Bicara Tentang Baper

Suatu saat ketika masih kuliah, saya merasa tidak enak badan. Akhirnya, saya terpaksa tidak masuk kuliah pagi dan memilih untuk tidur sebentar di kosan. Menjelang siang, tiba-tiba saya merasa sayang untuk melewatkan jam kuliah sore. Karena sudah lebih segar usai istirahat tadi, saya pun memutuskan untuk berangkat kuliah sore.

Pada forum diskusi, beberapa teman sekelompok sempat menanyakan mengapa saya tidak masuk kuliah pagi. Sakit. Bisa jadi jawaban itu terdengar sangat klasik untuk suatu alasan bolos kuliah. Buktinya, saat pembagian tugas kelompok, beberapa anggota tidak terlalu peduli dengan keadaan saya. Sampai akhirnya, tiba-tiba seorang pria berkata, “Dia sama aku aja ngerjain tugas yang gampang. Dia, kan, lagi sakit.”

Baper? Bisa jadi.

***

Saat masih SMP dulu, saya pernah diajak salah satu teman pria untuk main ke rumah salah satu teman wanita. Berangkat sore hari sepulang sekolah, kami asyik mengobrol dan bermain apa saja. Mereka sempat bermain kartu, tetapi karena terlalu polos dan tidak tahu bagaimana peraturan bermainnya, saya hanya menonton mereka bermain sambil bertanya-tanya sendiri.

Terlalu asyik bermain, kami lupa bahwa hari sudah malam. Ibu pemilik rumah bahkan sudah mengusir kami dengan halus. Saya syok karena ternyata jam memang sudah menunjukkan pukul sembilan lebih. Jujur saya tidak terbiasa pulang malam, apalagi saat itu saya membawa motor sendiri. Namun, teman pria yang rumahnya berlawanan arah dengan arah rumahku itu tiba-tiba justru berkata, “Aku pulangnya lewat rumahmu, ya?”

Baper? Mungkin.

***

Saat masih jadi mahasiswa, bikun adalah kendaraan ternyaman sepanjang masa. Saat itu saya membawa tas ransel yang cukup penuh dan terbilang berat. Saya naik dari salah satu halte untuk menuju ke halte yang berada tepat di depan gedung fakultas saya. Keadaan bikun saat itu tidak terlalu padat, tetapi semua tempat duduk sudah terisi penuh.

Saya memakai ransel di bagian depan karena selain mencegah kecopetan dan agar tidak mengganggu penumpang lain, ransel berat yang dipakai di bagian depan bisa sekaligus ditahan dengan kedua tangan sehingga tidak terlalu berat. Namun, tiba-tiba bangunlah seorang pria ganteng dari tempat duduknya sembari menawari saya untuk duduk. Dia yang nyatanya justru turun setelah saya turun, sebelumnya malah sempat berbohong, “Nggak papa, (saya) turun sebentar lagi, kok.”

Baper? Siapa yang tahu.

***

Pada suatu kegiatan, pernah saya meminjam motor salah satu teman pria untuk mengambil suatu instrumen. Karena jalanan sangat macet, saya menghabiskan waktu sekitar dua jam di jalanan dan sempat membuat teman-teman panik karena instrumen yang mereka butuhkan belum juga datang. Begitu saya muncul membawa instrumen tersebut, semua orang terlihat begitu lega, kecuali teman pria yang tidak lain dan tidak bukan adalah pemilik motor yang saya pinjam.

Begitu melihat batang hidung saya, entah mengapa dia langsung marah dan ngomel nggak jelas kenapa saya lama sekali. Saya tidak terlalu ingat pasti dengan apa yang ia omelkan, tetapi ia jelas terlihat kesal sambil menyebut-nyebut instrumen penting itu sebagai alasan. Namun, entah mengapa saya sedikit merasa bahwa dia bukan marah karena saya terlambat datang, tetapi lebih karena khawatir kenapa saya tidak kunjung datang. Saya merasa begitu ketika akhirnya dengan antiklimaks dia justru bertanya kikuk, “Ngomong-ngomong, helmnya nggak bau, kan?”

Baper? Entahlah.

***

Cewek cenderung mudah baper. Dikasih perhatian sedikit, hati bisa besar-besaran mendukung bahwa kebaikan itu hanya ditujukan khusus padanya saja. Padahal belum tentu. Siapa yang tahu kalau orang lain juga dikasih perhatian yang sama? Siapa yang bisa menjamin kalau bukan kita yang ada di posisi itu, lalu si dia tidak melakukan hal yang sama?

Terkadang kita terlalu banyak berkhayal. Terlalu banyak ekspektasi. Apalagi jika ekspektasinya sudah subjektif mengarah kepada salah satu orang saja, khususnya orang yang kita ekspektasikan lebih.

Kasus-kasus di atas tergolong simpel. Siapa pun cowok atau ceweknya, saat dalam kondisi demikian, perlakuannya bisa jadi serupa. Si cowok bakal terkesan “perhatian” dan si cewek bakal terkesan “baper”. Selalu begitu. Padahal belum tentu.

Jika si cowok benar perhatian dan si cewek benar baper, hal ini tidak menjadi masalah. Tinggal bagaimana mereka saling mengungkapkan apa yang mereka masing-masing rasakan.

Jika si cowok benar perhatian tapi si cewek nggak baper, hal ini bukan masalah besar bagi si cowok. Selama si cowok terus perhatian dengan tulus, rasanya mudah bagi si cewek untuk lama-kelamaan menerima perhatian itu karena sejatinya cewek lebih mudah “belajar” untuk baper.

Jika si cowok tidak benar-benar perhatian tapi si cewek malah baper, ini masalah besar bagi si cewek. Saat si cowok sejatinya hanya basa-basi atau melakukannya secara spontanitas tanpa “rasa” apa pun sementara si cewek sudah telanjur baper, lantas ia bisa apa? Paling-paling menatap nanar keluar jendela yang sudah basah dengan air mata, eh, air hujan.

Jika si cowok tidak benar-benar perhatian dan si cewek nggak baper, ini malah jadi masalah buat penulis. Ia pun jadi bertanya-tanya sendiri, apakah suatu ketika kedua orang ini bisa bersatu? Hihihi…

Sebenarnya “jika” yang terakhir ini malah yang jadi masalah besar. Bagaimana mungkin seorang pria nggak punya rasa perhatian sama wanita? Lihat kesusahan wanita, tak acuh. Lihat kelemahan wanita, berpaling. Lihat perjuangan wanita, melengos. Pria macam apa ini?! Wanitanya juga sama. Bagaimana mungkin seorang wanita nggak punya perasaan sama sekali sama pria?

Maka, inilah fitrahnya. Pria dicipta untuk membantu wanita. Memimpinnya, membimbingnya, mengarahkannya, meringankannya. Perhatian itu salah satu bentuknya. Sementara wanita dicipta untuk merasa. Dan juga untuk membantu pria. Agar pria bisa memimpinnya, membimbingnya, mengarahkannya, meringankannya.

Perhatian dan baper itu tetap harus ada. Karena mereka yang secara implisit menyebut kata cinta. Cinta dalam arti yang luas, sebagai sesama makhluk Tuhan. Karena perhatian bisa menjadi cinta. Karena baper juga bisa menjadi cinta. Sekali lagi, cinta dalam arti yang luas, sebagai sesama makhluk Tuhan.

Karena, jika perhatian dianggap sebagai perumus dan penyampai kode, [maka] baper adalah penerima dan penerjemahnya.

Tapi, perhatian dan baper jangan sampai berlebihan. Cukup perhatian pada saat itu saja, saat dibutuhkan. Lalu lupakan. Lepaskan. Sama halnya dengan baper, cukup baper pada saat itu saja. Selebihnya lupakan. Lepaskan. Karena perhatian dan baper yang berlebihan, tidak baik untuk kesehatan. Iya, kesehatanmu itu, lho. Itu.

estEtika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: