Observatorium Bosscha, Rumah Bintang-Bintang!

Siapa yang tidak ingat dengan adegan film Petualangan Sherina? Salah satu adegan mengambil latar di dalam gedung Observatorium Bosscha. Di tempat itu pula Sherina kemudian menyanyikan lagu  berjudul Bintang-Bintang yang merdu itu. Hm, dan saya pun jadi nostalgia, teringat ketika menyanyikan lagu itu di dalam kelas saat pelajaran musik waktu SD dulu. Indah banget ya, masa kecil dulu. Disuruh menyanyikan salah satu lagu di dalem kelas, lagu yang dipilih ya lagu anak-anak macam itu, hihihi…

Nah, jadi ceritanya, tanggal 4 September lalu saya berkesempatan mengunjungi dan melihat bintang secara langsung pakai teropong di Observatorium Bosscha itu. Sebelumnya, bahkan saat menonton Petualangan Sherina itu, saya sama sekali tidak pernah terpikirkan dan bermimpi untuk mengunjungi tempat tersebut. Namun, secara ajaib kesempatan ini datang begitu saja kepada saya. Kesempatan ini memang sempat dihiasi dengan berbagai kejadian epic, tapi jujur, ini adalah salah satu perjalanan hebat yang pernah saya lakukan!

Awalnya, saya hanya sekadar mendengar cerita salah satu rekan kerja yang duduk tepat di sebelah saya, bahwa awal September ini dia dan temannya akan pergi ke Bosscha. Dia bilang, reservasi kunjungan malam di Bosscha itu susah. Harus sesuai jadwal, pengunjung dibatasi, harus reservasi jauh-jauh hari, dan beberapa syarat lain. Dia juga cerita bahwa dia dan keempat temannya sudah melakukan reservasi dan disetujui pihak Bosscha. Saat mendengar cerita itu, saya hanya manggut-manggut dan menjadi pendengar setia.

Namun, beberapa minggu atau bulan kemudian, dia mengeluh karena salah satu temannya nggak jadi ikut. Konsekuensinya, dia harus cari pengganti karena sudah telanjur reservasi untuk lima orang. Saat itu, dia pun mengajak saya turut serta. Jujur saat itu saya nggak terlalu berharap dan asal ngomong “Mauuu!” saja sama dia. Maka sejak itu saya pun masuk ke dalam daftar peserta.

Kocaknya, beberapa minggu menjelang hari H, teman saya bilang kalau ternyata temannya itu jadi ikut. Secara mendadak dia justru menanyakan soal perjalanan mereka ke Bosscha itu. Usut punya usut, ternyata teman saya hanya sekadar berasumsi bahwa temannya itu nggak jadi ikut karena pertama, dia laki-laki sendiri, dan kedua, dia nggak pernah lagi muncul untuk sekadar tanya atau ngomongin perjalanan mereka itu. Padahal kenyataannya dia masih berniat ikut. Hahaha, untung saja waktu diajak itu saya nggak terlalu berharap sehingga saat dia menjelaskan hal itu sambil meminta maaf, saya pun biasa saja dan nggak terlalu kecewa karena nggak jadi ikut. Lucunya lagi, ternyata sebelum mengajak saya, dia sempet juga mengajak salah satu rekan kerja lain di lantai atas, dan ia menolak. Namun, setelah tahu saya mau ikut, ternyata ia jadi kepengin ikut juga (karena jadi ada temen). Alhasil, teman saya itu pun (mungkin) jadi merasa bersalah karena sudah mengecewakan dua orang, hihihi…

Sebagai bentuk rasa bersalah, rekan saya itu justru punya ide lain, yaitu menghubungi lagi petugas reservasi dan meminta tambahan reservasi untuk dua orang. Atas kuasa-Nya, permintaan itu pun dikabulkan! Wow! Dan entah mengapa, sejak mengetahui kalau saya sudah positif masuk ke daftar reservasi itu, semangat saya justru jadi berkobar-kobar! Aaaaa… Bosschaaa… I’m coming~!

Jadwal kunjungan malam adalah pukul 17.00 sampai dengan 20.00 WIB di hari Kamis dan Jumat. Kami mengambil hari Jumat dengan alasan agar hanya sehari saja bolos kantor, kemudian menginap sehari di Bandung sehingga hari Sabtu bisa jalan-jalan seharian sebelum pulang, lantas hari Minggu bisa istirahat dulu di rumah sebelum Senin kembali bekerja. Skenario yang sempurna, pikir kami semua. Maka hari Jumat pagi itu, tepatnya pukul 10.15, kami berangkat ke Bandung naik kereta api Argo Parahyangan jurusan Stasiun Gambir–Bandung. Alhamdulillah kami mendapat tiket kelas bisnis yang lumayan terjangkau, Rp 75.000.

Perjalanan memakan waktu sekitar 3,5 jam, kami sampai di Stasiun Bandung sekitar pukul 13.45 WIB. Setelah shalat dan bertemu dengan Mas-mas temannya rekan saya itu yang berangkat lebih pagi supaya bisa shalat Jumat di masjid, kami pun langsung melesat ke TKP. Kami naik angkutan umum jurusan Stasiun Hall–Lembang dan turun langsung di depan salah satu jalan yang mengarah langsung ke Bosscha. Ongkos angkutannya cukup mahal, yaitu Rp 10.000 karena jalannya juga jauh. Mungkin sekitar 1 jam perjalanan.

Karena terlalu semangat, sekitar pukul 15.00 itu pun kami sudah turun dari angkutan umum. Dan krik-krik. Acara jam 17.00, tapi jam segini kita sudah sampai. Karena lapar dan ingat belum makan siang, akhirnya kami kembali naik angkot lagi beberapa ratus meter untuk mencari tempat makan. Cukup bayar Rp 3.000 untuk jarak dekat saja. Murah.

Menyesal. Itu yang saya rasakan setelah makan siang hari itu. Entah karena salah pilih tempat makan atau saya yang terlalu pelit, ujung-ujungnya saya malah salah pesan menu dan tragisnya lagi, makanan yang saya pesan pun nggak habis saya makan. Masalahnya, pilihan menu dan harganya itu yang sempat bikin galau. Yang murah, nggak suka. Yang enak, mahal. Yang cukup terjangkau, ayam. Lantas teringat tadi pagi baru saja makan ayam. Ckckck. Hidup, hidup… betapa complicated­-nya dirimu. Dan alhasil saya pun memesan Karedok dengan anggapan rasanya mirip-mirip Gado-gado. Lucunya, ternyata sayurannya benar-benar segar! Kayak langsung petik dari kebun, dicuci, terus langsung ditaruh di piring! Nggak masalah, sih, saya juga suka sama lalapan macam itu, tapi ternyata pula, isi sayurannya didominasi oleh tauge (tentunya tanpa nasi atau lontong), dan taugenya itu adalah tauge yang besar-besar dan tebal-tebal. Saya nggak terlalu suka sama yang krenyes-krenyes macam itu. Hiks, dan sedihnya, setelah dihitung-hitung, saya malah menyesal. Untuk makan siang dengan menu Karedok dan Teh Botol saja, saya harus merogoh kocek sekitar Rp 25.000 belum termasuk pajak. Kenapa tadi nggak pesan nasi saja plus tahu dan sambal satu porsi (kalau mau lebih hemat) atau malah ayam saja sekalian (kalau mau agak enak), hiks…

Syok dengan waktu yang berjalan cepat, kami pun buru-buru kembali naik angkutan menuju Bosscha. Sampai di jalan kecil menuju Bosscha itu, kita harus jalan sekitar 500-an meter (dengan jalan naik-turun berkelok-kelok) untuk masuk ke pintu gerbang Bosscha. Nggak mau ribet, kita pun memutuskan naik ojeg yang kebetulan mangkal dekat situ. Ongkosnya cuma Rp 5.000 sekali jalan. Uniknya, setelah tahu di gerbang Bosscha-nya nggak ada pangkalan ojeg, rekan saya itu pun berinisiatif menanyakan nomor hape salah satu Abang ojegnya supaya malam nanti saat pulang kita semua bisa dijemput di gerbang masuk Bosscha ini. Ini bisa jadi tips nih, untuk yang ngebolang ke Bosscha seperti kami. Alternatif lain sih, bisa pesan taksi. Tadinya kita juga mau begitu, tapi nggak jadi berhubung udah dapat ojeg, hihihi…

Maka dimulailah perjalanan besar kami masuk ke dalam Rumah Bintang-Bintang!😀

Yak, perjalanan besar ini diawali dengan memasuki sebuah bangunan beratap kubah. Ya, bangunan yang menjadi rumah sebuah teropong raksasa bernama Teropong Zeiss. Ini adalah teropong yang kita lihat di film Petualangan Sherina yang sempat diulas di awal tadi. Di sini kita akan mendapatkan penjelasan-penjelasan singkat-padat-lengkap-jelas, baik tentang gambaran umum astronomi, profil Bosscha, dan pemaparan serta peragaan singkat teropong Zeiss dan rumahnya ini.

Keren banget, deh! Teropong ini beratnya sampai ratusan ton! Zeiss juga bisa digerakkan horizontal-vertikal dengan semacam pipa-pipa di sekelilingnya. Tujuannya tentu saja untuk melihat dan memastikan lokasi bintang atau benda langit yang akan diamati. Uniknya, atap bangunan rumah Zeiss ini terdiri dari sebuah celah panjang tanpa penutup, tempat si pengamat melihat benda langit pakai teropong Zeiss secara langsung. Kenapa celah atapnya dibuat tanpa penutup alias terhubung langsung dengan langit dan tidak dilapisi saja dengan kaca? Jawabannya adalah untuk meminimalkan terlalu banyaknya paparan lensa atau cermin yang bisa memengaruhi hitungan pengamatan. Kenapa atapnya nggak dibuat terbuka saja? Jawabannya adalah untuk menjaga keawetan lensa teropong yang cenderung mudah berembun saat terkena panas-hujan, misalnya, sehingga dikhawatirkan akan memengaruhi proses pengamatan pula. Yah, itu yang sebatas saya ingat, sih. Semoga saja tidak meleset, hehehe…

Oh iya, karena atapnya ada celah untuk pengamatan itu tadi, letak celah itu pun bisa digeser-geser. Ih, keren banget waktu lihat demonstrasinya! Atap gedung itu bisa digerakkan pakai remote control sehingga celahnya bisa berubah-ubah posisi.

Yang lebih keren lagi, ternyata lantai bangunan yang tepat berada di bawah Teropong Zeiss itu bisa digerakkan naik-turun! Tujuannya adalah untuk menyesuaikan ketinggian lensa pengamat teropong itu dengan tinggi badan si pengamat. Kebayang dong, saat teropong itu harus dimiringkan sekian derajat, tapi lensanya jadi terlalu tinggi sehingga si pengamat malah kesulitan untuk mengamati dari lensa tersebut? Nah, uniknya lagi, ternyata lantai yang bisa naik-turun itu hanya ditopang oleh beberapa rantai besar yang ada di dua buah sisi tiang bangunan tersebut. Menurut Mbak yang menerangkan, karena hanya ditopang oleh rantai itulah, lantai bergerak ini hanya bisa menopang beban sekitar 200 kg. Karena itu, Teropong Zeiss ini pun tidak bisa dikunjungi langsung oleh orang umum. Pengunjung hanya bisa melihat dari luar bagian lantai bergerak tersebut. Unik banget, ya?

Nah, usai penjelasan di rumah Teropong Zeiss itu, rombongan pun diarahkan masuk ke dalam semacam ruang seminar atau multimedia. Di dalamnya sudah tersedia layar LCD dan Mas-mas yang siap menjelaskan banyak hal tentang bintang, galaksi, dan tata surya.

Sukaaa banget sama cara Mas itu menjelaskan! Peserta yang juga terdiri dari banyak anak kecil, otomatis menuntutnya untuk menjelaskan slide tata surya tersebut dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Saat menjelaskan jarak antara bumi dan bulan, misalnya, Mas itu nggak cuma memaparkan hitungan eksaknya sekian kilometer, tetapi juga menganalogikannya dengan hal yang sederhana. Dia menganalogikan jarak yang sangat jauh itu dengan permisalan saat orang bumi mengirim sms ke orang di bulan, maka sms tersebut baru akan diterima oleh orang yang di bulan setelah sekian hari. Saat orang bumi menge-like­ status orang Saturnus, misalnya, like-nya itu baru akan sampai setelah sekian (ratus?) tahun. Menurut saya, itu adalah cara pemaparan sederhana yang baik dan bisa diterima semua orang, termasuk anak-anak kecil itu. Salut banget sama Masnya! (*Dan saya pun menyesal karena lupa dan tidak tahu nama Masnya :p

Pokoknya, ruang multimedia itu asik banget! Gabungan antara kuliah (karena suasana belajarnya) dan nonton bioskop (karena suasana candanya, plus lampu yang dimatikan)! Di dalam juga sempat diputarkan video singkat yang keren banget! Speechless. In tears. Sungguh betapa besar dan luas ciptaan-Nya T_T

Nah, usai puas sama Masnya, eh, sama video dan penjelasannya, kami dipersilakan untuk melakukan pengamatan langsung dengan menggunakan tiga buah teleskop mini yang khusus disediakan ini. Namun, pengamatan teleskop otomatis hanya bisa dilakukan saat malam, tho? Karena saat itu masih menjelang Magrib, akhirnya peserta pun dipersilakan untuk ishoma atau jalan-jalan dulu di kawasan Bosscha ini. Oh iya, ada catatan, selama pengamatan malam ini, peserta tidak boleh menyalakan lampu dan senter atau menggunakan blitz foto. Kalaupun mau pakai senter, senternya tidak boleh diarahkan ke atas, alias hanya boleh diarahkan ke bawah saja untuk melihat jalan. Hahaha, kelihatannya mencekam banget, ya? Apalagi kanan-kiri hutan. Tapi Alhamdulillah, suasana tetap ramai karena banyak orang kok, hihihi…

Ada tiga buah teleskop yang bisa dipakai untuk umum. Namun, hal pertama yang harus dipersiapkan sebelum melihat dengan teleskop ini adalah SABAR. Iya lah, teleskop cuma tiga, sementara yang mau lihat ada sekitar 200-an orang. Belum lagi kalau bintangnya nggak kelihatan karena tertutup awan. Hahaha, percaya nggak percaya, untuk melihat satu teleskop yang pertama saja, saya dkk harus antre selama sekitar satu jam. Namun, bersyukurlah kalian jika ke sana saat tidak turun hujan. Pasalnya, kalau tiba-tiba hujan, kita bisa apa? Di reservasinya juga tertulis kalau mendung atau hujan, kegiatan pengamatan malam ini bisa saja dibatalkan. Sedih, kan? Hehehe, tapi kita mah nggak apa lah, nunggu sejam, yang penting Alhamdulillah waktu itu nggak hujan meskipun dari sore langit udah kelihatan mendung-mendung sendu gitu, hihi…

Proses menunggu memang harus diisi dengan hal-hal menyenangkan, bukan? (Baca postingan “Waiting” saya, dong! Hehe). Kebetulan saat itu kami sempat terpisah nih. Kami pergi bertujuh, tapi dua Mbak-mbak yang lain misah di Teropong 2, sementara kita di Teropong 1 yang ada di paling atas.

Sambil menunggu, banyak candaan kocak yang terlontar. Mulai dari ngegombal, ngelawak, ngeluh, ngegalau, sampai ngetawain mas-mas penjaga hati, eh, penjaga teropong yang kocak banget karena digodain dan dihujani ribuan pertanyaan sama anak-anak SD. Kebetulan, tiga dari empat orang yang bareng saya di Teropong 1 ini adalah Mbak-mbak yang saya kenal (temen kantor). Sementara satunya, adalah Mas-mas temen rekan saya itu. Kocaknya, Mas ini malah yang kebanyakan ngelawak. Mulai dari “Give me S, give me T, give me A, give me R”-lah, “Varises”-lah, “Kita kan memandang ke langit yang sama”-lah, banyak deh! Selebihnya diisi dengan canda kegombalan dan kegalauan  malam, yang ujung-ujungnya malah nyambung ke ucapan puitis “bintang tujuh”, yang kocaknya malah ditanggapi serius sama mas-mas penjaga hati, eh, penjaga teropong, “Memang ada, tau, rasi bintang tujuh! Itu lho, yang bentuknya blablabla…” Dan kita semua melongo.

Setelah menunggu sekitar 1 jam, saat-saat yang ditunggu itu pun tiba. Setelah sempat diisi dengan koar kecewa lantaran awan kerap kali menutupi bintangnya, pengamatan sekian detik itu pun tiba. Di Teropong 1 kami bisa melihat bintang Antares. Bintang ini jauh lebih besar daripada matahari. Menurut Bapak yang ada di situ, kalau dianalogikan, volume Antares bisa diisi dengan sekian ratus matahari. Kebayang kan, matahari aja udah sebesar apa? Gimana Antares? Dari teleskop yang saya lihat, Antares berbentuk bulat kecil dengan kerlip kilau kuning-jingga keemasan. Bentuknya emang kecil banget, tentu saja karena jaraknya yang emang jauuuuh banget.

Nah, Teleskop 2 ini nih, yang jauh lebih keren! Di sini kami bakal melihat Saturnus! Ya, planet unik bercincin ini bakal saya lihat secara langsung pakai teleskop! Lagi-lagi diisi adegan epic lantaran awan kerap kali menyelimuti, tapi Alhamdulillah antrean saya bergerak maju juga. Lucuuuu! Kelihatan jelas banget Saturnus dan cincinnya itu! Warnanya terlihat keemasan. Cantik banget! Jauh lebih jelas terlihat daripada bintang Antares yang kecil banget tadi. Dan lagi-lagi, entah dari mana saya pun mendengar gombalan aneh ini, “Saturnus aja ada cincinnya. Masa kamu enggak?” Hahaha, ngelawak aja nih, orang-orang sini!

Kayanya klimaks malam ini Saturnus, deh. Terbukti dari wajah-wajah bahagia orang-orang yang baru keluar dari ruang pengamatan Teleskop 2. Teleskop 3 yang jauh lebih kecil dan letaknya berdekatan dengan Teleskop 2 tadi pun hanya sekadar lewat saja. Apalagi saat lihat ke sana saya nggak perlu antre seperti di Teleskop 1 dan 2 sebelumnya. Aduh, saya sampai lupa nama bintangnya. Aires? Seperti ada Res-res-nya gitu juga, deh. Bintangnya kecil banget, lebih kecil daripada Antares. Warnanya putih kerlap-kerlip. Tapi lucu jugaa!😀

Nah, usai puas lihat-lihat bintang, setelah sempat duduk-duduk sebentar dan menggalau, kami pun memutuskan untuk pulang ke penginapan. Abang ojeg yang tadi Alhamdulillah menepati janji dan sudah menunggu kita bertujuh di gerbang Bosscha-nya. Sayangnya dia cuma bisa bawa satu teman. Jadi, 2 ojeg itu pun bolak-balik antar-jemput kita ke bawah. Ongkosnya sama, Rp 5.000 saja. Oh ya, katanya nama Abang ojegnya itu Erik. Namun, sebagian besar teman-teman malah mempertanyakan, apa bener itu nama asli Abangnya? Hahaha, ada-ada saja😀

Kami menginap di kawasan Dauraat Tauhid di bilangan Gegerkalong Girang. Dari Bosscha tadi cukup naik angkot yang sama ke arah Stasiun Hall, turun di beberapa ratus meter setelah UPI. Dari situ jalan agak jauh ke dalam. Ongkos penginapannya lumayan juga, sih. Untuk 3 orang kamar mandi dalam Rp 250.000 dan kamar mandi luar Rp 200.000, sementara untuk satu orang Rp 125.000.

Sepanjang jalan itu banyaaak banget tersebar makanan dan jajanan. Usai check in dan menaruh barang di penginapan, kami pun mulai berwisata kuliner. Saya memilih untuk membeli seporsi Batagor Kuah seharga Rp 8.000 dan seporsi Sekoteng seharga Rp 5.000 untuk menghangatkan badan. Penasaran dengan Seblak, akhirnya saya juga membeli seporsi (untuk berdua) Seblak Sosis bersama salah satu teman, harganya Rp 7.000. Kenyang, kenyang, deh!

Uniknya, di penginapan itu ada semacam balai-balai dipan kayu besar di depan kamar, yang suasananya adem karena diiringi dengan hembusan angin malam Bandung. Kami makan malam di sana sambil nonton TV. Karena termasuk orang yang terbilang lama kalau makan, jadilah saya menetap lebih lama di sana. Setelah beberapa orang lebih memilih untuk mandi dan segera tidur, saya dan kedua rekan kantor masih saja betah di sana. Memastikan nggak ada lagi orang, kami malah tiduran dan guling-guling di balai-balai tersebut. Posisi kami yang tiduran, pakai tudung jaket, sambil megang dan ngangkat-ngangkat gelas sekoteng dengan lelah (yang nggak habis-habis karena banyak banget), menimbulkan istilah baru yang lucu: Mabok Sekoteng. Lantas, kami bertiga malah ngelawak sambil ngomong, “Ajumma… Ajummaa…” ala adegan film-film Korea yang mabuk di bar. Hehehe… Tapi ini cuma bercanda lho, kita nggak mabuk beneran juga :p

Karena adegan konyol itu, kami bertiga pun baru masuk kamar sekitar pukul 00.00 atau 01.00 gitu, nggak terlalu merhatiin juga. Karena bakal tidur bareng-bareng, kayanya nggak asik banget kalau nggak mandi. Jadilah kesannya malah kaya mandi kembang. Dingin banget, sih, tapi nggak papa lah, daripada kasihan sama kanan-kiri, hahaha…

Esoknya, saya ada rencana jalan-jalan ke Floating Market di kawasan Lembang sebelum pulang ke Jakarta. Cuma berdua doang sih, sama salah satu teman, karena yang lain sudah ada agenda dan destinasi impian masing-masing. Tempatnya bagus juga, cukup naik angkot jurusan Lembang (bilang saja sama Abangnya mau ke Floating Market). Ongkos angkot dari DT Rp 10.000, sedangkan ongkos masuk Floating Market Rp 15.000 plus free minuman. Selain banyak makanan yang dijual, tempatnya adem, hijau, sejuk, dan asik untuk foto-foto. Beli makanan di sini bayarnya pakai koin, dengan harga mulai dari Rp 10.000 untuk makanan kecil. Meskipun adem, tempat ini nggak bisa buat piknik sambil bawa bekal. Pasalnya, masuk ke sini memang nggak boleh bawa makanan-minuman dari luar agar pengunjung bisa beli makanan yang ada di sini, hihihi… Tapi banyak juga keluarga dan rombongan yang jalan-jalan di sini, kok. Tempatnya adem dan oke punya!😀

Yak! Dan akhirnya, berakhirlah hari ini. Rasanya asik dan beruntung banget bisa ikut ke Bosscha! Namun, ternyata ada satu yang luput. Kami lupa dan nggak kepikiran untuk foto bareng. Mengingat kami cukup mepet saat datang ke sana usai makan siang, plus kunjungannya yang emang malem dan nggak boleh pakai blitz, kita jadi nggak ingat untuk foto-foto.

Namun, kalau saya pribadi sih, percaya banget kalau kamera terbaik itu sebenernya cuma ada di sini. Di mata, otak, dan hati. Yah, sebut saja ia sebagai… Memori🙂

estEtika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: