Memories In Dieng (1)

Hari libur 17-an begini, mendadak jadi kangen sama seseorang. (Yang sekarang ini hapenya malah lagi rusak dan bikin WA jadi sepi dengan galauan dan gombalan, kkk). Lalu teringatlah perjalanan super berkesan (dan ekstrem) yang pernah kami lalui berdua pada awal April 2016 lalu. Perjalanan ini tadinya akan kami lalui bersama dua orang yang lain. Namun, menjelang hari H hanya kami berdua yang masih tersisa (meskipun sempat maju-mundur jadi pergi atau tidak). Hingga pada akhirnya, untuk perjalanan yang terbilang berat ini, persiapan pun boleh dikata tidak terlalu matang. Bahkan saya baru mulai packing pada H minus beberapa jam!

IMG_20160401_113359

Dua gadis yang tampak kuat di luar, tapi rapuh di dalam :p (Lokasi: hutan di Telaga Warna).

Inilah kami, dua gadis galau yang pada akhirnya melakukan perjalanan berdua saja, demi menghibur diri dan mengalihkan segala beban pikiran di hati. Ibaratnya, saat itu dia sedang galau karena habis ditembak orang dan harus segera kasih jawaban, sementara saya sedang galau karena habis ditolak orang dan harus mengikhlaskan diri. Hahaha, mungkin kabur ke daerah yang tinggi bisa sedikit menguatkan kami yang tengah “terjatuh” ini 😀

Kami memulai perjalanan dengan Kereta Api Progo jurusan Purwokerto pada pukul 22.30 WIB. Saat itu tarifnya masih Rp 75.000 sementara sekarang ini kabarnya sudah naik hingga seratusan ribu rupiah. Bahagia dapat tempat duduk longgar di bangku 2-2, tetiba ada keluarga yang minta tuker. Akhirnya kami pun bergabung bersama kelompok akhwat-akhwat yang sepertinya masih mahasiswi, di bangku 3-3 yang agak sempit. Yang kasihan adalah si dia. Saat beberapa kali saya terbangun, pemandangan itu pun tampak, yaitu ketika salah satu akhwat itu tertidur bersandarkan lengan si dia (dan setelah itu dia pun mengeluh pegal-pegal, hahaha). Belum lagi bayi di bangku sebelah yang entah kenapa sepanjang malam menangiiiiiisss terus. Suara tangisnya itu sangat nyaring dan terdengar memilukan. Antara kasihan sama bayi dan ibunya, tapi juga kasihan dengan diri sendiri yang jadi susah tidur. Padahal besok pagi perjalanan kami akan lebih panjang lagi.

Kami sampai sekitar pukul empat pagi. Kami shalat Shubuh di masjid yang berada tidak jauh dari area Stasiun Purwokerto. Niat hati ingin menunggu terang di dalam masjid, ternyata kami malah “diusir secara halus” oleh orang-orang sana. Kodenya adalah mereka semua mulai bebenah masjid dan beramai-ramai menggelar karpet. Kebetulan saat itu memang hari Jumat. Jadwalnya bebenah masjid untuk persiapan shalat Jumat.

Akhirnya, kami pun memutuskan mencari makan dahulu di sekitar sana. But, lagi-lagi kami merasa terusir. Begitu ada warung buka dan saya masuk ke dalam menanyakan menunya, dengan jutek si ibu malah bilang, “Nggak ada! Belum matang!” sambil pergi begitu saja keluar warung. Deg! Salah saya apa, Buuu? Kami hanya musafir yang kelaparan dan hendak mencari sesuap nasi. Mbok ya kalaupun nggak ada, nggak usah jutek begitu kenapa, Buuuu? Semakin remuk saja hati Hayati T_T

Akhirnya, kami pun memutuskan untuk langsung ke terminal saja. Asumsi, di terminal bakal banyak warung untuk sarapan. Kami pun masuk ke dalam angkutan umum yang masih ngetem di sekitar stasiun guna mencari penumpang. Setelah bertanya dan meyakinkan si bapak supir kalau kami hendak ke terminal, saat di perjalanan si bapak pun jadi kepo kami mau ke mana. Jawab polos mau ke Dieng, tak disangka ternyata si bapak jadi semangat bercerita. Katanya, beliau juga sering membawa penumpang rombongan yang mau ke Dieng. Sempat bertanya-tanya mengapa kami hanya pergi berdua, pada akhirnya si bapak malah mempromosikan dirinya. Kami saling bertukar nomor dan beliau pun menawari untuk menjemput kami saat pulang nanti. Sayangnya, kami ini traveler gembel, Pak. Ongkos charter angkot yang terbilang mahal hanya untuk 2 orang, pada akhirnya terpaksa kami abaikan. Kami lebih memilih naik angkot dengan tarif Rp 5.000 ini saja sampai terminal. Mohon maaf sekali ya, Pak…

Sampai di terminal, boro-boro cari sarapan. Masuk terminal pun kagak! Sebagai gantinya, kami langsung diturunkan di pintu keluar terminal, dan dibantu si bapak supir baik hati tadi untuk menemukan bus yang akan kami naiki selanjutnya. Tanpa ba-bi-bu, kami pun langsung naik bus jurusan Wonosobo yang saat itu pas banget udah mau jalan. Nggak main-main, ini bus buanteeer banget! Antara bersyukur belum sarapan—jadi nggak ada yang bisa dikeluarin (baca: muntah), tapi kami juga kelaparan yang amat sangat. Apalagi kami berdua adalah soulmate wanita pemakan segala yang mudah lapar tapi sulit kenyang! #ups

Dan kami berdua memang seperti soulmate yang begitu mesra. Tak tahan dengan rasa lapar yang amat sangat, di tengah perjalanan pun akhirnya kami membagi dua roti yang sempat terbawa. Lucu. Itu adalah roti sisa snack rapat kemarin dari kantor, dengan ukuran yang nggak terlalu besar. Setidaknya, Alhamdulillah roti ini bisa langsung dicerna dan nggak sempat keluar lagi dalam bentuk chyme. Asli, ini bus semena-mena banget jalannya! Dan ternyata, di bagian depan pegangan bus juga disediakan beberapa kantong plastik hitam untuk wadah “muntah” para penumpangnya! Gila, gila, gila… X_X Oh ya, tarif busnya “cuma” Rp 30.000. Jauh lebih murah dibanding ongkos naik jet coaster di Dufan, tapi sensasinya sudah cukup mewakili. 

Namun, kesalahan terbesar kami adalah nggak jujur bilang ke kernet-nya kalau kami mau ke Dieng. Habis… masnya serem gitu. Pakai tindik banyak banget, bertato, agak-agak genit gimanaaa gitu. Padahal sih kayanya baik. (Pesan moral: don’t judge book by its cover). Namun namanya naluri perempuan, jadi takut juga kasih tahu tujuan asli kami ke mana. Dari hasil info sana sini dan ke-sok-tahu-an kami, kami pun sepakat turun di terminal Wonosobo. Dan eng-ing-eng, ternyata itu pilihan yang salah, saudara-saudara!

Begitu turun, kami langsung disambut abang-abang ojek. Makanan empuk! Musafir nyasar! Ya Allah… sedih T_T Seharusnya tadi kami turun beberapa ratus meter sebelum terminal ini. Karena bus kecil yang bakal kami naiki lewat di sana dan nggak lewat dari sini. Di terminal tadi, pada akhirnya terjadi tawar menawar yang begitu pelik antara saya dan si dia versus dua orang abang ojek. Pilihannya (1) diantar ke tempat menunggu bus dengan ongkos Rp 25.000 dan dari sana harus naik bus kecil lagi berdesak-desakan dengan tukang sayur, pedagang, dan masyarakat sekitar; (2) diantar sampai ke Dieng saja dengan ongkos Rp 100.000; (3) diantar ke Dieng sekaligus diantar jalan-jalan ke lokasi wisata seharian dengan tarif Rp 150.000.

Pelik. Sebenarnya saya dan si dia nggak begitu masalah dengan opsi pertama yang kata mereka kelemahannya adalah: “Tapi saya kasihan sama mbaknya, busnya penuh banget, loh! Jarang pula! Nanti nunggunya lama, blablabla…” Aduh, Bapak! Kami ini traveler gembel loh, Pak! Saya malah senang kok, desak-desakan sama warga sekitar. (Kkk, selama perempuan atau ibu-ibu, sih). Hahaha, malahan impian saya itu bisa naik mobil bak alias pick-up pembawa sayur ala-ala film Petualangan Sherina, kok! xD Tapi, entahlah… Tampaknya rayuan si bapak-bapak itu saja yang terlalu manjur untuk kami. Hasilnya, hari ini kami pun gagal jadi traveler gembel. Opsi nomor 3 pun akhirnya dipilih. (Dan ini adalah pilihan yang pada akhirnya sangat kami sesali sepanjang perjalanan ini karena yang paling menguras budget dan kenyamanan).

Meskipun sempat bete, terkadang perjalanan memang harus tetap dinikmati. Pada akhirnya jadi ngobrol-ngobrol juga sama si bapak. Lewat pertanyaan iseng pembuka, “Bapak asli orang sini?” Eh, ujung-ujungnya si bapak malah jadi curhat! Hahaha… Ada rasa simpati juga, sih, pas denger-denger cerita si bapak. Oh ya, meski udah sok jadi traveler tajir dengan nyewa ojek, gembel tetap saja gembel. Belum sempat ganti baju apalagi mandi, kami pun minta diberhentikan di salah satu pom bensin. Lumayan lah, cuci-cuci dikit, basuh muka, ganti baju, dan dandan ala kadarnya, seenggaknya meskipun gembel tetap harus bersih nggak, sih? :p

Sepanjang perjalanan, mulai berasa dingin yang menusuk-nusuk tulang. Namun, masalah terbesar di sini adalah LA-PAR. Please, kami belom sempat sarapan! Gejala anemia mulai muncul. Kepala pusing, kulit memucat. Apalagi tanjakan dan jalanan yang semakin naik membuat oksigen semakin menipis (setidaknya jika dibandingkan dengan kadarnya di dataran rendah).

Gardu Pandang

Awan kelabu yang tampak dari Gardu Pandang .

Awan kelabu yang tampak dari Gardu Pandang .

Alhamdulillah wa syukurillah. Si bapak akhirnya memberhentikan motornya di tempat pertama. Dari sini, pemandangan gunung, bukit-bukit, pepohonan, dan awan-awan kelabunya asik banget! Tapi, fokus pertama kami bukannya langsung naik gardu, melainkan ke tempat penjual gorengan. Laper banget, sis! Tiga gorengan yang besar-besar harganya Rp 3.000 saja.

Di sini kami tidak mengeluarkan uang untuk tiket masuk atau semacamnya, cukup bayar parkir yang itu pun dibayarin sama si bapak. Naik ke gardu, cekrek sana cekrek sini, selfie sana selfie sini, pasang panorama sana panorama sini, lantas kami pun melanjutkan perjalanan.

Kawah Sikidang

Kompleks kawah Sikidang. Kawahnya ada di titik yang berasap.

Kompleks kawah Sikidang. Kawahnya ada di titik yang berasap.

Setelah perjalanan yang cukup jauh dari gardu pandang tadi, akhirnya kami berhasil masuk ke kawasan Dataran Tinggi Dieng. Udara semakin dingin, sis. Tapi mungkin karena hari semakin siang, jadi tersamarkan juga dengan teriknya mentari yang menyinari bumi. Dan yap, tempat pertama yang kami datangi adalah Kawah Sikidang.

Agak krik-krik juga saat kami datang ke sini karena tempatnya sepi abibes. Foto-foto jadi antara awkward gimana gitu karena sejauh mata memandang pemandangannya ya gitu-gitu aja; bongkahan kapur dan bau belerang yang cukup menyengat. (Antara nggak tahan kalau harus lepas masker, tapi juga nggak lucu kalau foto tapi pakai masker, hahaha dasar wanita!) Kawahnya sendiri bisa ditemukan setelah berjalan beberapa ratus meter dari pintu masuk. Air di dalam kawah itu meletup-letup bak air mendidih di dalam ketel. Bau belerangnya juga semakin menyengat. Oh ya, tiket masuknya Rp 10.000 per orang sedangkan parkirnya bayar lagi Rp 3.000 per motor.

Telaga Warna

Tempat yang pas untuk menggalau. Telaga Pengilon.

Telaga Pengilon. Tempat yang pas untuk menggalau.

Usai dari Kawah Sikidang, kami menuju Telaga Warna. Nah, di dalam objek wisata Telaga Warna ini, ada dua macam telaga di dalamnya yang saling berdekatan, yaitu Telaga Warna yang berwarna kecokelatan atau kekuningan karena pengaruh belerang, dan Telaga Pengilon yang jernih kehijauan. Tiket masuknya hanya Rp 5.000 per orang. Di sini tempatnya juga agak sepi. Udaranya sejuk, dan kalau masuk lagi ke hutan, mulai berasa agak horor. Berasa lagi di telaga sunyi. Lalu kami pun spontan bernyanyi…

.

Kisah seorang putri

Yang tengah patah hati

Lalu bunuh diri

Tenggelam di telaga sunyi

Bersama cintanya yang murni

(Koes Plus, Telaga Sunyi)

.

Ups, lalu teringat nama si dia juga Putri. Jangan, Mbaaaak! Jangan bunuh diri meskipun sepatah apapun hatimu ituuuuu! Ingat, sekarang kan, sudah ada obat patah hatinya :p (Doakan semoga Hayati juga segera menemukannya, kkk).

Kesunyian ini memang yang paling cocok untuk dua wanita (yang saat itu sedang) galau ini. Setelah asik foto-foto dan selfie bahkan sampai mau nekat masuk hutan segala (lalu urung karena takut, kkk), kami pun sempat nyasar setelah asal jalan ke sana ke mari. Di sini kami juga sempat buat video sapa-sapaan alay yang kemudian dikirimkan ke dua orang yang nggak jadi ikut. Harapannya biar mereka iri. Tapi nyatanya, mereka malah yang membully kami dan bersyukur nggak jadi ikutan galau seperti kami. Huft…

Yap, inilah nggak enaknya jalan-jalan “nggak bebas”. Terkadang, jalan sendiri atau nyewa motor sendiri bisa lebih asyik dibanding diantar ke sana ke mari sama orang asing. Berasa kaya ditungguin atau kalau bahasa Jawanya itu jadi keron. Hehehe. Alhasil, kami pun akhirnya minta diantar saja ke penginapan. Nah, masalahnya saat itu pun kami masih galau mau pilih penginapan yang mana. Duh, emang dasar wanita-wanita galau!

Penginapan

Pada akhirnya, kami pun memilih “Pondok Wisata LESTARI” yang ada di kawasan Jalan Dieng, Batur, Wonosobo. Tempatnya nggak terlalu jauh dari Penginapan Bu Jono yang terkenal itu. Fasilitasnya lumayan-lah. Ada kamar mandi dalam, air hangat, TV, dan welcome drink teh manis hangat. Daaaan… pemiliknya yang ternyata baik dan religius banget! Ibunya diem-diem kalem, ketiga anak kecilnya ganteng-ganteng dan lucu berjilbab gitu, plus bapaknya yang ramah banget. Tarif per kamarnya Rp 150.000 dan bisa diisi dan dibagi untuk dua orang.

Waktu itu mungkin sekitar pukul dua siang. Akumulasi lapar yang tak lagi tertahankan, membuat kami berjalan-jalan di sekitar penginapan guna mencari sesuap nasi. Ujung-ujungnya makan di tempat makan di penginapan bu Jono juga. Di sini saya memesan sup sayuran plus nasi dan minum. Rasanya seger banget! Udara dingin, pas dengan hidangan hangat dengan asap mengepul-ngepul. Harganya hanya sekitar Rp 14.000 dengan porsi yang lumayan mengenyangkan bagi kami.

Oh ya, sebelumnya kami sempat kepo-kepo juga ke bapak penginapan yang baik hati. Katanya, dari penginapan ini nggak jauh dengan objek wisata Candi Arjuna. Wah, lumayan, nih. Tapi, jaraknya yang bisa dibilang jauh kalau harus ditempuh dengan berjalan kaki, akhirnya membuat kami memutuskan untuk menyewa motor.

Nah, di penginapan bu Jono inilah kami menyewa motor. Di sini kami kepo-kepo juga untuk agenda kami besok, yaitu menuju Puncak Sikunir. Setelah lobi sana lobi sini, akhirnya boleh juga kami sewa motor mulai hari ini, lalu titip motor lagi di sini, dan kembali lagi besok pagi-pagi buta untuk mengambil motor menuju Puncak Sikunir, dengan tarif sewa Rp 100.000 per motor per 24 jam. Di sini kami pun bertemu dengan Mas-mas melankolis hitam manis yang baik banget dan menjelaskan macam-macam (pasang emoticon lope-lope). Ssssst, selain dikasih peta plus penjelasan macam-macam yang begitu detail (sebenarnya fokus kami ke penjelasannya atau ke masnya, sih) kami juga dikasih nomor hapenya, loh! Hahaha, dasar alay!

Candi Arjuna

Langit mendung yang tak berarti hujan di Candi Arjuna ^^

Langit mendung yang tak berarti hujan di Candi Arjuna ^^

Setelah sempat malas-malasan di penginapan, akhirnya menjelang petang kami keluar juga, yaitu sekitar jam setengah lima sore. Ambil motor sewaan di penginapan Bu Jono, lantas mulai berkeliling mengikuti petunjuk dan arahan mas-mas melankolis, eh maksudnya peta yang dikasih mas-mas melankolis :p

Kompleks Candi Arjuna ini pun tidak terlalu ramai. Namun, niat hati ingin melihat sunset, sayangnya langit kala itu kurang begitu bersahabat. Cuaca sedang mendung, tapi mendung tak berarti hujan. Lagi-lagi, kami menghabiskan waktu berdua saja bak orang kasmaran. Pegangan tangan karena kedinginan (terus geli sendiri pas nulis), foto-foto (mulai dari pose normal, pose alay, sampai pose dengan perspektif yang aneh-aneh), jalan-jalan ke sana ke mari tak tentu arah, sampai duduk-duduk sambil menggalau.

Klimaksnya, apa lagi kalau bukan soal perut. Dasar wanita dobal! Baru aja makan, eh udah laper lagi. Maka jadilah kami pun mampir ke warung yang ada di sekitar sana. Di sini kami memesan kentang goreng hangat yang oke punya. Pas banget lah, dengan udara yang mulai dingin-dingin-empuk ini. Kami beli Rp 10.000 untuk berdua, dengan porsi yang terbilang ummmm… banyak, hihihi. Oh ya, di sini kami tidak dimintai tiket masuk, tetapi cukup membayar parkir motor Rp 3.000 saja.

Menjelang Maghrib, kami pun memutuskan untuk pulang. Sebelum itu, sempat mampir dulu ke mini market, beli roti untuk persiapan sarapan besok. Masuk ke penginapan, mulai males lagi ke mana-mana. Niat hati pengen pesen mie rebus telor saja ke ibu penginapan, tapi entah bagaimana pada akhirnya kami pun keluar juga malam-malam guna mencari sesuap nasi. Dan, rupanya malam itu gerimis mulai mengundang.

Naluri galau mulai hadir. Hihihi, apalagi pas kami jadi jalan-jalan malam sepayung berdua, kkk… Suasana malam di sini ternyata cukup sepi. Mungkin karena kami juga datang ke mari bukan saat high season atau musim liburan. Lagipula kamar penginapan juga banyak yang masih kosong dan sepanjang kunjungan ke objek wisata tadi, pengunjungnya juga tidak terlalu banyak.

Akhirnya, pilihan kami jatuh ke warung mi ongklok yang ada di sekitar sana. Sedikit informasi, mi ongklok adalah makanan khas daerah sini. Menurut mbak-mbak di kantor, makanan ini nggak boleh terlewatkan kalau berkunjung ke sini. Soalnya mi-nya enak banget! Dan saya percaya, sih. Karena pas makan emang enak (faktor lapar juga sih, kayanya). Bentuknya kaya mi ayam (meski begitu rasa mi-nya beda dengan mi ayam), tapi bumbu atau kuahnya itu kental seperti bumbu sate padang. Pokoknya enak-lah! Mi ongklok di warung kecil ini harganya cuma Rp 10.000 (dan itu pun saya lupa, sepertinya waktu itu saya nambah sama gorengan juga, deh, hehehe).

Sesuai jadwal yang udah kami susun (plus info dari mas-mas melankolis), kalau mau lihat sunrise di Sikunir, kami bisa ambil motor dan memulai perjalanan dari sini sekitar pukul 04.00 pagi. Akhirnya, kami pun berencana untuk tidur cepat dan bangun pukul 03.00 untuk persiapan esok hari.

Nah, sayangnya, malam itu pas banget bertepatan dengan tanggal pemesanan tiket untuk mudik lebaran 3 bulan yang akan datang. Kebetulan si dia ini bakal mudik bareng keluarga atau malah nggak mudik sebelum lebaran, sehingga malam itu pun hanya saya saja yang terpaksa begadang untuk ticket war. (Dan dia langsung meninggalkan saya, meringkuk di balik selimut yang dingin). Pemesanan tiket dimulai pukul 00.00 tet. Namun, niat hati mau tidur dulu dan bangun lagi tengah malam, akhirnya nggak kesampaian juga begitu ujung-ujungnya malah keasyikan chatting sama seseorang plus dengerin curhatan pula! Wkwkwk…

Meskipun sudah sempat pesan dan minta tolong sama bapak dan adik, tetap saja nggak enak hati kalau mengandalkan semuanya ke mereka sementara saya malah enak-enakan tidur. Alhasil, menjelang pukul 02.00 saya baru saja mendapatkan tuh tiket (meskipun ujung-ujungnya nggak sesuai dengan jadwal yang sebelumnya diincar). Buru-buru tidur, dan tanpa terasa alarm jam 03.00 tepat berdering membangunkan kami. Aduduuuh, kebiasaan deh ini, tiap pergi-pergi malah jadi kurang tidur 😦

Bersambung…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: