Kajian Tauhiid Bulan November Bersama Aa Gym

Tanggal 8 November 2015 yang lalu, di Masjid istiqlal kembali digelar Kajian Tauhiid yang seperti biasa diisi langsung oleh Aa Gym. Karena datang agak terlambat, saya tidak sempat menyimak paparan ustad yang mengisi sebelumnya, dan hanya sempat mendengarkan pemaparan Aa Gym di bagian akhir acara. Meskipun terbilang terlambat, berikut rangkuman yang saya coba tulis kembali. Siapa tahu bisa sedikit bermanfaat.

Ilmu merupakan salah satu hal yang harus kita miliki. Sebagai umat Islam, tentunya ilmu yang sangat wajib kita miliki adalah ilmu tentang keislaman. Ada 3 macam ilmu islam yang harus dipelajari, yaitu (1) ilmu akidah, (2) ilmu syariat, dan (3) ilmu akhlak.

Ilmu akidah merupakan ilmu yang bertujuan sebagai pegangan hidup. Ilmu akidah ini akan mengantarkan seseorang kepada keimanan. Ilmu akidah ini diibaratkan dengan contoh berikut. Saat kita akan pergi ke Bandung dari Jakarta, tentu ada bermacam kendaraan yang bisa kita pilih sebagai “pegangan” dalam perjalanan kita. Ada bus, kereta, motor, mobil, atau mungkin dengan kaki sendiri. Kendaraan itu yang diibaratkan sebagai ilmu akidah. Karena tanpa kendaraan tersebut, mustahil rasanya kita bisa sampai ke tempat tujuan. Sama seperti tujuan kita menuju ridho-Nya, kita tentu perlu suatu “kendaraan” bernama akidah. Ilmu akidah ini tercermin dalam enam rukun iman. Tidak hanya sekadar hapal, tetapi juga memahami dan mengimani di dalam hati, serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Sedangkan ilmu syariat merupakan ilmu yang bertujuan sebagai jalan hidup. Ilmu syariat akan mengantarkan seseorang kepada keislaman. Dalam perjalanan menuju Bandung dari Jakarta, ilmu syariat diibaratkan sebagai rute jalan yang akan kita tempuh. Semisal kita sudah memutuskan untuk menaiki mobil, tentu ada bermacam rute yang bisa kita tempuh, seperti lewat tol, Cikampek, Sukabumi, atau mungkin juga muter dulu ke Banten baru ke Bandung. Semuanya insya Allah bisa, tapi tentu dengan medan dan waktu yang berbeda-beda. Jalan yang kita pilih dalam hidup ini bisa jadi lebih jauh tetapi lebih aman, atau justru lebih cepat tetapi tidak diridhoi. Adapun ilmu syariat ini tercermin dalam lima rukun islam. Tidak hanya ibadahnya saja, tetapi tata cara dan kekhusukan dalam ibadah itu sendiri yang akan semakin mendekatkan kita kepada-Nya.

Terakhir yaitu ilmu akhlak, merupakan ilmu yang bertujuan sebagai perilaku hidup. Ilmu akhlak akan mengantarkan seseorang menjadi manusia yang ihsan. Dalam perjalanan ke Bandung tadi, ilmu akhlak dianggap sebagai perilaku kita selama dalam perjalanan. Sebagai contoh, kecepatan maksimal dan minimal saat mengendarai mobil di tol tentu harus diperhatikan. Selain itu juga perilaku aman dalam berkendara, seperti berdoa sebelum perjalanan, mengenakan sabuk pengaman, tidak mengeluarkan anggota badan keluar jendela, tidak buang sampah sembarangan, serta tidak mengantuk atau mengerem mendadak. Jika perilaku-perilaku tersebut diterapkan, insya Allah perjalanan tersebut akan selamat sampai tujuan. Sama seperti kita, perjalanan hidup di bumi ini menuju ke akhirat kelak insya Allah akan selamat selama perilaku kita senantiasa terjaga. Ilmu akhlak ini sendiri tercermin dalam sikap yang seakan-akan selalu dilihat Allah. Karena selalu merasa dilihat Allah, perilaku akan selalu terjaga dan tidak berani berbuat maksiat.

Ketiga ilmu tersebut, tentu tidak akan diperoleh tanpa usaha. Beberapa usaha dalam mencari ilmu sekarang ini sudah luas, tidak hanya sekadar duduk di majelis ilmu, tetapi bisa juga lewat media lain seperti televisi, radio, buku, atau internet, tentunya dengan memilah-milah terlebih dahulu kesahihan dan kebermanfaatannya. Namun, menurut hadist dikatakan bahwa metode belajar yang paling baik adalah dengan cara tanya-jawab. Adapun dalam mencari ilmu juga ada adab-adabnya tersendiri, yaitu tidak secara harfiyah saja, tetapi juga mencakup tentang tata cara berinteraksi dengan guru. Selain sikap yang baik, pakaian dan rambut juga harus rapi, serta duduk tegak mendengarkan guru dengan baik.

Sifat islam sendiri pada dasarnya ada tiga, yaitu (1) tidak menyulitkan, (2) sedikit beban, dan (3) bertahap dalam penentuan syariatnya. Islam tidak pernah menyulitkan dan membebankan. Sebagai contoh, dalam keadaan darurat, kita diberi keringanan untuk memilih melakukan sesuatu yang sebelumnya bersifat haram. Namun, keringanan dalam menentukan pilihan itu tetap ada syaratnya, yaitu memilih pilihan yang paling kecil mudharatnya dan banyak manfaatnya, serta tidak melampaui batas.

Oh ya, tujuan syariat islam itu ada lima, yaitu (1) menjaga agama, (2) menjaga akal, (3) menjaga jiwa, (4) menjaga keturunan, dan (5) menjaga harta. Sebagai bukti adalah adanya perintah berperang di jalan Allah dan larangan berbuat syirik, perintah mencari ilmu dan larangan meminum alkohol, anjuran menjaga kesehatan dan larangan membunuh jiwa yang haram, anjuran menikah dan larangan berzina, serta kewajiban berzakat dan larangan mencuri. Terbukti sudah.

Sebagai tambahan informasi, di alam semesta ini ada berbagai aturan yang sudah Allah tetapkan untuk kita. Namun, segala macam aturan itu juga perlu dilaksanakan sesuai waktunya. Patokan waktu bisa dari matahari dan bulan. Sebagai contoh, matahari berfungsi dalam hal menentukan waktu shalat dan zakat. Karena seperti yang kita tahu, shalat juga punya waktu-waktunya sendiri yang jika tidak dikerjakan pada waktu yang sudah ditentukan tersebut, bisa berakibat shalat kita tidak diterima. Petunjuknya adalah dari matahari, seperti sebelum terbitnya matahari untuk shalat subuh, matahari mulai terasa panas bagi anak unta untuk shalat dhuha, dan seterusnya. Sama halnya dengan batas akhir membayar zakat, yang akan berakhir saat terbitnya matahari di bulan syawal. Sementara itu, bulan berfungsi dalam hal menentukan waktu puasa dan haji, seperti bulan Ramadhan untuk puasa Ramadhan sebulan penuh dan bulan Dzulhijjah untuk melaksanakan ibadah haji.

Selebihnya, kita diminta untuk sejenak bermuhasabah diri. Setelah sekian lama hidup di bumi ini, berapa banyak waktu, pikiran, tenaga, dan biaya yang kita gunakan untuk kebaikan. Katakan dalam hal waktu saja, sudah berapa banyak waktu yang terlewat begitu saja. Dalam sehari saja, berapa banyak waktu yang sudah kita habiskan untuk beramat sholeh, bermaksiat, dan tanpa amal sholeh sedikit pun. Umur pada dasarnya bukan sekadar bilangan tahun, tetapi banyaknya ilmu yang kita miliki. Sudah tua begini tapi ilmu masih itu-itu saja, rasanya tidak ada bedanya dengan anak kecil yang juga tidak tahu apa-apa.

Salah satu tips memanfaatkan waktu dengan baik adalah dengan berdzikir. Bisa dzikir apa saja, tasbih, tahmid, tahlil, atau takbir. Anda pekerja atau mahasiswa? Manfaatkan perjalanan menuju kantor atau kampus dengan berdzikir. Anda ibu rumah tangga? Manfaatkan waktu memasak atau membersihkan rumah dengan berdzikir. Hikmah berdzikir semacam ini adalah tidak hanya disaksikan oleh Allah, tetapi malaikat, bumi, dan anggota badan kita sendiri juga bisa menjadi saksi. Karena kita tidak pernah tahu, amalan dan perbuatan baik apa yang bakal diterima Allah.

Sebagai penutup, Imam Syafi’i pernah mengikuti suatu majelis ilmu dan mendapatkan pelajaran antara lain sebagai berikut. (1) Waktu adalah pedang. Jika tidak digunakan dengan baik, pedang itu bisa melukai diri kita sendiri. (2) Nafsu yang tidak disibukkan dengan kebaikan, akan membawa kepada keburukan dan kemaksiatan.

Demikian yang bisa saya rangkum dan tuliskan kembali. Semoga bermanfaat.

estEtika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: