Di Balik Layar Lost in Vietnam, Mui Ne I’m in Love!

Masih di Dalat

Usai hari yang berat kemarin, saya mencoba menata hati dan memutuskan untuk terus menikmati sisa liburan ini. Rasanya sayang banget jauh-jauh datang ke sini hanya untuk galau dan bersedih hati, hihihi. Pagi-pagi kami sudah siap untuk melanjutkan perjalanan ke Mui Ne, dengan bus yang sudah kami pesan sebelumnya. Kata Mister U yang kepo ke resepsionis, kami akan dijemput di gusthouse ini sekitar pukul 07.15 waktu setempat.

Fairy Stream, Mui Ne. (took by Mister I and owned by @zakiyahnurunnisa).

Fairy Stream, Mui Ne. (took by Mister I and owned by @zakiyahnurunnisa).

Tepat waktu. Jam 07.15 petugas bus sudah meminta kami segera naik ke dalam bus. Setelah (agak rempong) mengurus administrasi penginapan, kami pun langsung naik bus. Bukan sleeper bus, ini hanya bus biasa yang sekelas dengan bus eksekutif, and of course, nyaman banget! Bangku 2-2, ber-AC, dan ada TV serta DVD. Kalau tidak salah tarifnya sekitar 150.000 VND. Rupanya banyak bule-bule juga yang ikutan naik bus ini untuk menuju Mui Ne. Anyway, perjalanan dari Dalat ke Mui Ne ini memakan waktu sekitar 3 jam.

Catatan: Ini adalah tulisan tentang detail perjalanan dan pengalaman pribadi penulis yang diulas secara lengkap dan panjang lebar. Untuk referensi perjalanan secara singkat, silakan kunjungi “Rangkuman Perjalanan Lost in Vietnam” 😉

Perjalanan ke Mui Ne

Awal perjalanan, kami disuguhi dengan pemandangan-pemandangan kota Dalat yang mungkin kami agak luput lantaran kejadian melelahkan kemarin—atau kami yang memang tidak sempat berkeliling lewat sini karena terlalu banyak waktu yang terbuang. Ada bangunan dan rumah-rumah dengan bentuk yang cantik, danau, sampai kereta kuda dan bunga-bunga indah di sekitar danau yang luas itu. Semakin jauh dari kota, kami kembali disajikan dengan pemandangan ala pegunungan. Rumah-rumah yang sudah semakin jarang, sampai perbukitan hijau dan perbukitan pasir yang cokelat.

Oke, sepanjang perjalanan awal saya sungguh baik-baik saja. Kami bahkan sempat foto-foto di dalam bus, tertawa-tawa, dan makan jambu air yang masih sisa kemarin karena belum sempat sarapan. Oh ya, sebenarnya saya masih agak awkward dan takut sama Mister I karena kejadian semalam. Tapi, saya coba biasa aja meski sebenarnya agak jaga jarak dan menghindari pembicaraan juga sama dia. Saat itu Miss A pun bilang kalau dia mau pindah ke bangku paling depan biar bisa lihat pemandangan. Oke sip, saya ditinggal sendiri. Tapi no problem deh, karena yang lain pun akhirnya duduk sendiri-sendiri. Mister O yang tadinya duduk bareng Mister I jadi pindah duduk di depan saya, Mister U di seberang saya, dan Mister I di depan Mister U. Suasana mulai sepi dan kami jadi sibuk dengan urusan dan pikiran masing-masing. Dan saat itu, saya pun mulai merasa nggak enak badan.

Benar juga kalau bus jurusan Dalat—Mui Ne ini kabarnya nggak ada yang berangkat malam hari. Jalanannya kaya begini. Naik dan berkelok-kelok, serta nggak mulus sama sekali. Pada beberapa spot, ada yang jalannya berada di tepi jurang. Perpaduan jalanan yang seperti itu, dan… cara supir itu mengegas dan mengerem yang terasa ndut-ndutan, pada akhirnya bikin saya pusing dan mual. Nih kepala mulai berasa keliyengan dan nggak enak. Padahal biasanya saya jarang sekali mabok darat. Lalu saya mulai mikir dan sok-sok mendiagnosis diri sendiri; mungkin karena pengaruh insomnia dan tidur terlalu larut semalam, juga belum sarapan pagi ini, atau mungkin malah dehidrasi, jadi bikin saya kaya begini. Setelah minum yang banyak dengan asumsi saya dehidrasi, saya pun memutuskan untuk memaksakan diri tidur.

Tiba-tiba bus berhenti. Oh, ternyata kami diberi waktu sebentar untuk beristirahat. Ya Allah, lagi enak-enak tidur, kebangun, malah jadi pusing mual lagi deeh, hiks… Ada semacam kios dan kedai makanan yang bisa dikunjungi, tapi kok rasanya nggak nafsu kalau lagi mual begini. Mulai deh, setelah sempat sok kuat dan tegar (hahaha apa banget), akhirnya nggak sanggup juga lama-lama berdiri. Pas lagi termenung di pinggiran bareng Miss A dan Mister U yang lagi asik ngobrol, tiba-tiba ada yang nyapa dan tanya saya kenapa. Saya pikir yang tanya Mister O, eh ternyata Mister I. Kkk, kan saya masih kagok sama dia. Karena nggak bisa boong, jawab jujur aja kalau agak pusing. Setelah sempat diajak ngobrol sampai dimintai tolong titip tas pas dia mau ke toilet, habis itu saya jadi mikir: oh, ternyata dia nggak marah sama saya toh? Hahaha, emang polos dan dangkal banget nih pikiran, terlalu sensitif pula! 😀

Berasumsi kalau mungkin saya pusing begini karena belum makan, saya pun mengiyakan ajakan Miss A ke kios buah yang ada di sana. Kami membeli mangga seharga 25.000 VND per buah. Hehe, mahal ya? Tapi ya udalah, daripada nggak makan. Kami pun duduk di bangku yang ada di sana dan… ada anjing gede. Aduh, sempet takut dan jijik juga, sih, tapi belaga sok cool aja lah. Padahal…

Bus pun melanjutkan perjalanan. Setelah makan mangga, saya merasa lebih baik meski masih terasa  pusing. Miss A masih memilih duduk di paling depan dan saya duduk sendiri di belakang. Hmmm dan saat itu tiba-tiba Mister I menyodorkan minyak kayu putih dengan tatapan (yang menurut saya) prihatin (hahaha saya jadi terkesan sedih banget deh). Oke, saya ambil. Lalu mikir lagi: Alhamdulillah yah, ternyata dia emang nggak marah. Hahaha, konyol banget sih, cara berpikir saya! xD Maka seingat saya, sejak saat itu, saya pun nggak merasa takut lagi sama dia. Malahan, dia asik juga sih diajak ngobrol dan bercanda. (Sepulangnya ke tanah air, pada akhirnya dia jadi tahu juga tentang cerita ini. Setelah sempat merasa bersalah dan minta maaf—meskipun dia nggak salah juga sih, kejadian ini pun kami anggap clear.)

 

Saat travelling, usahakan jangan sampai badmood apalagi bertengkar. Suasana hati yang buruk, bisa berpengaruh juga ke suasana hati teman yang lain, sehingga bikin atmosfer jadi nggak asyik. Saat kesal, ada baiknya dipendam dulu sendiri, jangan sampai yang lain tahu, lalu perbaiki mood sedikit demi sedikit. Hindari keluhan, apalagi saling menyalahkan. Kita ada di tempat yang jauh, sudah pasti bakal saling membutuhkan. Jangan segan untuk jujur dengan keadaan sendiri, meminta tolong, menerima bantuan, termasuk juga menawarkan bantuan. Setidaknya ini catatan yang saya dapat dari perjalanan-perjalanan selama ini, khususnya perjalanan kali ini. CMIIW 😉

 

Mui Ne, Vietnam

Lagi-lagi, bus berhenti saat saya sedang asyik tidur. Kebingungan, ternyata kami sudah sampai di pemberhentian akhir. Sempat krik-krik usai menurunkan ransel dari bagasi, kami pun akhirnya memutuskan untuk naik taksi ke penginapan yang sudah kami pesan sebelumnya. Nama penginapannya Hoang Nga Garden Hotel. Setelah menunjukkan alamatnya ke supir taksi, kami pun meluncur ke sana. Wiiiiw, angin laut di sini oke juga, deh! Saya langsung berasa sehat. Dan memang, entah kenapa setelah sesampainya kami di Mui Ne, pusing dan mual saya mendadak hilang entah ke mana. Alhamdulillah 😀

Di penginapan Hoang Nga ini, kami mendapat info tentang jasa tur yang disediakan untuk berkeliling ke objek-objek wisata yang ada di Mui Ne. Fasilitasnya adalah jeep dan supir. Awalnya, kami berencana menyewa motor di Mui Ne ini, tetapi karena tergoda dengan penawaran tur ini, akhirnya kami pun memutuskan untuk menggunakan jasa tur, yaitu sewa jeep pribadi untuk 5 orang beserta supir. Di sini kami juga sekalian membeli tiket bus tujuan Mui Ne—Ho Chi Minh yang berangkat pukul 02.30 dini hari nanti. Total tarif Hoang Nga hotel, tur jeep, dan tiket bus ke Ho Chi Minh adalah sekitar 400.000 VND.

Lapar, tetapi tanggung waktu dhuhur, maka kami memutuskan untuk menyimpan barang-barang dan sholat di penginapan terlebih dahulu. Kamar di hotel ini sebenarnya masih lebih bagus saat di guesthouse Dalat, tapi hotel ini unik juga karena di bagian luarnya ada taman, kolam kecil, bahkan hammock. Usai shalat, kami pun langsung cusss berburu makanan halal.

Dari info yang udah kami searching-searching, di Mui Ne ini juga nggak ada masjid sama sekali. So, kemungkinan besar bakal susah juga cari makanan halal. Tapi, karena dekat dengan wilayah pantai, banyak resto yang menjual seafood. Masalahnya, bumbunya halal nggak, yah? Apa pakai alkohol? Nah, ini yang bikin agak rempong saat kami komunikasi sama penjual salah satu rumah makan seafood yang akhirnya kami pilih. Setelah bawel dan banyak mau ini-itu, akhirnya kami memesan menu Ikan Bakar (untuk rame-rame) dan Pho Seafood (untuk masing-masing). Minumnya variasi, ada yang pesan jus markisa lagi, jus mangga, teh anget, dan jus jeruk nipis. Saya pesan jus jeruk nipis alias nama bekennya lime juice, hahaha (dan di rumah makan ini tertulis benar di menunya, “lime”, bukan “lemon” seperti kata petugas guesthouse di Dalat, kkk).

Pho ini salah satu makanan khas Vietnam. Yaitu terdiri dari semacam mie beras berbentuk agak besar (mirip kwetiau tapi nggak gepeng dan lebih kenyal), kuah bening, dan tentu saja karena pilihan kami seafood, isinya adalah aneka seafood seperti cumi dan udang. Tersedia juga Pho Ayam dan Pho Daging Sapi. Tapi… untuk lebih aman kami pilih seafood saja, ah, yang jelas-jelas insya Allah halal. Ikan bakarnya… duh, saya lupa nama ikannya apa. Pokoknya enak! :p Rasanya agak hambar karena bumbunya emang nggak macem-macem. Tapi nggak amis, enak, dan ludes juga, tuh. Hehehe. Setelah dihitung-hitung, untuk makan sekenyang ini saya harus merogoh kocek 80.000 VND. Hmmm lumayan lah, Alhamdulillah ^^

Jadwal tur adalah pukul 14.00 sampai 18.30. Karena itu, kami harus segera kembali ke hotel dan siap-siap sebelum dijemput dengan jeep. Taraaa… jeep-nya ontime banget! Dan kami langsung berasa jadi orang kaya gitu nyewa jeep pribadi, kkk. Mister I duduk di samping pak kusir, eh pak supir yang sedang bekerja, sementara kami berempat duduk di belakang. Sebenarnya di paling belakang masih ada bangku untuk empat orang lagi, tapi karena kami lagi berlagak kaya, jadi biarlah bangku itu kosong tak berpenghuni :p

Fairy Stream

Tujuan pertama adalah fairy stream. Eng-ing-eng, sesampainya di sana saya dan Miss A melongo. Harus lepas alas kaki! Hahaha, dan kami kelupaan bawa kaos kaki cadangan. Jadi, fairy stream itu ternyata adalah semacam sungai kecil (yang sesuai namanya, airnya mengalir) yang dikelilingi oleh hutan, padang pasir, dan bebatuan besar di kanan-kirinya. Kalau dari atas sih, mirip-mirip Grand Canyon lah, yaaa… Nah, pengunjung bisa berjalan di sungai dangkal itu mengikuti arusnya. Nggak kebayang juga sih, awal-awal dateng udah harus main air dan kotor-kotoran gini. Meskipun saya sudah pakai kaos kaki “cepat kering” yang biasa saya pakai kalau nyemplung ke pantai atau sejenisnya, tapi saya lupa bawa kaos kaki cadangan untuk ganti. Nggak ada pilihan, akhirnya kami nyemplung juga deh ke dalam sungai berpasir merah itu.

 

Remember, girls! Kaki adalah aurat. Meskipun travelling ke pantai, laut, danau, sungai, air terjun, rawa, bahkan sawah dan kubangan sekalipun, kaos kaki tetap nggak boleh lepas. Biasanya saya siasati dengan kaos kaki cepat kering yang biasa saya pakai. Bahannya ringan—jadi nggak berat saat terserap air—dan lebih tipis daripada kaos kaki pada umumnya, sehingga fleksibel dan cepat kering setelah beberapa lama kena angin. Atau tentu saja, dengan membawa kaos kaki cadangan, terlebih lagi jika kamu harus sholat dengan pakaian yang kamu kenakan saat safar.

 

Oke sip, di sini terik banget! Alhamdulillah saya sudah sempat persiapan pakai sunblock muka dan tangan. Syukurlah, saya juga ingat bawa topi cantik ini. Hehehe, sebenarnya bawa topi cantik beginian bukan sekadar untuk gaya juga, sih. Tapi karena saya tuh orangnya nggak kuat lama-lama terpajan sinar matahari langsung. Suka tiba-tiba migren parah. Tadinya mau bawa topi cap gitu yang lebih simpel dan nggak makan tempat di dalam ransel, tapi lantas diomelin sama salah satu teman, katanya nggak pantes! Jadi nggak girly! Hahaha, iya deh, nurut. Akhirnya topi cantik saya dan Miss A jadi samaan, deh. Kkk, jelas aja, orang kami beli bareng waktu jalan berdua ke Purwokerto :p

 

Note, kenali keadaan dan kebiasaan diri sendiri. Bawa dan persiapkan barang-barang yang secara pribadi bakal dibutuhkan banget. Yang suka mag, bawa obat mag. Yang suka pegel atau pusing, bawa minyak angin atau balsem. Yang suka anemia, bawa multivitamin besi. Yang suka kedinginan, bawa jaket. Yang suka aku, langsung bilang aja sini, #eh hehehe… ^^v

 

Meskipun terik, tapi harus tetap happy! Kami tetap asyik foto-foto, ngobrol, bercanda, sampai melakukan hal konyol. Hahaha, gara-gara si kembar komentar kalau salah satu batu di sana itu ternyata nggak keras, Mister U malah berlagak meninju tuh batu yang ternyata malah keras banget! Hahaha, tapi waktu sebelumnya mereka coba pegang, batu itu memang luruh jadi pasir, kok. Kkk, dan adegan barusan itu jadi terlihat antara lucu, konyol, tapi juga kasihan karena tangan Mister U sampai jadi luka begitu xD

Kami dikasih waktu di sini nggak sampai sejam. Alhasil, belum genap memutari area fairy stream, kami memutuskan untuk balik arah kembali ke start. Pemandangan yang kami lihat memang terbilang monoton. Dan saya sempat curiga kalau kami melewatkan pemandangan klimaks yang ada di salah satu sudut yang nggak sempat kami datangi. Ya sudahlah…

Pantai Mui Ne (?)

Nggak tahu deh, ini apaan. Yang jelas kami tiba-tiba diberhentikan supir di area pantai yang penuh dengan perahu berbentuk bulat. Habis foto-foto seadanya—nggak nafsu selfie juga nih kayanya, kami langsung cabut lagi kembali ke dalam jeep. Pemandangannya bagus, sih. Lautnya juga keren, airnya biru gitu dan ada banyak perahu bulat yang mengapung-apung, tapi pantainya emang agak terkesan kotor dan bau amis.

White Sand Dunes

Perjalanan ke sini kayanya yang paling berasa jauh. Tapi, sepanjang perjalanan pemandangannya oke banget! Masya Allah! Ada padang pasir dan savana kaya di Afrika, ada pantai pasir putih yang langsung bisa dilihat dari jalan raya, laut biru yang pada salah satu titiknya dihiasi karang yang menjulang, pokoknya bagus banget! Apalagi saat dinikmati sambil naik jeep semi terbuka kaya gini, sehingga angin laut sepoi-sepoi jadi ikut membelai-belai wajah (ouw…). Lantas salah satu orang entah kenapa jadi terlihat begitu bahagia. Mulai dari ngegodain bapak driver yang nggak bisa bahasa Inggris, sampai dadah-dadah nggak jelas ke orang-orang yang lewat di jalan.

Ngomong-ngomong, tempat ini menyimpan banyak kejadian seru dan berkesan. Siap-siap baca cerita alay-nya berikut ini, yaaa ^_^”

Sampai di White Sand Dunes, kami langsung ditawari nyewa ATV. Nggak berani sendirian (sekaligus biar hemat), saya dan Miss A memutuskan untuk boncengan berdua. Kami menyewa ATV dengan ongkos gotong-royong, yaitu total sewa 3 ATV dibagi untuk 5 orang. Sebenarnya di sini juga bisa sewa jeep, tapi hal baru yang belum pernah dicoba pasti lebih bikin penasaran, kan? 😉

Pertama-tama, Miss A nyetir dan saya bonceng, sementara ada salah satu guide yang ikut nglendotin ATV kami alias ikut naik bareng kami juga. Sambil jalan, dia sambil ngajarin pakai bahasa kalbu gimana caranya ngegas, ngerem, belok, sampai nge-starter ulang. Ok, anggap saja kami sudah paham. Sampai di suatu spot yang berada di tengah-tengah tanjakan gitu, kami pun disuruh turun. Lagi-lagi pakai bahasa planet, intinya mereka nyuruh kita foto-foto. Sip, kami pun asyik foto-foto di gurun pasir berpasir putih keemasan itu. Sejauh mata memandang pasir semua, kecuali di satu titik ada beberapa pohon dan samar-samar kolam berwarna biru yang ternyata (katanya) adalah danau.

Usai lelah berfoto, tiba-tiba Mister I manggil saya. Katanya saya harus coba naik ATV bonceng mas-mas guide itu. Saya sempet bingung maksudnya apa, tapi setelah melihat muka dia yang kelihatan bahagia banget, saya pun jadi penasaran dan nurut aja. Saat saya udah naik ke atas ATV bonceng mas guide itu, dia malah nyuruh saya pegangan kuat-kuat, hati-hati sama tas jangan sampai jatuh, dan… bilang ke si mas guide itu yang intinya: for her, not too fast, okay? Saya melongo, Whaaat?! :O

Eng-ing-eng! Ternyata mas-mas itu mengendarai ATV-nya dengan ekstrem! Dengan kecepatan penuh, ATV yang saya naiki turun dari bukit pasir yang curam dan super tinggi! Udah kaya naik jet coaster di Dufan, tahu nggak?! Bedanya, ini nggak ada sabuk pengaman atau apa pun sama sekali. Saya hanya mengandalkan pegangan tangan di bagian samping ATV itu. Nih badan yang enteng dan super mini bahkan berasa ikut melayang saat ATV melaju cepat menuruni bukit. Setelah turun, masnya malah belok tajam dengan semena-mena, lalu naik ke bukit tinggi-curam yang lain, dan meluncur lagi ke bawah dengan kecepatan tinggi! Hahaha, tapi anehnya saya malah menikmatinya! Seru bangeeet! xD

Setelah sampai ke tempat semula, saya pun ditanyain gimana rasanya. (Semoga saat itu raut muka saya terlihat bahagia, ya? Bukan muka syok.) Hahaha, tapi asli, menurut saya emang seru. Lalu terpikir kata-kata Mister I ke guide tadi; kalau nggak cepet, di medan kaya begitu ATV-nya bukannya malah bisa jatuh atau kebalik, ya? (Jadi inget pelajaran fisika, kan?) Hahaha, usut punya usut dia malah cerita kalau pas naik tadi dia tuh sempet teriak-teriak girang ke masnya, “Faster, faster!” Kkk, udah kaya merek pulpen aja.

Usai sama-sama syok naik ATV ekstrem, kami semua malah ditinggalin begitu aja sama nih mas guide—setelah kami kasih tip seikhlasnya. Alhasil, saya dan Miss A memutuskan untuk jalan sendiri naik ATV yang kami sewa tadi. Dan saat itu, entah kenapa kami malah kepisah sama tiga cowok yang lain itu. Entah di mana mereka semua. Tapi, karena masih kebawa suasana happy dan belum puas foto-foto, kami berdua masih fun aja berkeliaran sendirian di tengah gurun pasir itu. Asyik foto-foto dan selfie alay. Beberapa kali sempet tukeran nyetir juga. Pertama kalinya saya nyetir ATV nih, hehehe jadi malu.

Sip! Dan saat itu kami pun baru sadar kalau kami terjebak! Entah gimana ceritanya, kami ngerasa kalau kami ternyata ada di daerah pasir yang rendah. Saat itu kami secara bergantian mengendarai ATV itu untuk kembali naik lagi ke bukit yang tinggi, kembali ke tempat semula. But, ATV-nya jadi berasa berat banget. Bahkan untuk sekadar belok pun, tangan kami jadi nggak sanggup memutar setir lebih dalam lagi sehingga arahnya jadi makin nggak jelas. Luruuuus terus entah ke mana. Waktu itu masih bisa ketawa-ketawa sih, tiap nemu spot bagus masih minat foto-foto. Tapi, makin lama kami mulai khawatir. Di sini nggak ada orang lain selain kami berdua T_T

Kami sempat pasang muka tembok melambai-lambaikan tangan ke orang yang lewat dari kejauhan. Maksudnya sih mau minta tolong. Tapi antiklimaks, tuh orang malah balas dadah-dadah atau bergaya karena mengira akan difoto. Bzzz… Makin ke sini, makin nggak tahu malu lagi teriak-teriak “Help! Help!” tapi mana ada yang mau jawab kalau nggak ada orang sama sekali? Ha-ha-ha (tertawa miris).

Merasa nggak berguna, kami pun coba jalankan ATV-nya lagi. Cari tempat yang agak landai dan bisa dicapai untuk “naik” dan kembali ke tempat orang-orang berkumpul. Tapi apa? Sampai di satu titik, tiba-tiba ATV-nya nggak mau jalan! Padahal udah gas pol banget loh! Gubrak! Kami syok pas lihat ke belakang. Ternyata bannya mblesek! Duh, apa sih bahasa Indonesianya? Pokoknya bannya itu kemasukan pasir gitu sampai tertimbun di bawah sana T_T Ini kan alamat harus diangkat bukan, sih? Tapi dengan tenaga dua cewek rapuh yang mulai kelelahan dan dehidrasi ini, mana sanggup?! Y_Y

Menyerah, akhirnya saya pun memutuskan untuk cari bantuan. Saya suruh Miss A tunggu di sana jagain ATV, sementara saya coba jalan kaki ke arah lain untuk cari bantuan. Pyuh! Berat dan terik banget rasanya jalan di tengah padang pasir begini. Dari jauh, sayup-sayup mulai lihat kerumunan bule asing gitu; langsung berasa ada harapan. Bzzz… setelah jalan lumayan jauh, ternyata mereka adalah keluarga yang terdiri dari ayah yang sudah agak sepuh, ibu dan beberapa anak perempuan, serta anak cowok yang masih kecil. Meski begitu saya coba ngomong juga ke si ayah dan anak cowonya itu dengan english yang acak adut. Tapi jawaban sang ayah intinya, mereka pingin banget nolong, tapi mereka nggak ada yang bisa nyetir. Hiks…

Usai berpamitan, saya beralih ke arah lain. Cari bantuan lain. Ziiiiing… tiba-tiba dari kejauhan terlihat seseorang mendekat dengan ATV-nya. Saya langsung melambai-lambai, berlari ke arahnya, dan menghentikan dia. Wow, pria berwajah oriental rupanya! Setelah ditodong pertanyaan frontal “Can you help me, please?” dan dia tanya kenapa, saya malah kebingungan ngejelasinnya gimana. Usai coba ngejelasin dengan komat-kamit english nggak jelas tapi dia cuma mengerutkan kening (waktu itu saya beneran panik banget), akhirnya dengan muka memelas, kata-kata ampuh terakhir itu pun keluar dari mulut saya, “Just follow me, pleaseJust follow me…” (Saya udah kaya orang yang baru aja nembak dia terus ditolak dan mohon-mohon banget biar diterima, tahu nggak?! Malu banget inget-ingetnya ==’)

Alhamdulillah-nya, saya masih inget arah jalan kembali ke tempat Miss A. Nggak lucu kalau sekarang malah nyasar lagi (berdua sama mas-mas oriental pula, kkk). Pas lihat keadaan ATV kami yang menyedihkan, mas oriental itu langsung pasang muka prihatin. Lalu dia nanya, yang mau nyetir dia atau kita? Duh, pilihan yang sulit. Mengingat kalau nyetir kami sudah “menyerah”, tapi nggak nyetir berarti harus ngangkat bagian belakang ATV itu biar nggak kerendam pasir lagi. Pasti berat. Eng-ing-eng. Dan entah gimana tiba-tiba di sana udah ada bule asing yang pertama kali saya mintai tolong tadi xD Hahaha, kayanya dia jadi kepo dan ngerasa prihatin juga kali ya, makanya ngikutin kita? Akhirnya mas oriental itu pun ngegas tuh ATV sambil ngangkat bagian samping (dia nggak naik ke atas ATV-nya, nggak tega lihat cewek dan orang sepuh angkat-angkat sendiri kali ya), sementara saya, Miss A, dan bule sepuh itu ngangkat bagian belakang. Yeay! Berhasil! Alhamdulillah…! 😀

Usai berterima kasih banget-banget ke bule asing dan mas oriental itu, kami pun melanjutkan perjalanan. Ini belum berakhir, Sista! Tadi kami cuma dibantu mas oriental itu naikin ATV ke bukit yang lebih tinggi setelah kejebak di pasir landai tadi. Deg! Dan saat itu pun kita lupa atau lebih tepatnya nggak tahu sama sekali arah kembali ke tempat start semula. Asumsi sementara: jalanlah menuju kerumunan orang-orang. Sip, dengan susah payah kami pun mengendarai ATV itu lagi. Lalu kami pun teringat teman-teman yang lain; Wahai cowok-cowok yang mendadak menghilang entah ke mana, adakah kalian di antara kerumunan orang-orang itu?

Lucu. Tenaga yang hampir kekuras, bikin saya atau pun Miss A yang gantian nyetir, bener-bener nggak kuat untuk sekadar mengatur setir. Tiap mau belok, kami nggak sanggup untuk memutar setir lebih dalam. Maka pemandangan lucu itu pun terjadi saat saya akhirnya memutuskan untuk membonceng saja. Sambil Miss A nyetir, tangan saya ikut ngedorong dan mengarahkan tangan Miss A untuk kasih kekuatan lebih saat berbelok. Duh, asli! Itu lucu dan konyol banget! Tapi Miss A justru bilang kalau cara ini berhasil karena setirnya jadi lebih mudah digerakkan dengan tenaga dua orang.

Melihat ada kerumunan orang-orang dan beberapa ATV terparkir, kami berasa punya harapan lebih. Saya terharu karena merasa bisa kembali lagi. Nggak tergambarkan gimana rasanya, pokoknya saya lega dan seneng banget-banget! Tapi konyol. Saking senengnya, kami jadi lupa gimana caranya ngerem. ATV pun nyaris menabrak tiang! Hahahaha…

Bahagia, kami langsung lari-larian ke arah rumah-rumah yang ada di sana. Menyapu wajah-wajah orang, mencari teman-teman lain yang entah pada ke mana. Krik-krik-krik. Tiba-tiba saya merasa ada yang aneh. Tempat ini terkesan berbeda dengan starting point kita tadi. Isinya cowok-cowok serem, pada ngerokok, dan… saya sempat lihat ada tumpukan botol-botol minuman keras! Jadi, ini ada di mana sebenernyaaaaaa?! ToT (nangis dalam hati).

Merinding, saya langsung nyuruh Miss A pergi aja dari sini. Tapi dia kayanya masih tenang-tenang aja. Lalu dia memberanikan diri mendekati mas-mas yang ada di sana, berniat untuk tanya. Alhamdulillah, meski agak “galak”, mas itu ngasih tahu juga kita harus ke mana, sambil ngedumel “Time! Time!” (mungkin maksudnya waktu sewa ATV-nya udah mau habis atau semacamnya lah—saya nggak peduli).

Singkat cerita, dengan perjuangan akhirnya kami berhasil sampai di tempat yang familiar. Starting point kami tadi. Masih trauma dan nggak yakin (takut salah-salah tempat lagi), saya berjalan hati-hati sambil melihat-lihat was-was. Taraaa! Lantas saya pun melihat ketiga cowok yang kami kenal sedang asyik duduk-duduk di salah satu tempat di sana. Huaaaaaa… Alhamdulillah…! Akhirnya bisa balik jugaaaaa ToT (kali ini beneran nangis dan langsung diseka biar nggak malu-maluin).

Awalnya mereka masih sempat basa-basi godain kami yang waktu itu kelupaan masih pakai kacamata hitam (iyalah, terik banget). Namun, melihat raut wajah kami yang aneh, mereka pun jadi pada heran dan bertanya-tanya. Rupanya, mereka pikir kami lama karena masih asyik main-main. Begitu tahu kami nyasar, mereka semua langsung pada prihatin. Mereka langsung menawari minum, menenangkan, dan bercerita hal-hal lucu untuk mencairkan suasana. Huft, benar-benar perjuangan besar! (Dan sangat berkesan).

Mereka berhasil mencairkan suasana, dan kami berhasil memperbaiki mood. Setelah duduk dan istirahat sebentar di sana, kami semua memutuskan melanjutkan perjalanan terakhir ke Red Sand Dunes. Cerita alay ini pun berakhir, dengan ditutup dengan komentar Miss A ke saya yang agak antiklimaks, “Kok kamu pinter cari orang sih, Tik?” Hahahaha xD —*Maksudnya pinter cari pertolongan ke mas-mas kece berwajah oriental itu, kkk lalu saya pun menyesal karena nggak sempat foto atau sekadar kenalan xD #ups

Red Sand Dunes

Perjalanan lanjut ke Red Sand Dunes, yang mirip-mirip White Sand Dunes, hanya saja pasirnya berwarna merah alias cokelat keemasan. Kami sempat melewati lagi lautan dan karang menjulang yang sama seperti yang kami lihat sebelumnya. Kami juga melewati lagi pantai-pantai pasir putih yang letaknya persis banget di pinggiran jalan raya. Sukaaa banget! (Alhamdulillah, dulu pas ke Pacitan gagal lihat pemandangan pantai pasir putih langsung dari jalan raya kaya gini, dan akhirnya sekarang kesampaian juga di Vietnam ini!. Yeay!).

Letak Red Sand Dunes nggak begitu jauh, dan ternyata lokasinya tepat di sebelah jalan raya alias nggak perlu masuk-masuk lagi. Yang terkenal di sini adalah seluncuran pasir. Begitu turun dari jeep, siap-siap disambut gerombolan orang yang menawarkan penyewaan alat seluncur pasir. Meski udah sempat istirahat, tenaga saya sebenarnya masih berasa terkuras dan belum bener-bener pulih. Jalan di pasir-pasir sini aja udah berasa berat. Lalu melihat orang-orang menawarkan alat seluncur itu, rasanya udah nggak nafsu lagi untuk coba-coba hal “aneh”. Hanya Mister O dan I saja yang akhirnya menyewa salah satu seluncuran dan mencoba beberapa kali. Sementara itu, seakan nggak kapok usai nyasar tadi, saya dan Miss A lagi-lagi malah memisahkan diri dari yang lain dengan alasan berburu gambar. Hehehe, tapi kayanya gantian mereka-mereka itu yang “kapok” karena ujung-ujungnya jadi pada nyusulin kami, kkk #pede #geer.

Duduk-duduk dan foto adalah hal yang paling banyak saya lakukan di sini. Apalagi ini momennya menjelang sunset. Saat matahari mulai tergelincir, aura tempat ini jadi berasa semakin romantic. Perpaduan antara sinar matahari yang oranye kemerahan dengan pasir cokelat keemasan itu, jadi terkesan so sweet dan romantic-romantic gitu. Apalagi pas mau ambil gambar sunset malah nemu pasangan yang lagi liat sunset juga. Kkk…

Nggak banyak yang bisa diceritain di sini. Berasanya semua kejadian udah tumpah ruah di White Sand Dunes. Maka, sesuai perjanjian, usai melihat sunset kami langsung kembali ke jeep untuk diantar pulang kembali ke hotel.

Setelah shalat maghrib di hotel, kami pun keluar lagi untuk berburu makan malam di sekitaran hotel. Dengan asumsi tadi siang berjalan ke arah kanan, maka malam ini kami coba berjalan ke arah kiri. Hahaha, sempat bingung makan apa, akhirnya kami memutuskan untuk makan malam di salah satu resto Rusia. Setelah sempat kepo-kepo, kami pun duduk dan melihat-lihat menu yang memang didominasi oleh masakan kontinental. Cari aman, akhirnya saya dan Miss A memutuskan untuk memilih menu nasi putih, sup tahu jamur, dan ikan panggang fillet mentega-lemon untuk berdua, serta minuman jus jeruk. Sementara yang lain, kalau tidak salah ingat Mister U pesan spageti, lalu Mister O dan I pesan semacam tumis-tumisan ikan gitu (sama nasi goreng apa yah, entahlah lupa).

Ummm, mungkin karena lidah yang kurang sesuai dengan masakan kontinental, sup tahu jamurnya jadi terkesan “hambar” (maklum, orang Indonesia kan suka bumbu-bumbuan yang berasa gitu) dan ikan panggang fillet-nya berasa “asem banget” karena bumbunya memang mentega dan lemon. Miss A mulai ogah-ogahan makan gitu, sementara saya yang pada dasarnya memang lapar (plus nggak tega lihat makanan nganggur, hahaha #alasan) masih terus berjuang makan sedikit demi sedikit.

Melihat raut wajah saya dan Miss A yang aneh, lagi-lagi yang lain mulai bertanya-tanya. Hahaha, sebenernya nggak boleh mencela makanan sih, ya. Lagipula ini bukan salah makanannya juga, tapi lidah kita aja yang memang kurang cocok. Penasaran, akhirnya mereka-mereka pun mencoba menu pesanan kami. Dan wajah mereka pun langsung berubah datar. No comment xD

Entah prihatin atau apa, waktu itu Mister O yang duduk di depan saya jadi nyodorin piringnya, nawarin makanan pesanan dia ke saya. Katanya enak banget dan saya harus coba. Dia pesan kaya ikan fillet tumis paprika atau semacamnya gitu. Saya coba sedikit dan… sumpah itu enak banget! Sama-sama ikan fillet, tapi kenapaaaaa punya dia enak bangeeeeet?! :O

Alhasil, saya yang (lagi-lagi) nggak tega lihat makanan nganggur, jadi “berusaha keras” ngehabisin. Miss A sudah lama menyerah, kkk. Lalu entah karena prihatin, masih lapar, atau nggak sabar nungguin saya makan, Mister I jadi ikut bantuin ngehabisin sup tahu jamurnya dan Mister O jadi ikut bantuin nyomot ikan fillet panggangnya, hingga hanya tersisa kuah dan tomat-tomatnya saja. Hahaha, lalu kocek yang harus dirogoh pun 75.000 VND untuk menu pesanan saya saja ^_^” (miris dan lucu).

Usai kenyang, kami sempat mampir ke toko sovenir yang ada di sekitar sana. Bentuknya kaya minimarket alfa atau indo gitu, yang juga menjual makanan dan pakaian. Sovenir yang dijual macam-macam, mulai dari kaos, topi, pajangan, botol pasir, piringan, magnet, gantungan kunci, keramik, kerajianan dari bambu, dll. Bajunya pun sebenernya bagus dan lucu-lucu. Dan saya pun memang berniat cari baju karena persediaan baju yang dirasa kurang. Namun, kaos yang dijual di sini nggak ada yang lengan panjang, dan blus yang ada bahannya tipis-tipis banget. Urung beli, akhirnya hanya bisa cemberut diem-diem aja, deeh 😦

Di sini saya membeli magnet kulkas dan cokelat Kitkat HALAL! Yeay! Ini cokelat yang ditemuin Miss A, dan karena bahagia lihat makanan kemasan berlabel Halal (kayanya ini impor dari Indonesia atau Malaysia deh) kami pun langsung beli. Harganya 20.000 VND, lumayan untuk persediaan ganjal perut kalau lapar. Nggak hanya itu, ternyata di sini juga ada permen lolipop yang gede banget! xD Hahaha, besarnya mungkin sekitar bola tangan (?)—bukan kepal tangan. Pokoknya jauh lebih besar daripada bola kasti, tapi masih lebih kecil daripada bola sepak. Hmmm kira-kira berapa lama ngehabisinnya, ya? Hahaha…

Sekitar pukul 22.00 lebih kami kembali ke hotel. Bus menuju Ho Chi Minh dijadwalkan pukul 02.30 waktu setempat. Usai mandi dan beres-beres, sekitar pukul 00.00 pun kami tertidur. Sebelum tidur, sebisa mungkin barang-barang memang sudah harus beres di dalam ransel (kecuali yang mau dipakai), dan tentu saja sudah pasang alarm jam dua kurang. Lampu pun dimatikan dan kami bersiap untuk tidur.

Namun tiba-tiba, sekitar pukul 01.00 dini hari pintu kamar kami digedor-gedor… X_X

Bersambung…

estEtika

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: