Semut Pemberi Hikmah

Suatu hari, saat berniat untuk membayar hutang puasa Ramadhan keesokan harinya, seperti biasa sore hari saya akan membeli lauk “kering” untuk sahur nanti. Lauk faforit untuk sahur adalah ayam goreng, dengan alasan selain bergizi (setidaknya mengandung protein sekaligus lemak yang cenderung lebih lama dicerna), juga karena lauk yang bersifat kering itu akan lebih tahan lama dan cenderung tidak mudah basi. Biasanya setelah membeli, ayam goreng tersebut akan saya amankan ke dalam tempat makan tertutup atau setidaknya diletakkan di meja kamar begitu saja tapi dalam kondisi bungkus lauk yang tertutup.

Namun, entah apa yang membuat saya begitu ceroboh. Hari itu sepulang kantor (dan membeli lauk tersebut), saya letakkan bungkusan ayam goreng tersebut begitu saja di atas meja, dalam kondisi bungkus yang terbuka. Bungkus ayam goreng yang biasa dipakai memang berupa kotak kardus mini tertutup sehingga meletakkannya begitu saja di meja setidaknya akan aman karena kondisi bungkusnya memang tertutup rapat. Namun, bungkus yang kali ini dipakai adalah bungkus kertas semacam bungkus Rotib*y dalam kondisi dibiarkan terbuka. Oh my God! Alumni gizi macam apa yang bertindak seteledor ini terhadap makanan!

Namun, malam itu keajaiban pun terjadi.

Kemungkinan alasan mengapa saya ceroboh adalah karena saya sedang lelah. Malam itu saya tertidur lebih awal tanpa sempat menyalakan alarm, tetapi berkat pertolongan Allah secara ajaib saya pun bangun sendiri saat waktunya sahur. Siap-siap masak nasi dan melakukan beberapa aktivitas, saya belum sadar akan kondisi ayam goreng yang saya biarkan begitu saja.

Setelah siap makan, saya pun dengan cuek mengambil ayam goreng itu dan meletakkannya di atas piring. Namun, baru akan menyuapkan sesendok nasi ke dalam mulut, tiba-tiba saja saya melihat kerumunan semut yang cukup banyak di lantai. Saya sontak bangkit dan mengecek sumber kerumunan tersebut. Ternyata sumbernya adalah bungkusan kertas ayam goreng itu! Ada begitu banyak semut di sana yang berkeliaran tak tentu arah. Refleks, saya langsung mengambil ayam goreng itu dari piring dan memeriksa keberadaan semut di sana untuk setidaknya “diusir” agar ayam itu masih bisa terselamatkan.

Ajaib! Tidak ada satu pun semut di ayam goreng itu! Bersih! Tanpa cacat, bahkan tanpa aroma semut sedikit pun!

Setelah membuang dan membersihkan bungkus serta lantai kamar dari semut-semut, saya pun duduk dan berniat melanjutkan makan sahur. Ya Allah, saat itu entah dari mana tiba-tiba saya merasa sangat bersyukur. Allah begitu baik. Saat itu saya baru saja menyadari kalau persediaan lauk di kamar saya satu-satunya memang tinggal ayam goreng itu! Saat itu kebetulan saya tidak punya persediaan mi instan atau telur mentah yang bisa dijadikan lauk (mengingat saat itu sudah tersedia nasi yang baru saja matang usai saya masak). Saat itu saya memang punya beberapa sayuran di kulkas, tetapi jam sudah menunjukkan kurang beberapa menit lagi menjelang subuh. Rasanya tidak cukup jika harus memasak sayur terlebih dahulu.

Keajaiban. Benar-benar keajaiban. Saya tidak habis pikir dengan semut-semut itu. Mengapa mereka semua hanya “mengincar” bungkus ayam goreng itu saja? Isinya tetap saja utuh dan bersih seolah memang tidak disentuh sama sekali!

Ya Allah, betapa mudahnya Engkau mengatur semua ini. Benarlah firman-Mu dalam kitab-Mu.

“Dan Dia-lah yang memberiku makan dan memberiku minum.” (QS. Asy-Syu’araa’ [26]: 79)

Sebenarnya ungkapan tersebut diucapkan oleh Nabi Ibrahim AS saat merasa prihatin dengan keadaan kaumnya yang menyembah berhala, bukan menyembah Allah SWT. Namun, memang tidak dapat dipungkiri bahwa memang Allah-lah yang memberi kita semua makanan dan minuman. Atas kehendak dan kemurahan Allah-lah kita semua bisa menikmati segala makanan dan minuman. Orang miskin pun Allah jamin rejekinya, makan dan minumnya, terutama jika mereka mau berusaha. Sebaliknya, orang kaya justru bisa diuji dengan tidak mendapatkan makanan dan minuman yang mereka kehendaki karena alasan kesehatan, misalnya. Sungguh Allah memang sebaik-baiknya pemberi rejeki, makanan, dan minuman.

Semoga kisah sederhana ini bermanfaat dan membuat kita terus bersyukur. Sungguh begitu banyak nikmat Allah yang sering luput kita syukuri. Begitu banyak nikmat Allah yang tidak kita sadari, menganggapnya sebagai hukum alam belaka, padahal Allah-lah yang mengaturnya. Karena itu, salah satu cara bersyukur adalah dengan mensyukuri dan memanfaatkan sebaik-baiknya segala nikmat yang kita sadari. Dengan demikian, semoga secara tidak langsung kita pun semakin menyadari dan bisa mensyukuri serta memanfaatkan sebaik-baiknya nikmat-nikmat lain dari-Nya yang selama ini belum kita sadari🙂

estEtika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: