Di Balik Layar Lost in Vietnam, Ho Chi Minh I’m in Love!

Pada pertengahan Maret 2016 lalu, saya berkesempatan untuk menginjakkan kaki, menapaki, sekaligus mengagumi sisi lain bumi Allah. Pilihan Vietnam, lebih tepatnya Ho Chi Minh City, awalnya tertuju karena adanya tiket pesawat promo yang kami beli sekitar setahun yang lalu. Namun, diskusi rencana perjalanan yang lebih matang, termasuk pembelian tiket kepulangan, baru kami lakukan sekitar satu bulan menjelang keberangkatan. Yang membuat saya penasaran dan bersemangat adalah, rencana perjalanan tersebut disusun sedemikian rupa, sehingga hanya dalam waktu 5–6 hari tersebut kami bisa mengunjungi 3 negara ASEAN sekaligus. Secara garis besar, persinggahan kami adalah Malaysia, Vietnam (Ho Chi Minh, Dalat, Mui Ne), dan Singapura.

Jalanan Ho Chi Minh di depan Reunification Palace.  (dokumen pribadi).

Jalanan Ho Chi Minh di depan Reunification Palace.
(dokumen pribadi).

Menurut saya, ini adalah salah satu perjalanan yang unik dan berkesan. Pertama, ini adalah pertama kalinya saya berpetualang jauh ke negeri orang yang notabene-nya benar-benar asing dan sangat baru bagi saya, baik dari segi astronomis, geografis, bahasa, budaya, termasuk juga agama. Kedua, saya pergi ke sana bersama orang-orang baru yang belum pernah saya temui sebelumnya. Dari empat orang yang pergi bersama, satu-satunya orang yang sudah saya kenal sebelumnya hanyalah seorang sahabat perempuan yang selalu satu sekolah dan kampus sejak SMP. Dua cowok kembar yang lain baru bertemu satu bulan menjelang hari H, dan seorang cowok lagi bahkan baru bertemu di TKP alias sesampainya di Ho Chi Minh. Dua hal baru dan asing tersebut cukup menjadi tantangan saya, di tengah kehidupan saya yang serba monoton. Alhasil, kejadian unik dan berkesan yang terjadi selama perjalanan ini benar-benar menjadi salah satu pengalaman beharga yang pernah saya miliki.

Catatan: Ini adalah tulisan tentang detail perjalanan dan pengalaman pribadi penulis yang diulas secara lengkap dan panjang lebar. Untuk referensi perjalanan secara lebih singkat, silakan kunjungi “Rangkuman Perjalanan Lost in Vietnam”😉

Sebut saja kami berlima sebagai vocal group, yaitu Miss A, Mister I, Mister U, Miss E, dan Mister O. Huruf vokal A, I, U, E, O. Miss A dan E diperankan oleh teman saya dan saya sendiri; Mister I dan O adalah kedua cowok kembar yang anggap saja Mister O adalah kakaknya; dan Mister U adalah teman satu kantor Miss A dan Mister I. Bingung, kan? Tapi lucu, kan? Kkk, baru ketemu sebutan ini bener-bener saat nulis, loh. Pas pula dengan petunjuk nama masing-masing :p *oke, ini emang nggak penting*

Kami berangkat dari tanah air pada hari Rabu, tepatnya Rabu malam sekitar pukul 20.25 WIB. Saya sendiri berangkat dari stasiun Gambir sekitar pukul 17.00 setelah izin pulang cepat dari kantor dan sempat bermaaf-maafan dengan Abang Gojek baik hati yang khawatir rate-nya turun gara-gara saya ajak mampir kosan dulu guna mengambil barang. (Maafkan saya, Abang Gojek T_T). Saya menuju bandara dengan menggunakan bus Damri bertarif Rp 40.000, sementara yang lain berangkat dari kantor dan domisili masing-masing. Oke, baru beberapa menit bertemu dan saya sudah harus spot jantung.

Mister O yang sempat terpaksa batal ikut pada H-7 tetapi akhirnya mati-matian berjuang ikut di hari H dengan beli tiket pesawat lagi dan izin cuti sana-sini, menjelang boarding belum ada tanda-tanda kemunculan. Dia bahkan nggak kasih kabar sudah ada di mana. Sang adik, Mister I, kelihatan panik banget. Dia bahkan sempat keluar lagi dari pemeriksaan imigrasi untuk menjemput kakaknya di luar. Dan seperti biasa, kepanikan seseorang selalu mudah menular ke saya. Kalau ingat-ingat kejadian waktu itu, jadi kebayang sama drama-drama yang ada di TV. Dan Qadarullah, Mister O datang di waktu kritis menjelang boarding dengan masih mengenakan seragam kantor. Lucunya, baru-baru ini dia baru mengaku kalau jam 18.30 dia bener-bener baru aja keluar kantor di kawasan Jakarta Pusat yang notabene-nya selalu macet parah saat jam pulang kantor. Yah, memang kalau kehendak Allah dia harus ikut, mau diapa-apain juga tetep aja bisa ikut, kan?

Kuala Lumpur International Airport, Malaysia

Kami sampai di KLIA menjelang tengah malam. Merasa lapar karena belum makan malam dan tenaga sempat terkuras dengan kepanikan di CGK tadi, kami pun makan KFC di salah satu sudut bandara. Jauh-jauh ke KL makan KFC juga. Sambil makan, obrolan mulai mengalir dan, oke, sepertinya mereka orang-orang yang cukup asyik. Setelah makan, kami cari Mushola untuk istirahat. Alhamdulillah, di KLIA ini bangunan dan fasilitas Mushola-nya bagus, dekat shower room dan toilet, dan… super dingin! Tidur jadi agak meringkuk dan keseringan bangun, tapi anehnya saya tetap merasa bisa tidur pulas berkualitas dan seger setelah bangun. Alhamdulillah…

Waktu shalat shubuh di KL sekitar pukul setengah enam kurang. Di sini Muslim masih banyak, sehingga waktu sholat shubuh ini, mushola jadi penuh banget dengan jamaah shubuh. Usai bebersih dan shalat, secara naluri dan Qadarullah kami berempat bertemu lagi di luar kawasan mushola setelah sempat terpisah. Dan ups, begitu lihat si kembar itu udah pada ganti baju, saya jadi sempat bingung, yang mana Mister O, yang mana Mister I, kkk.

Spot jantung kembali terjadi ketika kami malah keasyikan jalan-jalan di kawasan bandara dan baru sadar kalau waktu boarding menuju HCMC tinggal sebentar lagi. Saat hendak melakukan check-in, tiket sempat terselip entah di mana dan saat check-in mandiri menggunakan mesin pun, paspor kami selalu gagal saat akan di-scan. Akan sangat nggak lucu kalau kami terlambat dan telantar di KL, bukan? Setelah akhirnya check-in manual di antrean dan lolos imigrasi, kami merasa agak tenang tapi… lapar. Kkk, dengan perjanjian makan ngebut 10 menit, kami memesan Nasi Lemak di salah satu kedai dan… uang Ringgit kami ternyata kurang! Hahaha, tiga porsi untuk berempat rasanya agak menyedihkan, tetapi akhirnya saya dan Miss A memilih untuk makan satu kotak berdua dan membiarkan cowok-cowok itu lebih banyak mengisi energi.

Bandara Than So Naht, Saigon (Ho Chi Minh City)

Penerbangan sekitar jam 8 pagi dari KL itu sampai ke bandara Than Son Naht, Saigon (HCMC), Vietnam, sekitar pukul 11 siang waktu setempat. Serius, beberapa saat setelah tiba di sana, kepala saya langsung pusing. Bukan, bukan karena jetlag. Tapi, karena percakapan orang-orang sana yang mulai terdengar asing. Entah kenapa logat dan nadanya itu bikin telinga berdengung dan kepala saya keliyengan. Dan lagi, kami terpaksa harus beradaptasi dengan kondisi toilet Vietnam yang tanpa air. Iyuh! Salah satu trik agar istinja tetap bersih adalah membawa botol air mineral kosong dan mengisinya terlebih dahulu dengan air keran dari wastafel. Atau untuk persediaan, bawa juga tisu basah dan tisu kering yang banyak. Jangan sampai trip ini malah bikin kita kena siksa kubur gara-gara nggak bersih saat istinja, hiks. Na’udzubillah

Hal berkesan mulai terjadi setelah kami keluar dari bandara. Eng-ing-eng! Banyaaaak banget orang! Kita jadi berasa artis yang disambut sama warga lokal! Apalagi sebagian besar dari mereka bawa spanduk atau secarik kertas yang mereka angkat tinggi-tinggi. Meskipun sayang, tulisan yang tertera di sana bukan nama kita, melainkan nama agen travel mereka sendiri atau nama orang yang akan mereka jemput, kkk. Jarang-jarang berasa artis begini, dengan muka tembok kami malah punya ide buat selfie berempat. Yes, mumpung nggak ada yang kenal juga, mari abadikan momen langka ini B) *lambaikan tangan*

Dari web dan blog orang, kita tahu kalau ada bus dari bandara ini yang bisa mengantar kami ke kota. Sebut saja bus hijau dengan nomor 152 yang ngetem di Terminal 12. Longok sana-sini, nih bus malah terkesan mogok alias nggak jalan. Tapi tiba-tiba, seorang—sementara sebut saja—Mas-mas, datang menghampiri dan menyapa kami dengan Bahasa Indonesia! Wow!

Ternyata dia adalah supir bus 152 itu. Betapa saya kagum mendengar percakapan bahasa Indonesia di negeri orang, yang sebelumnya sempet buat telinga saya sakit dengan bahasa yang terdengar asing. Usut punya usut, supir bus yang ternyata bernama Mister Bui ini adalah orang Vietnam yang bisa berbahasa Melayu. Yes, ternyata emang nggak murni bahasa Indonesia, sih, tetapi percakapan kami terbilang nyambung, kok. Dan Mister Bui ini entah bagaimana malah mengira kami sebagai warga negara Malaysia, kkk.

Kawasan Ben Than (Distrik 1), Ho Chi Minh City

Mister Bui ini sudah seperti tour guide saja. Sepanjang perjalanan ceritaaaaa terus. Dia banyak cerita tentang orang-orang Vietnam, tempat-tempat bagus di Vietnam, sampai yang sempat bikin saya dan Miss A ngiler, dia bilang di Vietnam ini juga ada bus yang menuju Kamboja, negara tetangga, dan bisa ditempuh hanya selama dua jam! Oke, referensi yang boleh juga, nih. Hehehe… Daaan, dari Mister Bui ini kita mulai sadar kalau ejaan dan tulisan di Vietnam itu beda. Waktu kita minta diantar ke agen bus Phuong Trang, dia nggak ngerti sama yang kita omongin. Baru deh, pas kita kasih tulisan atau gambar, Mister Bui langsung ngerti dan… kita bener-bener dianterin dan dikasih petunjuk ke sana. Thank you so much, Mister Bui…!!😀

Sampai di agen bus Phuong Trang, kami langsung memesan sleeper bus tujuan Dalat, dengan waktu keberangkatan pukul 22.00 waktu setempat, seharga 210.000 VND. Oh ya, sepanjang perjalanan ini kami masih berempat, sedangkan satu orang lagi, Mister U, baru akan kami temui di Ho Chi Minh  ini sekitar pukul 15.00 nanti karena beda jadwal pesawat. Untung aja kita nggak lupa pesenin tiket bus juga buat dia, kkk.

Setelah dapat tiket bus, sempat menggalau sejenak sambil terus berjalan membawa beban hidup, eh, beban ransel yang cukup berat, lewatlah kami di salah satu toko bertulisan Motorbike For Rent. Ya Allah, mau nyewa motor aja rempong banget, loh! Serius! Mulai dari bahasa yang sulit, kami yang agak-agak oneng dan terlalu hati-hati, sampai si mbak pemilik toko yang suaranya abis karena emang lagi sakit tenggorokan! xD Sebenernya kasihan banget tiap denger si mbak ngomong terserak-serak nyaris hilang gitu, tapi mau gimana lagi, doong?

Dan yah, mulai deh kelihatan betapa cowok lebih pinter dan bisa dipercaya dibanding cewek, kkk. Segala hal kecil jadi perhatian Mister I dan O yang super teliti ini, dan ujung-ujungnya berakhir perdebatan dengan sang pemilik persewaan. Mulai dari masalah motor, helm, bensin, parkir, sampai surat kontrak. Percaya nggak percaya, motor yang mau disewa emang cuma dua, tapi yang ngelayanin kita jadi tiga orang, ditambah bule asal Turki yang jadi ikutan nimbrung karena penasaran denger kami ribut-ribut xD

Dari pengalaman surfing internet dan lihat langsung gimana orang-orang naik motor waktu kami masih di bus 152 tadi, meski pada dasarnya bisa nyetir motor, saya dan Miss A angkat tangan kalau harus nyetir di sini. Lalu lintas di sini kacau dan keras! Ya, kacau karena motor salip sana-sini, dan keras karena klaksonnya yang terus-terusan itu lhooo… ampun! Demi keselamatan dan kenyamanan bersama, duduk manis di jok bagian belakang akhirnya jadi pilihan kami, para cewek rapuh ini.

 

Sebenarnya, boncengan semacam ini sebaiknya hanya dilakukan dalam keadaan terpaksa atau mendesak. Sekadar tips, saat memang harus terpaksa membonceng lawan jenis, sebagai perempuan yang baik kita tetap harus menjaga diri. Karena terkadang bonceng dengan cara duduk silang (bukan miring atau “nyemplak”) lebih terkesan “safe” saat berkendara—apalagi kalau medannya berat, usahakan untuk melakukan persiapan sebelumnya. Pakai rok yang agak lebar untuk mempermudah saat naik dan duduk (biar bisa langsung naik tanpa pijakan motor dan tanpa pegangan pundak pengemudinya, tuh). Jangan lupa untuk pakai kaos kaki panjang dan celana panjang lagi di dalam rok sebagai bentuk pencegahan saat rok tersibak. Kalau bisa, celananya yang model legging atau Aladin, karena celana model biasa suka ikutan “naik” saat rok terangkat. Pakai jaket juga supaya kerudung nggak tersibak-sibak oleh angin. Usahakan untuk ikutan lihat keadaan jalan sehingga kita bisa siap-siap saat pengendara tiba-tiba berbelok atau mengerem mendadak. Kaki harus nyaman berpijak pada pijakan motor yang tersedia, dan tangan harus sigap juga dengan pegangan motor di bagian belakang. Dan terakhir, sebisa mungkin minimalisasi pembicaraan nggak penting selama berkendara dengan si pengemudi. CMIIW!😉

 

Karena udah ada motor, otomatis kita jadi bebas ke mana-mana. Masalahnya adalah… kita nggak tahu jalan! GPS mati karena kita emang belum sempet beli nomor Vietnam. Aplikasi GPS offline juga jadi tanggung jawab Mister U yang belum sampai kemari. Berbekal tanya sana-sini pakai bahasa planet dan gerakan tubuh yang abstrak, Alhamdulillah… akhirnya kami tiba juga di Masjid Al-Rahim Malaysia-Indonesia.

Masjid Al-Rahim Malaysia-Indonesia

Masya Allah… sebagai musafir, sambutan kepada kami sangat baik! Usai shalat Dhuhur dan Ashar secara jama’-qoshor, kami dipersilakan duduk-duduk dan mengobrol sebentar dengan marbot masjid, yaitu seorang Eyang sepuh dan Bapak paruh baya. Lagi-lagi, dengan bahasa seadanya, tetapi tetap terkesan tulus. Ngomong-ngomong, Eyang marbot ini juga sekilas agak mirip dengan almarhum Mbah Kakung saya :’)

Bahkan, saat akhirnya kami menanyakan makanan halal di sekitar sini, seorang ibu asal Singapura yang sudah lama menetap di Vietnam, dengan berbaik hati mencarikan dan memesankan kami menu lengkap yang Masya Allah… enak banget! Nasi putih (yang porsinya terbilang banyak), lengkap dengan lauk semacam kari ikan dan semur ayam-telur (yang porsinya juga banyak), hanya dengan harga total 155.000 VND untuk berempat. Kami juga dipersilakan makan siang di bangku yang ada di depan masjid itu, dan Bapak marbot masjid itu bahkan membagikan botol air mineral kepada kami satu per satu. Terharu banget, deh, sama kebaikan mereka :’)

Usai makan—yang ujung-ujungnya nggak habis karena terlalu banyak dan akhirnya dibantu bungkusin sama Bapak marbot itu untuk bekal makan malam, kami memutuskan untuk cuss ke tempat Mister U nungguin kita, yaitu di Reunification Museum. Kkk, bener-bener deh nih kota! Jalanan udah kaya apaan aja. Penuh, berisik, salip sana-sini, atau kalau kata orang itu semrawut! Dan please, jalan di sini bukan di sebelah kiri, melainkan kanan. So, tiap Mister O atau I khilaf dan ngendon di kiri jalan, beberapa sekon kemudian bakal langsung terdengar klakson! Bahkan saat kami nggak ngerasa salah pun, klakson bisa saja berbunyi dengan semena-mena. Saking jengahnya, waktu diklaksonin orang dan nggak ngerasa salah, saya sempet bilang ke Mister O yang juga ikutan emosi biar dia bales lagi tuh klakson. Emangnya enak diklaksonin? ==’ Oh ya, gara-gara jalanan yang super semrawut ini juga, entah udah nggak kehitung lagi berapa kali ucapan maaf yang Mister O omongin ke saya—yang sebenernya nggak sepenuhnya salah dia juga. Entah karena dia lupa jalan di sebelah kiri, ngerem mendadak sampai helm saya kepentok-pentok helm dia, badan saya yang kesenggol-senggol spion atau stang orang lain, sampai kaki saya yang bahkan sempat hampir nyangkut di kendaraan orang lain! Bzzzz… bener-bener ekstrem nih kota! ==’

Reunification Palace

Akhirnya kami sampai juga di Reunification Museum—dengan perjuangan tentunya. Di sana kami bertemu dengan Mister U yang saat itu adalah pertama kalinya saya temui langsung. Sempet awkward dengan orang baru, eh ternyata dia easygoing juga. Beberapa lama berkeliling museum, mulai nyambung juga. Apalagi dia terlihat deket sama Miss A yang selama ini saya lendotin terus. Jadi mau nggak mau, saya pun jadi ikut terlibat dengan perbincangan mereka.

Reunification Museum atau dikenal juga dengan Reunification Palace atau Independence Palace, dibangun di tempat yang sebelumnya bernama Norodom Palace. Ini merupakan rumah dan tempat kerja Presiden Vietnam Selatan selama terjadi Perang Vietnam. Yups, pantas saja, di dalam bangunan yang katanya seluas 120.000 meter persegi ini, terdapat banyak sekali ruangan, seperti aula konferensi, kantor Presiden, ruangan duta besar, tempat tidur, ruang makan atau perjamuan, ruang multimedia, sampai ruangan bermain.

Tragisnya, tempat ini tutup tepat pukul 17.00 dan kami baru tiba di sana sekitar pukul setengah lima kurang. Maka jadilah, kami sempat ditegur petugas untuk cepat-cepat melihat dan segera beranjak ke ruang-ruang selanjutnya. Dan teteup, meski sudah tutup, salah satu hal vital saat plesir adalah foto-foto dan selfie. Spot yang bagus ada di depan bangunan utama, yang di depannya terhampar rumput hijau yang luas dan air mancur di tengahnya. Sayangnya, saat kami mau foto, air mancurnya sudah telanjur dimatikan, kkk.

Saigon Post Office

Sekitar pukul 17.30 kami sampai di Saigon Post Office. Tempat ini sebenarnya adalah kantor pos, yang juga digunakan sebagai museum dan tempat penjualan oleh-oleh. Di sini pengunjung bisa mengirimkan post card alias kartu pos khas Vietnam ke keluarga atau teman-teman di tanah air. Beragam kerajinan tangan dan oleh-oleh khas Vietnam juga dijual di sini. Sebagai cewek, saya dan Miss A langsung asyik sendiri melihat pernak-pernik lucu khas Vietnam yang dijual di sini. Mulai dari pembatas buku, kartu ucapan, magnet, sampai tas dan dompet lucu. Mister U yang juga berencana belanja oleh-oleh, tampaknya juga asyik searchingsearching harga dan model. Dan, yang dilakukan si kembar tampaknya masih sehati-hati sejak pertama kali dateng ke sini, yaitu mantengin motor yang diparkir seadanya di sekitaran Saigon Post Office. Yah, meski siapa yang tahu kalau sebenernya mereka berdua juga asyik jalan-jalan dan foto-foto? Kkk ^^v

Setelah asyik berkeliling, saya sempat terduduk sejenak di sebuah kursi taman di sekitaran sana. Di hadapan saya, yaitu tepat di depan Saigon Post Office ini, ternyata juga berdiri sebuah Notre Dam Cathedral alias gereja besar di Ho Chi Minh City. Yups, bangunannya memang besar, tinggi, dan cukup luas, dengan desain dinding berbatu bata merah yang umm… jadi agak-agak mirip istana zaman dulu. Udara di sini lumayan sejuk dan angin sepoi-sepoinya sempet bikin ngantuk. Tapi, karena hari mulai beranjak petang, kami pun memutuskan untuk rehat sejenak, yaitu kembali coba berburu masjid untuk menunaikan shalat Maghrib dan Isya.

Masjid Musulmand (Saigon Central Mosque)

Ini adalah masjid kedua yang kami sambangi di kota Ho Chi Minh. Masjid ini terkesan lebih besar dan luas dibanding Masjid Al-Rahim yang kami singgahi siang tadi. Katanya, sih, masjid ini dibangun sama orang-orang India.

Di masjid ini kami rehat sejenak, menunaikan shalat Maghrib dan Isya. Dan lagi-lagi, di rumah Allah ini saya dan teman saya bertemu dengan orang-orang baik. Karena kebetulan teman saya sedang tidak shalat, saya pun shalat sendiri di bagian mushola akhwat. Usai shalat, ternyata saya lihat teman saya itu sedang asyik berbincang dengan seorang nenek dan ibu separuh baya. Saya pun ikut bergabung bersama mereka—yang ternyata hanya sedikit-sedikit bisa bahasa Inggris dan Melayu. Dan Masya Allah, ternyata beliau berdua menawari kami juga dengan jajanan khas sana. Entah apa nama jajanannya—karena kami kesulitan bahasa untuk sekadar bertanya, tapi bentuknya mirip-mirip seperti kue apem, yang rasanya manis mirip seperti singkong dan diberi taburan kelapa. Lumayan kenyang juga lho, makan begituan.

Lucunya, kita yang nggak ngerti dengan bahasa masing-masing, masih bisa ketawa-ketawa dan… entah kenapa saya merasakan ada ketulusan dari beliau berdua. Satu-satunya bahasa Inggris yang sempat beliau tanyakan kepada kami hanyalah “How old are you?” yang kemudian setelah kami jawab dengan isyarat jari, beliau berdua malah senyum-senyum sambil saling ngomong yang entahlah maksudnya apa. Kocaknya, temen saya malah ikutan ketawa dan setelah kutanya, “Emangnya mereka ngomong apa? Kamu ngerti?” dia malah jawab begini masih sambil ketawa-ketawa, “Nggak tahu. Pokoknya ketawa aja lah!” Hahaha xD

Oh ya, di masjid ini pula kami berlima menyempatkan diri makan malam rame-rame. Yups, emang rame-rame karena satu plastik lauk sisa tadi siang dan beberapa roti vietnam yang sempat kami beli, kami makan bareng-bareng secara comot-comotan. Ternyata, makan kari ikan dan semur ayam-telur sisa tadi siang, tetep berasa enak juga dimakan sama roti vietnam yang bentuknya mirip-mirip roti perancis ini. Nggak ada nasi, roti pun jadi. Bahkan ada juga yang sempat berimprovisasi dengan memakan lauk tersebut dengan roti cokelat yang ia bawa dari Indonesia. Katanya sih, rasa lauk yang dipadu dengan rasa manis dari cokelatnya itu jadi terasa enak dan unik di lidah. Meskipun saya sama sekali nggak tertarik mencoba juga, sih. Hahaha…

Sebenarnya, usai dari masjid ini kami masih sempat jalan-jalan sejenak keliling kota sembari menunggu pukul 22.00 untuk menuju ke tempat agen bus Phuong Trang. Namun, tiba-tiba kami teringat kalau di Dalat itu nggak ada masjid sama sekali, dan berdasarkan hasil searchingsearching, di sana juga kemungkinan besar akan sangat sulit mendapatkan makanan halal. Akhirnya, karena di sekitar masjid ini banyak sekali bertebaran resto halal, kami pun memutuskan untuk membeli nasi dan beberapa lauk untuk bekal sesampainya di Dalat nanti.

Dan ternyata, memesan menu Ayam Bakar Meksiko dan Udang Goreng Tepung cukup memakan banyak waktu. Kami menunggu pesanan itu cukup lama. Sampai-sampai pelayannya juga sempat memberi kami dua gelas teh “hambar” yang mereka bilang free. Akhirnya, kami pun kehabisan waktu menunggu pesanan dan nggak sempat keliling kota lagi, hiks. Kami terpaksa langsung mengembalikan motor sewaan dan berjalan beberapa meter ke tempat agen bus Phuong Trang.

Oh ya, sebelumnya kami sempat diingatkan agar datang ke agen tersebut satu jam sebelum waktu pemberangkatan bus. Usut punya usut, ternyata alasannya adalah karena dari agen bus itu, kami masih harus menaiki mobil mini bus dulu menuju terminal tempat pemberangkatan sleeper bus yang dimaksud. Setelah sempat menunggu beberapa lama di terminal yang dimaksud, akhirnya bus kami pun datang! Wiw, busnya bagus! Sebelum naik, kita harus melepas dulu alas kaki dan menyimpannya ke dalam kantong plastik yang sudah disediakan. Sesuai namanya, sleeper bus, kursi di dalam bus itu pun didesain seperti tempat tidur sehingga penumpang bisa menghabiskan waktu dengan beristirahat selama perjalanan. Alhamdulillah lumayan nyaman dan bisa tidur pulas.

Selamat malam, kota Ho Chi Minh… Tunggu kami, kota Dalat…🙂

Bersambung…

estEtika

4 Comments

  1. 28 June 2016 at 13:16

    Belum bagian “galau: ya ahahaha

    • estEtika said,

      29 June 2016 at 14:19

      Hihihi, akhirnya baca juga ya, Sita? Ah, nggak galau kooook~~ :p

  2. Eru said,

    1 July 2016 at 15:56

    Kereeeeen.🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: