Di Balik Layar Lost in Vietnam, Ho Chi Minh I’m (Still) in Love!

Masih di Mui Ne

Saya baru saja tidur selama satu jam, ketika tiba-tiba pintu kamar kami diketuk. Jadwal keberangkatan bus adalah pukul 02.30, tapi entah kenapa seruan dari luar sana mengatakan bahwa bus sudah datang. Padahal saat itu jam masih menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Saat itu saya sempat tidak percaya dan kembali menarik selimut alias lanjutkan mimpi indah. But, ketukan semakin keras dan mulai tak sabar. Sadar akan situasi yang mendesak, akhirnya saya dan Miss A buru-buru berkemas. Beruntung barang-barang sudah rapi masuk ke dalam ransel meskipun tetap saja menyisakan beberapa barang “siap pakai” yang masih berceceran di luar. Buru-buru, saat itu saya pun tidak sempat ganti baju (apalagi dandan untuk menyamarkan muka bantal ini, hahaha) dan hanya mengenakan baju tidur yang dibalut jaket, kerudung, dan rok seadanya. Benar-benar seperti tentara yang disuruh segera apel!

Back to Ho Chi Minh (dokumen pribadi).

Back to Ho Chi Minh (dokumen pribadi).

Memalukan. Ternyata bukan bus yang datang, tetapi mobil travel yang di dalamnya sudah menunggu bule-bule yang juga akan naik bus. Rupanya, kasusnya sama seperti saat kami di Ho Chi Minh beberapa hari lalu, yaitu kami diantar terlebih dahulu ke tempat pemberangkatan bus dengan menggunakan mobil travel ini. Pantas saja mereka datang menjemput lebih cepat. Saat itu saya masih merasa kalau nyawa ini belum sepenuhnya berkumpul. Bahkan saat bus kami akhirnya datang, saya sudah tidak bernafsu lagi untuk pilih-pilih tempat tidur. (Saat awal naik sleeper bus ini kan berasa semangat banget pengen ngerasain tidur di kasur bagian atas, kkk). Begitu ada kasur kosong di bagian bawah, langsung blek, lanjut tiduuuur…

Catatan: Ini adalah tulisan tentang detail perjalanan dan pengalaman penulis yang diulas secara lengkap dan panjang lebar. Untuk referensi perjalanan secara lebih singkat, silakan kunjungi “Rangkuman Perjalanan Lost in Vietnam”😉

Tiba-tiba bus berhenti. Pemberhentian terakhir yang entah di mana. Lihat keluar jendela, langsung panik. Belum shalat subuh. Lalu langsung khawatir kalau yang lain udah pada shalat subuh sambil duduk di dalam bus. Refleks langsung nanya ke Mister I yang ada di sebelah. Entah ini disebut jahat atau apa, tapi langsung seneng dan lega gitu pas dia bilang belum shalat. Heee berasa nggak sendiri gitu deeeh. Konyolnya, sekarang-sekarang ini baru sempat terbesit pikiran konyol: ya ampun, itu muka waktu itu cengok-nya kaya apa yaaaa, bangun-bangun malah langsung ngajak ngomong orang kaya begituuuu…

Begitu turun di suatu tempat yang kami asumsikan di sekitar pusat kota, kami pun langsung mencari taksi untuk buru-buru ke masjid. (Alhamdulillah, salah satu teman sempat memfoto alamat masjid di kawasan Ben Than). Waktu itu sekitar pukul setengah enam sehingga kami sangat buru-buru. Dan Alhamdulillah, masjidnya ternyata tidak terlalu jauh. Namun, sesampainya di sana pintu gerbang masjid malah tertutup rapat. Marbot masjid yang dulu kami temui menolak membukakan pintu dengan alasan gerbang masjid baru akan dibuka saat Dhuhur nanti. Sempet syok, tapi sambil bantuin yang lain nurunin tas dari taksi, sempet denger begitu Mister I bilang kata-kata “musafir” dan “Shubuh”, Eyang itu pun langsung membukakan gerbang dan mengantar kami sholat di lantai atas. Kagum juga pas lagi sholat itu, Eyang marbot itu juga masangin dan nyalain kipas angin di spot akhwat tempat saya sholat (padahal waktu di tempat akhwat itu ya cuma ada saya seorang). Setelah selesai shalat pun, Eyang itu menyempatkan diri menyapa saya dan mengajak ngobrol dengan bahasa yang (teteup) nggak begitu saya mengerti tapi masih terkesan tulus. Ah, terkadang saya memang mudah tersentuh dengan kebaikan-kebaikan sepele semacam ini ^^

Demi memusnahkan muka bantal dan tentu saja mengganti baju tidur lusuh ini ke baju yang lebih normal, kami pun meminta izin juga untuk numpang mandi di masjid ini. Alhamdulillah, permintaan ini pun dikabulkan. Kebaikan dan ketulusan saudara seiman memang salah satu karunia Allah yang terbaik😀

 

Dalam salah satu buku berisi panduan traveling untuk muslimah yang pernah saya baca, ada anjuran untuk sebisa mungkin berbaik hati dan meninggalkan “sesuatu yang bermanfaat” di tempat yang kita kunjungi. Salah satu contoh yang diberikan adalah dengan mengisi kotak shodaqoh yang ada di masjid atau mushola yang kita kunjungi, atau memberikan sesuatu kepada marbot atau pengasuh masjid yang kita temui. Cara lain juga bisa dengan melakukan shalat tahiyatul masjid untuk sekadar menghormati sekaligus memperbanyak “bekas kening” kita saat bersujud di masjid tersebut ^^

 

Usai bebersih, berpamitan dengan marbot masjid, dan meninggalkan masjid tersebut, dimulailah ketidakjelasan hubungan, eh perjalanan ini. Sebenarnya agenda selanjutnya adalah menuju Cu Chi Tunnel yang kabarnya cukup jauh dari sini. Beberapa hari lalu kami memang sempat galau, apakah mau ikut tur atau jalan sendiri. Dan meskipun pada akhirnya sepakat ikut tur, nyatanya lokasi turnya pun kami belum tahu. Hahaha… Eh tunggu dulu, sebelum meninggalkan masjid, kami sempat sarapan dulu di depan masjid. Ada warung kecil gitu semacam penjual nasi uduk kalau di Jakarta ini. Harganya cukup murah meriah, sekali makan hanya sekitar 32.000 VND dengan menu nasi, ayam, dan bihun.

Ketidakjelasan ini diawali dengan berjalan kaki dari masjid menuju kawasan Ben Than Market. Kabarnya sih, lokasi tur Cu Chi Tunnelnya ada di sekitaran sana. Setelah sampai Ben Than, mulai pasang muka tembok tanya-tanya ke orang lewat tentang lokasi agen tur Cu Chi Tunnel. Ada orang yang sempat kami tanyai tapi nggak bisa english, lalu dia malah manggil mbak-mbak pramuniaga yang bisa english. Hahaha, lucu-lucu juga orang-orang sini. Dan si mbak yang pinter english ini pun nyatanya nggak ngerti pas kami menyebut “Cu Chi Tunnel”. Baru deh, pas ditunjukkin foto, mbak ini ngeh dan memberi kami petunjuk jalannya. Jadi, sebenernya bahasa Vietnamnya Cu Chi Tunnel itu apaan? *masih menjadi misteri*

Sebagai orang yang buta arah dan gampang tersesat (biasanya cuma pinter kalau kepepet doang, pas sama mas-mas oriental di White Sand Dunes misalnya, hahaha), wajar kalau saya cuma ngikut saja ke mana kaki-kaki yang lain melangkah. Sampai di persimpangan jalan yang namanya mirip-mirip jalan terkenal di Bandung, Pasteur Street (atau apalah itu tulisannya), kami mulai bingung lagi; dan akhirnya asal comot orang lewat buat nanya-nanya. Lucky! Bapak ini mahir bahasa Inggris dan dia mau banget nganterin kami sampai ke lokasinya! Dan yang lebih amazing, ternyata bapak ini orang Korea! Hahaha, langsung deh, saatnya Miss A beraksi. Mulai nggak paham mereka ngomongin apaan, tapi kadang tuh bapak tahu diri juga melihat kita bengong dan mulai membumbui kembali percakapan dengan bahasa Inggris.

Sesampainya di agen tur yang ditunjukkan bapak tadi, kami langsung tanya ke mbak-mbak (atau ibu-ibu?) yang ada di situ. Orang Korea bernama Mister Jeong itu pun pamit. Kami berterima kasih banget nih, udah dianterin sampai sini segala. Tapi, kabar buruknya adalah… kami ketinggalan bus tur yang ternyata sudah berangkat ke Cu Chi Tunnel sejak pukul 8 pagi tadi. Yaaah…

Di sini kami sempat mengubah-ubah jadwal yang sudah kami atur sedemikian rupa. Berniat mengikhlaskan Cu Chi Tunnel pun rasanya sayang karena sudah sejauh ini. Oh ya, percaya nggak, waktu kami masih menggalau di depan agen tur itu, Mister Jeong yang tadi malah balik lagi ke sini dan… memberi kami roti kismis yang cukup besar yang baru saja dia beli! Ya ampun, baik banget nggak sih… Alhamdulillah Misternya juga tahu banget kalau kami muslim, jadi nggak beliin roti yang aneh-aneh. Akhirnya sempat curcol juga deh sama tuh Mister kalau kami ketinggalan bus. Namun, pada akhirnya ada opsi lain juga, sih. Yaitu, menyewa mobil pribadi beserta supir, yang akan mengantarkan kami ke Cu Chi Tunnel. Tarifnya jelas lebih mahal. Dengan fasilitas mobil plus supir plus bensin, tarifnya sekitar 1.100.000 VND. Awalnya pakai Dolar gitu sih, lalu dikonversi ke VND dan hasilnya jadi segitu. Dibagi untuk 5 orang, lumayan juga sekitar 220.000 VND per orang. Setelah disepakati, akhirnya jadi juga deh, jadi orang kaya beberapa jam dengan sewa mobil Avanza kece di negeri orang.

Lucunya, lagi-lagi driver-nya nggak bisa bahasa Inggris. Jadi berasa pasrah aja kan, dibawa ke mana aja sama nih Bapak. Tapi driver-nya masih lebih asyik pas kami sewa jeep di Mui Ne. Meski nggak bisa bahasa Inggris juga, dia masih agak-agak friendly dan mau nanggepin gitu kalau ditanyain atau digodain Mister I yang duduk di sebelahnya. Kalau si Bapak di HCMC ini, agak cool-cool tegas gitu. Nggak mempan juga pas digodain Mister I yang duduk di sebelahnya. Jadi pas dia ngomong malah akhirnya berasa krik-krik gitu, deeh.. Hahaha…

Perjalanan memakan waktu sekitar 3 jam. Biasa, awal-awal masih pada ribut cerita atau ketawa-ketawa. Semakin jauh dari kota, semakin sunyi dan senyap. Pas saya dan Miss A yang duduk di lajur tengah masih asyik ngobrol dan nengok ke belakang, ealah… tuh cowok-cowok yang duduk di belakang udah pada molor! Hahaha… Yang duduk di depan juga kayanya udah nggak ada suaranya. (Untungnya si bapak supir nggak ikutan terkapar juga ya, kkk). Akhirnya kami ikutan pejamkan mata tundukkan kepala juga, deh. Lumayan, perjalanan masih panjang.

Cu Chi Tunnel

Akhirnya kami sampai juga di Cu Chi Tunnel ini. Setelah diwanti-wanti jam satu siang harus udah kembali ke mobil, kami pun masuk juga ke dalam setelah membeli tiket masuk seharga total 110.000 VND. Setelah jadi orang kaya, saatnya kami pura-pura miskin. Longak-longok nggak jelas tanpa guide yang mendampingi. Pas dengerin penjelasan awal di semacam ruang multimedia yang bentuknya seperti ruang bawah tanah ini misalnya. Saya malah nyasar ikutan rombongan bule-bule Eropa. Usai guide menjelaskan pakai english dengan logat yang nggak familiar di telinga (jadi nggak full gitu nerima pesannya), penerjemah yang tiba-tiba muncul malah semakin memperkeruh isi otak saya. Dia nerjemahin english itu ke bahasa Rusia! Hadeeeeh… Mending cabut aja, laaah… ==’

Di Cu Chi Tunnel adalah saatnya belajar sejarah Vietnam. (Meskipun seandainya setelah keluar dari sini ada ujian tertulisnya, saya juga nggak yakin bakal lulus, sih). Setelah asal ngikutin salah satu guide rombongan yang kayanya bisa dipercaya, saya pun mulai acting pasang muka mengerti (padahal banyak bertanya-tanya juga di dalem hati, hahaha). Di sini kami diberi penjelasan oleh guide yang ternyata kocak tadi. Mulai dari bagaimana struktur terowongan, fungsinya, penjelasan cara kerja macam-macam senjata dan jebakan yang digunakan saat perang, penjelasan tentang taktik pasukan saat mengecoh musuh, termasuk juga makanan yang biasa mereka makan dan cara membuatnya.

Di sela waktu, kami sempat diberi waktu istirahat gitu di semacam tempat yang banyak menjual makanan. Maka inilah saatnya menikmati roti kismis pemberian Mister Jeong! Enak, enak!😀 Di sini saya juga sempat duduk bersebelahan dengan seorang gadis berkerudung. Saling sapa, ternyata dia berasal dari Malaysia. Sama juga seperti kami-kami ini, mereka melancong bersama teman-teman, yang katanya teman satu kantor. Mulai deh, kepo-kepo dia habis dari mana dan mau ke mana. Yang menarik sih, pas dia cerita tentang tur Sungai Mekong yang kebetulan nggak masuk jadwal kami. Naik semacam perahu sampan gitu katanya, sambil menikmati “kampung tradisional” khas Vietnam. Dia juga sempat cerita Water Puppet Show yang baru dia nikmati semalam. Karena kebetulan nanti malam kami juga berniat ke sana, niat hati mau kepo-kepo juga. Eh, ternyata dianya nggak begitu merhatiin tempatnya di mana karena udah diatur sama salah satu orang dan dia tinggal ngikut aja. Akhirnya malah jadi cerita isi pertunjukkannya (berasa dapet spoiler gitu jatohnya, hahaha). Eh iya, saya sempat ditawari jajanan yang ia bawa. Kadang ditawari makanan sama orang asing emang harus hati-hati kan ya? Tapi terkadang berasa ada ikatan batin gitu (ceile) sama sesama muslim bersaudara yang secara Qadarullah dipertemukan di tempat asing. Dan mulai deh muncul sifat pelupa saya. Setelah kenalan, sekarang saya malah lupa siapa nama si mbak tadi. Kalau nggak salah, nama islami dengan huruf depan M. Hmmm, ada yang mau tebak?

Oh ya, yang unik di Cu Chi Tunnel ini ada 2 hal. Pengunjung bisa coba masuk ke semacam lubang “kamuflase” tempat persembunyian tentara Vietnam, dan apa lagi kalau bukan terowongan legendaris itu! Namun, di sini saya tidak mencoba kedua hal unik tersebut dengan alasan sederhana: ta-hu di-ri. Hahaha… Oh ya, di bagian akhir, kami malah disuruh cuci tangan, dan eng-ing-eng! Makan-makan!😀 Kami diberi suguhan teh, singkong rebus, dan kacang-kacangan (yang maksudnya supaya pengunjung tahu makanan seperti apa yang biasa penduduk lokal makan). Bagi orang Eropa, singkong rebus akan terasa unik dan menarik (kelihatan banget dari wajah mereka yang kagum-kagum bahagia-bahagia gitu, haha). Tapi bagi saya, lebih terasa seperti mengisi kembali perut yang mulai terasa lapar xD

Singkat cerita, kami pun kembali ke tempat parkir. Lucu, mobilnya tiba-tiba menghilang gitu. Selagi yang lain mencari, saya dan Miss A mulai mengobrol nggak jelas. Gimana kalau supir tadi kabur bawa barang-barang kita? … Di ransel yang di mobil ada barang berharga apa aja? … Paspor sama uang nggak ditinggal di sana, kan? … Kita pulangnya gimana, dong? Dan lain-lain, dan lain-lain yang Alhamdulillah nggak sampai kejadian karena bapak supir itu kembali muncul ^^

Kami pun minta diantar ke Saigon Central Mosque yang alamatnya masih ke-save di GPS offline Mister U. Karena perjalanan memakan lama, kami baru sampai di sana saat waktu Ashar. Setelah shalat Dhuhur-Ashar, kami pun mulai merasa lapar karena belum makan siang dan memutuskan untuk makan di resto halal sekitar sana. Idih, keluar dari masjid malah ada bapak penjual es krim keliling. Panas-panas gini kok yaaa rasanya tergoda juga untuk beli. Mengingat yang jual muslim, sok lah, sekalian icip es krim orang sini. Harganya 20.000 VND. Dan wiiiiii di sini kami juga ketemu rombongan muslim Pakistan yang mau ke masjid. Lalu kami dibagiin kacang-kacangan gitu (almond, kismis, dll). Emang ya, ketemu saudara sesama muslim di tempat asing selalu terasa beda ^^

Selanjutnya, kami pun memilih makan di resto Turki yang ada di sekitar sana. Saya memesan menu Pho Daging Sapi (yang insya Allah halal) dan Kopi Vietnam (jauh-jauh ke sini harus seenggaknya sekali nyobain kopi yang katanya enak ini) seharga 120.000 VND (hiks, mahal). Aduh, di sini agak kocak sih. Karena jadi agak kenyang setelah makan es krim, saya jadi agak lambat gitu makan Pho-nya. Mister U yang udah habis duluan, entah kenapa berasanya kaya ngelihatin Pho saya dengan muka memelas, hahaha. Saya coba tawarin tuh, karena saya juga berasa agak kenyang. Idih, dianya jaim-jaim gitu nolak. Ya saya lanjut makan. Eh, lagi-lagi mukanya semakin terlihat memelas gitu. Kayanya doi laper banget, apa ya? Hahaha… akhirnya saya sodorin juga deh tuh mangkuk, biar dia habisin punya saya. Kocaknya, ternyata pas disendok, mi-nya itu udah tinggal sedikit. Terus dia malah ngomel-ngomel, katanya kenapa pas udah tinggal sedikit baru dikasih ke dia! xD Duh, gimana dong? Sayanya juga nggak tahu kalau udah tinggal sedikit. Orang udah ditawarin dari tadi, malah nolak terus. Jadi mungkin tanpa sadar mi-nya udah kemakan banyak lagi setelahnya. Wkwkwk, antara kasihan sekaligus berasa jadi orang jahat nih, sayanya xD

Agenda selanjutnya adalah menonton pertunjukkan Water Puppet Show, kesenian khas asli Vietnam. Dari jalanan sekitar Saigon Central Mosque itu, kami mulai nggak jelas lagi. Asal jalan ke mana saja kaki melangkah. Sebenarnya kami sudah minta alamat Water Puppet Show itu ke ibu-ibu yang ada di tempat tur Cu Chi Tunnel tadi. Dan dari GPS offline pun udah ke-detect gitu. Tapi entah kenapa meskipun udah tahu alamatnya, perjalanan ini menurut saya tetep berasa nggak jelas. Hahaha, dan anehnya, terkadang saya malah menikmati ketidakjelasan ini xD Daripada ikut tur rombongan yang serba diteriakin suruh kumpul atau cepet-cepet, jalan sendiri dengan bebas jauh terasa santai dan menyenangkan😀

Di sepanjang jalan, kami mulai jadi wisatawan norak. Selfie sana-sini, cengar-cengir ke kamera hape Mister U yang kamera depannya oke punya. Ih, sesama hape Xperia tapi punya dia bikin iri aja. (Terus keinget alasan konyol saya beli hape ini karena biar mereknya samaan kaya hapenya Conan! Hahaha #abaikan). Di sepanjang jalan ini banyak bangunan kece kaya di Eropa. Beberapa hal konyol yang kami lakukan adalah selfie di sembarang tempat, termasuk di tengah jalan saat motor-motor berseliweran dan di pinggiran lampu merah. Bahkan saat ada kumpulan biksu yang lewat, dengan nggak tahu diri kami malah pura-pura asyik foto dengan background si biksu itu tadi. Alasannya: Duh, pingin foto sama biksu, tapi biasanya kan biksu nggak mau difoto, ya udah pura-puranya kita lagi foto-foto sendiri aja biar biksunya nggak sengaja kefoto! Hihihi…

Ngomong-ngomong, nih peta udah mulai nggak jelas. Kami mulai berasa nyasar. Dan kali ini bener-bener lost in Vietnam. Akhirnya kami mulai nanya-nanya ke orang. Hahaha, dan lagi-lagi mereka nggak ngerti apaan itu “Water Puppet Show”. Di saat seperti ini, gambar dari hape memang sangat membantu. Sambil muter-muter, udah nggak kehitung lagi deh, berapa jauh kami berjalan. Masalahnya kalau jalan doang nggak papa, ya… Lah ini bawa ransel yang cukup berat! Hahaha… Apalagi desain ransel saya boleh dikata mungkin nggak se-ergonomis ransel milik yang lain. Antara bersyukur dan nggak enak hati juga saat akhirnya ada yang menyadari penderitaan saya dan usul untuk istirahat di tengah jalan. Hahaha, memalukan. Singkat cerita, setelah sempat muter-muter dan tanya sana-sini, akhirnya kami sampai juga di tempat pegelaran Water Puppet Show! Alhamdulillah…

Pertunjukan dimulai tepat pukul 18.30 dan kami sudah sampai di sana sekitar pukul setengah enam. Saat itu Miss A dan Mister U malah pengen balik lagi ke Saigon Post Office untuk membeli oleh-oleh. Saya pun sempat keingat kalau di sana ada pembatas buku lucu seharga 70.000 VND yang saya pikir bakal bisa dibagi-bagi untuk teman-teman kantor. Akhirnya, saya, Miss A, dan Mister U memutuskan balik lagi ke Saigon Post Office yang pernah kami kunjungi di hari pertama itu dengan menaiki taksi. Sementara itu, Mister O dan Mister I menunggu di tempat pertunjukan sambil menjaga ransel yang kami titipkan pada mereka.

Kocak. Udah pede gitu langsung naik ke dalam taksi, pas kami bilang Saigon Post Office nih bapak malah nggak ngerti! xD Keinget di depannya ada gereja, kami pun bilang “Cathedral” dengan asumsi itu sebutan yang familiar untuk gereja besar di pusat kota. Bzzz… dan bapak ini tetep nggak ngerti. Miss A pun kalau tidak salah saat itu nggak bawa kamera yang bisa membantu menunjukan foto. Hahaha, lagi-lagi saya selalu tiba-tiba pintar hanya saat kepepet saja. Keinget pernah nge-save gambar-gambar di hape. Dan Alhamdulillah… akhirnya si bapak ngerti juga… Ongkos taksinya cuma 21.000 VND loh. Dibagi 3 orang palingan 7.000 VND doang ^^

Gubrak! Sesampainya di sana saya lemes seketika setelah tahu ternyata harga 70.000 VND itu untuk per-pcs, bukan per sepuluh pcs. Bzzz… cerdik banget sih nih toko dengan mengikat tuh pembatas buku per sepuluh pcs dan meletakkan harga 70.000 VND. Huft… Akhirnya yang ada saya malah jadi membeli apa-apa yang nggak berniat saya beli. Pengen beli pajangan piringan pun pupus. Tapi lumayanlah, seenggaknya di Mui Ne udah sempat beli banyak magnet untuk oleh-oleh. Ditambah beberapa dompet kecil dan lain-lain yang saya beli di sini dengan total 260.000 VND seenggaknya cukup untuk dibagi-bagi ke orang-orang di tanah air.

Karena ternyata deket dan merasa masih punya banyak waktu, kami pun kembali ke tempat si kembar menunggu dengan berjalan kaki. Alhamdulillah-nya di sini kami nggak nyasar sehingga bisa sampai ke sana tempat waktu. Idih, sesampainya di sana, dua oang itu udah nggak ada di kursi tunggu yang ada di luar. Longok sana-sini, kayanya mereka emang udah masuk duluan. (Ya ampun, kasihan juga ya, jadi bawa-bawa ransel dan barang kita ke dalam). Karna tiket memang sudah di tangan, kami pun masuk dan bertemu dengan mereka berdua di dalam gedung pertunjukan.

Water Puppet Show

Water Puppet Show merupakan kesenian asli Vietnam, yaitu seperti wayang golek, tetapi boneka yang mereka pakai muncul dan bergerak-gerak di atas air (kolam). Ada sinden-nya juga yang nyanyi-nyanyi, dan pengisi suara si boneka itu. Tiket masuknya 200.000 VND dengan tempat yang cukup nayaman. Awal-awal masih penasaran gitu, kan. Meskipun pakai bahasa Vietnam, dari gerakannya masih bisa diterka juga maksudnya apaan. Tapi, lama-lama saya mulai merasa ngantuk. Mungkin karena kursi yang nyaman dan empuk, ditambah pendingin ruangan yang sepoi-sepoi, plus pengaruh faktor lelah berjalan jauh juga, hahaha… Kalau saja waktu itu saya nggak mencondongkan badan ke depan untuk mencoba fokus ke pertunjukan, dan memilih bersandar santai ke kursi, insya Allah saya bakal tidur terlelap sampai tepuk tangan riuh penonton membangunkan xD

Oh ya, di Vietnam ini kami benar-benar menjadi para pemburu wifi. Sewaktu di resto Turki, Miss A sempat menghubungi Mister Jeong via email untuk mengucapkan terima kasih karena sudah diantar ke tempat tur Cu Chi Tunnel. Mengejutkan, saat itu Mister Jeong justru mengajak kami makan malam bersama di salah satu resto vegetarian di sekitar sana. Kami janjian pukul 20.00 dan saat itu masih pukul tujuh lewat.

Karena berasumsi dekat dan masih punya banyak waktu, lagi-lagi kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Heee… jalan malam-malam sambil bawa-bawa ransel kaya gini jadi terkesan agak horor, sih. Apalagi saat kami melewati sebuah taman dan salah satu orang mengucap ide: “Gimana kalau kita shalat Maghrib di taman ini? Kan seru, shalat di alam liar!” Lalu yang lain menimpali, “Etapi tadi ada anjing lewat,” hahaha langsung cep pada diem xD

Hasilnya apa? Kami pun akhirnya numpang shalat di salah satu resto halal yang kami temui. Sebenernya ini agak kocak dan maksa. Soalnya kami nggak berniat makan, dan hanya mau numpang sholat. Pembicaraan Mister O atau I (lupa, bingung lagi sama dua orang kembar ini) ke pelayan yang ada di sana, rasanya jadi terdengar seperti: “Kami mau numpang shalat di sini, tapi nggak mau beli apa-apa. Kalau boleh kami masuk, kalau enggak kami pergi!” Hahaha, ini hanya imajinasi hiperbola saya aja sih :p

Singkat cerita, akhirnya ketemu juga sama Mister Jeong ini. Kami makan bersama di salah satu resto vegetarian. Nih Mister emang tahu banget kalau kami muslim dan nggak bisa makan yang aneh-aneh (Miss A juga sempet ngingetin sih). Mulai deh, saya belajar english listening lagi. Pembicaraannya macem-macem, mulai dari perbincangan tentang negara dan orang-orang Vietnam, pekerjaan beliau, pengalaman beliau keliling berbagai negara, juga tentang pengalamannya backpacker, serta topik-topik lain yang nggak habis-habis. Dan wow, suguhannya macem-macem banget! Ada nasi campur yang ditempatkan di dalam nanas, varian nasi campur dengan isian lain, daging vegetarian, tofu, sayur kuah ubi, dan lain-lain yang masih banyak lagi! (Saking banyaknya udah nggak keinget apaan aja).

Terkadang sambil dengerin nih Mister cerita, saya mulai merasa ngantuk. Bukan apa-apa ya, ceritanya emang seru banget, tapi ini udah masuk jam bobo cantik saya (hahaha, alay) ditambah lagi saya juga mungkin sudah lelah berjalan jauh sepanjang hari ini, hehehe. Maka, terkadang saya terlihat agak bego juga pas si Mister malah tanya “Understand?” tepat mengarah ke saya saja. Mungkin pikir dia, nih orang kok cengok gini? Dia paham nggak sih, saya ngomong apaan? Hahaha I’m sorry, Mister xD

Tapi, saat itu pun mendadak rasa kantuk saya hilang seketika. Lagi asyik ngobrol, tiba-tiba mbak pramusaji malah meletakkan bill tepat di depan saya duduk! Yang ngeselin, Mister O yang duduk di depan saya dan tahu kejadiannya malah cengar-cengir lihat saya kebingungan. Sambil yang lain masih asyik dengerin Mister Jeong cerita, saya mulai ngasih kode nunjuk-nujuk tuh bill ke dia yang masih aja cengar-cengir. Jadi ini maksudnya gimana? Saya harus gimana? Bukannya kasih solusi, dia malah bisik-bisik dari jauh yang intinya: bill-nya kan ada di depan kamu, jadinya ya kamu yang bayar. Ya ampun, ngeselin banget deh ==’

Menjelang pulang, akhirnya saya bisikin Miss A yang ada di samping saya. Maksudnya mau kasih tahu tentang itu bill. Sekalian saya nanya juga sih, toiletnya ada airnya nggak (karena dia sempat ke toilet ini tadi). Dan saat itu Mister Jeong entah gimana denger pas saya nyebut-nyebut toilet. Yang ada, dia malah mempersilakan saya ke toilet dulu sebelum kami semua beranjak dari sini. Saya sempat awkward juga sih, soalnya jadi nggak sempet nanyain nasib bill itu. Dan satu-satunya orang yang tahu, waktu itu masih aja cengar-cengir ngetawain saya. Grrr…

Sekembalinya dari toilet, saya semakin kebingungan. Bill di atas meja saya lenyap! Saya mulai menyapu seisi meja dan mendapati bill-nya sudah berpindah ke bagian tengah meja. Tapi pemandangan saat itu, ketika saya datang tapi semua orang malah berdiri, dan si mbak pramusaji yang juga berdiri di dekat kami (seakan sedang menunggu sesuatu yang saya anggap berhubungan dengan bill itu), semakin membuat saya bertanya-tanya. Lah? Ini sambil masih pada ngobrol-ngobrol, mereka semua malah pergi dari meja bersiap untuk keluar resto. Saya cengok. Ini udah dibayar belum, sih? :O

Saya mau nanya ke Miss A, tapi dia masih aja asyik ngobrol sama Mister Jeong (iyalah, di antara kami, yang paling nyambung diajak ngobrol Mister Jeong kan dia doang). Mau nggak mau, nanya juga ke Mister O yang terkesan lagi nganggur, “Eh tadi gimana? Udah dibayar?” Ealah, ini orang bukannya jawab serius, malah belagak pasang muka sok-sok kaget gitu sambil balik bertanya, “Hah?! Jadi bill-nya belum kamu bayar, Tik?!” Ya ampuuuuuunnn bener-bener nggemesin banget nih orang! ==’

Hingga kini masih menjadi misteri apa yang sebenarnya terjadi saat saya ke toilet. Sebelum diskusi gimana rencana selanjutnya, dengan muka polos saya sempat menanyakan juga apa makanan tadi sudah dibayar. Eh, mereka malah ketawa-ketawa mendengar pertanyaan polos saya. Katanya sih, pas saya ke toilet udah dibayar semua sama Mister Jeong. Tapi saat itu masih ada juga orang yang terus ngegodain. Mana dia sempet bilang kalau saya ke toilet gara-gara kabur karena takut sama bill itu, lagi. Huft… meski sebenernya nggak sepenuhnya salah juga, sih. Hahahaha xD

Jam menunjukkan hampir pukul sebelas malam. Kami pun memutuskan naik taksi dari sana untuk menuju Bandara Than Son Naht. Namun, cerita ini nggak berakhir sampai di sini…

Bersambung…

 

2 Comments

  1. Holmes said,

    21 July 2016 at 16:04

    Jadi yang kemaren itu belum kamu bayar tik?😛


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: