Hikmah Mangkuk Pecah

Ada salah satu mangkuk di lemari saya yang terbilang jarang digunakan. Mangkuk itu dibiarkan tersimpan bersih karena memang hanya digunakan sesekali. Namun suatu hari saya pun menggunakan mangkuk tersebut. Sayangnya, usai makan malam, saya justru tertidur kelelahan dan tidak sempat mencuci mangkuk yang baru saja digunakan itu. Parahnya, esok paginya saya malah keasyikan nyuci baju hingga lupa waktu, dan ujung-ujungnya malah lupa mencuci mangkuk tersebut. Saya biarkan dia kotor, sementara saya berangkat ke kantor. Meninggalkan dia seorang diri.

Sepulangnya dari kantor, barulah saya menyempatkan diri mencuci mangkuk tersebut. Seperti ritual mencuci peralatan makan pada umumnya, setelah diberi air dan dibiarkan basah sebentar, mangkuk itu pun dibersihkan dengan spons lembut yang sudah diberi cairan pencuci piring. Gosok-gosok sebentar, dan setelah merasa nggak ada lagi kotoran yang menempel, mangkuk itu pun siap dibilas. Namun, apa yang terjadi? Tiba-tiba mangkuk itu terlepas dari tangan dan… pecah.

Hey, mangkuk itu hanya terjatuh dari ketinggian yang kurang dari 30 cm! Jatuhnya pun bukan karena dibanting dengan kekuatan gaya sekian Newton, melainkan ‘hanya’ jatuh bebas akibat gaya gravitasi sebesar 9,8 m/s2!

Lucunya lagi, mangkuk itu jatuh tepat sekali ketika saya selesai membilas mangkuk tersebut. Perasaan saat itu campur aduk antara menyesal, sebel, kecewa, gemes, tapi juga pasrah atau kalau dalam bahasa sehari-hari, “Ya udah, sih, yaa…”

Lalu, saat itu saya jadi merenung. Ada hikmah di setiap kejadian. Salah satunya adalah kejadian mangkuk pecah ini. Saya begitu takjub sekaligus merinding. Sungguh betapa dekat dan tak terduganya maut itu. Ia bisa datang kapan pun dan di mana pun tanpa kita tahu.

Namun, saat itu saya pun jadi iri dengan mangkuk itu. Betapa beruntungnya mangkuk itu karena ia menemui ajalnya ketika ia dalam keadaan bersih. Tepat setelah dicuci, diberi sabun, dan dibilas, mangkuk itu pun menemui ajalnya.

Akan sangat mengenaskan jika mangkuk itu pecah dalam keadaan kotor sebelum saya cuci. Saya yakin 100%, siapa pun yang mendapati mangkuk pecah dalam keadaan kotor, pecahan mangkuk tersebut tidak akan dicuci dulu sebelum dibuang. Iya, kan? Dan ia akan terenggok begitu saja dalam keadaan kotor. Berbeda dengan mangkuk saya itu, setidaknya ia terkesan lebih ‘terhormat’ karena dibuang dalam keadaan bersih :p

Sama seperti diri ini. Kita tidak pernah tahu kapan ajal menjemput. Yang bisa kita lakukan adalah segera mencuci diri kita, membersihkan diri kita. Agar ketika ajal tersebut datang, kita bisa seperti mangkuk itu, berpulang dalam keadaan bersih. Dalam keadaan terhormat. Dalam keadaan yang Allah ridhoi. Aaamiin…

Maka, sambil memunguti pecahan mangkuk itu, memasukkannya ke dalam plastik tebal, melapisinya lagi dengan plastik lain, meletakkannya dengan hati-hati di tempat sampah, saya pun sempat merenung…

Betapa aku iri dengan mangkuk ini. Menjemput ajal dalam keadaan bersih.

Pun setelah itu masih bisa memberi pesan dan hikmah bagi orang yang ditinggalkan…

Apakah aku, kamu, dia, mereka, dan kita semua bisa seperti mangkuk itu? Semoga.

estEtika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: