Bukan Untuk Saling Mencinta

Aku pertama kali bertemu dengannya pada pertengahan tahun 2003. Sayangnya, aku nggak pernah ingat bagaimana momen pertama kali pertemuan dan perkenalan itu. Yang aku ingat, ia adalah anak yang jahil saat itu, tapi juga lucu. Kalau boleh jujur, sebenarnya leluconnya sama sekali nggak lucu. Tapi, entah kenapa aku hampir selalu tertawa saat melihatnya tertawa. Tawanya bagai virus penyakit yang secara cepat langsung menular kepadaku.

Aku nggak begitu ingat momen-momen apa yang mengiringi perjalanan perkenalan kami. Aku hanya ingat momen saat meminta alamat rumah dan nomor teleponnya untuk suatu data. Waktu itu, saat kusodorkan buku itu, ia tengah berdiri di tepi pintu. Tulisannya ternyata jelek. Entah karena terburu-buru atau karena cara menulisnya yang hanya dialasi dengan telapak tangan. Dan aku seolah tak mau tahu, ketika ternyata alasannya adalah karena ia merasa gugup di depanku.

Tak banyak momen yang teringat setelah itu. Yang kutahu, semakin lama kami justru semakin dekat. Takdir seakan terus membersamai, mempertemukan sekaligus mendekatkan. Status teman serta merta berubah menjadi sahabat dalam sekali hela napas. Beberapa teman bahkan secara sepihak mengecap status kami sebagai pacar. Lucu. Pengagumnya bahkan mulai memusuhiku. Padahal siapalah gerangan aku?

Jujur ia memang berbeda. Siapalah orang yang bisa membuatku kesal sekaligus tersenyum dalam satu waktu kalau bukan dirinya? Siapalah yang dengan pede terus melucu (meski sebenarnya sama sekali nggak lucu) demi melihatku tertawa kalau bukan dirinya? Siapalah orang yang mengendarai motor tepat di depan motorku saat mengantarku pulang terlalu malam kalau bukan dirinya? Siapalah yang dengan semena-mena memaksaku ke rumahnya dan memperkenalkanku ke seluruh anggota keluarga kalau bukan dirinya? Siapa?

Lucunya, kenangan yang tersimpan di otak kami hampir nggak pernah sama. Apa yang ia ingat, aku lupakan. Apa yang aku kenang, ia abaikan. Padahal bisa dibilang, ada dua alasan mengapa sebuah kenangan dikatakan berkesan. Pertama, karena momen itu dihabiskan dengan orang yang juga berkesan. Kedua, karena momen itu terbilang langka dan jarang. Maka, saat kami saling melupakan dan mengabaikan, apakah itu artinya masing-masing nggak dianggap berkesan? Ataukah itu adalah kenangan yang terlampau biasa? Jawabannya bisa jadi tidak. Mungkin hukum relativitas berlaku juga pada kenangan. Karena pada akhirnya, kerelativan kenangan itu jua yang malah mempersatukan, mengakrabkan.

Kekhawatiran yang timbul adalah, masing-masing kami merasa terlalu nyaman. Ia terlalu nyaman bercerita, sampai-sampai tak ingat lagi apa saja yang telah ia ceritakan. Aku terlalu nyaman mendengarkan, sampai-sampai tak ingat kapan harus tak pedulikannya. Ia terlalu nyaman bercanda, sampai-sampai lupa betapa sensitifnya perasaan wanita. Aku terlalu nyaman bertanya, sampai-sampai lupa betapa perasaan seharusnya selalu penuh rahasia.

Maka saat ia terlalu nyaman bercerita, ia pun bongkar semuanya. Mengatakan perasaan sebenarnya saat kami pertama jumpa. Menganggapnya lelucon dengan bumbu-bumbu tawa. Menceritakan semua yang bisa dibilang sudah terlambat meski terkesan begitu manis untuk dikenang.

Maka saat aku terlalu nyaman mendengarkan, aku pun catat semuanya. Menyimpan semua yang ia katakan ke dalam otak. Demi melihat reaksi terkejutnya kala mendapati betapa terbukanya ia padaku. Semakin sulit membedakan mana cerita yang harus direspons dan mana yang nggak perlu tanggapan.

Maka saat ia terlalu nyaman bercanda, ia pun keluarkan semuanya. Mengungkapkan segala lelucon hingga kata-kata indah. Menganggapnya gurau belaka dengan bumbu hahaha. Terlalu banyak tawa, buatku sulit membedakan, mana yang serius dan mana yang bercanda.

Maka saat aku terlalu nyaman bertanya, aku pun tanyakan semuanya. Mempertanyakan perasaannya sekarang, masih adakah aku atau tidak di hatinya. Ia menolak menjawab, padahal apa susahnya bilang ‘tidak’ saat perasaannya memang sudah berubah. Dalihnya perasaan sudah seharusnya rahasia. Aku setuju. Mungkin ia benar.

Kenyamanan-kenyamanan itu adalah kekhawatiran.

Jujur, jawaban ‘tidak’ adalah yang lebih aku harapkan. Meski beruntung pada akhirnya ia tetap memilih diam, dan aku membuat kesimpulan ‘tidak’ secara sepihak. Tak terbayang apa jadinya jika saat itu ia bilang ‘ya’. Karena rasa-rasanya, sejak awal kami hanya cocok seperti sekarang, sahabat yang turun status menjadi teman, meski selalu merasa nyaman.

Ya, karena kemungkinan besar kami memang tidak dicipta untuk saling mencinta. Terlebih pada satu waktu yang sama.

karena dalam suatu durasi,

ada kalanya muncul seseorang yang selalu ingin kau bersamai,

bukan kau miliki

estEtika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: