Alasan Dia Pergi

The reason why God allowed him to walk away is because you prayed for a good man, and he wasn’t.”

IMG-20160504-WA0006

Kutipan tersebut pernah dikirimkan salah satu teman ketika saya patah hati. (Ceilee, Alhamdulillah pernah patah hati jugaaa, hahaha). Awalnya sih berasa terhibur banget. Jadi lebih menerima takdir yang emang nggak selamanya sesuai dengan apa yang kita inginkan. Jadi berasa lebih ikhlas dan plong juga melepaskan seseorang yang bisa jadi memang tidak pernah tertulis untuk kita.

Namun, belakangan ini kutipan itu jadi cukup mengganggu saya. Terasa ada yang janggal. Pernah nggak, terpikir untuk membalik kata-kata itu untuk menampar diri kita sendiri?

The reason why God allowed him to walk away is because he prayed for a good woman, and you weren’t.

Jleb!!

Laki-laki yang baik adalah untuk perempuan yang baik; dan perempuan yang baik adalah untuk laki-laki yang baik. Nggak main-main, ini semua difirmankan oleh Allah sendiri dalam QS. An-Nur: 26.

Namun, untuk kutipan yang pertama, ada suatu kekhawatiran yang mungkin timbul jika kata-kata penghibur semacam itu harus keluar dari hati kita. Yaitu ujub. Ketika kita mengatakan bahwa selama ini kita mengharapkan laki-laki yang baik, maka sesuai firman Allah di atas, kita pun otomatis harus menjadi perempuan yang baik pula. Karena sejatinya laki-laki yang baik hanya akan bersanding dengan perempuan yang baik. Dengan kata lain, secara tersirat jika berpatokan pada kutipan yang pertama, kita telah merasa “menjadi baik” dengan mengharapkan laki-laki yang baik. Dan hal ini yang dikhawatirkan akan menjadi ujub alias bangga dengan keadaan diri sendiri.

Sementara itu, kutipan yang kedua mengandung suatu “tamparan” untuk diri sendiri. Di sana terkandung muhasabah diri. Bahwa boleh jadi kita ini memang belum baik, sehingga tidak–atau setidaknya belum–pantas untuk bersanding dengan laki-laki baik yang mengharapkan perempuan baik. Atau kalau bahasa kasarnya mungkin: tahu diri. Hehehe…

Ada satu video inspiratif yang pernah saya tonton. Isinya tentang seorang wanita yang mengharapkan pasangan seperti Rasulullah SAW. Namun, sang wanita itu lupa bahwa pasangan Rasulullah adalah Khadijah Ra. Dengan kata lain, untuk mendambakan pasangan seperti Rasulullah, bukankah kita juga setidaknya harus setara mendampinginya? Dan apakah kita sendiri ini sudah seperti Khadijah? Yang layak untuk bersanding bersama Rasulullah? Jleb! Jleb!!

Mungkin karena itulah, sebagian besar nasihat untuk para kaum jomblo adalah untuk memperbaiki diri. Yaitu memperbaiki diri hanya semata-mata karena Allah Ta’ala. Karena sejatinya, tak ada yang merugi dalam proses perbaikan diri.

Namun, yang juga perlu direnungi adalah bahwa Allah tidak selalu memberikan apa-apa yang kita inginkan, melainkan apa-apa yang kita butuhkan. Pasti nggak asing juga, kan, dengan firman Allah yang mengatakan bahwa: Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu (QS. Al-Baqoroh: 216).

Saat kita menyukai sesuatu, mengharapkan sesuatu, maka tidak selamanya yang kita harapkan itu adalah yang terbaik untuk kita. Bisa jadi apa yang kita sukai itu justru yang nantinya mendatangkan kemudhoratan bagi diri kita. Atau malah sebaliknya, apa yang kita benci justru nantinya mendatangkan kebaikan bagi kita. Ada yang pernah baca kisah tentang anak petani yang jatuh dari kuda dan kakinya patah tapi pada akhirnya dia malah bersyukur karena dengan itu dia jadi tidak wajib ikut perang dan meninggalkan kampung halaman serta kedua orangtuanya? Yups, selalu ada hikmah dan kebaikan dari segala apa yang menimpa kita.

Kalau begitu, redaksional kutipan tadi bisa juga dipermak menjadi:

The reason why God allowed him to walk away is because He wished an appropriate man for you, but he wasn’t.

Ya, Allah hendak memberikan laki-laki yang tepat untukmu, tapi bukan dia orangnya. Bisa jadi, dia memang bukan orang yang tepat, sesuai, cocok, pantas, dan layak untukmu; baik yang “setara” maupun yang “untuk saling melengkapi” dalam hal agama, ekonomi, visi-misi, ataupun tujuan hidup. Orang yang tepat tidak selalu yang terbaik dari semua orang yang ada, tetapi dia adalah yang terbaik khusus untukmu dari semua orang yang ada. Dan sungguh hanya Allah yang Maha Mengetahui apa-apa yang terbaik untuk hamba-Nya.

Maka terkadang, saya pun merenung. Mungkin selama ini doa-doa saya salah. Mungkin selama ini kita terlalu keras kepala dan “sok tau” di depan Allah. Bahwa dengan begitu, bahwa dengan bersama orang itu, kita bakal bahagia dan akan mendatangkan banyak kebaikan bagi kita. Bahwa “cinta mati” kita hanyalah kepada orang itu. Apapun yang terjadi pokoknya maunya sama orang itu! Titik! Padahal belum tentu orang itu adalah orang yang tepat untuk kita. Belum tentu pula orang itu yang nantinya akan mendatangkan kebaikan bagi kita. Ya Allah, semoga Engkau mengampuni, merahmati, dan memberikan petunjuk bagi orang-orang yang sudah “sok tau” ini, termasuk dan terkhusus bagi diri ini pribadi😥

Terakhir, sembari memperbaiki dan memantaskan diri, ada kalanya tak perlu merisaukan kapan waktunya terjadi. Karena sesungguhnya semua itu sudah pasti, sudah tertulis dalam Kitab Lauhul Mahfudz di sisi Allah. Kalaupun mungkin takdir berkata lain, setidaknya memang itulah yang terbaik untuk kita pribadi. Iya, mungkin ini memang terkesan seperti kata-kata hiburan bagi jomblowan-jomblowati seperti diri ini. Nggak papa. Silakan mem-bully kami karena semakin kami di-bully, semoga doa-doa kami juga akan semakin “membumbung tinggi” sebagai doa dari orang-orang yang tersakiti xD

estEtika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: