanan masyarakat, dan semacamnya. Bukan apa-apa, sih, selama ini panggilan Bunda memang lagi nge-hits banget, tetapi biasanya ditujukan ke perempuan yang sudah menikah atau punya anak. Lihat saja kalau di mall-mall. Rata-rata pelayan akan menyapa customer gadis dengan sapaan, “Boleh, Kakak”, sedangkan untuk pelanggan yang lebih dewasa bisa dengan sapaan, “Bajunya, Bunda”. Parahnya, MC itu sepertinya memang menganggap saya masuk kategori yang kedua. Hiks… (Padahal beberapa waktu lalu salah satu teman trip saya malah sempat mengira kalau saya ini masih 18 atau 19-an tahun, lho! Kkkk). Ah, tapi setidaknya hiburannya adalah bukan saya saja yang syok dipanggil Bunda. Buktinya teman saya pun ikut menoleh ke belakang waktu tiba-tiba MC itu menyebut Bunda (mengira panggilan itu ditujukan ke Bunda yang ada di belakang), hahaha…

Nah, Pak Bambang, akhirnya saya menulis juga, kan? Berkat workshop dan ide dari para MC di acara Bapak, satu tulisan pun tunai. Tulisan yang nggak penting banget, tetapi setidaknya mengandung pesan bahwa “Jangan menganggap dirimu terus-terusan muda! Time’s running fast! Semakin banyak anak-anak lahir, semakin tua-lah dirimu!” xD

estEtika

Catatan: jawaban pertanyaan tadi adalah [1] pramenulis (menemukan ide, tujuan, sasaran tulisan, dsb.); [2] pembuatan rancangan atau ragangan (draft) tulisan; [3] proses menulis; [4] pengeditan; [5] pempublikasian. Menulis pada dasarnya dimulai dengan membaca. Pembaca yang baik, berpotensi menjadi penulis yang baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: