Kajian Tauhiid Bersama Aa Gym

Masih dalam rangka pemulihan Sindrom Kangen Kuliah, hari ini saya pun terdampar di salah satu acara yang insya Allah bermanfaat ini. Kajian Tauhiid sepertinya dilakukan secara rutin setiap bulan, tetapi baru kali ini saya berkesempatan hadir. Tanggal 11 Oktober kemarin, Kajian Tauhiid ini digelar di Masjid Istiqlal pada pukul 09.00 pagi, yang selain diisi oleh KH Abdullah Gymnastiar alias Aa Gym, juga diawali dengan pemberian materi oleh KH Wahfiudin Sakam, SE, MBA. Selayaknya kuliah yang selalu diberi tugas, kali ini saya coba memberi tugas kepada diri saya sendiri untuk coba merangkum isi kajian ini. Semoga bermanfaat.

Kajian Tauhiid

Duduk di depan sekaligus di pojok, Aa Gym cuma terlihat dari layar :p

Materi pertama diisi oleh Bapak Wahfiudin, yang membahas tentang “Qolbu”. Qolbu itu sendiri terdiri dari dua macam, yaitu (1) Qolbu Jismani atau qolbu secara jasmani dan (2) Qolbu Ruhani atau qolbu yang bersifat rohani. Dalam hal qolbu jasmani, Bapak Wahfiudin menyebutkan suatu hadist yang mungkin tidak terlalu asing di telinga kita. Di dalam tubuh ada sebongkah daging; jika bongkahan daging itu sehat, maka jasad seluruhnya akan sehat; namun jika bongkahan daging itu rusak, maka seluruh jasad tersebut akan rusak. Bongkahan daging yang dimaksud di sini adalah qolbu. Namun, dalam hal jasmani, sering banyak salah persepsi yang mengatakan bahwa qolbu berarti hati atau liver. Padahal, hati dalam bahasa Indonesia, atau liver dalam bahasa Inggris, disebut sebagai kibd dalam bahasa Arab. Sementara itu, qolbu dalam bahasa Arab, artinya adalah jantung atau heart dalam bahasa Inggris, bukan hati.

Bapak Wahfiudin sempat menampilkan video proses pembedahan jantung pada pasien yang mengalami kebocoran jantung. Aduh, biasanya saya langsung pusing-mual kalau lihat darah, proses pembedahan, operasi, dan semacamnya (emang nggak cocok kerja di rumah sakit kayanya), tapi kali ini enggak. Ternyata asik juga lihat prosesnya (hah, asik?). Jadi, pembuluh darah yang mengarah ke jantung itu dipotong (dan dihubungkan ke semacam selang transfusi darah gitu biar tetep ada darah yang dipompa tubuh), jantungnya diambil keluar tubuh, dicari bagian mana di jantung itu yang bocor, lalu dijahit atau ditambal dalam bahasa kasarnya, terus tuh jantung ditaruh lagi di dalem tubuh, disambungkan lagi ke pembuluh darah tadi. Wiw, dan jantungnya kembali berdenyut! Masya Allah, keren banget. (Semoga nggak ada kesalahan dalam hal ilmu medisnya. Saya yang awam hanya coba mendeskripsikan isi video yang ditampilkan).

Kenapa sih, Pak Wahfiudin nampilin nih video? Ternyata beliau mau menjelaskan dan membuktikan, bahwa qolbu yang bersifat jasmani ini nggak ada perbedaannya, baik pada orang yang baik maupun pada orang yang jahat. Orang yang baik amal sholehnya, punya qolbu jismani warna merah, dengan denyut yang seperti itu. Di sisi lain, orang yang buruk tabiatnya, juga punya qolbu jismani warna merah, dengan denyut yang seperti itu juga. Nggak ada orang baik jantungnya merah, terus kalau jahat jantungnya jadi hitam. Semua sama, warnanya merah. Dengan kata lain, jasmani itu sendiri nggak bisa jadi patokan untuk membedakan dan men-judge amal sholeh seseorang.

Sementara itu, beda halnya dengan qolbu ruhani alias qolbu yang ada di dalam ruh. Orang beriman yang berbuat dosa, qolbu ruhaninya bisa terbentuk bercak hitam. Adapun cahaya di dalam qolbu ruhani itu sendiri adalah cahaya yang berasal dari Allah. Sayangnya, kita nggak bisa lihat kan, secerah apa qolbu ruhani kita sendiri?

Nah, untuk qolbu ruhani ini, sering disebut sebagai hati nurani. Di dalamnya ada iman, kejujuran, kelembutan, dan hal-hal positif lain, tetapi bisa juga berisi iri, dengki, cemburu, dan hal-hal negatif lain. Adapun cara untuk membersihkan qolbu, utamanya dari hal-hal negatif tersebut, adalah dengan berdzikir atau mengingat Allah. Dzikir itu sendiri nggak harus keras atau banter-banteran. Yang penting adalah rasa-nya. Dzikir itu sampai terasa menggetarkan dada, sampai masuk ke dalam qolbu ruhani itu sendiri. Salah satu dzikir yang utama itu adalah “Laa Illaaha Illallah”.

Apa sih, artinya Illah? Illah berbeda dengan Rabb. Rabb berarti pencipta, pengatur, pemilik, atau penguasa alam. Sementara Illah berarti sesuatu yang dipuja, dimuliakan, diindahkan, atau dicintai. Sayangnya, selama ini banyak sekali Illah palsu yang sering menyesatkan manusia. Sebut saja [1] Hawa Nafsu (QS. 25:43), [2] Penguasa Harta (QS. 28:38), [3] Orang Sakti, [4] Benda Mulia (QS. 6:74). Orang yang menjadikan hawa nafsu sebagai Illah disebutkan dalam surah tersebut. Sementara itu, contoh Illah palsu penguasa harta adalah Fir’aun yang menganggap dirinya Tuhan, sedangkan contoh Illah palsu berupa orang sakti dalam Al-qur’an adalah Nabi Isa AS yang dipuja-puja kaumnya (maaf saya agak skip surah yang mana), sementara contoh Illah palsu berupa benda mulia dalam Al-qur’an adalah berhala yang disembah-sembah di zaman Nabi Ibrahim AS. Semuanya adalah Illah palsu yang bisa jadi sekarang ini juga tengah menyesatkan kita dalam bentuk yang lain, seperti lebih mementingkan hawa nafsunya atau atasannya sendiri di kantor daripada Allah, serta mengagumi orang berilmu atau suatu barang tertentu secara berlebihan.

Nah, intinya adalah, Allah tidak memandang jasad atau jasmani kita karena semua dianggap sama di hadapan Allah (semua jantung sama-sama warna merah). Yang Allah lihat adalah qolbu ruhani kita, isi hati nurani kita. Karena itu, senantiasalah kita memperbaharuhi iman kita, dengan selalu berdzikir kepada Allah.

***

Nah, pada sesi kedua, materi diisi oleh Aa Gym. Beliau membuka materi dengan masalah ibadah haji. Beliau memaparkan apa saja hikmah yang ada pada beberapa tata cara haji. Hikmah ihrom, misalnya, salah satunya adalah untuk melepaskan segala topeng yang melekat pada diri kita. Saat ihrom, kita semua sama secara fisik, termasuk pakaian dan larangannya (penjelasan selengkapnya tentang ihrom dan thawaf-sa’i bisa dlihat pada posting “Mekah-Madinah Hari-1: Kupenuhi Panggilan-Mu, Ya Allah… [1] dan [2]).

Selama ini, kita selalu sibuk dengan topeng kita sendiri karena takut dengan penilaian orang lain. Kita cenderung sibuk menutupi kekurangan karena tidak ingin dicela orang lain. Kita sibuk memamerkan kebaikan karena ingin dipuji orang lain. Padahal, hakikat pujian itu sendiri adalah karena Allah menutupi aib dan kekurangan kita, sedangkan secara syariat pujian itu sendiri adalah karena orang lain tidak tahu siapa diri kita yang sebenarnya.

Hehehe, saya coba buat contoh sendiri seperti ini. Orang yang baru kenal, bisa dengan gampangnya memuji, “Wah, Mbaknya rajin banget, pagi-pagi udah nyapu halaman!” Yak, itu semua karena Allah nutupin aib si mbaknya, dan karena orang itu nggak tahu siapa mbaknya yang sebenarnya. Padahal mah, ibu bapaknya yang lebih tahu, misalnya, malah ngedumel di belakang, “Ini anak disuruh nyapu aja susah bener! Musti diancem-ancem dulu!”

Intinya sih, kalau pingin bahagia, kuncinya adalah jangan ingin dipuji, jangan takut dicaci. Yang terpenting adalah penilaian Allah tentang kita. Yang penting adalah Allah ridho dengan kita.

Nah, kalau salah satu hikmah thawaf, kata Aa Gym adalah hidup itu dijalani saja sambil terus berdzikir kepada Allah. Tidak perlu melawan arus, jalani saja, insya Allah sampai ke tempat tujuan. Yah, mirip-mirip lah, sama tata cara tahawaf yang memang jalan aja terus (mengelilingi Ka’bah) sambil berdzikir kepada Allah. Kita nggak boleh ngelawan arus karena thawaf memang harus dilakukan berlawanan arah jarum jam, dan insya Allah kita bakalan sampai ke garis finish sejajar dengan Hajar Aswad di putaran ketujuh.

Di sini Aa juga bilang kalau thawaf itu beda sama shalat. Nggak perlu hijab alias penutup. Tidak seperti saat shalat atau kajian islami untuk umum, misalnya, saat thawaf laki-laki dan perempuan tidak dipisah, melainkan bisa melakukannya bersama-sama. Anehnya, saat thawaf itu nggak pernah ada yang namanya pelecehan seksual atau pun tindakan negatif lain seperti berantem, misalnya. Yah, berdasarkan pengalaman pribadi memang bener, sih, saat thawaf itu kaki kita bisa aja keinjek-injek atau kepaduk-paduk orang dari belakang, badan bisa remuk kegencet orang-orang berpostur besar, kepala juga bisa kena sikut, tapi sepertinya memang belum pernah ada orang yang berantem saat thawaf meskipun katakanlah yang nggak sengaja salah itu tadi nggak minta maaf sama sekali. Hmm, dalem hati sempet mikir, iya juga, ya?

Yah, katanya sih, karena orang thawaf itu dzikir terus. Inget Allah terus. Jadi, tuh hati nggak punya cela sama sekali untuk ngikutin emosi dan hawa nafsu. Masya Allah. Keren banget, ya? Coba kalau semua orang di dunia ini dzikir terus setiap hari. Kayanya sih nggak bakal ada yang namanya tindak kejahatan. Kecuali kalau dzikirnya emang asal doang dan nggak pakai hati, hehe…

Kalau hikmah sa’i, katanya adalah sebagai manusia, yang penting itu adalah ikhtiar. Selebihnya Allah yang akan mengatur dan menentukan. Terserah Allah mau kasih rejeki atau malah jawaban permintaan kita kapan dan dari mana. Kita nggak boleh seakan mengatur Allah. Allah bisa saja memberikan jawaban atas usaha kita, bukan dari target capaian usaha kita sendiri.

Contoh yang saya buat sendiri seperti ini. Katakanlah saat seseorang pingin banget jadi pebisnis sukses, misalnya, dia pikir dengan kuliah di jurusan bisnis dia bakal bisa mencapai impiannya. Dia pun belajar mati-matian biar bisa diterima di jurusan bisnis universitas terkemuka. Nah, lho, ternyata dia malah gagal lolos seleksi masuk. Dia pikir target capaiannya itu gagal sehingga keinginannya nggak mungkin terwujud. Tapi, ternyata Allah kasih jawaban yang lain. Karena nggak bisa kuliah, dia malah bangun usaha sendiri, giat banget merintis bisnis sendiri, dan eh ternyata dia malah lebih sukses dari temen-temennya yang kuliah di jurusan bisnis. Kuncinya ya itu tadi, tetep usaha, dan berbaik sangka sama Allah. Terima apa yang jadi takdirnya, tapi jangan berhenti untuk usaha.

Yap, intinya itu, sih. Yang saya tangkep, sepertinya Aa Gym ingin memberikan materi tentang tiga hal penting untuk hidup tenang dan bahagia. Namun, beliau mengemasnya dalam bentuk rukun ibadah haji/umroh. Kalau boleh saya rangkum, tiga hal itu adalah (1) jangan memedulikan penilaian orang lain, pedulilah dengan penilaian dari Allah saja; (2) lakukan segala sesuatu sebaik mungkin dengan terus mengingat Allah, dan (3) jangan pernah berharap kepada makhluk, berharaplah hanya kepada Allah.

Oh ya, satu hal yang saya suka adalah saat Aa bertanya kepada hadirin bagaimana perasaan mereka sekarang, apakah merasa lebih tenang setelah mendengarkan Aa? Kenapa merasa lebih tenang? Hmmm, di sini Aa Gym ngingetin bahwa perasaan memang bisa jadi tambah tenang, tapi bukan karena Aa-nya, melainkan karena isi yang disampaikan, yaitu tentang Allah. Dengan kata lain, perasaan tenang itu hanya dari dan karena Allah semata.

Wallahu a’lam🙂

estEtika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: