Bercakap dengan Awan

Selama ini, aku hampir selalu memulai perjalanan di malam hari. Maka, pemandangan yang tampak di luar jendela hanya 2 macam. Gelap dan kerlip. Meski terkadang aku sempat menertawai diri sendiri, perempuan macam apa yang melakukan perjalanan keluar kota seorang diri di malam hari?

Namun, belakangan pernah kubaca bahwa Rasulullah pun lebih senang melakukan safar di malam hari. Karena banyak hikmah yang didapat, yaitu perjalanan malam cenderung lebih cepat sampai dan tidak mengganggu waktu shalat fardhu. Lantas, aku pun mulai mencari-cari cela, hingga akhirnya kutemukan dalih lain tentang keadaanku. Yaitu karena perjalanan yang kutempuh terbilang aman dan dibersamai dengan puluhan atau mungkin ratusan orang dengan tujuan yang sama, maka berharaplah aku atas keringanan dan ridho Allah untuknya.

Ya, kereta dan malam adalah dua teman baikku dalam menapaki jejak-jejak menuju tempat pulang. Namun, pembicaraan kali ini tidak berfokus ke sana. Karena saat ini, aku sedang ingin berkenalan dengan kereta dan siang. Atau mungkin lebih tepatnya, kereta dan awan.

Aku adalah pecinta awan. Awan putih berarak di langit biru adalah salah satu pemandangan magis terfaforit, diikuti oleh biru-biru yang lain seperti laut dan pantai. Dan hari ini, lewat jendela kereta, gumpalan-gumpalan awan itu setia menemani perjalanan. Kapas-kapas terapung yang mengikuti, seakan turut berlarian mengejarku.

“Tunggu, tunggu aku. Aku juga ingin pulang bersamamu,” imajinasiku akan seruan mereka.

Namun, awan juga mengingatkanku akan hal lain. Tentang dia, tentang seseorang yang pernah membersamai menatap awan-awan dari dekat. Dia yang mirip sekali dengan awan. Tidak akan mungkin bisa diraih. Karena kalaupun bisa teraih, ia akan menyebar menjadi titik-titik air yang tak lagi serupa dengan wujud aslinya. Dan sama halnya dengan dirinya, yang jikalau pun bisa teraih, akan tersebar menjadi titik-titik air. Titik-titik air mata.

Dan mungkin memang benar; terkadang kita memang tak selalu bisa dibersamai oleh sesuatu–atau mungkin seseorang–yang kita sukai, yang kita cintai. Sama seperti aku dan awan. Yang berpisah jauh berkilo-kilo, yaitu saat aku terjembab di dasar, sementara ia mengapung ringan di puncak. Bahkan saat kucoba daki pegunungan yang tingginya tak seberapa, hanya untuk sekadar menyapanya lebih dekat, aku pun tak sanggup lagi mencoba gunung lain yang lebih menjulang. Malah keesokannya aku langsung terkulai lemas, yang lantas mereka sebut “kelelahan”, hingga akhirnya muncul kesimpulan anyar. Aku, bukan makhluk yang bersahabat dengan ketinggian, pun dengan kedinginan. Ah, awan… Betapa berbedanya kita.

Mungkin memang benar kalau sesuatu–atau seseorang–yang kita cintai tidak selamanya bisa kita bersamai. Ada kalanya melihat dari kejauhan justru tampak lebih indah dan menentramkan hati. Ketimbang terus memaksa diri, mendesak takdir untuk membersamai. Mungkin menerima dengan lapang bisa menjadi sedikit solusi.

Atau mungkin, setidaknya tunggulah sejenak. Hingga Sang Pengatur Nikmat berkenan untuk meridhoi segala niat. Merestui kebersamaan meskipun hanya sekelibat. Karena kau tahu? Bukankah segala keinginan dan harapan tidak selamanya bisa terkabul secepat kilat?

estEtika
Cirebon, 1 Juli 2016
Ditulis dalam perjalanan kereta api Jakarta-Tegal. Kembali ke kampung halaman, melepas segala kerinduan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: