Rahasia: Tak Sekadar Jangan Bilang Siapa-Siapa

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, rahasia adalah (1) sesuatu yang sengaja disembuyikan supaya tidak diketahui orang lain; (2) sesuatu yang belum dapat atau sukar diketahui dan dipahami orang; (3) sesuatu yang tersembunyi; (4) sesuatu yang dipercayakan kepada seseorang agar tidak diceritakan kepada orang lain yang tidak berwenang mengetahuinya; dan masih ada beberapa arti yang lain. Ada salah satu quote faforit saya yang pernah diucapkan oleh Vermouth, salah satu tokoh di serial Detective Conan. Katanya, “Secret makes a woman woman” yang maksudnya adalah rahasia akan membuat wanita menjadi wanita. Dan terkadang, kutipan ini ada benarnya juga. Wanita yang penuh rahasia, kadang kala akan terlihat lebih menarik dibandingkan yang tidak.

Namun, di zaman yang semakin modern ini, “password” bisa jadi merupakan salah satu rahasia besar yang kita punya. Begitu kata kunci ini terbuka atas kehendak kita, maka dengan begitu mudah rahasia kita pun bisa tersebar ke mana-mana. Sekali login Facebook, apa yang kita pikirkan dapat langsung diketahui oleh semua orang—berkat kalimat tanya sederhana, “What’s on your mind?” Masuk ke Instagram, kecantikan wajah kita langsung tersebar ke mana-mana lewat keahlian selfie dan aplikasi filter atau beauty yang oke punya. Masuk ke Path, segala macam kegiatan bisa ter-expose. Login Twitter, segala kegalauan hati mulai menumpuk di timeline. Masuk WhatsApp, malah jadi keasyikan curhat dan curcol sana-sini. Buka WordPress, malah kelupaan nulis buku harian. Belum lagi Foursquare atau aplikasi penanda lokasi yang juga terhubung ke media sosial lain; yang turut serta membeberkan lokasi-lokasi yang tengah atau pernah kita singgahi.

Jadi, jika semua hal telah tertuang di dalam sana, rahasia seperti apa yang tersisa di dalam sini? (menatap cermin dan bicara pada diri sendiri).

Saya sendiri memiliki beberapa akun medsos. Katakanlah Facebook, Twitter, Instagram, WordPress, dan beberapa aplikasi chatting seperti WhatsApp, BBM, dan LINE. Di masa-masa alay, penggunaan media ini memang sering kali khilaf. Kelupaan curcol soal kangen rumah, nilai jelek, atau soal ujian yang susah, sudah tidak terhitung lagi. Lantas saat sekarang ini sempat terbaca lagi, langsung geli sendiri (dan tekan tombol delete).

Namun, setelah lebih banyak mendapat masukan, saya mulai belajar menggunakannya dengan bijak (meskipun terkadang masih sering khilaf juga). Beberapa akun seperti Twitter dan Instagram memiliki gembok sehingga tidak semua orang bisa melihat. Terutama Instagram, sebisa mungkin tidak menerima followers yang tidak dikenal (mohon maaf kalau pernah asal tolak, hihihi). Yah, meskipun pada akhirnya ada juga lelucon yang mengatakan kalau, “Gimana hatinya mau dimasuki orang lain, kalau akun aja digembok?” Hahaha, don’t worry-lah. Lagipula bukankah semua gembok memiliki kunci? Jika sudah bertemu kuncinya, pintu hati pun insya Allah bakal mudah dibuka, kok :p

Seiring penggunaan medsos, beberapa masukan pernah datang menghampiri saya. Salah satu yang “mengena” dan paling saya ingat adalah ketika pertama kali saya memasang foto pribadi seorang diri di profil picture Facebook (biasanya tidak pernah pasang atau pasang foto ramai-ramai). Percayalah, itu hanya foto normal yang tidak terlalu close up (bukan pula selfie), dengan gaya biasa saja yang insya Allah tetap menutup aurat. Namun, salah satu teman lantas menyarankan saya untuk segera menggantinya.

Masukan atau nasihat yang masuk saat kita sendiri, konon akan jauh lebih mengena dan bisa diterima dibandingkan saat berada di khalayak ramai. Sempat heran dengan permintaan “aneh” itu, tetapi sekarang ini justru akhirnya membenarkan dan bersyukur karena diberi nasihat demikian sedini mungkin. Pada akhirnya, semua foto pribadi di profil picture maupun di album Facebook harus benar-benar bersih, atau setidaknya diubah menjadi setelan Only Me. Sebagai pencegahan agar tidak sembarang di-tag, sharing foto sebaiknya dilakukan lewat media yang lebih pribadi, seperti via email, bluetooth, WhatsApp, atau cara manual dengan flashdisk. Selain itu, setelan “X was tagged a photo of you” juga bisa diatur sehingga tidak muncul di profil sendiri. Terlebih lagi kasusnya adalah Facebook; media yang cenderung sudah tersebar luas dan tidak jelas lagi apakah semua nama yang ada di friend list memang kita kenal ataukah tidak. Dan lagi kondisinya kita sebagai perempuan; makhluk yang katanya jika bukan menjadi perhiasan dunia maka akan menjadi fitnah dunia. Na’udzubillah.

Namun, rupanya ada sebagian orang yang berpendapat bahwa tindakan ini terkesan lucu dan merepotkan. Katanya, “Bagaimana orang bisa yakin kalau ini akun kamu, sementara nggak ada satu pun foto di sana?” Hahaha, denger komentar ini, kok jadi berasa pasang akun pakai nama alay, ya? Sampai butuh penjelas foto segala :p

Pernah ada teman yang cerita kalau dia sempat ragu saat harus meng-add atau mengirim pesan kepada saya. “Ini benar Etika yang itu?” tanyanya ragu. Lantas sejak saat itu saya pun mulai sadar diri kalau ternyata saya ini nggak terkenal-terkenal amat meskipun sudah punya nama yang terbilang “unik” dan jarang dipakai orang, hahaha…

Yang lebih ekstrem, ada beberapa teman lama yang penasaran dengan wajah saya sekarang. Ada yang sempat minta tolong, mohon-mohon, bahkan “maksa-maksa” minta dikirimkan foto (hahaha, ini sih bahasa sayanya aja yang alay). Pernah pula dibujuk untuk mengobrol via Skype, atau dengan semena-mena menghubungi via video call demi melihat wajah polos ini (lalu langsung tekan tombol reject). Biasanya kalau sudah begitu, jutaan siasat untuk menolak harus lebih gencar dilontarkan; terlebih lagi jika yang meminta itu lawan jenis. #ups #ups #ups :p

Karena keindahan paras juga bisa menjadi rahasia, yang tidak semua orang perlu mengetahuinya.

Bicara soal rahasia, biasanya tidak lepas dari masalah curahan hati alias curhat. Ya, begitu banyak curahan hati yang diawali dengan kata-kata, “Tapi ini rahasia. Jangan bilang siapa-siapa, ya!”. Dan sayangnya, tabiat cewek yang katanya seharusnya penuh rahasia ini, adalah berbagi. Biasanya, seorang cewek bakal punya minimal satu teman curhat untuk satu topik tertentu. Biasanya siiih, hahaha… Tabiat inilah, yang terkadang juga menimbulkan stereotipe bahwa cewek akan menceritakan semua-muanya ke orang lain. Tidak hanya di medsos, tetapi juga ke keluarga, teman dekat, buku harian, tembok kamar, atau malah rumput-rumput yang bergoyang. Hihihi, berasa pengalaman pribadi, nih :p

Saya sendiri bukan termasuk penutur yang baik. Ada kalanya masalah bakal dipendam seorang diri. Sampai-sampai pernah ada yang berkomentar, “Kamu nggak pernah galau, ya?” (lalu saya ngikik di pojokan) atau “Kok kamu kuat, sih, nggak cerita apa-apa ke orang lain?” (lalu saya pasang muka nyengir dengan tetesan air di pelipis). Hahaha, nggak pernah galau? Kuat? Mustahil, lah yaw! xD

Dalam kuliah Psikologi, ibu dosen pernah mengatakan bahwa setiap orang memiliki “diameter” personal space-nya masing-masing. Dalam bentuk riil, diameter ruang pribadi ini bisa digambarkan dengan keadaan saat kita sedang duduk sendirian di pojok bangku taman yang panjang. Ketika ada orang tak dikenal tiba-tiba duduk di sisi bangku yang lain, dia tidak masuk ke ruang pribadi kita sehingga tidak menjadi masalah bagi kita. Namun, ketika tiada hujan tiada petir tiba-tiba dia duduk PERSIS di sebelah kita padahal ruang kosong lain masih luas, saat itulah dia sudah masuk ke dalam ruang pribadi kita; dan otomatis kita langsung merasa risih atau setidaknya bertanya-tanya kenapa sih, dia duduk di sini?

Dalam bentuk yang lebih abstrak, diameter personal space ini digambarkan lewat interaksi. Seiring semakin seringnya interaksi, diameter ruang pribadi ini bisa semakin menyempit. Artinya, orang yang bersangkutan akan semakin mudah masuk dan menjadi lebih dekat dengan kita. Yang tadinya hanya saling sapa, berkenalan, atau tanya kabar, bisa menjadi saling diskusi, minta pendapat atau solusi, sampai ke cerita-cerita yang nggak penting. Kalau yang sudah kronis alias deket banget, ibaratnya setelah seharian habis ketemu dan ngobrol banyak hal, eh sampai di rumah masih lanjut ngobrol juga via sms atau chatting.

Sayangnya, sebagai orang yang tertutup, kelemahan terbesar saya adalah, bisa sangat terbuka kepada orang yang sudah berhasil masuk ke daerah personal space ini. Hampir semua pertanyaan atau permintaan akan direspons, dan semua cerita atau lelucon akan ditanggapi. Karena itu, salah satu ketakutan terbesar dalam diri saya adalah bisa dekat dengan kamu. Iya, kamu. Kamu-kamu semuanya para pembaca dan non-pembaca yang sama-sama punya peluang dekat dengan saya. (Meskipun hampir semua kedekatan selalu membutuhkan dua macam variabel, yaitu waktu dan kecocokan).

Sebagai penutur yang buruk, pernah ada yang berkomentar bahwa saya adalah pencerita yang baik jika lewat tulisan. Di grup kecil chatting sahabat kuliah, misalnya. Mereka (terlihat) begitu tertarik kalau saya sudah mulai muncul dan bilang mau cerita “kisah FTV” yang baru menimpa saya. Atau ketika saya mem-publish kata-kata picisan yang sok dibuat puitis dan manis. Sebagian teman sempat melting atau memberikan jempol. Atau malah isi blog ini, yang terkesan “terlalu detail” menceritakan sesuatu. (Padahal mah yang nggak diceritain banyak juga; dan yang nggak diceritain itulah yang terkadang justru lebih berkesan di dalam hati).

Namun, terkadang saya merasa terlalu terbuka dan cerewet jika sudah terlalu asyik bercerita, terlebih pada orang-orang yang sudah berhasil masuk ke daerah personal space ini. Salah satu yang “mengena” dan sempat “menampar” diri saya sendiri, yaitu ketika saya mendengar salah satu komentar teman pria tentang saya. Katanya, hanya saya seorang teman perempuannya yang (kata dia) berjilbab panjang, yang bisa cerita panjang lebar sama dia tanpa jaim (dan dia pun merasa aneh sendiri karena entah mengapa selalu menyukai cerita-cerita saya). Jujur saat itu saya langsung syok. Ya Allah, apa sebegitu open-nya kah saya sama dia?

Konyolnya, setelah dipikir-pikir tampaknya memang iya. Karena ke kebanyakan teman pria lain, saya belum tentu bakal chat dan cerita panjang lebar seperti saat mengobrol dengan dia (yang menurutnya kaya lagi nulis sinopsis! Astaghfirullah…). Alasan menyempitnya daerah personal space ini, mungkin karena dia adalah teman lama yang dahulu selalu satu kelas dan sering main bareng-bareng. Selain itu, dia juga lebih muda daripada saya (dan sudah punya kecondongan rasa ke perempuan lain) sehingga ada kalanya saya jadi merasa nggak akan “main hati” dan terkesan seperti kakak yang bisa cerita segalanya ke adik sendiri.

Namun, pada akhirnya ini semua tetap saja salah. Demi mengurangi interaksi, sebisa mungkin memang tidak menyapa terlebih dahulu jika tidak ada hal yang benar-benar penting. Kalaupun pada akhirnya si dia yang menyapa terlebih dahulu, sebisa mungkin tidak menciptakan topik khusus yang kira-kira bakal menarik untuk dibahas atau saling berbalas.

Sayangnya, sering kali praktik tidak semudah teori. Terkadang hasrat berbagi akan sulit dikontrol untuk orang-orang yang sudah telanjur berhasil mempersempit ruang ini. Maka, ada kalanya saat sudah telanjur cuap sana cuap sini ke orang lain, kalimat retoris seperti, “Kenapa harus cerita ini ke dia, sih?” mulai ditanyakan kepada diri sendiri. Konsekuensinya, sering kali kita jadi dicap jahat atau sombong. Entah sudah berapa kali komentar bercandaan (yang bikin ketawa-ketawa sendiri) itu terlontar untuk diri ini dari teman-teman yang lain. Yang paling berkesan dan bikin nyengir adalah sindiran halus yang sebenernya tajam banget ini: “Kayanya kalau setahun aku nggak nyapa kamu duluan, setahun itu juga kita nggak ngobrol sama sekali.” (lalu sang empunya kalimat bakal langsung nyengir begitu baca tulisan ini).

Sebagai penutur yang buruk, sebagian besar orang pernah berkomentar bahwa saya adalah pendengar yang baik. Tentu saja, orang yang tak pandai berkata-kata, tentu akan lebih memilih menjadi pendengar. Mulai dari cerita yang sifatnya rahasia, informatif, sampai cerita yang nggak penting-penting banget. Bahkan saat sedang menunggu bus atau di dalam kendaraan umum, sering ada ibu-ibu atau orang asing yang tiba-tiba curhat dan nyerocos panjang lebar. Diam dan mendengarkan itu asyik dan nggak selalu buruk. Karena nyatanya, terkadang ada orang-orang yang bercerita atau berbagi kisah bukan untuk meminta tanggapan atau solusi, melainkan untuk sekadar didengar. Dan terkadang, teori ini memang bekerja untuk saya pribadi.

Namun, yang menjengkelkan adalah ketika saya sudah menjadi “terlalu asyik” mendengarkan. Pernah suatu ketika dalam satu hari, ada tiga sampai lima orang yang secara bergantian menceritakan masalahnya masing-masing. Mereka bisa jadi hanya butuh pendengar, tetapi terkadang secara naluri diri ini juga turut berpikir guna mencari solusinya. Esoknya, saya langsung “diintrogasi” sedang ada masalah apa oleh orang yang paling sensitif membaca pikiran saya—bahkan hanya dari tulisan pesan di BBM, yaitu ibu saya sendiri. Itulah kelemahan saya; terkadang jadi ikut kepikiran dengan pikiran orang lain.

Yang lebih menjengkelkan, terkadang saya juga menjadi “terlalu asyik” menanggapi. Bukan hanya menanggapi cerita dan curahan hati, tetapi juga unek-unek, ocehan picisan, termasuk lelucon konyol sekalipun. Pernah ada perkataan yang berkesan sekaligus bikin speechless. Katanya, “Kamu tahu nggak, kenapa aku suka becandain kamu? … Soalnya cuma kamu doang yang bisa ketawa denger lelucon (garing) aku.” (langsung pasang wajah keki). Ada juga yang bilang kalau senyum atau ketawa saya ini ikhlas banget, berasa dari dalem hati banget, dan jadi bikin orang semakin nagih untuk melontarkan lelucon. Tapi, ada juga yang bilang kalau selera humor saya saja yang rendah, sehingga lelucon yang sebenernya nggak lucu tetap saja diketawain. Bzzz… kalau ini, sih, udah kelewatan banget ngatainnya ==’

Maka, lagi-lagi ini semua dihentikan atau setidaknya diminimalisasi dengan mengurangi interaksi. Terkadang pertanyaan penguji juga perlu dilontarkan, seperti “Kamu yakin bakal cerita ini ke aku?” atau “Kamu yakin aku bisa jaga rahasia?” guna memancing keraguan yang ada di dalam hati mereka-mereka itu. Yang lebih frontal, pernah juga to the point bilang agar mereka mencari pendengar yang lain. Konsekuensinya, bisa juga dikatai jahat, tidak peduli, atau tidak peka. Namun, terkadang hal ini juga harus dilakukan agar diri ini tidak lagi “terlalu asyik”.

Pada intinya, sebisa mungkin untuk tidak terlalu membeberkan rahasia pribadi ke orang lain, sekaligus tidak memancing orang lain untuk membeberkan rahasianya kepada kita. Rahasia di sini tidak hanya sebatas curahan hati, tetapi juga yang menyangkut dengan apa yang kita miliki, rasakan, dan alami. Beberapa kisah bahkan akan terasa lebih indah jika hanya disimpan di dalam hati.

Karena keterkesanan kisah juga bisa menjadi rahasia, yang tidak semua orang perlu mengetahuinya.

Jadi? Sudah seberapa banyak rahasiamu yang terbeberkan ke sembarang orang? Sudah seberapa banyak perasaan dan kegalauan yang kau buang di sembarang tempat? Biarlah yang seharusnya rahasia tetap menjadi rahasia. Dan biarlah hanya engkau dan sedikit orang tertentu (yang kau percaya) yang bisa menikmatinya. Karena sejatinya, yang tertutup tak akan berkurang keindahannya; dan yang rahasia tak akan berkurang keterkesanannya.

.

 pengingat bagi diri ini yang masih terlalu sering sesumbar akan rahasia pribadi, yang seharusnya hanya disimpan di dalam hati

estEtika

Advertisements

3 Comments

  1. 18 September 2016 at 15:01

    Ya, terkadang rahasia tuh klo kita cerita ke ‘orang yang nggak tepat’ sukanya EMBER
    Klo sempet, jgn sungkan2 main ke anastasyapratiwi.wordpress.com
    Itu rumah mayaku…

    • estEtika said,

      19 September 2016 at 14:16

      Yups, memang harus selektif memilih teman utk berbagi. Oke, udah baca beberapa artikel di blogmu nih. Hehe, bagus dan lucu. Makasih udah mampir. Salam kenal ^^


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: