Itu Kangen

Suatu hari, di tengah cerahnya sinar mentari menyinari bumi, tiba-tiba seseorang bertanya padaku dengan wajah dan tatapan serius.

Pernah ngerasain nggak, momen ketika kamu pengen banget ngobrol sama seseorang, tapi kamu nggak tahu mau ngobrolin apa?”

Sepintas pertanyaan itu terdengar sangat galau, tapi juga serius. Karena itu, saat itu pun saya langsung menanggapi pertanyaan tersebut, tentunya dengan wajah yang (saya buat) serius. Jawaban yang terlontar begitu saja, tanpa perlu waktu lebih untuk berpikir panjang.

Oh, itu mah kangen…”

Lucunya, beberapa saat setelah jawaban saya itu terlontar, suasana mendadak hening seketika selama beberapa detik. Lalu, pada detik ke-sekian, kami berdua malah spontan bergumam, “Oh? Iya juga, ya?

Nah, sekarang gantian saya yang bingung. Jawab jawab sendiri, kok malah bego bego sendiri?

Namun, setelah dipikir-pikir sepertinya ada benernya juga, sih. Kalau berdasarkan pengalaman sendiri, seingat saya sepertinya momen tersebut memang pernah terjadi. Saya ingat ketika saya dan beberapa teman kuliah masih anget-angetnya buat grup chatting di WhatsApp. Saat masih kuliah dan beberapa hari atau bulan pascawisuda, grup itu hampir selalu ramai setiap hari. Obrolannya mulai dari yang serius, sampai yang paling nggak jelas. Tapi yang pasti, selalu saja ada bahan obrolan yang bisa dibagi setiap harinya.

Sampai tiba suatu ketika, hari itu sama sekali nggak ada notif pesan WhatsApp. Sebagai anak kosan yang nggak ada kerjaan atau hiburan lain selain hape, pasti ada perasaan kosong atau sesuatu yang hilang. Buka-buka layar, memastikan sinyal tetap kenceng, cek-cek pulsa, semua normal dan nggak ada masalah. Tapi, masalah terbesar adalah lampu LED yang nggak nyala-nyala dan notif kecil di pojok kiri atas layar hape yang nggak nongol-nongol.

Kangen.

Ya, rasanya pengen banget ngobrol sama mereka. Tapi, di sisi lain saya juga nggak tahu mau ngobrol apa. Saya bingung harus memulai topik pembicaraan seperti apa.

Kasus lain juga sama seperti ketika kita sering ngobrol dengan seseorang tertentu. Katakanlah setelah bertahun-tahun lebih nggak saling kontak, tiba-tiba si doi nongol. Lalu selama beberapa hari ngobrol ngalor-ngidul nggak jelas, tetapi tepat di hari ke-sekian, sampailah saat ketika kita nggak ngerti harus ngomongin apa lagi. Kayanya semua topik udah dibahas, tapi di sisi lain kita juga masih pengen ngobrol macem-macem sama dia. Pada rentang saat masing-masing saling berpikir tentang obrolan apa yang patut diperbincangkan, rentang ketika tidak ada bahan obrolan tapi ada keinginan untuk terus ngobrol, itulah kangen. Kangen karena saat itu memang tidak ada obrolan apa pun, meskipun sejatinya masing-masing sedang saling memikirkan.

Menurut KBBI, kangen atau rindu adalah (perasaan) ingin sekali bertemu. Sayangnya, definisi kangen tidak pernah sesederhana itu. Dari kedua contoh di atas, misalnya, perasaan kangen yang terasa itu bukan karena sekadar ingin sekali bertemu, tapi juga ingin sekali berinteraksi, berbincang, bercanda, dan sebagainya, dan sebagainya. Karena itu, definisi kangen sungguh tidak pernah sesederhana itu.

Menurut saya, kangen juga nggak punya rentang dan batas waktu tertentu. Untuk kangen atau merindukan seseorang, kita nggak harus memerlukan waktu bertahun-tahun. Baru berpisah berhari-hari bahkan berjam-jam atau bermenit-menit pun bisa jadi kangen, kok.

Contohnya saja waktu saya pulang kampung. Bayangkan, baru pisah beberapa menit dengan keluarga di peron stasiun, setelah duduk di dalam kereta, saya langsung berasa kangen pengen balik lagi. Maka, akan sangat tidak adil ketika kangen punya rentang dan batas waktu tertentu.

Tapi, kangen yang paling hopeless adalah kangen sama masa lalu. Kangen jenis ini jelas nggak ada artinya sama sekali. Sekeras apa pun usaha untuk bertemu, masa lalu nggak akan pernah bisa ditemui. Menurut pepatah, masa lalu adalah hal terjauh yang pernah ada. Ia hanya bisa dikenang, tapi tak bisa diulang. Rasa kangen bisa jadi mengubah kita untuk kembali mengulang masa lalu, tapi orang-orang dan variabel-variabel lain yang terlibat dalam masa lalu itu sendiri jelas nggak akan bisa sama dengan masa lalu yang diharapkan tersebut.

Bingung, ya? Ambil contoh begini…

Setelah sedewasa ini, kita jadi kangen sama masa lalu kita yang ceria, pandai, dan enerjik itu. Lalu usaha kita untuk bertemu dengan masa lalu ini adalah dengan menjadi ceria, pandai, dan enerjik seperti dahulu. Oke, rasa kangen itu bisa jadi mampu mengubah kita untuk kembali ceria, pandai, dan enerjik seperti dahulu, tapi tidak halnya dengan orang-orang dan variabel lain yang terlibat dalam kenangan itu. Orang-orang bisa jadi justru jauh semakin ceria, pandai, dan enerjik daripada kita. Variabel-variabel lain bisa jadi justru lebih mendukung orang-orang untuk jauh lebih ceria, pandai, dan enerjik daripada kita. Hingga akhirnya, tibalah suatu kesimpulan bahwa: kita tidak seceria, sepandai, dan seenerjik yang kita bayangkan di masa lalu. Masa lalu terlalu jauh untuk ditemui kembali. Kalau contoh ini masih bikin bingung juga, silakan cari dinding untuk pegangan, hihihi…

Kembali ke masalah kangen, ada yang bilang kangen itu tandanya cinta. Oke, itu memang benar, kok. Tapi, cinta yang mana? Cinta yang seperti apa? Cinta itu luas, nggak cuma cinta ke lawan jenis saja, kan? Bahkan untuk definisi cinta ke lawan jenis itu sendiri sudah sangat luas. Ada yang cinta karena kasihan, ada yang cinta karena butuh, ada yang cinta karena kagum, ada yang cinta karena terbiasa, ada yang cinta karena nggak tahu kenapa, dan yang lebih tinggi derajatnya tentu saja yang cinta karena Allah. Luas. Definisi cinta itu sendiri sudah sangat luas, dan entah seluas apa ketika cinta itu sendiri dikaitkan dengan kangen yang juga punya definisi yang begitu luas. Luas kuadrat, berkali-kali lipat.

Sayangnya, kita sendiri bahkan belum tentu paham dengan perasaan masing-masing. Apakah ini memang kangen? Apakah perasaan ini cinta? Cinta yang seperti apa? Entahlah…

Kembali ke percakapan saya dan seseorang di awal tulisan ini. Kalau menurut kata-kata bijak yang saya temukan di internet, jawaban saya kepada seseorang itu tidak sepenuhnya salah. Meskipun termasuk orang awam yang tidak begitu pandai dengan perasaan, saya boleh sedikit kagum dengan jawaban spontan dan polos yang saya lontarkan.

Kangen adalah ketika kamu mengingatnya, dan ingin mengiriminya pesan singkat, tapi kamu nggak tahu harus menulis apa.

Nggak jauh beda dengan pertanyaan di awal tadi, kan?

Tapi, kalau menurut salah seorang budayawan kondang, definisi kangen yang beliau punya jauh lebih dalem, nih. Katanya,

Puncak kangen paling dahsyat adalah ketika dua orang tak saling telepon, SMS, BBM, tapi keduanya diam-diam saling mendoakan.” (Sujiwo Tejo)

estEtika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: