Di Balik Layar Lost in Vietnam, Dalat I’m in Love!

Dalat, Vietnam

Perjalanan dari kota Ho Chi Minh ke Dalat menghabiskan waktu sekitar 5 sampai 6 jam. Kami sampai di Dalat sekitar pukul tiga dini hari. Usai beberes dan mengenakan sepatu kembali untuk keluar dari bus… brrrrrr!!! Ternyata di luar dingin banget!!! Sebelumnya kami memang sudah sempat searching-searching kalau udara di Dalat ini dingin, tetapi mungkin karena pengaruh bangun tiba-tiba di pagi-pagi buta dan belum banyak persiapan, udara dingin langsung berasa menusuk-nusuk tulang meskipun kami semua sudah pakai jaket.

DSC_0043_1

Bunga berbentuk bendera Vietnam di Dalat Flower Park. (dokumen pribadi)

Oh ya, kami diturunkan di suatu tempat yang sepertinya adalah terminal. Namun, mungkin karena pagi-pagi buta itu, tempat ini masih terlihat sepi dan suram. Hanya terlihat beberapa supir taksi yang menawarkan jasanya. Alhamdulillah, kami sempat searching tentang angkutan yang bisa kami pakai dari tempat ini menuju hotel. Yaitu mobil minibus yang bentuknya mirip-mirip dengan minibus yang mengantarkan kami semalam dari agen Phuong Trang menuju terminal. Saya dan Mister I lalu menanyakan kepada salah satu bapak supir minibus tadi—yang tentu saja awalnya dia nggak ngerti kami ngomong apaan. Setelah ditunjukkan nama dan alamat hotel yang kami maksud, dan bertanya sebelumnya apakah ini free, lantas dia pun menjawab free sambil membukakan pintu dan membantu kami mengangkut barang ke dalam mobil. Yeay! Alhamdulillah!😀

Catatan: Ini adalah tulisan tentang detail perjalanan dan pengalaman pribadi penulis yang diulas secara lengkap dan panjang lebar. Untuk referensi perjalanan secara singkat, silakan kunjungi “Rangkuman Perjalanan Lost in Vietnam”😉

Tanpa banyak omong, sesampainya di hotel yang dimaksud, nih bapak supir malah langsung main bukain pintu dan ngeluarin barang-barang kami. Kkk, mungkin karena pengaruh masih ngantuk dan si bapak yang terlalu to the point, saya sempet bingung juga kenapa kami tiba-tiba diturunin di tengah jalan. Eh, ternyata udah sampai, hehehe…

Kami menginap di Dalat 24-Hour Guesthouse yang kalau dari alamatnya ada di kawasan Hai Thuong, Dalat. Sambutan di sini cukup baik, loh. Meskipun belum masuk waktu check in, kami tetap dipersilakan masuk dan disuruh istirahat sebentar di semacam kamar yang berisi 8 buah ranjang tingkat (jadi serasa di dorm, kkk). Yah, meskipun mau nggak mau saya dan Miss A jadi tidur di satu kamar bareng pengunjung-pengunjung yang lain juga, tapi nyatanya begitu nempel kasur tetep aja bisa lanjut tidur lagi, kkk.

Sebagai catatan, sebenernya dalam kondisi seperti ini pun, yaitu saat terpaksa tidur “menggelandang” bersama lawan jenis, sebagai perempuan yang baik kita tetep harus “cantik”, sih. Maksudnya adalah tetep jaga aurat dan diri. Tetep pakai kerudung yang nggak mudah lepas, kaos kaki, dan jaket yang rapat untuk menghindari hal-hal nggak diinginkan seperti tersingkapnya pakaian sewaktu tidur. Kalau perlu, pakai juga tudung jaket, masker, dan selimut atau pashmina untuk menutupi seluruh badan dan juga wajah. Jangan lupa doa juga sebelum tidur biar selalu dilindungi sama Allah, hehehe… 

Sebenernya di Dalat ini boleh dikata kami terlalu santai. Pasalnya, setelah shalat subuh dan sempat tidur lagi karena masih capek, kami baru memulai hari saat sudah agak siang. Setelah sarapan nasi, Ayam Bakar Meksiko, dan Udang Goreng Tepung yang sempat kami beli di Ho Chi Minh dan hangatkan terlebih dahulu di pantry hotel, kami masih harus antre mandi di kamar mandi tamu satu per satu. Sambil menunggu yang lain mandi, cukup banyak hal epic yang terjadi yang ummm… kayanya nggak usah diceritain di sini kali, ya? Hihihi… 

Kami baru keluar hotel mungkin sekitar pukul sepuluh lebih. Hal pertama yang dilakukan tentu saja mencari tempat sewa motor. Masih dengan pasangan yang sama saat di Ho Chi Minh, salah satu orang jadi terpaksa bayar sewa motornya sendiri, kkk kasihan. Tujuan pertama sebenarnya adalah Dalat Flower Park, dengan asumsi tempat ini buka dari pagi dan sudah tutup sebelum petang. Namun, begitu melihat peta dan secara random melewati sebuah Pagoda, kita pun mampir sebentar di sana (sebenernya nggak sebentar juga sih, kkk).

Pagoda XXX

Parah. Nggak ada yang tahu nih Pagoda namanya Pagoda apaan! Kalau dilihat-lihat juga nggak ada tulisan latinnya, semua tulisan China dan Vietnam yang aneh—dan pastinya kita nggak ngerti baca dan artinya apaan. Masuk ke sini free alias gratis, setelah salah satu orang di sana kami kasih senyuman dan sapaan basa-basi untuk izin melihat-lihat, hehehe… 

Unik, sih. Di sini kami jadi lihat-lihat tempat ibadah orang-orang sini. Banyak patung, dupa, dan sesajen yang berupa buah-buahan yang terlihat enak dan menggiurkan, tapi tentunya nggak halal kami makan. Pagoda di salah satu sudut kuil ini ternyata juga nggak terlalu besar, tapi tetep kelihatan unik. Di dekat pagoda itu juga ada semacam kolam, yang ternyata di bagian tengahnya ada miniatur-miniatur tokoh-tokoh Song Gokong. Maka jadilah Pagoda ini dikasih nama seenaknya jadi Pagoda Song Gokong, kkk… Di salah satu sudut lain juga ada tembok bergambar yang kayanya sih, berisi cerita tentang legenda Buddha. Kami jadi sempat diskusi macam-macam juga di depan tembok bergambar itu. 

Oh ya, sebenarnya, bagi saya di Dalat ini adalah salah satu kota yang paling banyak ujiannya. Awal-awalnya udah berasa saat pertama kali kami menuju Pagoda ini. Yaitu motor yang dinaiki Mister O dan saya agak berasa aneh. Dari awal dia sempat bilang kalau gas tangannya itu agak susah—dan saya emang berasa sih, kalau gasnya agak naik-turun gitu. Waktu itu kayanya saya sempet usul biar kita balik lagi dan tuker motor, tapi mungkin karena mikirnya nggak kenapa-kenapa, akhirnya tetep lanjut jalan juga. 

Sampai akhirnya kami mau melanjutkan perjalanan dari Pagoda Song Gokong itu, motor yang Mister O dan saya naiki semakin susah di-starter. Saat sudah berhasil jalan lagi, kayanya dia semakin ngerasa kalau gasnya itu tambah berat. Karena jadi ngerasa nggak enak sama saya dengan cara dia ngegas yang agak naik-turun, akhirnya dia pun meminta saya turun dan bonceng Mister U saja yang naik motor sendirian. Duh, waktu itu entah gimana berasanya kaya mau keceplosan ngomong, “Nggak mau, aku mau sama kamu aja,” bzzz… tapi untung saja saya langsung sadar kalau ucapan semacam itu pasti akan terdengar sangat epic dan aneh. Bukan apa-apa sih, hanya saja saya yang orangnya suka nggak enakan—ini salah satu sifat yang saya nggak suka dari diri saya sendiri, merasa dengan tiba-tiba “pergi begitu saja” itu jadi terkesan kalau saya lari dari kenyataan dan meninggalkan dia berjuang sendirian (duh, bahasanya). Tapi lantas jadi mikir juga, mungkin kalau saya tetap tinggal, saya justru bakal jadi beban dia. Maka, sejak ini pun ujian demi ujian mulai berdatangan di Dalat ini…

Dalat Flower Park

Tempat ini mirip-mirip dengan Taman Bunga Nusantara di Cipanas, tetapi jujur, masih jauh lebih bagus di Cipanas! Lahan di sini nggak begitu luas, meskipun bunga-bunganya lumayan warna-warni juga. Setelah asyik foto-foto di sekitar pintu masuk, kami pun jalan-jalan sendiri di kawasan yang mulai berasa panas ini. Dan, entah kenapa tempat ini terasa begitu sepi alias kaya kami doang yang dateng, kkk (padahal sih, enggak).

Oh ya, di tempat ini juga adalah pertama kalinya sejak perjalanan ini, kami sholat di tempat terbuka. Karena denger-denger di Dalat ini nggak ada masjid, mau nggak mau kami emang harus cari spot sholat yang pas. Alhamdulillah di sini nggak terlalu ramai dan ada spot bagus yang ditemuin si kembar di semacam balai-balai. Agak kagok juga pas harus sholat di atas kursi—karena lantai di sana agak kotor. Tapi, berasa tenang juga, sih. Sholat di alam terbuka dengan hembusan sepoi angin yang membelai wajah (ceileee). 

Usai memutuskan untuk melanjutkan perjalanan sembari mencari tempat makan siang, ujian kedua datang. Motor Mister O mogok lagi. Dan kali ini lebih parah daripada saat mogok di Pagoda tadi. Lebih lama berhasilnya. Pas udah bisa, mati lagi. Dicoba lagi, gagal lagi. Sekalinya berhasil setelah sekian lama gagal, kita nggak boleh buang waktu lebih lama. Nih motor nggak boleh sampai mati lagi. Langsung cusss tancap gas!

Dan… nyari makan halal di Dalat ini ternyata emang syusyah! Sebagian besar rumah makan punya menu babi. Hiks. Walaupun seafood, tapi kalau di menu ada babinya juga, berasanya tetep aja nggak sreg. Oh ya, bahasa Vietnam-nya babi kan “heo”, tapi nunjukin gambar babi di hape kayanya jauh lebih efisien untuk berkomunikasi. Dan ujian tadi terus berlanjut. Selama kita berhenti nanya-nanya ke rumah makan, motornya mogok lagi, mogok lagi. Sempet mikir nih gas nggak boleh mati, jadi sembari yang lain nanya menu di rumah makan, Mister O diem aja di motor ngegas-ngegas mulu. Tapi tetep ajaaa, lengah sedikit gasnya langsung mati lagi dan susah di-starter. Hiks. Sampai-sampai pas tiba-tiba gasnya mati lagi di tengah jalan, kami hampir aja mau ke bengkel. Dan sesampainya di depan bengkel, gasnya tiba-tiba nyala lagi. Nggak jadi. Kkk, lucu juga nih motor. Padahal udah susah-susah nyebrang ke bengkelnya loh. Dan sembari menunggu para cowok itu berjuang, saya dan Miss A yang menemukan penjual buah, akhirnya memutuskan beli 1 kg jambu air seharga 30.000 VND. Itung-itung persiapan kalau nanti ujung-ujungnya kita nggak nemu makanan sama sekali T_T

Namun, pertolongan Allah kembali datang. Miss A yang lulusan Sastra Korea, tiba-tiba melihat ada rumah makan khas korea di jalan yang kami lewati. Dia pun dapet ide untuk PDKT-in pemiliknya, terlebih lagi kalau pemiliknya itu orang Korea asli. Wow! Dan dia berhasil! Pemiliknya itu emang orang Korea yang tentu saja fasih bahasa Korea. Maka mulailah mereka saling bicara dengan bahasa planet, dan kami berempat cuma bisa melongo melihat mereka bercakap-cakap bak di drama-drama Korea. Nonton drama Korea live banget deh ini!😀

Dari pembicaraannya dengan sang pemilik, menurut Miss A ternyata tempat ini sebenarnya adalah semacam kedai kopi, bukan resto. Tapi, berhubung katanya kemarin di sini sempat ada acara dan mereka masih punya kelebihan bahan makanan, mereka pun bersedia masakin khusus buat kami! Alhamdulillah… Dan tentu saja, sebelumnya kami juga bilang kalau tidak makan babi dan alkohol sehingga mereka nggak masakin menu dengan bahan-bahan tersebut. Maka jadilah, kami disuguhi dengan semangkuk nasi putih, telur ceplok, kimchi, semacam sayuran yang diberi lapisan tepung kemudian digoreng (lupa namanya), dan bulgogi. Untuk minumnya, kami pesan sendiri-sendiri. Ada yang pesan jus markisa, ada juga yang pesan kopi vietnam. Alhamdulillah, akhirnya kami bisa makan juga, plus dapat perlakuan yang baik dan super ramah dari orang-orang di kedai ini. Dan menariknya, pas kami minta bill, di sana hanya tertulis tagihan untuk minumannya saja alias makanannya gratis tis! Daebak! Kalau kata Miss A sih, orang Korea emang gitu, bisa baik banget kalau udah sreg sama orang. Alhasil, untuk makanan enak dan berlimpah itu, saya hanya perlu membayar 24.000 VND untuk jus markisanya saja. Alhamdulillah wa syukurillah😀

Kami pun melanjutkan perjalanan menuju ke Datanla Waterfalls. Alhamdulillah kali ini motor hanya sempat mogok sebentar di kedai Korea tadi, dan aman sentausa sampai tempat tujuan kami di Datanla. 

Datanla Waterfalls

Perjalanan menuju Datanla Waterfalls atau air terjun Datanla ternyata tidak sejauh yang saya pikir. Sepanjang perjalanan, kami juga disuguhi dengan pemandangan khas pegunungan terpencil. Sesekali jalanan memasuki kawasan hutan dan perbukitan, kemudian kawasan pemukiman, lalu kembali lagi ke hutan dan perbukitan. Saya jadi teringat perjalanan saya ke Pacitan, tetapi di sini pemandangannya lebih terkesan gersang karena lebih didominasi dengan warna cokelat. Seperti musim gugur.

HTM Datanla adalah 20.000 VND. Dari pintu masuk, kita harus berjalan dulu untuk menuju air terjun utamanya. Tapi, di sini ada juga Roller Coaster manual yang disediakan bagi pengunjung yang “males jalan” atau ingin lebih menghemat waktu sampai ke bawah. Kenapa manual? Karena kita sendiri yang mengendarai. Caranya dengan mendorong tuas, dan menariknya jika ingin berhenti. Di sini kita bisa pilih mau sekali jalan atau PP. Karena kami mau menghemat waktu (dan harganya juga cukup terjangkau), kami pun memilih PP. Untuk tiket Roller Coaster PP harganya 50.000 VND. Seru, seru!! Meski ujung-ujungnya Mister U yang ada di belakang saya ngomel-ngomel mulu karena menurut dia saya dan Miss A menggerakannya terlalu lambat ==’

Sampai di air terjun, tentu saja saatnya selfie dan foto-foto. Suara air terjunnya kenceng juga ternyata. Udaranya sejuk, pemandangannya juga bagus. Beda sama waktu ke di Baturraden atau Guci, di sini saya nggak berani nyemplung. Padahal sih saya demen banget sama air-air kaya gini. Selain karena faktor kerempongan, air terjunnya juga cukup deras. Ada caution juga dari pihak wisatanya. Lagipula, sepertinya nggak ada satu pun dari mereka-mereka itu yang tertarik untuk nyemplung, kkk.

Dari air terjun itu, kami iseng-iseng naik Cable Car yang juga tersedia di sana. Tarifnya 200.000 VND untuk satu kereta perjalanan PP. Lumayan terjangkau juga kalau dibagi untuk lima orang. Dan lagi-lagi, sepertinya fasilitas ini hanya untuk orang yang males jalan, kkk. Soalnya di bawah juga terlihat ada trek untuk pejalan kaki. Dan ternyata, trek Cable Car ini nggak sejauh yang kami bayangkan. Berasa baru berapa lama naik, eh udah sampai.

Pemandangan di puncak bagus juga. Ada bukit-bukit, udara yang dingin, dan tentu saja banyak pepohonan. Yah, pemandangan khas wisata daerah pegunungan lah. Di sini kita nggak bertahan begitu lama, usai foto-foto, kami langsung naik Cable Car lagi untuk kembali ke bawah. Di dalam Cable Car, Mister U sempat merekam video yang menurut dia lebih bagus pemandangan dari video daripada lihat langsung, kkk. Dan lucunya, setelah sekian lama saya putar ulang tuh video, di dalam sana justru didominasi dengan percakapan absurd antara saya dan si kembar yang penasaran dengan…… nasi kucing! Duh, kita lagi ada di mana dan apa yang malah diomongin, sih? Kkk.

Singkat cerita, setelah naik Roller Coaster kembali ke atas, kami pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Oh ya, di sini saya juga sempat membeli teh aprikot khas Dalat “Thai Bao” isi 100 pcs, yang harganya 60.000 VND. Setelah dicoba di rumah, ternyata enak juga. Emang rasanya teh teh juga, tapi aromanya itu khas banget ^^ 

Perjalanan ke Kota

Ini adalah ujian selanjutnya. Kami keluar dari Datanla sekitar pukul lima sore. Estimasi perjalanan—yang tentu saja tanpa macet, seharusnya sebelum petang kami sudah sampai ke tujuan selanjutnya, yaitu Crazy House. Tapi, di tengah kota lagi-lagi motor Mister O mogok. Dan ini adalah yang paling parah dari sepanjang kemogokan hari ini. Kami menghabiskan waktu cukup lama di pinggiran jalan. Menurut saya, ini adalah pemandangan yang paling “menyedihkan” sepanjang perjalanan ini. Denger suara starter motor yang berulang-ulang mati begitu saja entah kenapa udah berasa menyayat hati (duh, bahasanya). Apalagi lihat pemandangan dia dan Mister I yang gantian nge-starter berulang-ulang dan masih gagal juga.

Lagi-lagi sifat dasar yang saya benci muncul lagi. Ngerasa nggak enak. Ih! Sebenernya bukan salah siapa-siapa juga, tapi kok hati ini ngerasa nggak enak aja. Apalagi pas baru sadar ternyata Mister O masih bawa-bawa dan menyampirkan tas saya di pundaknya yang sebelumnya sempat bersikeras dia bawain, zzz tambah rempong dong. Lalu, lalu… pemandangan saat dia akhirnya harus nuntun motor nyari bengkel, nyeberang jalan dengan susah payah, di jalanan yang nanjak pula, juga menjadi pemandangan yang terlihat begitu menyedihkan. Lalu, saya yang enak-enakan bonceng Mister U, jadi sempat kepikiran: sebelumnya kan saya bonceng dia, kalau masih kejadian, harusnya saya juga ikutan jalan sama kaya dia; tapi sekarang saya justru enak-enakan naik motor. Duh, bener-bener pikiran yang sempit! Jujur saat itu saya mulai bete—ini pertama kalinya saya badmood sejak perjalanan ini, tapi lebih ke bete dan kesal dengan diri saya sendiri. Tapi, yang saya salut adalah, saya nggak denger keluhan Mister O sama sekali. Dia diem aja, nggak banyak omong. Meski secara umum Mister I dan U yang lebih banyak omong juga nggak ngeluh, sih. Hmm apa semua cowok begitu, ya?

Singkat cerita, akhirnya kami memutuskan kembali ke tempat penyewaan motor (setelah sempat ditolak sama orang bengkel berwajah agak gusar dengan bahasa yang kami nggak ngerti sama sekali). Dari GPS offline, jaraknya sekitar 1 atau 2 km untuk kembali ke sana. Ya ampun, lumayan juga tuh nuntun motor sejauh itu—meski terkadang motornya didorong pakai motor juga sama Mister I. Di sana kami minta tukar motor. Sempet deg-degan bakal disuruh “bertanggung jawab”, ternyata sekembalinya dari dalam, Mister I dan O malah kelihatan asyik banget ngobrol sama orangnya. Kkk, kayanya mereka berdua tipe-tipe yang mudah mengambil hati, ya? Alhamdulillah, sementara ini case closed🙂

Crazy House

Akhirnya, setelah berbagai kesulitan itu, kami baru tiba di Crazy House sekitar pukul enam lebih. Tempat ini horor juga, loh! Apalagi kami pas datang di waktu petang menjelang gelap begini T_T Duh, saya kan penakut, jadi sebenernya sempat ogah-ogahan juga masuk ke sana. Tapi, melihat yang lain pada antusias dan penasaran, saya pun terpaksa pasang muka pura-pura bahagia. Padahal…

Tempat ini ternyata adalah penginapan, tetapi karena bentuknya yang memang unik banget, jadi dibuka untuk umum juga sejak pukul 08.30 sampai 19.00 (oke, lagi-lagi kami baru datang satu jam sebelum jam operasional berakhir). Didesain oleh arsitek Vietnam yang terinspirasi dari bangunan unik karya arsitek lainnya. Desain bangunan ini juga terinspirasi dari kisah-kisah fairy tale, dengan bentuk yang natural, yaitu berbentuk seperti batang pohon, jamur, sarang laba-laba, goa, dan lain-lain. Tiap bangunan dihubungkan dengan terowongan atau anak tangga yang bentuknya juga unik. 

Meskipun suasana mulai mencekam karena hari semakin gelap, sebenarnya saya sudah mulai menikmati pemandangan di sekitar sini yang tergolong unik. Sampai akhirnya saat kami tiba di salah satu spot bagus, saat Miss A dan Mister U sibuk foto-foto, Mister O dan Mister I mulai bisik-bisik berdua hingga tiba-tiba salah satu di antara mereka bertanya kepada saya dengan wajah yang terlihat serius, “Kamu ngerasa ada yang aneh nggak, Tik?”

Deg! Saat kutanya kenapa, salah satu di antara mereka bilang kalau ia merasa aneh dan kepalanya agak pusing. (Kalau mereka berdua ngajak ngomong saya secara bersamaan, saya masih suka bingung mana Mister O mana Mister I karena suara keduanya mirip, kkk). Nggak cuma itu, mereka berdua malah menambahkan pertanyaan lain, “Ngomong-ngomong, kamu bisa ngelihat nggak, Tik?” (Maksudnya tuh melihat hal-hal ghoib). Aduh! Please, jangan bicara aneh-aneh T_T Dan sebenarnya itu adalah kedua kalinya saya mulai badmood! Setelah itu mereka berdua sempat cerita-cerita dan tanya-tanya hal lain yang sebenarnya lebih santai, tapi gara-gara bete itu, saya jadi nggak terlalu fokus dengerin mereka ngomong apaan. Ketika percakapan mulai serius dan saya mulai coba fokus, mereka malah semakin nggak jelas dengan menceritakan hal-hal yang sebenernya saya nggak ngerti, tapi seolah-olah mereka anggap saya ngerti. Ih! Mereka berdua nggak lagi kerasukan, kan?O_o

Setelah itu saya lebih sering diam dan… serius, sebenarnya saya nggak tertarik sama sekali untuk foto. Tapi, melihat yang lain masih saja ceria dan ketawa-ketawa, kadang ikut kebawa juga, lupa dengan bete-nya. Intinya, saran saya bagi yang agak parno dengan hal-hal beginian, lebih baik ke tempat ini saat pagi atau siang hari. Meskipun sebenarnya datang ke sini malam hari lebih terasa feel-nya, sih (lebih mencekam juga). Jadi semakin berasa kalau kami lagi ada di rumah penyihir di negeri dongeng. Dan overall tetap seru, sih.

Menjelang jam tujuh kami memutuskan untuk pulang. But, sempat tertahan juga gara-gara kami ketemu cewek Vietnam yang jaga di ruang loket. Mbak cantik ini ramah banget, deh. Bahasa Inggrisnya juga bagus—dan ternyata dia ini emang guru bahasa Inggris, hahaha. Lumayan asyik juga denger obrolan mbak ini dengan cowok-cowok itu yang emang fasih gitu english speaking-nya. Mereka menghabiskan waktu yang cukup lama juga untuk ngobrol ngalor-ngidul dengan mbak satu ini.

Namun, di tengah obrolan itu, batuk Miss A semakin parah. Sebenarnya dia emang udah batuk-batuk sejak awal kita pergi—di Malaysia dia juga sempat beli obat batuk. Tapi kali ini batuknya jadi lebih sering dan kedengeran tambah parah. Mungkin karena pergantian hari, udara yang juga mulai dingin dan semakin malam. Saya juga sebenarnya udah sempat bete karena pingin cepet-cepet cabut dari tempat ini. Sayangnya, cowok-cowok itu masih keasyikan ngobrol juga. Yah, jujur obrolannya emang asyik, sih. Saya juga berasa kaya belajar english listening gitu. 

Sampai akhirnya mereka mulai sadar kalau batuk Miss A makin parah aja, kami pun memutuskan untuk pulang. Sebelumnya, Miss A minta mampir ke apotek dulu untuk beli obat batuk lain karena ngerasa minum obat batuk Malaysia itu nggak mempan. 

Perjalanan Kembali ke Penginapan

Setelah agak bersusah payah, akhirnya kami menemukan apotek juga. Nah, di sini saya mulai ngerasa bete lagi dengan diri saya sendiri, berasa nggak berguna gitu. Sebagai satu-satunya orang kesehatan di antara kami, otomatis saya jadi berasa dilimpahin tanggung jawab. Saat itu Miss A bilang, dia khawatir dengan obat batuk sini yang mungkin mengandung alkohol. Lalu, dia meminta saya untuk mengecek komposisi obatnya. Aduh!! Itu komposisi pakai bahasa Vietnam, dong! Mana saya tahu?! Sekalinya pakai bahasa Inggris alias nama senyawa kimia gitu, nama senyawanya asing banget dan nggak pernah saya lihat ada di dalam komposisi obat batuk pada umumnya. Ya kan setahu saya yang terkenal untuk obat batuk itu HBr, dan nggak ada sama sekali senyawa itu di obat-obat batuk yang mereka tawarin. Mana pelarutnya juga pakai etanol, khawatir banget kan, karena itu masih satu relasi dengan alkohol. Hiks, jadi langsung berasa cetek banget ilmunya T_T

Setelah sempat tanya mereka punya obat Indonesia enggak dan ternyata nggak ada, akhirnya kami coba tanya obat lain untuk sakit tenggorokan yang mungkin lebih go international, seperti Troches dan Lao Han Kuo. Nggak ada juga. Agak ragu dengan obat di sini, tiba-tiba ada yang kasih ide pakai cara tradisional saja. Lalu teringatlah campuran air hangat, jeruk nipis, dan garam. Hingga akhirnya diputuskan agar kami semua kembali ke penginapan dulu (kami belum check in, btw). Pembagian tugas, saya dan Mister U menemani Miss A kembali ke hotel sambil minta air hangat di pantry, sementara Mister O dan Mister I keluar lagi untuk cari makan malam dan jeruk nipis plus garam. 

Merasa nih pantry agak lengkap—secara ada bar dan resto juga, saya pun coba minta jeruk nipis ke petugasnya. English-nya jeruk nipis kan “lime”, tapi mereka nggak ngerti. Mereka malah salah ngartiin jadi lemon. Cukup lama bersusah-susah ngejelasin, tiba-tiba ada yang keinget kalau nih guesthouse ada wifi-nya! Duh! Konyol! Emang kalau lagi kalut suka nggak bisa mikir! Kami pun langsung searching google image. Hahaha, setelah ditunjukin gambar jeruk nipis, petugasnya malah bilang kalau di sini, buah di gambar itu disebutnya “lemon”. Pas saya iseng searching gambar lemon dan tanya kalau ini apaan, dia bilang “orange”. Hahaha, kami semua langsung ketawa, termasuk si petugas itu. Oke deh, lain lubuk memang lain ikannya mungkin yaaa, kkk.

Alhamdulillah orang-orang guesthouse ini baik. Kami pun diambilkan air hangat, lemon eh jeruk nipis, dan sedikit garam. Mulai racik-racik, kasih ke Miss A, dan Alhamdulillah dia sih bilang kalau jadi agak mendingan. Alhamdulillah, mulai lega. Pertama kalinya saya merasa berguna.

Kami pun check in dan Mister U mulai mengangkut barang-barang kami yang masih ada di kamar dorm tadi pagi—dia nggak mau dibantuin, kkk oke deh. Kamar guesthouse ini nyaman juga, lho, sekitar 230.000 VND untuk kamar berisi dua orang. Lagi serius ngobrol di kamar, tiba-tiba pintu diketuk. Mister O dan Mister I yang baru kembali. Saya pun keluar dan membiarkan Miss A tetap di dalam kamar.

Perasaan saya mulai nggak enak. Setelah Mister I tanya gimana kondisi Miss A dan ngasihin jeruk nipis dan garam yang baru dia dapet, lalu saya bilang tadi kami udah dapet di pantry, mendadak wajah Mister I langsung nggak enak gitu—semacam muka kesel dan menyesal gitu sih. Yah, mungkin dia juga udah susah-susah dapat tuh buah, tapi sampai di sini eh ternyata udah ada, jadi dia kesel. Tapi… nggak tahu kenapa yaaa mood saya kok jadi agak berpengaruh juga dengan lihat raut muka dia yang kaya begitu. Meskipun saya coba-coba tahan dan tutupi juga, sih.

Lalu Mister I cerita kalau dia dan Mister O udah keliling-keliling sekitar sini dan nggak ketemu makanan halal sama sekali. Akhirnya, mereka pun memutuskan untuk beli nasi putih, dan minta tolong ke saya untuk bikin popmie yang dia bawa dari Indonesia, sekalian menghangatkan sisa Ayam Bakar dan Udang Goreng Tepung sisa tadi pagi. Nah, saat itu kayanya saya agak blank atau masih terpengaruh dengan mood yang tiba-tiba turun tadi, sehingga kurang fokus dan nggak sadar kalau ayam bakar dan udang kami masih sisa, sehingga saya pun nanya lagi maksudnya gimana. Hmmm mungkin karena emang perawakan dan logat dia yang agak “keras”, ditambah juga dia yang mungkin merasa khawatir, panik, capek, gemes sama saya, atau apa, saya jadi nangkepnya dia ngejelasin sambil kaya “marah-marah”. Ummm jujur saat itu saya langsung takut sama dia. Takut dalam arti kaya anak kecil yang lagi diomelin habis-habisan sama bapaknya. Dan itu sempat bikin saya agak ciut dan takut-takut juga ngomong sama dia.

Setelah itu, saya pun turun ke pantry dan menyiapkan makan malam itu sendirian dengan hati terluka (hahaha lebay)—eh dibantu mbak-mbak pantry yang baik hati dan fasih english juga, sih (salah satu penghibur hati juga bisa ngobrol sama dia). Makan malam nasi putih, popmie yang kemudian saya tambahkan juga dengan sosis sapi yang saya bawa dari Indonesia, serta Ayam Bakar dan Udang Goreng Tepung yang tinggal sisa sedikit, sebenarnya nggak terlalu terasa enak di lidah saya. Perasaan saya saat itu benar-benar nggak enak. Apalagi sebelumnya, saat sedang berbincang di kamar dengan Miss A, saya sempat mendapat kabar tentang sesuatu yang juga membuat hati saya semakin terluka (duh, bahasanya gini banget ya)—ini terjadi sebelum pembicaraan dengan Mister I tadi yang mungkin jadi penyebab saya tiba-tiba blank karena teringat akan hal ini.

Maka jadilah, malam itu saya harus bersusah payah acting seolah nggak terjadi apa-apa, demi menjaga mood yang lain juga. Sekitar jam sepuluh malam, Miss A pun tertidur sementara saya baru memutuskan untuk mandi dan beres-beres. Hiks, ini adalah malam terberat selama beberapa hari ini. Usai shalat, saya sempat terdiam dan merenungi apa-apa yang terjadi hari ini. Benar-benar “melelahkan”, terutama melelahkan fisik dan mental bagi saya pribadi. Hehehe, agak lebay juga sih, tapi pas beres-beres saya sempat agak nangis gitu, rasanya pengen beres-beres kali ini untuk pulang aja, bukan untuk melanjutkan perjalanan, kkk. Alay banget, deh!

Alhasil, kelamaan merenung, beres-beres, bahkan sempat insomnia, membuat saya baru benar-benar bisa tidur pukul dua lebih, bahkan sepertinya malah hampir pukul tiga. Hiks… Padahal besok bus menuju Mui Ne dijadwalkan berangkat pukul 7.30 dan kami bakal dijemput di hotel pukul 7.15. Alhamdulillah, alarm masih sanggup membangunkan saya tepat waktu sehingga nggak sampai kesiangan shalat subuh. Karena dingin, sekitar jam enam lebih saya baru mulai mandi dan bebenah, untuk kemudian siap-siap menuju Mui Ne. 

Bye-bye, Dalat… We’re going to Mui Ne…🙂

Bersambung…

estEtika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: