CimoryRiverside yang Tak Sesuai Harapan dan Taman Matahari yang Gagal!

Sejak kuliah dan berkenalan dekat dengan salah satu teman dari seberang pulau, kupikir hanya saat bersamanya akan terjadi banyak kekonyolan. Namun, ternyata tidak demikian karena setelah kerja dan berkenalan dekat lagi dengan salah satu teman dari daerah “timur”, kekonyolan juga masih sering terjadi.

Karena sama-sama perantau yang hampir selalu bosan di tiap akhir pekan jika hanya mendekam di dalam kamar, Jumat itu secara mendadak kami memutuskan untuk jalan-jalan esok harinya. Mendadak. Tujuannya adalah Bogor, yang anggap saja terjangkau dan murah meriah untuk kami yang sedang super hemat. Karena saat itu di Instagram sedang cukup tren foto-foto di CimoryRiverside, mendadak kami pun memutuskan ke sana.

Bahkan sejak awal janjian pun kami sudah terbilang konyol. Jam 7 pagi, tapi bukan untuk ketemu, melainkan untuk sama-sama masuk ke kamar mandi. Yah, begitulah kami. Janjian yang cukup unik, bukan? Anggap saja iya.

So, jam 8 tet anggap saja kita sama-sama keluar rumah. Sebenarnya tempat tinggal kami nggak terlalu jauh, tapi trek-nya yang agak berbeda. Dia lebih gampang naik TransJakarta ke stasiun Cawang, sementara saya lebih gampang naik TransJakarta ke stasiun Juanda. Dengan asumsi bus si dia transit sementara saya tidak, saya anggap meeting point di stasiun Cawang cukup make sense.

However, ternyata kereta dari Juanda kurang berpihak pada saya. Naik ke peron ada kereta, langsung semangat mau naik, tapi ternyata ia tujuan Bekasi. Nggak mau nyasar, akhirnya nunggu lagi cukup lama. Begitu ada yang dateng, eh, cuma sampai Manggarai. Urung. Cukup lama nunggu lagi, datang kereta dan ternyata cuma sampai Depok. Ya ampun, pada ke mana sih, kereta tujuan Bogor? Ngambek karena menjelang malam minggu nggak ada yang ngajak jalan?!

Singkat cerita, percaya nggak percaya, akhirnya saya baru bertemu dengan si dia jam 10! Yap, sejak keluar kosan bisa makan waktu 2 jam untuk sekadar ketemu di stasiun Cawang! Jakarta emang nggak bisa ditebak *geleng-geleng kepala*. Itu pun setelah akhirnya saya terpaksa naik kereta yang jurusan Depok karena males nunggu lama. Di Depok baru deh, ganti kereta lagi yang jurusan Bogor. Ampun, deh! Untung saja ongkos (TJ) dan kereta ke Bogor cuma (3.500 dan) 3.000 rupiah.

Setelah sampai stasiun Bogor, sesuai serchingsearching sok tahu, kita langsung dengan pede naik angkutan 02 warna hijau jurusan Sukasari. Sebelnya, di Kebun Raya Bogor kita malah diturunin gara-gara tuh angkot cuma mau nganter sampai situ dan balik lagi ke stasiun karena penumpang sisanya tinggal kita berdua! Si mas juga agak nggak mood waktu kita kasih ongkos 3.000 rupiah. Padahal dari stasiun Bogor ke KRB seberapa jauh sih?! Untung aja waktu itu saya belum lapar, jadi nggak terlalu resek. Cuma bisa ngedumel di belakang.

Alhamdulillah, beberapa detik kemudian langsung ada bapak angkot yang berbaik hati bertanya, “Sukasari, Teh?” dan saya pun lupa angkot nomor berapa yang saya naiki itu.

Masya Allah, Bapaknya baik! Setelah bengong tengok kanan-kiri ini ada di mana, dan ngeliat papan-papan bertuliskan Sukasari tapi nggak tahu apa ini Sukasari yang dimaksud untuk kami ganti angkot atau bukan, akhirnya saya pun tanya ke si Bapak kalau kita mau naik angkot ke arah Cisarua. Eh, si Bapak malah ngasih tahu dengan nada bicara yang nyenengin alias boleh dibilang ramah. Bahkan beliau berhenti tepat di samping angkot biru arah Cisarua yang kami maksud sambil ngomong ke supirnya kalau kita mau naik ke Cisarua. Ah, Bapak… Oh ya, ongkosnya 4.000 rupiah aja nih. Si Bapak jujur bener ngasih kembalian dua ribu saat saya kasih sepuluh ribuan untuk dua orang. Semoga rejekimu berkah ya, Pak ^^

Nah lho, ternyata angkutan jurusan Cisarua ini trek-nya panjang betul. Berasa nggak nyampe-nyampe, deh. Nggak tahu ya, apa karena macet atau emang jauh, tapi saya ngerasa nih angkot kok nggak nyampe-nyampe? Mana ujungnya, sih? Yap, perjalanan ini emang makan waktu lama banget sampai kami berdua sempat yang namanya mulai dari becanda, ngobrol ngalor-ngidul, curcol-curcol, nyanyi-nyanyi nggak jelas *sambil sesekali ngerubah lirik lagu seenaknya*, ngetawain tulisan di sepanjang jalan yang katanya “Tempat Mantan” padahal itu jelas-jelas tempat sampah, sampai akhirnya sama-sama diem karena entah kecapean, laper, atau malah jenuh dengan hubungan ini eh, dengan perjalanan panjang ini. Total perjalanan sukses memakan waktu berjam-jam mengingat kami tiba di sana sekitar pukul satu kurang. Karena jauh, wajar sih kalau ongkosnya 7.000 rupiah per orang.

Masuk ke kawasan CimoryRiverside, langsung terlihat resto. Ditilik dari bentuk resto dan pengunjung yang datang, kami berasumsi harga makanan-minuman di sana berkisar lima puluh ribuan untuk sekali pesan. Ini adalah keuntungan jalan sama orang yang sama-sama pelit, eh, hemat maksudnya! Dari hasil analisis awal, kami langsung setuju kalau tempat terbaik untuk dikunjungi pertama kali adalah toilet dan mushola. Hehehe, bukan karena gratis juga lho ya, tapi karena emang udah masuk waktu sholat B) *alasan* *alasan* *alasan*

Usai membersihkan jiwa dan raga, kami langsung menuju ke taman yang dimaksud. Abaikan perut yang lapar. Dompet yang lapar jauh lebih penting di kondisi seperti ini! Di taman itu ada botol Cimory gede yang bisa buat foto-foto dan si dia langsung nolak mentah-mentah buat foto di sana xD Ada juga taman bermain anak-anak yang di atasnya penuh dengan payung warna-warni. Spot foto pertama.

Turun ke bawah, ada lagi arena bermain anak-anak, tapi sudah lebih modern. Bentuknya sudah berupa mesin-mesin, bukan ayunan atau perosotan seperti yang ada di bawah payung-payung tadi. Yang mencolok di mesin-mesin itu sih, Doraemon-nya yang besar dan beberapa sapi-sapian :p

Ke bawah lagi, baru deh, terlihat aliran sungai yang sering dipakai jadi spot foto di Instagram. Spot foto kedua. Cekrak-cekrek sebentar (sungainya doang, orangnya kagak, hahaha), dan kami langsung bengong. Ups. Segini doang? Di luar ekspektasi, ternyata lahannya nggak terlalu besar. Ujung sungainya masih bisa dilihat dengan mata telanjang. (Sebenarnya bukan ujung sungainya, sih, tapi ujung bagian sungai yang bisa dijangkau pengunjung).

Kecewa, akhirnya kami menghibur diri dengan memfoto beberapa bunga-bunga yang ada di sana. Spot foto ketiga.

Baru beberapa menit kami di sana, tapi kami sudah nggak betah. Bermodalkan internet yang Alhamdulillah masih bisa konek, kami tahu kalau tempat ini cukup dekat dengan objek wisata lain bernama Taman Matahari. Baru beberapa menit di dalam sana, kami akhirnya memutuskan ke tempat lain dengan bermodalkan muka badak untuk tanya-tanya ke satpam Cimory.

“Deket, Teh. Kalau jalan, paling sekitar 500 meter. Kalau naik angkot, kasih aja 2000,” Satpam memberi solusi dengan begitu percaya diri.

500 meter? Itu mah nggak ada apa-apanya sama jalan kaki ke kantor tiap hari! Kasih 2000? Itu tandanya deket banget, dong! Dengan bermodalkan asumsi-asumsi itu, kami sepakat jalan kaki ke Taman Matahari.

Hhh… Hhh… Hhh… Deket sih, (mungkin) deket. Tapi nggak nanjak gini juga, keleus! Satpam tadi mungkin khilaf kalau ini Bogor. Ini jalan Raya Puncak Bogor! Iya, Puncak yang ituuu…

Sempat mikir isi perut dulu, tapi urung karena pilihan makanan yang nggak sesuai selera. Jalan lanjut, sambil terus bertanya-tanya, sampai di mana kaki ini akan berhenti melangkah…?

Agak syok juga saat kami sempat bertanya ke salah satu bapak yang sedang duduk sendirian, “Deket, Neng. Paling 500 meter lagi.”

What?! Satpam tadi bilang 500 meter, dan setelah kami jalan sejauh ini, si bapak malah bilang 500 meter lagi? Seandainya dua orang ini benar, berarti totalnya 1 km, dong? Dengan medan yang menanjak ini? Dan saat itu saya langsung sadar diri bakal mikir berulang kali dulu sebelum nerima tawaran teman untuk naik gunung yang ekstrem. Khawatir malah merepotkan xp

Singkat cerita, papan besar bertuliskan Taman Matahari bagai oase di tengah padang pasir bagi kami. Tinggal berbelok dan jalan (yang katanya) sedikit, kami sudah tiba di sana. Sempat ragu untuk makan siang dulu, tapi akhirnya kami putuskan untuk jalan terus.

Eng-ing-eng! Begitu berbelok, kami langsung bahagia melihat jalanan yang turun sangat tajam. Akhirnya setelah sekian lama naik, ada tanjakan juga! But wait! Lantas tiba-tiba saya kepikiran dan spontan nyeletuk, “Berarti pulang nanti bakal nanjak banget, dong?” dan kocaknya si dia malah langsung berhenti jalan dan memutuskan balik arah xD

Abang ojek yang nawarin tumpangan jelas nggak mampu menggoda kami. Jelas-jelas kami lagi ngirit duit! Seenggaknya dalam hal ini ojek nggak termasuk ke dalam budget. Akhirnya kami terkatung-katung nggak jelas. Mau makan siang pun bingung harus makan apa. Hingga akhirnya, kami pun memutuskan masuk ke salah satu rumah makan sunda yang nggak jauh dari situ, sambil mencari-cari alasan berupa kalimat hiburan seperti ini: “Isi perut aja dulu. Sambil searching internet, di Taman Matahari itu ada apaan aja. Jangan sampai kita menyesal lagi kaya waktu ke Cimory.”

Krik, krik. Menu dan harganya kok begini, ya? Hahaha, yang paling murah jelas nasi putih sama air mineral, tapi itu pun (tentu saja) beda jauh sama harga di warteg! Lama milih jodoh, eh makanan, mungkin si mbak mulai prihatin atau nggak sabar hingga akhirnya mulai kasih rekomendasi. Menu paket komplit! Kkk.

Harganya lumayan mahal sih, 35.000 rupiah, tapi udah mencakup semuanya. Nasi, ayam bakar, tahu, tempe, (secuil) ikan asin, bakwan jagung, sayur asem, lalapan, dan sambel. Mereka menyebutnya Nasi Timbel Komplit. Minumnya, saya pilih Lemon Squash sedangkan si dia pilih Lemon Tea dengan harga masing-masing 15.000 rupiah.

Si mbak tahu banget yang kita mau! Ini dia! Makanan yang banyak, beragam, kenyang, dan enak! Meskipun nggak memenuhi syarat yang lain, yaitu murah, saya dan si dia hampir selalu sepakat kalau mahal itu nggak masalah selama yang kita makan itu nasi, banyak, dan bikin kenyang! (Sebagai catatan, porsi “bikin kenyang” kami boleh dikata sedikit nggak normal dibandingkan dengan porsi orang-orang umum kebanyakan). Hahaha, cocok banget rasanya jalan bareng sesama selera isi “perut” dan “dompet” seperti si dia xD

Kami pun makan hidangan itu dengan begitu bahagia. Saya bahkan sampai menangis karena terharu, eh enggak ding, tapi karena kepedesan, hehehe sambelnya pedes banget tapi nikmat, fyi.

Qadarullah, saat masih makan hujan justru turun dengan begitu lebatnya. Lebat banget dan langit mendadak super gelap! Berasa udah mau magrib, padahal masih belum ashar. Kami pun bersyukur karena diberi petunjuk sama Allah untuk mampir ke warung ini mengikuti insting perut lapar kami, bukannya terus melanjutkan perjalanan ke Taman Matahari. Sambil menunggu hujan reda, kami jadi sempat membicarakan banyak hal termasuk juga tentang bisnis, kkk… Memang selalu ada banyak hal untuk disyukuri ^^

Setelah hujan agak reda, kami memutuskan untuk langsung pulang saja dengan naik angkutan jurusan Sukasari. Wiw! Amazing! Alhamdulillah banget ternyata kita memutuskan untuk pulang di waktu yang tepat. Ternyata saat di perjalanan itu, pas banget ada polisi lewat yang merupakan tanda kalau nih jalan bakal ditutup. Yup, jalanan Puncak kan memang sering pakai sistem buka-tutup jalan karena macet dan padat banget, terutama di weekend atau hari libur. Alhasil, si supir angkot ikutan ngebut parah ngeduluin si pakpol biar nggak kena tutup jalan. Berasa naik jet coaster. Seneng-seneng serem, hehe…

Singkat cerita kami sampai di stasiun. Karena belum sholat ashar, kami mampir dulu di mushola sekitar sana berkat keberanian si dia bertanya ke salah satu abang becak. Sempet juga pasang muka badak lagi masuk ke toko penjualan alat-alat travelling untuk kemudian berpisah karena saya harus balik ke Jakarta sementara dia mau tetap di Bogor ke rumah Masnya (bukan, bukan mas yang itu, ini Mas kandung, bahahaha).

Di sinilah keajaiban Jakarta kembali terjadi. Bogor-Jakarta makan waktu 3,5 jam, man! Karena jam 17.50-an kereta saya sudah jalan ke arah Jakarta, saya jadi optimis bisa shalat magrib di Juanda karena magrib sekarang sekitar jam setengah tujuh. But, setelah tiba-tiba bangun karena sempat ketiduran, ternyata jam tujuh kurang saya masih tertahan di Tebet! Panik, akhirnya saya putuskan transit Manggarai dan shalat magrib di sana karena takut keburu isya. Dan ternyata kereta ke Juanda kena gangguan sinyal. Tertahan selama satu jam di SATU stasiun pemberhentian sebelum stasiun tujuan itu rasanyaaa… Nggak cuma itu, waktu naik TransJakarta pun saya harus antre beberapa meter ke belakang di Harmoni. Padat banget dan bus nggak dateng-dateng. Hingga akhirnya, jam 21.30-an saya baru sampai di kosan. Lelahnyaaaa X_X

Kadang hidup di Jakarta ya begini ini. Saya dipaksa untuk strong. Menunggu udah bukan apa-apa lagi. Muka badak bisa jadi modal. Dikerjain abang angkot nggak cuma sekali-dua kali. Dibujuk abang ojek apalagi. Di-PHP-in udah nggak bisa dihitung lagi.

Tapi… kita emang nggak akan kuat kalau nggak diuji, kan? Dan akan selalu ada orang-orang baik seperti bapak angkot tadi, atau mbak pelayan pemberi rekomendasi tadi, yang bisa buat kita merasa lebih baik. Atau mungkin malah si dia yang selama seharian ini sudah mau menemani perjalanan yang panjang dan konyol ini. Selalu ada hal baik. Dan akan selalu ada pelajaran di setiap perjalanan ^^

Ngomong-ngomong, meskipun partner perjalanan hari ini disebut-sebut sebagai “si dia”, hampir semua orang deket bisa langsung komentar sambil tersenyum evil, “Halah! Paling juga cewek!”

estEtika

Advertisements

1 Comment

  1. Anonymous said,

    3 September 2017 at 10:00

    Ngakak bacanya… 😂😂😂 thanks for sharing


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: