Bedah Novel dan Talkshow Kepenulisan Novel & Skenario Bersama Asma Nadia

Belakangan ini saya sedang mengalami Sindrom Kangen Kuliah. Lucunya, hal yang paling saya kangenin adalah momen saat ujian, termasuk serba-serbi persiapan menjelang ujian itu sendiri, seperti berburu bahan ujian, berantem sama Abang fotokopian, tanya sana-sini materi yang nggak ngerti, belajar dan berbingung-bingung ria berjamaah, sampai belajar sendirian semalam suntuk yang berakhir dengan sebuah kata yang mengenaskan: ketiduran. Saya juga kangen momen-momen saat dosen menerangkan sesuatu di depan kelas. Saya juga rindu mengerjakan tugas yang deadline-nya selalu saja sempit. Tugas yang paling mengerikan sekaligus berkesan adalah Laprak alias Laporan Praktikum. Yak, intinya adalah, saya kangen berpikir dan menggunakan otak saya.

Para MC dan Pembicara Acara Bedah Novel dan Talkshow Kepenulisan Novel & Skenario Bersama Asma Nadia

Para MC dan Pembicara Acara Bedah Novel dan Talkshow Kepenulisan Novel & Skenario Bersama Asma Nadia

Sebagai pelarian, saya pun coba mencari beberapa acara yang berbau kuliah, seperti Kajian, Seminar, Talkshow, dan sejenisnya di berbagai media sosial, tentunya dengan waktu dan lokasi yang bersahabat untuk saya datangi sendiri. Dan, viola! Inilah salah satu acara yang saya datangi hari ini. Bedah Novel “Love Sparks in Korea” dan Talkshow Kepenulisan Novel dan Skenario bersama Asma Nadia. Acaranya digelar di Gramedia Matraman tanggal 10 Oktober pukul 15.30 tadi. Selain mbak Asma Nadia, acara ini juga diisi dan dimeriahkan oleh Boim Lebon (Penulis), Alim Sudio (Penulis Skenario), Guntur Soeharjanto (Sutradara), G. Santani (Produser), dan Morgan Oey.

Untuk mba Asma Nadia, saya sendiri nggak perlu ragu lagi dengan keramahan dan kesederhanaannya. Beliau bahkan rela bolak-balik mondar-mandir sana-sini mengatur acara, ngambilin doorprize, nerimain sodoran buku dari peserta untuk ditandatangani para pembicara, dan sebagainya. Untuk mas Boim Lebon, yang tadi juga bertugas sebagai MC, saya baru tahu kalau ternyata orangnya kaya begitu. Humoris, pintar ngomong, asal nyeletuk, yah pokoknya asik-asik aja deh, denger dan liat beliau nge-MC. Nah, mas Alim Sudio ini yang saya nggak tahu jadi tahu. Mas ini ternyata yang nulis skenario beberapa film-film fenomenal, seperti Assalamualaikum Beijing dan 99 Cahaya di Langit Eropa. Wuih! Ada sekitar 14-an film yang skenarionya beliau kerjakan, dan film-film itu adalah film-film yang bagus. Untuk mas Guntur, beliau ternyata juga sutradara kedua film fenomenal di atas. Menurutnya, ada sekitar puluhan film lain yang sudah beliau garap (maaf saya lupa berapa tepatnya). Sedangkan untuk Bapak Santani sendiri, beliau adalah Produser RAPI Film yang terkenal itu. Katanya sih, RAPI Film adalah salah satu rumah produksi tertua. Pasti udah banyak banget deh, film yang udah diproduseri. Nah, kalau Morgan… kayanya nggak perlu penjelasan panjang lebar, deh. Singkatnya, dia adalah salah satu pemeran utama film Assalamualaikum Beijing, dan nantinya juga bakal jadi pemeran utama di film Jilbab Traveler: Love Sparks in Korea yang katanya bakal dibuat filmnya tahun ini.

Beberapa poin dan pelajaran menarik yang bisa saya ambil di acara ini adalah sebagai berikut.

Pertama, adalah tentang bagaimana seorang penulis skenario bisa menuliskan skenario dari sebuah novel. Menurut Mas Alim, langkah pertama sudah pasti dengan membaca novel tersebut secara tuntas. Setelah itu, dia akan mengambil dan mencatat bagian-bagian penting yang ada di dalam novel tersebut. Dia juga akan berdiskusi sama penulisnya, bagian mana yang menurut penulis itu penting. Jadi, ada timbal balik dan pertukaran gagasan antara penulis novel dan penulis skenario sehingga bagian-bagian yang penting itu nggak hilang begitu saja. Kalau kata beliau sih, intinya itu pertama baca bukunya (temukan hal penting), kedua buang bukunya (rangkum hal penting), ketiga ambil lagi bukunya (koreksi lagi hal pentingnya).

Hal menarik lain adalah tentang salah satu tantangan terberat seorang penulis skenario. Tentunya kita pernah menonton suatu film yang berasal dari adaptasi novel yang pernah kita baca sebelumnya. Nah, biasanya, untuk pembaca fanatik yang punya imajinasi liar saat membaca novelnya, ia akan merasa kecewa dengan film yang diangkat dari novel tersebut lantaran tidak sesuai dengan imajinasi dia saat membaca novel itu. Menurut Mas Alim, ini adalah salah satu tantangan terbesar penulis skenario. Ia harus bisa menemukan bagaimana cara agar membuat pembaca memiliki gambaran yang sama saat membaca novel dan menonton filmnya. Hmmm… kira-kira gimana, ya? Hehe, salah satunya adalah dengan survei awal. Sambil buat skenario, sambil lihat tempatnya secara langsung (jika dalam hal setting).

Kedua, adalah tentang bagaimana membuat pengalaman bisa berbuah karya. Dalam hal ini mba Asma sendiri yang bercerita. Katanya, sebagian besar tulisannya memang beliau peroleh dari pengalaman, baik pengalaman pribadi maupun pengalaman orang lain. Sebagian besar ide juga datang ketika beliau melakukan perjalanan traveling ke berbagai negara. Segala peristiwa menarik dan berkesan bisa saja berbuah ide dan karya. Nah, caranya adalah dengan memilih dan memilah pengalaman penting yang terjadi selama perjalanan itu. Apa yang disebut pengalaman penting? Pengalaman penting di sini adalah pengalaman unik, yang tentunya mengandung hikmah atau pelajaran dan inspirasi tertentu, baik untuk diri sendiri maupun untuk para pembaca nantinya. Suatu kejadian yang dianggap biasa, bisa berbuah luar biasa di tangan penulis, lho!

Nah, contohnya saya sendiri. Secara kebetulan baru-baru ini saya sedang senang membuat tulisan singkat yang idenya berasal dari sebuah gambar atau foto yang saya ambil selama plesir. Beberapa tulisan saya posting di Instagram dan menimbulkan banyak pro dan kontra yang menuduh saya mendadak puitis. Sekadar foto matahari, pohon, pantai, atau karang yang dianggap biasa, entah mengapa bisa jadi ide yang luar biasa, lho! Nah, karena itulah saya langsung percaya begitu saja bahwa ide memang bisa berdatangan seiring perjalanan yang kita lakukan. Belakangan saya memang sedang suka jalan-jalan, tapi teteup, sebagai orang biasa yang selalu terpentok masalah biaya, biasanya perjalanan yang dilakukan ya hanya lokasi-lokasi tertentu saja.

Yang menarik, di sini mba Asma coba menantang kita untuk menghasilkan karya di setiap perjalanan yang kita lakukan. Aduh, jujur ini susah. Kalau karyanya sekadar postingan di Instagram tadi sih, saya mungkin nggak masalah. Tapi, kalau sampai menghasilkan novel macam mba Asma kok kayanya susah banget, ya? Hayo, ada yang berani sama tantangan ini nggak, nih?

Ketiga, masih soal penulisan novel, yaitu tentang karakter dan penokohan di dalam novel. Ya ampun, dari dulu, penokohan adalah masalah klasik dalam penulisan novel. Sering banget denger cemooh kalau tokoh dalam cerita yang dibuat itu nggak kuat, terlalu klise, terlalu sempurna, atau apa lah, yang buat novelnya itu jadi jelek. Salah satu triknya adalah dengan menggabungkan dua buah karakter pada dua orang yang berbeda, menjadi satu karakter untuk orang yang sama. Nah, lho! Gimana, tuh? Hmp, kalau ini sih, secara implisit mba Asma bilang dengan cara banyak berinteraksi sama orang-orang. Dengan berinteraksi dengan berbagai orang, kita jadi tahu karakter orang-orang yang berbeda. Nah, itu bisa jadi tambahan ide untuk menciptakan satu karakter baru dari dua karakter orang yang berbeda. Di acara itu mba Asma sempat cerita bahwa beberapa tokoh dalam novelnya memang terinspirasi dari karakter beberapa orang yang beliau temui selama traveling ke beberapa negera. Katanya, orang yang beliau temui baik-baik. Buktinya ya si pemeran utama cowok di film Assalamualaikum Beijing itu, Zhong Wen. Tokoh utama pria di novel Love Sparks ini juga nyata, kok. Kenalan mba Asma waktu beliau traveling ke Korea. Ih, asik banget, kan?

Keempat, adalah soal bagaimana mengawali sebuah cerita dan eksekusinya ke penerbit. Katanya sih, mengawali alias menuliskan kalimat pertama untuk sebuah cerpen atau novel itu bisa asal tulis saja. Mba Asma kasih contoh dengan menuliskan kalimat “Aku jatuh cinta.” di awal cerita. Nah, dari kalimat itu nantinya bakal butuh penjelasan dan lanjutan. Lama-kelamaan ide dan kalimat bisa mengalir begitu saja. Hmm, padahal masalah terbesar saya selama ini justru bagaimana cara mengakhiri sebuah cerita, lho. Hahaha, sayang sekali nggak sempat tanya :p

Untuk eksekusi ke penerbit sendiri sih, katanya sebelum dikirim kita butuh editor atau komentator. Mba Asma sendiri bilang, pertama kali buat tulisan dan dikasih lihat ke guru teaternya, tulisannya dihina habis-habisan. Mba Asma sendiri katanya juga baru pertama kali menerbitkan buku saat usianya 27 tahun. Selisih berapa tahun tuh, sejak hobi menulisnya muncul, yang katanya sejak sekitar kelas sekian SMP. Tapi kembali lagi ke awal, salah satu cara biar tulisan diterima penerbit, teteup harus kirim dulu tulisannya ke penerbit. Konsekuensinya cuma ada dua, diterima atau ditolak. Nah, kalau kita nggak ngirim, peluang diterima nggak bakal ada, kan? Tapi sebelum itu, masukan dan saran dari editor atau komentator yang kita pilih sendiri juga harus dipertimbangkan sebelum kirim naskah. Yah, katanya sih, gitu.

Hmp, sorry banget loh, untuk para penggemar Morgan. Di sini fokus saya bukan ke dia. Lagipula motivasi saya sendiri datang ke sini juga bukan karena dia, sih. Peserta yang lain boleh teriak-teriak nggak jelas, rebutan nanya, minta tanda tangan, dan selfie. Saya mah apa atuh? Cuma cewek yang pergi sendirian dan terduduk sambil bengong. Hehehe, tapi setiap perjalanan memang selalu ada cerita, sih. Meskipun pergi sendirian, entah kenapa saya malah dapat kenalan. Cerita sedikit nggak papa lah, ya?

Setelah isi daftar hadir dan masuk, eh ternyata kursi udah pada penuh. Jadilah saya mondar-mandir kaya setrikaan. Tiba-tiba ada mas-mas yang nyuruh saya duduk di depan aja. Heh? Lesehan?! tanya saya spontan. Sambil senyum lebar si masnya bilang nggak papa, ya udah deh muka badak ikutan duduk lesehan aja di depan. Sebelah saya mbak-mbak, nih. Uniknya, pas kita disuruh maju dan geser, tanpa segan mbak ini malah ikutan narik-narik tangan saya biar saya tetep duduk di sebelah dia. Padahal kondisinya saat itu kita belum kenalan sama sekali, loh. Jadilah saya punya kenalan baru, hahaha. Entah mbak ini prihatin lihat saya datang sendiri atau memang orangnya yang supel, dia ramah-ramah aja nanya dan ngobrol-ngobrol, sampai minta tukeran pin BBM segala. Oh iya, selain mbak-mbak ini, di sebelah saya juga ada mas-mas yang hmmm gimana mendeskripsikannya, ya? Dia berasa lupa daratan kalau sebelahnya cewek ==’ Duduk nggak merhatiin jarak (saya jadi mepet-mepet ke mbak-mbak sebelah). Paling horor tiap dia nengok dan ngobrol sama temennya yang di belakang. Ambil foto sana-sini juga nggak kira-kira, berasa nggak sadar di sebelahnya ini nggak nyaman dideket-deketin. Tiap beberapa menit dia juga posting foto yang dia ambil itu di instagram. Klimaks banget waktu dia maju ke depan, nanya ke salah satu pembicara, terus ujung-ujungnya pede banget selfie sama si Morgan di atas panggung. Ckckck. Ada juga orang unik macam begini xD

Setelah acara selesai, biasanya ada sesi foto-foto, tapi saya mah males kalau banyak orang begitu. Dasarnya emang nggak suka selfie (maunya WEfie aja, hahaha). Plus ngejar waktu juga biar nggak pulang kemaleman. Untuk yang suka sama mba Asma, yakin deh, bakal dapet foto sama beliau (selama beliau nggak buru-buru pergi karena ada acara lagi). Karena pengalaman, dulu waktu ada acara di FKM UI sama mba Ama, saya juga sempet foto sama beliau. Orangnya humble dan baik banget. Waktu giliran saya foto, kamera teman saya itu malah errorerror terus, tapi beliau bukannya ngusir saya dan nyuruh ganti orang, eh saya malah di-pukpuk-in dan ditungguin sampai tuh kamera bener. Hahaha, miris, ujung-ujungnya temen saya malah lupa nge-tag atau ngasih foto itu ke saya sampai sekarang. Yah, walaupun hingga detik ini nggak pernah lihat hasil fotonya juga, seenggaknya yaaa, itu. Saya selalu percaya bahwa kamera terbaik memang hanya ada di sini. Di mata, otak, dan hati. Biarlah ia tersimpan rapi sebagai… memori 🙂

estEtika

Advertisements

3 Comments

  1. puthriipuu said,

    12 October 2015 at 05:31

    Kayaknya semua ending tulisan berakhir dengan “memori” yak 😂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: