Rangkuman Perjalanan Lost in Vietnam

Salah satu foto candid dan momen faforit saya, yaitu saat kami "menggelandang" dan berjalan kaki mengitari kota Saigon (Ho Chi Minh). Captured and owned by one of our friend, Mister U. Thanks for a nice pict ^^

Salah satu foto candid dan momen faforit saya, yaitu saat kami “menggelandang” dan berjalan kaki mengitari kota Saigon (Ho Chi Minh).
Captured and owned by one of our friends, Mister U. Thanks for a nice pict ^^

Ini adalah rangkuman perjalanan selama 6 hari pada pertengahan Maret 2016 lalu, dengan rute persinggahan MalaysiaVietnam (Ho Chi Minh, Dalat, Mui Ne)—Singapura. Kami pergi berlima, dua orang cewek dan tiga orang cowok. Tiket pemberangkatan dibeli dengan harga promo sekitar setahun yang lalu, sedangkan tiket kepulangan baru dibeli sekitar sebulan sebelum hari H. Dari CGK kami berangkat hanya berempat karena seorang lagi menyusul dan langsung bertemu di Vietnam nanti.

Perjalanan menuju bandara CGK saya awali sendiri dari Stasiun Gambir dengan menggunakan Bus Damri bertarif Rp 40.000 selama sekitar satu jam, yaitu berangkat pukul 17.00 dan sampai pada pukul enam lebih. Waktu boarding adalah pukul 20.25 sehingga sebenarnya di bandara masih ada waktu untuk shalat, makan, dan santai-santai (tapi kami hanya sempat shalat karena satu dan lain hal). Pesawat yang kami gunakan adalah Air Asia tujuan KLIA.

Hari Pertama, Malaysia

Kami sampai di KLIA menjelang tengah malam. Lapar karena belum sempat makan malam, kami memutuskan makan malam di KFC yang ada di dalam bandara. Menu paket standar, yaitu paha goreng dan minum (tanpa nasi), dipatok seharga 4,6 MYR. Usai makan, kami mencari spot untuk istirahat, yaitu di dalam Mushola yang ada di dekat KFC itu. Di dalam Mushola kami bisa tidur (saat itu tidak terlalu ramai, tapi banyak pula akhwat yang tidur di sana). Ruangan di sini sangat dingin sehingga disarankan menyiapkan jaket dan selimut tipis/kain bali/pashmina.

Shalat Shubuh sekitar pukul setengah enam kurang. Di sekitar Mushola ini juga ada fasilitas toilet dan shower sehingga bisa digunakan untuk mandi. Usai shalat dan bebersih, kami berempat berkumpul lagi di luar dan jalan-jalan sebentar mengelilingi bandara. Sadar akan waktu boarding yang semakin dekat, kami memutuskan untuk segera melakukan check in. Saran: persiapkan bukti pembayaran atau print tiket karena di sini kami sempat kelabakan, lupa di mana menyimpan bukti pembayaran tiketnya. Jangan keasyikan jalan di bandara sampai lupa waktu boarding.

Terlalu mepet karena keasyikan mengelilingi bandara dan riweh dengan urusan tiket, kami hanya punya sisa waktu sekitar 10 menit untuk sarapan. Kami memilih menu Nasi Lemak yang restonya ada di sekitar gate. Harga satu porsi Nasi Lemak 9,45 MYR.

Hari Kedua, Ho Chi Minh, Vietnam

Kami take off dari KLIA dengan menggunakan pesawat Air Asia menuju bandara Than Son Naht, Saigon (Ho Chi Minh), sekitar pukul delapan, dan sampai sekitar pukul sebelas. Agenda pertama adalah menuju Ben Than Market di kawasan Distrik 1. Dari informasi yang kami dapat sebelumnya, ada bus yang bisa membawa kami ke sana, yaitu bus nomor 152 yang ada di Terminal 12 bandara, dengan tarif 5.000 VND. Alhamdulillah, di sini kami bertemu dengan supir bus yang bisa berbahasa Melayu, sehingga sepanjang perjalanan kami serasa seperti punya guide yang menjelaskan macam-macam ^^

Suasana jalanan di salah satu sudut Ho Chi Minh yg diambil dari dalam bus. Captured and owned by Miss A (@zakiyahnurunnisa)

Suasana jalanan di salah satu sudut Ho Chi Minh yg diambil dari dalam bus.
Captured and owned by Miss A (@zakiyahnurunnisa)

Tujuan awal kami adalah agen bus Phuong Trang untuk memesan tiket bus nanti malam tujuan Dalat. Saran: siapkan tulisan tangan atau foto lokasi yang akan dituju karena penulisan dan pengucapan di Vietnam berbeda; mereka sering tidak paham dengan ucapan nama tempat yang kami tanyakan. Supir bernama Mister Bui ini kemudian menurunkan kami di tempat terdekat menuju agen bus Phuong Trang. –Thank you so much, Mister Bui 😀

Agen Bus Phuong Trang. Captured and owned by Miss A (@zakiyahnurunnisa).

Agen Bus Phuong Trang.
Captured and owned by Miss A (@zakiyahnurunnisa).

Tiket sleeper bus menuju Dalat dipatok dengan harga 210.000 VND per orang, dan kami mengambil jam keberangkatan pukul 22.00. Namun, kami diminta untuk sudah tiba di sini satu jam sebelum jam keberangkatan. Perjalanan dari Ho Chi Minh menuju Dalat diperkirakan memakan waktu sekitar 5—6 jam.

Usai memesan tiket, kami berjalan kaki di sekitar sana, kemudian menemukan tempat penyewaan motor. Harga sewa motor dipatok 100.000 VND per motor dengan syarat saat kembali bensin harus full (saat kami kembali dan bensin nggak full, kami diminta biaya tambahan lagi). Saran: cari banyak informasi tentang traffic di sini dari pemilik sewa, termasuk juga teliti dengan surat kontrak yang mereka berikan (kalau ada); jangan sampai kita dirugikan.

Sedikit informasi, jalanan di Vietnam ini terbilang semrawut. Jalanan didominasi oleh motor dan klakson yang bersaut-sautan. Setir di Vietnam ada di sebelah kiri sehingga kendaraan berjalan di sebelah kanan, bukan di kiri seperti di Indonesia. Hati-hati saat belok atau putar arah; biasanya hal ini bikin bingung dan bikin kita refleks jalan di sebelah kiri jalan.

 

Tips untuk muslimah yang terpaksa membonceng lawan jenis:

Karena pakai rok, bonceng miring biasanya lebih nyaman untuk muslimah. Namun, terkadang bonceng dengan cara duduk silang (bukan miring) lebih terkesan “safe” saat berkendara—apalagi kalau medannya berat. So, insya Allah it’s no problem selama sudah ada persiapan berikut.

  • Kenakan rok yang agak lebar untuk mempermudah saat naik dan duduk (agar bisa langsung naik tanpa pijakan motor dan tanpa berpegangan dengan pundak si pengemudi).
  • Jangan lupa untuk pakai kaos kaki panjang dan celana panjang lagi di dalam rok, sebagai bentuk pencegahan saat rok tersibak. Kalau bisa, celananya yang model legging atau Aladin karena celana model biasa suka ikutan “naik” saat rok terangkat.
  • Kenakan jaket supaya kerudung nggak tersibak-sibak oleh angin.
  • Usahakan untuk ikut lihat keadaan jalan sehingga bisa siap-siap saat pengendara tiba-tiba berbelok atau mengerem mendadak.
  • Kaki harus nyaman berpijak pada pijakan motor yang tersedia, dan tangan harus sigap juga dengan pegangan motor di bagian belakang.
  • Terakhir, sebisa mungkin minimalisasi pembicaraan nggak penting selama berkendara dengan si pengemudi.

 

Tujuan kami selanjutnya adalah masjid untuk shalat Dhuhur. Kami mengandalkan tanya-tanya dengan bahasa planet dan gerakan tubuh yang abstrak kepada orang-orang sekitar, yang sebagian besar nggak bisa bahasa Inggris. Dengan susah payah, akhirnya kami temukan juga masjid di kawasan Distrik 1 ini, yaitu Masjid Al-Rahim Malaysia- Indonesia.

Masjid Al-Rahim Malaysia-Indonesia di kawasan Ben Than. Captured by Mister I and owned by Miss A.

Masjid Al-Rahim Malaysia-Indonesia di kawasan Ben Than.
Captured by Mister I and owned by Miss A.

Masya Allah, sambutan kepada musafir sangat baik! Usai shalat, kami dipersilakan duduk-duduk beristirahat sejenak di sana. Karena sudah lewat jam makan siang, kami sekalian bertanya kepada marbot masjid dan orang sekitar tentang makanan halal. Sayang, sebagian besar warung makan halal di sini hanya buka dari pagi sampai tengah hari. Namun, di sini kami bertemu dengan seorang ibu asal Singapura yang sudah lama tinggal di Vietnam dan bisa bahasa Melayu. Beliau bersedia mencarikan dan memesankan kami menu makan siang. Alhasil, kami mendapat menu makan siang berupa nasi putih, kari ikan, dan semur ayam-telur, hanya dengan harga total 155.000 VND untuk berempat. Alhamdulillah ^^

Makan siang (nasi putih, kari ikan, semur ayam-telur). Captured by Mister I and owned by Miss A.

Makan siang (nasi putih, kari ikan, semur ayam-telur).
Captured by Mister I and owned by Miss A.

Tujuan kami selanjutnya adalah Reunification Palace. Di sana kami bertemu dengan seorang lagi yang datang menyusul sehingga sekarang ini kami sudah lengkap berlima. Reunification Museum atau dikenal juga dengan Reunification Palace atau Independence Palace, dibangun di tempat yang sebelumnya bernama Norodom Palace. Ini merupakan rumah dan tempat kerja Presiden Vietnam Selatan selama terjadi Perang Vietnam. Bangunan ini memiliki luas sekitar 120.000 meter persegi, dan terdapat banyak sekali ruangan yang dipamerkan, seperti aula konferensi, kantor Presiden, ruangan duta besar, tempat tidur, ruang makan atau perjamuan, ruang multimedia, ruangan bermain, sampai heliped beserta helikopternya. Tempat ini tutup pada pukul 17.00 dengan HTM 30.000 VND.

Reunification Palace atau Reunification Museum atau Independence Palace. Captured by unknown and owned by Miss A (@zakiyahnurunnisa).

Reunification Palace atau Reunification Museum atau Independence Palace.
Captured by unknown and owned by Miss A (@zakiyahnurunnisa).

Tujuan kami selanjutnya adalah Saigon Post Office. Tempat ini sebenarnya adalah kantor pos, yang juga digunakan sebagai museum dan tempat penjualan oleh-oleh. Di sini pengunjung bisa mengirimkan post card alias kartu pos khas Vietnam ke keluarga atau teman-teman di tanah air. Beragam kerajinan tangan dan oleh-oleh khas Vietnam juga dijual di sini, mulai dari pembatas buku, kartu ucapan, magnet, piringan, kaos, sampai tas dan dompet lucu. Selain itu, ada juga kopi vietnam, teh, cokelat, dan jajanan khas vietnam lainnya. Sayangnya, status kehalalan makanan di sini tidak bisa dipastikan. Kalau mau masuk ke sini, sebisa mungkin sebelum pukul 18.00.

Saigon Post Office. (Captured and owned by me).

Saigon Post Office.
Captured and owned by me.

Tepat di depan Saigon Post Office, ada pula Notre Dam Cathedral, gereja terbesar di Ho Chi Minh. Bangunannya besar, luas, dan tinggi menjulang, dengan desain yang mirip-mirip dengan istana zaman dulu. Secara umum bentuknya juga nggak jauh beda dengan Cathedral yang ada di Jakarta. Di depan gereja juga ada taman dan patung besar Yesus.

Notre Dam Cathedral of Saigon. Captured and owned by Miss A (@zakiyahnurunnisa).

Notre Dam Cathedral of Saigon.
Captured and owned by Miss A (@zakiyahnurunnisa).

Karena hari semakin petang dan sudah masuk waktu Maghrib, kami memutuskan untuk berburu masjid lagi, dan akhirnya kami temukan Masjid Musulmand (Saigon Central Mosque) yang katanya adalah masjid yang dibangun oleh orang-orang India. Di sini sambutan untuk musafir juga sangat baik. Saya dan teman saya bahkan ditawari semacam kue manis yang ditaburi parutan kelapa di atasnya oleh mbah putri pengurus masjid dan seorang ibu paruh baya ^^

Masjid Musulmand (Saigon Central Mosque). Captured and owned by Miss A (@zakiyahnurunnisa).

Masjid Musulmand (Saigon Central Mosque).
Captured and owned by Miss A (@zakiyahnurunnisa).

Kami makan malam di masjid ini bersama-sama, dengan menu sisa kari ikan dan semur ayam-telur tadi siang yang kami bungkus, serta roti vietnam yang sempat kami beli di depan masjid seharga 5.000 VND per buah (bentuk dan rasanya mirip seperti roti perancis). Di sini terasa banget musafir dan kebersamaannya karena kami berlima makan seadanya bersama-sama, comot-comotan pakai tangan, plus lesehan di dalam masjid.

Seharusnya kami masih punya waktu untuk mengitari kota Ho Chi Minh di malam hari. Namun, di sini kami kehabisan waktu karena terlalu lama menunggu pesanan makanan di salah satu resto halal. Di sana kami memesan 5 porsi nasi putih, 2 porsi Ayam Bakar Meksiko, dan Udang Goreng Tepung untuk persediaan makan di Dalat. Fyi, di Dalat sama sekali nggak ada masjid dan kami berasumsi bakal sulit mendapat makanan halal. Karena itu, kami memutuskan untuk membawa bekal makanan dari sini. Untuk menu-menu di atas, harganya sekitar 250.000 VND.

Usai mengembalikan motor, kami langsung menuju ke agen bus Phuong Trang. Rupanya di sana kami masih harus diangkut dengan menggunakan semacam mobil travel untuk menuju terminal pemberangkatan bus. Alasan inilah yang membuat mereka meminta kami datang satu jam sebelum jam pemberangkatan.

Di terminal, kami harus menunggu giliran sesuai jam pemberangkatan yang ada tiket. Sleeper bus ini sangat nyaman karena bangkunya memang didesain seperti tempat tidur sehingga penumpang bisa beristirahat selama perjalanan. Tempat tidurnya pun tingkat dan disediakan pula selimut. Ransel besar bisa disimpan di bagasi, sementara tas kecil dan barang berharga sebaiknya tetap dibawa sendiri. Sebelum naik, alas kaki harus dilepas dan disimpan di kantong plastik yang telah disediakan. Tepat pukul 22.00 bus pun berangkat menuju Dalat.

Penampang luar Sleeper Bus. Captured and owned by Miss A (@zakiyahnurunnisa).

Penampang luar Sleeper Bus.
Captured and owned by Miss A (@zakiyahnurunnisa).

Hari Ketiga, Dalat, Vietnam

Kami sampai di Dalat sekitar pukul tiga dini hari. Permberhentian terakhir ini sepertinya adalah terminal, tetapi tidak terlalu jelas juga karena keadaan yang gelap. Udara Dalat yang dingin mulai menusuk tulang meski kami semua sudah mengenakan jaket. Di sini banyak taksi yang menawarkan jasanya, tetapi sebelumnya kami sempat searching kalau di sini ada mobil yang bisa mengantar kami ke hotel secara free alias gratis. Bentuk mobilnya sama persis dengan mobil travel yang mengantar kami dari agen bus ke terminal semalam. Benar saja, setelah menyapu isi terminal, kami menemukan mobil tersebut di sisi sudut terminal. Supirnya diam saja (nggak nawar-nawarin) mungkin karena banyak supir taksi juga di sana. Setelah menunjukkan alamat hotel yang kami maksud dan bertanya apakah ini free, si bapak langsung menjawab free, membukakan pintu, dan membantu kami mengangkut barang-barang ke dalam mobil. Alhamdulillah ^^

Kami menginap di 24-Hour Guesthouse yang kalau dari alamatnya ada di kawasan Hai Thuong, Dalat. Meskipun masih pagi buta dan belum masuk waktu check in, kami tetap disambut baik, dengan diberi tempat istirahat di semacam kamar berisi beberapa kasur tingkat. Bentuknya seperti asrama. Di sana kami melanjutkan istirahat sampai masuk waktu Subuh, shalat dan sempat tidur lagi karena masih lelah, sarapan bekal makan dari Ho Chi Minh yang kami hangatkan dulu di pantry, serta antre mandi di kamar mandi bersama.

Kami baru keluar penginapan sekitar pukul sepuluh lebih. Di sini kami menyewa motor lagi, dengan tarif 100.000 VND per motor. Proses sewa motor di sini jauh lebih simpel dibanding saat kami di Ho Chi Minh, yaitu tanpa surat kontrak dan hanya tinggal bayar sewa saja. Di sini kami juga sempat meminta peta sebagai penunjuk jalan.

Tujuan pertama sebenarnya adalah Flower Park, tetapi karena saat perjalanan melewati Pagoda, kami pun memutuskan untuk mampir di sini. Sayangnya, tidak ada yang tahu apa nama Pagoda ini. Di sini kami diizinkan melihat-lihat setelah bertanya pada salah satu bapak yang ada di sana. Tempat ibadah ini penuh dengan patung, dupa, ruang ibadah, dan sesajen. Di salah satu sudut terdapat pagoda yang ternyata tidak terlalu besar, tetapi tetap unik. Di depannya terdapat kolam, yang ternyata di bagian tengahnya terdapat beberapa miniatur tokoh-tokoh Song Gokong.

Salah satu Pagoda di Dalat yang dengan seenaknya kami beri nama Pagoda Song Gokong. Captured and owned by Miss A (@zakiyahnurunnisa).

Salah satu Pagoda di Dalat yang dengan seenaknya kami beri nama Pagoda Song Gokong.
Captured and owned by Miss A (@zakiyahnurunnisa).

Usai dari Pagoda, kami melanjutkan perjalanan ke Flower Park Dalat. Flower Park ini hanya buka sampai pukul 16.00 sore, dengan HTM 30.000 VND per orang. Bentuknya mungkin mirip seperti Taman Bunga Nusantara di Cipanas, dan jujur masih lebih bagus di Cipanas. Meski begitu, tanaman dan bunga-bunga di sini juga terawat dan banyak yang sedang mekar. Karena sudah masuk waktu shalat Dhuhur, di sini kami mencari spot sholat di salah satu balai-balai. Ini pertama kalinya kami shalat di alam terbuka pada perjalanan kali ini ^^

Pintu masuk Flower Park Dalat. Captured and owned by Miss A (@zakiyahnurunnisa).

Pintu masuk Flower Park Dalat.
Captured and owned by Miss A (@zakiyahnurunnisa).

Susah mencari makanan halal (sebagian besar rumah makan di sini punya menu babi), Qadarullah kami menemukan cafe Korea, namanya Co Cafe. Karena salah satu teman adalah lulusan Sastra Korea, kami pun memutuskan untuk PDKT dengan pemiliknya. Setelah mereka saling berbincang dengan bahasa planet yang kami berempat nggak ngerti, teman saya kemudian menjelaskan bahwa tempat ini sebenarnya adalah kedai kopi. Namun, karena kemarin baru ada acara dan mereka masih punya sisa bahan makanan, mereka pun bersedia memasakkannya khusus untuk kami—setelah sebelumnya menjelaskan bahwa kami tidak makan babi dan alkohol. Alhamdulillah… Di sini kami disuguhkan nasi putih, telur ceplok, kimchi, semacam sayuran yang diberi tepung kemudian digoreng, dan bulgogi. Untuk minumnya kami memesan jus markisa dan kopi vietnam. Saat meminta bill, uniknya mereka justru tidak memasukkan makanan kami ke dalam tagihan. Saat itu saya hanya perlu membayar 24.000 VND untuk segelas jus markisanya saja. Alhamdulillah ^^

Tujuan selanjutnya adalah Datanla Waterfall. Tempat ini buka sampai pukul 17.00 dengan HTM 20.000 VND. Di sini kami menaiki roller coaster yang digerakkan sendiri secara manual dengan menggunakan tuas. Harga tiket untuk perjalanan PP adalah 50.000 VND. Roller coaster ini yang membawa kami ke spot air terjun utama. Di sini kami juga sempat mencoba menaiki cable car dengan harga tiket PP 200.000 VND yang kemudian kami bagi untuk berlima. Di sini ada juga wahana memanah, yang dipatok dengan tarif kalau tidak salah 20.000 VND untuk 3 kali percobaan. Udara di Datanla ini sangat segar dan dengin, dengan deru air terjun yang cukup keras. Cocok untuk terapi “kabur” dari daerah urban.

Salah satu sudut air terjun utama di Datanla Waterfalls. (Sensor muka karena nggak ada foto lain dengan angle bagus). Selfie by Mister O and owned by Mister U.

Salah satu sudut air terjun utama di Datanla Waterfalls. (Sensor muka karena nggak ada foto lain dengan angle bagus).
Selfie by Mister O and owned by Mister U.

Dari Datanla, kami lanjut ke lokasi selanjutnya di daerah kota. Di sini kami sempat menemui kendala yang sebenarnya sudah terjadi sejak dari Pagoda tadi, yaitu motor mogok. Namun, kali ini lebih parah dan yang paling menghabiskan banyak waktu dan tenaga. Dengan usaha keras, akhirnya kami kembali ke tempat sewa motor untuk meminta tukar motor dan Alhamdulillah diizinkan.

Kami sampai di Crazy House saat hari sudah berganti malam. Tempat ini sebenarnya adalah penginapan, yang dibuka untuk umum sejak pukul 08.30 sampai 19.00 dengan HTM 40.000 VND. Tempat ini berisikan bangunan-bangunan unik bertema fairy tale, dengan bentuk bangunan seperti jamur, goa, sarang laba-laba, batang pohon, dan lain-lain. Masing-masing bangunan dihubungkan dengan terowongan atau tangga yang bentuknya juga unik. Karena kami datang malam hari, suasana di sini semakin terasa mencekam dan agak horor. Beberapa spot semakin terlihat seperti rumah penyihir yang menyeramkan. Saran: yang takut gelap atau hal-hal horor, jangan datang menjelang malam.

Salah satu spot bagus di Crazy House. Mirip rumah penyihir. Captured by Mister U and owned by Miss A.

Salah satu spot bagus di Crazy House. Mirip rumah penyihir.
Captured by Mister U and owned by Miss A.

Dari Crazy House kami kembali ke penginapan. Karena kesulitan mendapat makanan halal, akhirnya kami hanya membeli nasi putih, dan memutuskan untuk memasak popmie dan sosis yang kami bawa dari Indonesia, serta menghangatkan kembali ayam bakar dan udang goreng tepung sisa sarapan tadi.

Di Dalat ini banyak kejadian tidak terduga, seperti motor yang mogok-mogokan dan salah satu teman yang sakit. Meski agak berat dan melelahkan, overall kota ini tetap penuh dengan kenangan dan hal menyenangkan ^^

Hari Keempat, Mui Ne, Vietnam

Pagi harinya, kami bersiap untuk naik bus menuju Mui Ne yang menjemput kami di hotel ini tepat pukul 07.15. Setelah membayar administrasi hotel sebesar 230.000 VND untuk satu kamar berisi dua orang, kami langsung pamit dan naik bus yang sudah menunggu di depan. Ini adalah bus biasa sekelas bus eksekutif. Tarifnya 150.000 VND per orang. Perjalanan ke Mui Ne menghabiskan waktu sekitar 3 jam. Perjalanan ini juga sempat berhenti di rest area selama beberapa lama. Di sini saya sempat membeli satu buah mangga seharga 25.000 VND karena lapar, meskipun di bus sebelumnya sempat makan jambu air yang kami beli di Dalat seharga 30.000 VND per kilogram.

Sampai di Mui Ne, kami langsung naik taksi ke hotel yang sudah kami pesan sebelumnya, yaitu Hoang Nga Garden Hotel. Di hotel ini kami juga memesan jasa tur Mui Ne dari jam 14.00 sampai 18.30 nanti, serta tiket bus menuju Ho Chi Minh pukul 02.30 dini hari nanti. Total biaya hotel, tur, dan bus per orang adalah 400.000 VND.

Karena masih ada waktu, kami pun memutuskan untuk sholat di kamar, kemudian keluar untuk mencari makan siang. Di Mui Ne ini juga nggak ada masjid sama sekali, tetapi karena dekat dengan pantai, di sini kami bisa datang ke restoran seafood untuk mendapat makanan halal. Kami pun memesan Ikan Bakar untuk beramai-ramai dan Pho Seafood untuk masing-masing, serta minuman pilihan masing-masing, seperti jus markisa, jus mangga, teh hangat, dan jus jeruk nipis.

Pho Seafood. Captured and owned by Miss A (@zakiyahnurunnisa).

Pho Seafood.
Captured and owned by Miss A (@zakiyahnurunnisa).

Pho sendiri adalah makanan khas Vietnam yang terdiri dari mie beras (mirip kwetiau tetapi lebih kenyal), kuah bening, dan beragam seafood seperti cumi dan udang. Sebenarnya ada pula Pho Daging Ayam dan Pho Daging Sapi, tetapi kami memilih seafood yang sudah terjamin kehalalannya. Rasanya enak dan segar. Sedangkan ikan bakarnya, jangan tanya namanya ikan apa (lupa) pokoknya rasanya enak. Memang agak hambar karena nggak pakai bumbu aneh-aneh, tetapi enak dan nggak amis. Setelah dihitung-hitung, untuk menu di atas saya harus merogoh kocek 80.000 VND.

Ikan bakar yang jangan ditanya apa nama ikannya (lupa). Pokoknya enak! Captured and owned by Miss A (@zakiyahnurunnisa).

Ikan bakar yang jangan ditanya apa nama ikannya (lupa). Pokoknya enak!
Captured and owned by Miss A (@zakiyahnurunnisa).

Kami kembali ke hotel untuk persiapan tur. Untuk tur Mui Ne ini, kami menyewa sebuah jeep beserta supirnya. Jeep datang menjemput ke hotel tepat pukul 14.00 dan siap membawa kami berkeliling.

Tujuan pertama adalah Fairy Stream. Di sini kami dimintai HTM 10.000 VND dan disuruh melepas alas kaki. Rupanya tempat ini adalah semacam sungai dangkal berpasir merah dengan air mengalir, yang di kanan-kirinya dikelilingi oleh hutan, padang pasir, dan bebatuan besar. Jika dilihat dari atas, bentuknya mirip-mirip dengan Grand Canyon. Di sini kami diberi waktu tidak sampai satu jam, sehingga setelah jenuh berjalan dengan pemandangan yang monoton, kami pun balik arah ke tempat semula. Saya sempat curiga juga kalau kami sudah melewatkan pemandangan klimaks yang ada di salah satu sisi sungai ini. Saran: Bawa topi atau penutup kepala dan pakai sunblock, terutama saat ke sini siang hari karena sangat panas dan terik. Meski disuruh melepas alas kaki, muslimah tetap pakai kaos kaki, ya. Bila perlu, bawa persediaan kaos kaki cadangan. Penting!: Kabarnya di sini sering ada anak-anak yang menawarkan diri (atau bahkan memaksa) menjadi guide kemudian mematok tarif tinggi; hati-hati, yaa…

Penampang sisi kiri sepanjang jalan di Fairy Stream. Captured and owned by Mister U.

Penampang sisi kiri sepanjang jalan di Fairy Stream.
Captured and owned by Mister U.

Tujuan selanjutnya adalah Pantai Mui Ne (?). Entah apa nama asli tempat ini. Kami hanya diberhentikan bapak supir di sini untuk berfoto-foto selama 10 menit. Jika melihat jauh ke tengah laut, pemandangannya memang bagus karena air lautnya terlihat biru bersih, dan di atasnya banyak perahu berbentuk bulat yang mengapung-ngapung. Namun, di bagian pantainya terkesan sedikit kotor dan berbau agak amis. Pintar-pintar ambil angle foto saja, sih ^^

Salah satu pantai di Mui Ne. Captured by Mister I (?) or Miss A (?) and owned by Miss A.

Salah satu pantai di Mui Ne.
Captured by Mister I (?) or Miss A (?) and owned by Miss A.

Perjalanan lanjut ke White Sand Dunes. Perjalanan ini yang paling jauh, tapi paling beragam pemandangannya. Mulai dari savana dan padang pasir seperti di Afrika, pohon-pohon, serta pantai dan lauuuut! 😀 Ini yang paling saya suka karena lautnya terlihat indah sekali, langsung bisa terlihat dari jalan raya. Pada satu titik ada laut yang di bagian tengahnya terdapat entah karang entah pulau menjulang yang terlihat apik di tengah laut biru itu. Memang nggak sempat foto karena kami hanya melihat dari jeep yang tengah berjalan, tapi keindahan akan pemandangan itu nggak mudah hilang dari ingatan ini ^^

Pemandangan pantai sepanjang perjalanan menuju White Sand Dunes. Captured by Mister I (?) or Miss A (?) and owned by Miss A.

Pemandangan pantai sepanjang perjalanan menuju White Sand Dunes.
Captured by Mister I (?) or Miss A (?) and owned by Miss A.

Sampai di White Sand Dunes kami dimintai HTM 10.000 VND dan diajak untuk menyewa ATV. Tarif sewa per ATV adalah 150.000 VND, tetapi bisa juga untuk bonceng berdua. Pertama-tama kami dituntun oleh seorang guide sampai ke tengah-tengah, lalu diberi waktu untuk foto-foto, kemudian ikut naik ATV membonceng mereka melintasi lintasan yang ekstrem. Yahooo! Seru banget! Berasa naik jet coaster! ATV melintas turun dari bukit pasir yang super tinggi dengan kecepatan yang tinggi pula, naik, berbelok tajam, turun, lalu naik lagi. Untuk yang mudah panik apalagi jantungan, sebaiknya jangan coba-coba, hehehe… Setelah puas, jangan lupa memberi tip ke abangnya seikhlasnya. Kalau kemarin, saya kasih 20.000 VND.

Salah satu pemandangan White Sand Dunes. Captured and owned by Miss A (@zakiyahnurunnisa).

Salah satu pemandangan White Sand Dunes.
Captured and owned by Miss A (@zakiyahnurunnisa).

Setelah itu, kami dibiarkan berkeliling sendiri dengan ATV itu. Di sini saya dan teman saya sempat nyasar di tengah gurun yang nggak ada orangnya sama sekali, karena berpisah dengan yang lain dan ATV yang kami naiki juga sempat bermasalah. Setelah saya meninggalkan teman saya sebentar bersama ATV bermasalah itu, lalu berjalan agak jauh guna mencari bantuan, Alhamdulillah ada mas-mas berwajah oriental yang mau membantu. Begitu berhasil balik lagi ke tempat semula dan bertemu yang lainnya, rasanya jadi pingin nangis haruuu T_T Saran: Sebisa mungkin jangan berpisah dari rombongan. Sedia air putih, pakai topi dan sunblock juga karena panas. Penting!: Hati-hati dengan barang bawaan berharga. Kabarnya banyak yang hilang karena terjatuh di tengah gurun pasir atau berpindah tangan oleh orang-orang tak bertanggung jawab. Hindari kerumunan orang-orang sekitar yang sedang asyik berjudi.

Menjelang petang, kami melanjutkan perjalanan ke Red Sand Dunes. Tempat ini mirip dengan White Sand Dunes, bedanya pasir di sini berwarna merah alias kecokelatan. Yang beken di sini adalah seluncuran pasir. Lelah dengan kejadian di White Sand Dunes tadi, saya sama sekali nggak tertarik untuk mencoba. Meski begitu, lihat yang lain meluncur sepertinya enak juga, sih. Di sini kami melihat sunset. Karena berpadu dengan pasir merah di sini, sunset oranyenya jadi terkesan romantic banget. Pemandangan yang nggak kalah bagus dengan melihat sunset di pantai ^^

Red Sand Dunes saat sunset. So romantic! ^^ Captured and owned by Miss A (@zakiyahnurunnisa).

Red Sand Dunes menjelang sunset. So romantic! ^^
Captured and owned by Miss A (@zakiyahnurunnisa).

Tur selesai. Kami diantar kembali ke hotel. Usai shalat maghrib, kami keluar lagi mencari makan malam. Malam ini kami memilih restoran Rusia setelah bertanya-tanya terlebih dahulu tentang menunya. Di sini saya memesan nasi putih, Fillet Fish Margarin Lemon, Braised Tofu Mushroom, dan Orange Juice. Sebenarnya mereka adalah ikan bakar fillet, sup tahu jamur, dan jus jeruk dengan nama yang lebih beken. Harganya sekitar 75.000 VND dengan rasa yang sebenarnya kurang begitu cocok di lidah.

Dari resto itu, kami mampir ke toko-toko yang ada di sekitar sana. Kami menyempatkan diri membeli oleh-oleh dan beberapa makanan. Fyi, harga magnet di sini murah banget! Sekitar 7.000 sampai 9.000 VND saja per buah. Di HCMC (terutama Cu Chi Tunnel) harganya sampai tiga kali lipat, loh! Di sini saya juga sempat mencari baju lengan panjang karena stok baju yang diperkirakan kurang, tetapi sama sekali nggak ada. Di toko-toko sini hanya ada kaos lengan pendek, blus lengan panjang yang tipis dan menerawang, serta baju lengan panjang dengan model yang ketat. Huft, urungkan niat.

Kami kembali ke hotel sekitar pukul sepuluh. Mandi, beres-beres, dan lain-lain menghabiskan waktu lama dan kami baru benar-benar tidur saat tengah malam. Karena bus menuju HCMC berangkat pukul 02.30 kami pun memasang alarm sekitar pukul dua kurang.

Namun, ternyata sekitar pukul satu dini hari pintu kamar kami diketuk-ketuk. Bus penjemput sudah datang. Bak tentara yang disuruh segera apel, kami langsung buru-buru bersiap. Beruntung kami sempat beres-beres barang dulu sebelum tidur tadi. Dengan masih menggunakan baju tidur yang dibalut jaket dan kerudung seadanya, kami pun lari-larian menuju mobil penjemput.

Rupanya kasusnya seperti Phuong Trang di HCMC kemarin. Kami diangkut dengan menggunakan mobil travel menuju ke tempat pemberangkatan bus. Karena itulah mereka datang menjemput lebih cepat. Saat itu rasanya masih sangat mengantuk dan semua nyawa belum benar-benar terkumpul. Maklum, baru tidur sekitar sejam.

Alhamdulillah busnya ternyata sleeper bus. Jadi, kami bisa melanjutkan tidur. Perjalanan dari Mui Ne ke Ho Chi Minh memakan waktu sekitar 3—4 jam. Lumayan, di dalam bus itu pun kami melanjutkan tidur sampai esoknya tiba lagi di Ho Chi Minh City.

Hari Kelima, Ho Chi Minh, Vietnam

Kami sampai sekitar pukul setengah enam pagi. Dari tempat pemberhentian akhir yang entah di mana, kami memutuskan naik taksi ke Masjid Al-Rahim Malaysia-Indonesia yang alamatnya sempat kami foto, guna mengejar waktu shalat shubuh. Sesampainya di sana, kami sempat ditolak masuk oleh marbot masjid yang sepertinya lupa dengan kami yang sebelumnya pernah datang kemari. Katanya masjid baru dibuka saat dhuhur nanti. Namun, begitu salah satu dari kami menyebut kata “musafir” dan memberi isyarat shalat shubuh, dengan cepat-cepat marbot yang sudah sepuh itu membukakan pintu masjid dan mempersilakan kami masuk. Usai shalat, kami bahkan dipersilakan untuk mandi di shower room masjid itu. Alhamdulillah wa syukurillah ^^

Alamat Masjid Al-Rahim Malaysia-Indonesia. Bisa tunjukkan foto ini ke driver jika ingin berkunjung ke sini ^^ Captured and owned by Miss A (@zakiyahnurunnisa).

Alamat Masjid Al-Rahim Malaysia-Indonesia. Bisa tunjukkan foto ini ke driver jika ingin berkunjung ke sini ^^
Captured and owned by Miss A (@zakiyahnurunnisa).

Kami lalu sarapan di depan masjid. Menunya macam-macam seperti penjual nasi uduk di sini, ada nasi, ayam goreng, serundeng daging, bihun, telur, dan lain-lain. Saya memilih nasi, ayam, serundeng, dan bihun. Harganya sekitar 32.000 VND.

Dari masjid ini, kami berjalan kaki ke tengah kota, dan berniat melanjutkan destinasi ke Cu Chi Tunnel. Namun, karena belum memesan tur atau pun mencari informasi tentang itu, jadilah kami terkatung-katung di tengah kota. Tanya sana-sini, secara random tiba-tiba kami bertemu dengan bapak asal Korea yang baik hati dan mau mengantarkan kami ke agen tur yang kami cari. Lagi-lagi teman dari Sastra Korea itu berguna. Ah, dia memang selalu berguna, kok :* Dia pandai sekali PDKT-in bapaknya, sampai-sampai setelah sukses mengantar kami di tempat tur, si bapak ini malah balik lagi dan memberikan kami roti kismis super besar yang baru ia beli. Alhamdulillah yah ^^

Kelakuan sepanjang berjalan kaki mengitari Kota Saigon (HCMC). Motto: "Berlakulah seperti turis!" Kkk... Candid photo; captured and owned by Mister U.

Kelakuan sepanjang berjalan kaki mengitari Kota Saigon (HCMC). Motto: “Berlakulah seperti turis!” Kkk…
Candid photo; captured and owned by Mister U.

Sampai di agen tur, ternyata kami sudah terlambat untuk ikut tur dengan bus. Alternatifnya, kami bisa ikut tur dengan mobil pribadi. Setelah dihitung-hitung, per orang harus membayar sekitar 220.000 VND untuk sewa mobil plus supir. Nggak ada pilihan lain, kami pun mengiyakan alternatif ini. Lalu kami pun mendadak serasa seperti orang kaya saat melihat bule-bule justru naik bus sementara kami naik mobil pribadi yang lowong dan nyaman ini :p

Perjalanan dari pusat kota HCMC ke Cu Chi Tunnel memakan waktu sekitar 3 jam. Total HTM Cu Chi Tunnel adalah 110.000 VND. Di sini sebagian besar bule menyewa jasa guide, sedangkan kami mulai “pura-pura miskin” dengan mengikuti penjelasan guide di rombongan lain. Dan kami nggak salah pilih “curi-curi” guide karena dia sangat lucu dan interaktif.

Cu Chi Tunnel ini adalah saksi bisu peperangan Vietnam, yaitu saat pasukan Vietnam memanfaatkan terowongan-terowongan bawah tanah ini untuk bertahan hidup, menyusun taktik, dan mengecoh serta menyerang musuh. Di sini kami diberi penjelasan oleh guide kocak tadi, mulai dari bagaimana struktur terowongan, fungsinya, penjelasan cara kerja macam-macam senjata dan jebakan yang digunakan saat perang (cara kerjanya kejam banget!), penjelasan tentang taktik pasukan saat mengecoh musuh, termasuk juga makanan yang biasa mereka makan dan cara membuatnya. Pengunjung juga bisa merasakan sensasi masuk terowongan yang dimaksud. Namun, di sini saya tidak mencoba masuk karena satu dan lain hal. Di bagian akhir, kami pun diberi suguhan teh, singkong rebus, dan kacang-kacangan. Tempat ini memang tempatnya belajar sejarah Vietnam, nih. Meskipun penjelasan yang saya tangkap berasa nggak utuh-utuh banget karena english yang agak cethek.

Salah satu pemandangan yang nggak akan terlewatkan saat berkunjung ke Cu Chi Tunnel. Lubang sempit tempat sembunyi dan menyerang musuh. Diperagakan oleh guide yang kocak dan interaktif. Captured and owned by Mister U.

Salah satu pemandangan yang nggak akan terlewatkan saat berkunjung ke Cu Chi Tunnel. Lubang sempit tempat sembunyi dan menyerang musuh. Diperagakan oleh guide yang kocak dan interaktif.
Captured and owned by Mister U.

Dari Cu Chi Tunnel ini kami memutuskan untuk kembali ke HCMC, tepatnya di Masjid Musulmand (Saigon Central Mosque) untuk shalat Dhuhur. Setelah memberi tahu alamatnya ke driver, kami pun sukses diantar ke sana. Karena perjalanan yang memakan waktu 3 jam itu, kami baru sampai saat waktu Ashar. Setelah shalat, kami pun memutuskan untuk mencari makan siang—eh makan sore (?) setelah sebelumnya sempat membeli es krim di depan masjid seharga 20.000 VND.

Kami memilih Resto Turki untuk persinggahan. Di sini saya memesan Pho Daging Sapi (karena insya Allah halal) dan Kopi Vietnam dengan harga total 120.000 VND (hiks, mahal—tapi untungnya enak). Oh ya, karena ada wifi, di sini teman saya sempat menghubungi bapak Korea tadi sembari mengucapkan terima kasih.

Pho Daging Sapi dan Kopi Vietnam yang maknyuss! Captured and owned by me.

Pho Daging Sapi dan Kopi Vietnam yang maknyuss!
Captured and owned by me.

Agenda selanjutnya adalah menuju ke Water Puppet Show yang belum kami ketahui tempatnya. Kami berjalan kaki dari Masjid Musulmand itu, ke mana saja kaki melangkah. Di sini kami mulai menggelandang, tetapi juga asik karena sepanjang perjalanan kami disuguhkan dengan bangunan-bangunan unik seperti di Eropa. Kami pun asyik ber-selfie, bahkan terkadang lupa daratan selfie di tengah jalan saat motor-motor berseliweran. Sepanjang jalan kami juga asyik mengobrol dan bercanda, bahkan mulai bernyanyi-nyanyi nggak jelas. Jalan kaki semacam ini memang asyik karena selain bisa menikmati isi kota secara langsung, juga membuat suasana lebih dekat dan akrab ^^

Penampang salah satu sudut kota Saigon (HCMC) yang mirip di Eropa. Fokus pada background-nya ya, harap abaikan yg disensor. (Kenapa lagi kalau bukan keasyikan selfie dan lupa foto-foto pemandangan aslinya). Selfie by Mister O and Mister I; owned by Mister U.

Penampang salah satu sudut kota Saigon (HCMC) yang jadi mirip-mirip di Eropa. Fokus pada background-nya ya, harap abaikan yg disensor ^^v (Kenapa lagi kalau bukan karena keasyikan selfie dan lupa foto-foto pemandangan aslinya).
Selfie by Mister O and Mister I; owned by Mister U.

Berbekal tanya sana-sini dengan bantuan gambar, akhirnya kami sampai juga di tempat pergelaran Water Puppet Show. Pertunjukan dimulai pukul 18.30 dengan harga tiket 200.000 VND. Water Puppet Show merupakan kesenian asli Vietnam, yaitu seperti wayang golek, tetapi boneka yang mereka pakai muncul dan bergerak-gerak di atas air (kolam). Ada sinden-nya juga yang nyanyi-nyanyi, dan pengisi suara si boneka itu. Bahasanya memang pakai bahasa Vietnam, tetapi dari gerakan boneka itu bisa sedikit diterka-terka juga maksudnya apa.

Water Puppet Show, kesenian asli asal Vietnam yang juga sudah go international. Captured and owned by Miss A (@zakiyahnurunnisa).

Water Puppet Show, kesenian asli asal Vietnam yang juga sudah go international.
Captured and owned by Miss A (@zakiyahnurunnisa).

Berkat upaya teman saya mengontak Bapak Korea tadi, sekarang ini beliau justru mengajak kami makan malam bersama di salah satu resto vegetarian. Kami pun janjian di salah satu tempat sekitar pukul 20.00. Dari Water Puppet Show, kami berjalan kaki lagi ke tempat yang dimaksud. Sepanjang perjalanan, kami sempat menumpang sholat Maghrib-Isya di salah satu rumah makan halal, dengan memasang muka badak alias tanpa membeli apapun, hahaha…

Bertemu dengan Bapak Korea ini, kami menghabiskan banyak sekali waktu untuk berbincang. Mulai dari perbincangan tentang negara dan orang-orang Vietnam, pekerjaan beliau, pengalaman beliau keliling berbagai negara, juga tentang backpacker itu sendiri, serta topik-topik lain yang nggak habis-habis. Beliau juga memesan beragam makanan yang saya sampai lupa apa saja. Ada nasi campur yang ditempatkan di dalam nanas, varian nasi campur dengan isian lain, daging vegetarian, tofu, sayur kuah ubi, dan lain-lain yang masih banyak lagi! Untuk minum sendiri saya memesan milkshake strawberry. Dan semuanya ini gratis! Si Bapak yang bayar! –*Setelah sebelumnya saya sempat deg-degan dan kebingungan karena dikerjain salah satu teman gara-gara pelayannya meletakkan bill persis di depan saya duduk ==’

Dari bertemu pukul 20.00 tadi, kami baru selesai berbincang dan foto-foto sekitar pukul 22.30. Usai berpamitan dan mengucap selamat tinggal, kami pun melanjutkan perjalanan berikutnya, yaitu kembali menuju Bandara Than Son Naht. Kami pun naik taksi menuju ke sana, dengan ongkos 180.000 VND yang kemudian kami bagi untuk berlima.

Jadwal penerbangan kami ke Singapura adalah pukul 07.10 esok hari. Karena itu, di bandara ini kami harus mencari spot untuk istirahat dan tidur. Karena tidak ada Mushola, kami pun mencari spot lain yang memungkinkan. Alhamdulillah, kami menemukan kursi tunggu panjang, yang bisa kami gunakan untuk meluruskan kaki bahkan untuk tidur di atasnya. Dua buah deret kursi bahkan menghadap membelakangi tempat orang-orang lewat, sehingga bisa saya dan teman saya gunakan untuk tidur.

 

Tips untuk muslimah yang terpaksa tidur “menggelandang”:

Ada kalanya saat travelling muslimah terpaksa harus tidur di tempat-tempat terbuka, atau mungkin di suatu tempat yang agak membaur dengan lawan jenis (mis., bus, dorm, tenda, bandara, dll.). Persiapan berikut boleh untuk dicontek.

  • Tetap pakai kerudung yang nggak mudah lepas, kaos kaki, dan jaket untuk menghindari kalau-kalau pakaian tidak sengaja tersingkap saat tidur.
  • Jika perlu, pakai tudung jaket, masker, dan selimut atau pashmina untuk menutupi seluruh tubuh dan juga wajah. Seenggaknya agar tidak mencolok dan agar “orang lewat” nggak langsung sadar kalau kamu cewek.
  • Dalam kondisi tertentu, letakkan ransel atau barang bawaan besar lainnya di tempat yang aman (mis., dijadikan bantal, talinya kamu sematkan ke badan, atau diletakkan di tempat yang nggak mudah terjamah orang lain).
  • Sementara tas kecil atau barang berharga seperti dompet, paspor, handphone, dll., sebisa mungkin HARUS nempel terus di badan kamu; bisa kamu peluk, masukkan ke dalam jaket, dsb. Ini untuk menghindari tangan-tangan usil yang mungkin memanfaatkan kelengahan kamu saat tidur.
  • Jangan lupa berdoa sebelum tidur agar selalu dilindungi Allah.

 

Hari Keenam, Singapura

Alhamdulillah meski tidur di “emperan” bandara, saya pribadi merasa cukup nyenyak. Bangun pagi untuk shalat shubuh, di sini kami mengambil spot shalat di sekitar tempat kami tidur tadi. Qadarullah, kiblatnya menghadap ke arah tembok—membelakangi orang-orang lewat—sehingga jadi lebih mudah mengambil posisi. Ini untuk kedua kalinya kami shalat di tempat terbuka—bukan di Mushola.

Kami tidak menemukan shower room di bandara ini sehingga saya sendiri hanya sempat cuci muka dan sikat gigi. Rencananya kami akan coba cari shower room setibanya di Singapura nanti—meskipun akhirnya batal karena waktu yang mepet. Sekitar pukul enam kami pun melakukan check in dan bersiap-siap untuk boarding. Di sini kami tidak sempat sarapan karena takut tertinggal pesawat. Alhasil kami hanya mengemil sisa makanan yang ada, seperti cokelat Kitkat halal yang sempat kami beli di Mui Ne dan kacang-kacangan pemberian orang Pakistan yang sempat kami temui di masjid Musulmand (Saigon Central Mosque). Penerbangan yang kami ambil kali ini adalah dengan menggunakan pesawat Jetstar.

Kami tiba di Singapura sekitar pukul sepuluh. Rencananya, di sini kami berniat menitipkan ransel besar kami ke locker room, lalu mengikuti tur Singapur seharian. Sayangnya, di sini kami mengalami banyak kendala sehingga harus muter-muter untuk sekadar menitipkan ransel. Banyak kejadian lucu dan konyol di sini, hingga akhirnya kami berhasil menitipkan ransel dengan tarif 3 koma sekian SGD. Lelah berputar-putar di bandara yang super besar ini, kami sempat makan di salah satu food court. Saya membeli sepaket nasi putih, ayam goreng, perkedel, dan teri balado seharga 6,8 SGD. Di sini juga ada mushola sehingga kami memutuskan untuk shalat dhuhur sejenak.

Karena berputar-putar dan banyak tragedi yang terjadi, sejak landing pukul sepuluh tadi, kami baru berhasil keluar bandara sekitar pukul dua siang. Terjebak di bandara selama 4 jam adalah salah satu hal konyol yang paling membuang waktu, tapi untungnya selama di dalam jadi banyak cerita-cerita seru. Selain itu, di sini kami gagal ikut one day tour karena satu dan lain hal, sehingga akhirnya terpaksa jalan sendiri ke tempat yang mungkin kami kunjungi dalam waktu singkat.

Akhinrya, kami memilih Merlion Park Singapore sebagai tujuan. Dari bandara kami harus naik MRT dengan tarif 2,5 SGD untuk sekali jalan. Kami turun di Stasiun Raffless Place. Di sana kami sempat luntang-luntung tak tentu arah, tetapi Alhamdulillah langkah kaki membawa kami ke jalan yang benar. Hanya beberapa lama foto-foto dan duduk-duduk di sana, tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul empat sore sehingga kami harus segera kembali ke bandara, mengingat waktu penerbangan pulang menuju CGK adalah pukul 19.00. Hiks, rasanya menyesal karena sudah menyempatkan diri mampir ke sini, tetapi belum sempat ke mana-mana.

Sekitar pukul enam kami sampai di bandara dengan MRT bertarif yang sama, yaitu 2,5 SGD. Sempat berkeliling bandara usai check in untuk mencari oleh-oleh—dan ternyata harganya mahal-mahal sehingga kami urung, kami pun buru-buru boarding karena waktu yang sudah cukup mepet. Penerbangan yang kami ambil adalah pesawat Lion Air tujuan CGK.

Pesawat berangkat tepat pukul 19.00 dan mendarat di CGK sekitar pukul 19.45. Memang hanya 45 menit, tetapi perjalanan di pesawat masih sempat dipakai untuk tidur. Di sini kami sempat makan malam sebentar di CFC sambil ngobrol-ngobrol sampai sekitar pukul 22.00 sebelum akhirnya kembali ke peraduan masing-masing. Alhamdulillah bus Damri masih beroperasi dan saya sendiri langsung membeli tiket Damri tujuan Stasiun Gambir seharga Rp 40.000.

Dengan datangnya bus Damri masing-masing, maka berakhirlah perjalanan kami yang panjang ini. Bagi saya pribadi, ini adalah perjalanan ke tempat asing, bersama orang-orang asing, dan bertemu orang-orang asing pula, tetapi banyak sekali pengalaman yang didapat. Semoga akan ada triptrip selanjutnya ke tempat lain dengan pengalaman yang lebih banyak, berkesan, dan bermanfaat 😀

estEtika

*Terima kasih untuk Miss A dan Mister U untuk sumbangan foto-fotonya. Insya Allah sudah dapat izin ^^

**Silakan mampir juga ke daftar postingan “Di Balik Layar Lost in Vietnam” yang akan diposting selanjutnya, yang berisi ulasan lengkap tentang pengalaman pribadi penulis dan kejadian-kejadian menarik lainnya yang tidak diceritakan di sini :p

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: