Memories In Dieng (2)

Puncak Sikunir

Tepat pukul 04.00 kami sudah keluar penginapan dan bertemu mas-mas melankolis (pasang emoticon lope-lope lagi). Masnya baik banget, deh. Sempet-sempetnya pula nawarin teh manis hangat segala. Sambil bantu keluarin motor, eh ujung-ujungnya si doi malah terkesan khawatir sama kami gitu. Pasalnya, hari ini pengunjung memang sedang terbilang sepi. Jadi, saat itu kami bener-bener pergi berdua doang, nggak ada rombongan lain. Si doi juga sempet care gitu nanyain “Berani, Mbak?”, “Nggak papa, Mbak?”, sampai “Nanti kalau ada apa-apa langsung telepon aja ya, Mbak,” aw-aw-aw… Hihihi.

Puncak Sikunir

Puncak Sikunir. Pose andalan kami saat bersama❤

Dengan motor bebek ini, saya dan si dia berboncengan; of course dia yang nyetir karena badannya yang jauh lebih gede (baca: tinggi) plus lebih ahli. Kami pikir, jam 4 pagi itu sudah ada tanda-tanda kehidupan, loh. Tapi, ternyata kami salah besar!

Percayalah, ini adalah perjalanan terhoror yang pernah saya lalui. Jerit malam pas Pramuka masih kalah! Karena saat Pramuka itu, seenggaknya saya tahu kalau saya nggak sendirian (atau cuma berdua). Sedangkan kali ini, sebagian besar perjalanan kami benar-benar hanya berdua! Jalanan menuju Puncak Sikunir didominasi oleh hutan dan perbukitan tanpa penduduk (untuk setiap beberapa ratus meter), pabrik-pabrik sepi dan gelap yang (tentu saja) tidak sedang beroperasi, termasuk juga jurang! Dan please, jalanan pun berkelok-kelok, terjal, dan naik-turun! Yang lebih horor lagi, nggak ada lampu jalan! Setiap melewati hutan, perbukitan, atau jurang tak berpenghuni, sumber penerangan yang tampak hanyalah dari lampu motor kami. Dan yang bikin kami heran, sepanjang perjalanan kami hampir tidak bertemu atau berpapasan dengan orang atau kendaraan yang lewat! Akan sangat nggak lucu kalau ujung-ujungnya kami malah nyasar :O

Salut banget, deh, sama Mbak ratu galau yang tangguh ini. Berani banget bawa motor (plus bawa ratu galau lain di boncengan, kkk) di tengah keadaan yang super duper mencekam ini. Sebagai orang yang gampang parno, otomatis saya nggak berani lihat ke kanan dan kiri. Tapi, sebagai gantinya malah ikut intipin keadaan di depan dari balik punggung Mbak supir yang tangguh ini. Ya Allah, serem banget T_T Kebayang nggak sih, betapa seremnya naik motor sendirian di tengah hutan dan jurang yang naik-turun tanpa penerangan sama sekali? 

Namun, setelah lama-kelamaan beradaptasi, akhirnya kegelapan ini pun seakan menjadi teman (haduh, haduh). Semakin naik, langit semakin terlihat jelas. Dan saat itu, saya mulai berani mendongakkan kepala. Masya Allah, langitnya bagus banget! Bintang terlihat jelas, tersebar di mana-mana. Kerlap-kerlip dan tampak begitu kontras dengan pekatnya warna langit. Bahkan entah bagaimana, ada salah satu sudut langit yang tampak berwarna jingga keunguan, jadi mirip-mirip aurora di Eropa sana❤ Masya Allah… Keren banget deh pokoknya! Langit terindah yang pernah saya lihat❤

Perjalanan ini sebenarnya “hanya” memakan waktu sekitar 45 menit. Namun, sensasinya berasa seperti beberapa jam! (Terutama sensasi horornya). Begitu sampai di tempat parkiran motor, langsung berasa lega. Alhamdulillah kita nggak nyasar! Alhamdulillah, ternyata di sini masih ada kehidupan! Hahaha, lihat kumpulan orang langsung bahagia gitu, deh, setelah perjalanan panjang tanpa orang satu pun😀

Dari sini, kita harus trekking alias berjalan kaki hingga ke puncak. Di sini, kami berdua mulai mengikuti orang-orang. Meski nggak terlalu ramai, ternyata cukup banyak juga rombongan yang datang. Ada yang masih muda-muda, ada juga yang udah bapak-bapak dan ibu-ibu. Malahan, ada juga anak kecil seusia SD atau TK yang jalan sendiri! Dan yang kasihan itu malah bapaknya karena nih anak aktif banget nanya-nanya sementara si bapak mulai ngos-ngosan jawabin pertanyaan itu. “Udah dong, Nak. Diam dulu sebentar, yah? Ayah capek, nih,” begitu keluhnya, hihihi…

Sebenarnya, sejak awal kami berdua sudah tahu diri kalau kami ini bukan anak gunung. Dia yang punya riwayat asma dan saya yang rentan anemia, secara teori emang bakal susah beradaptasi di dataran tinggi yang notabene-nya semakin minim akan oksigen. Di tengah perjalanan, sempet agak takut gitu pas napas dia mulai terdengar agak tersengal-sengal. Beberapa kali kami sempat berhenti untuk ambil napas ataupun minum. Setidaknya, salah satu yang memudahkan kami adalah, kami tidak sedang membawa tas carrier di pundak, melainkan hanya tas biasa berisi bekal minum dan roti. Nggak kebayang deh sama para pendaki keren yang bisa bawa-bawa carrier sampai tenda hingga ke puncak. #salut #salut

Namun, jujur saya merasa menikmatinya; meski napas tersengal-sengal, tenggorokan berasa kering, dan lagi udara yang semakin dingin. Begitu sampai di salah satu spot shalat, kami pun shalat shubuh di sana. Antre banget, sis! Tapi Alhamdulillah, di sini kami sudah menyiasatinya dengan mengambil air wudhu dan terus menjaga wudhu sejak dari penginapan. Jadi, kami tidak perlu antre wudhu lagi, melainkan bisa langsung antre shalat.

Di tempat inilah, akhirnya kami berkenalan dengan serombongan bapak-bapak (dan ada mas-masnya juga kayanya, hehehe). Pasalnya, pas kami ngikutin mereka guna melanjutkan perjalanan, mereka sempat bingung gitu kenapa kami cuma berdua. Lantas, mereka pun takjub gitu pas tahu ternyata kami emang cuma pergi berdua. Dari Jakarta pula! Hahaha… “Wah, berani banget, Mbak! Keren, kereeen!” komentar salah satu bapak sambil tepuk tangan. Hahaha, sejujurnya kami pun agak-agak nggak percaya dengan apa yang sudah kami berdua lakukan sih, Pak xD Tapi sisi positifnya, kami jadi berasa dijagain dan diperhatiin gitu sama bapak-bapak ini. Kalau suara kami mulai lenyap (karena berhenti ngobrol), akan ada salah satu bapak yang nyariin karena takut kami tertinggal atau tersesat, “Eh, Mbak-mbak yang dari Jakarta tadi mana?” Hihihi :p

Alhamdulillah, tanpa terasa akhirnya kami sampai juga di puncak. Sambil menunggu matahari terbit, kami berdua pun membuka bekal roti kami dan makan bersama. Rombongan bapak-bapak tadi juga mulai asik dengan popmie atau kopi yang mereka beli dari pedagang di sekitar sana. Oh ya, mereka juga sempat ngajakin kami foto bareng, hihihi meski akhirnya nggak jadi juga, sih (karena kami keasyikan makan dan sebagian bapak asik foto-foto sama ibu-ibunya). Katanya, “Eh, kita nggak foto bareng Mbak-mbak metropolitan, nih?” Hahaha xD Puas mengisi perut, kami pun mulai memisahkan diri dari rombongan bapak-bapak itu, guna mencari spot sendiri untuk menikmati sunrise

Masya Allah, pemandangannya bagus banget! Awan-awan masih ada yang tampak jelas gitu menyelimuti gunung dan bukit. Jadi berasa seperti negeri di atas awan. Sebelum matahari terbit, langitnya berwarna biru es, berasa banget sensasi cool-nya. Sementara setelah matahari terbit, langitnya jadi berwarna jingga fire, berasa banget sensasi hangatnya❤ Air mata ini sempat meleleh, nih. Sungguh indah ciptaan-Nya. Dan untuk ukuran pejalan newbie dengan fisik yang nggak terlalu oke ini, ending seperti ini sudah terbilang sangat worthed!

Sebelum matahari terbit, warna langit biru esnya jadi terkesan dingin banget ^^

Sebelum matahari terbit, warna langit biru esnya jadi terkesan dingin banget ^^

Kami cukup lama berada di puncak, entah untuk menikmati pemandangan, foto-foto, atau pun menggalau (teteup, ya). Barulah ketika matahari mulai terasa panas, kami memutuskan untuk pulang. Btw, di sini kami sempat melihat Marcella Zalianty, loh. (Kabarnya doski lagi pemotretan atau apa tentang yoga gitu). Hihihi, tapi lihat dari jauh doang, sih.

Setelah matahari terbit, langitnya jadi jingga hangat. Terkesan seperti matahari yang menghangatkan hati yang beku :p

Setelah matahari terbit, langitnya jadi jingga hangat. Terkesan seperti matahari yang menghangatkan hati yang beku :p

Rasanya, jalan sama saya memang nggak lengkap kalau nggak nyasar. Sok-sokan turun sendiri tanpa nunggu orang-orang, ujung-ujungnya kami malah salah pilih jalan dan lewat jalur yang ekstrem. Landai banget, sis! Setelah sempat struggling tapi akhirnya ngerasa aneh karena kayanya pas naik jalurnya nggak seekstrem ini, pada akhirnya kami pun balik lagi dan menertawakan diri sendiri. Iya lah! Orang itu jalan yang salah! Untung nggak dilanjutin, bisa-bisa kami malah nyemplung ke Telaga Cebong yang ada di bawah sana :O

Telaga Cebong dari tempat kami nyasar. Nggak lucu banget kan, kalau sampai nyemplung ke sana? xD

Telaga Cebong dari tempat kami nyasar. Nggak lucu banget kan, kalau sampai nyemplung ke sana? xD

Setelah sampai di bawah, suasana mulai ramai. Banyak penjual yang menjajakan dagangannya. Di sini kami pun mengisi perut dengan membeli beberapa gorengan, serta kentang rebus seharga Rp 5.000 per porsi. Kentangnya lucu, kecil-kecil dan langsung dimakan begitu saja sama kulit-kulitnya.

Oh ya, masuk ke Sikunir ini kami harus bayar tiket Rp 10.000 plus parkir motor Rp 5.000. Yang unik dan sebenernya agak ngeselin, begitu kami kasih duitnya, nih bapak malah langsung pergi begitu saja. Mana motor kami ada di tengah-tengah begitu. Dan nggak ada yang ngebantuin kami mindahin motor! :O Lelucon bapernya jadi begini, “Entah kami ini wanita yang teralu strong atau pria-prianya yang emang ogah deket-deket kami, sampai-sampai beginian pun nggak ada pria yang mau bantuin!” Huft…

Oh ya, sepanjang perjalanan pulang, kami jadi mulai sadar akan pemandangan indah yang kami lewatkan pagi-pagi buta tadi. Ternyata jurang dan bukit-bukit sepanjang perjalanan ini cantik banget, cyin!❤

Bukit Ratapan

Pemandangan dari Bukit Ratapan. Tampak Telaga Warna dan Telaga Pengilon. Berdekatan, tapi punya warna yang berbeda.

Dari namanya aja udah bikin galau. Bukit ini bisa kami temukan searah dengan jalan pulang dari Sikunir menuju penginapan. Dari bukit ini, Telaga Warna yang sempat kami kunjungi kemarin bisa terlihat jelas dan bagus banget. Yap, ini adalah tempatnya mengambil foto dengan view Telaga Warna dari atas. Selain itu, view perbukitan dan gunung-gunungnya juga oke punya. Meskipun teteup, di bukit ini, kami jadi harus mendaki season 2 untuk mencapai puncak. Bukit Ratapan ini HTM-nya Rp 10.000 per orang plus bayar parkir motor Rp 3.000.

Usai dari Bukit Ratapan, kami mulai sok tahu ingin ke mana-mana lagi yang ada di peta. Namun, emang dasar jalan sama saya, selalu aja nyasar. Ujung-ujugnya malah nggak ketemu juga tempat yang mau kami datangi. Sebagai gantinya, kami jadi motor-motoran di kawasan persawahan, deeeh. Dan tetep, jalannya itu naik-turun dan berkelok-kelok :p

Akhirnya, kami pun memutuskan untuk kembali ke penginapan sembari mengembalikan motor sewaan. Dadah, mas-mas melankolis… Hihihi. Usai mandi, bebenah, dan sempat malas-malasan, akhirnya setelah shalat Dhuhur kami langsung memutuskan untuk chaw. Saat akan pamit ke pemilik penginapan, dipanggil-panggil berkali-kali pun tetap tidak terdengar jawaban. Merasa nggak enak main “kabur” begitu saja, kami sempat menunggu sambil terus membunyikan bel, berharap bapak dan ibu baik hati itu segera muncul. Dan Masya Allah, pemandangan romantis itu pun terlihat. Sepasang suami istri yang baru saja selesai shalat di mushola dekat rumah❤ Bapak dengan busana koko lengkap, dan Ibu dengan tentengan mukena. Ah, so sweet bangeeeet, deeh! Padahal ini “cuma” shalat Dhuhur loh. (Yang biasanya jarang dilakukan berjamaah di mushola). Yang kaya begini ini nih, keromantisan yang sesungguhnya❤

Dari penginapan, kami naik bus kecil jurusan Wonosobo. Rencananya, sebelum pulang kami ingin mencoba makan mi ongklok lagi di daerah Wonosobo yang terkenal enak. Yang bikin kami berdua bete, saat itu kami mulai dibingungkan dengan ucapan bapak ojek yang kemarin. Dia bilang, Mi Ongklok Longkrang yang terkenal itu hanya buka sejak sore dan masih banyak warung mi ongklok lain yang lebih enak. Tapi, menurut mas-mas kernet bus, Mi Ongklok Longkrang itu sudah buka sejak pagi atau siang, dan itu adalah mi ongklok terkenal yang paling enak dan selalu dikunjungi wisatawan. Belum lagi rute kembali ke Purwokerto yang berbeda antara pendapat si bapak ojek kemarin dan mas kernet.

Bingung harus percaya sama siapa, tapi pada akhirnya pilihan jatuh ke mas kernet. Mas ini religius banget, btw. Sepanjang perjalanan, dia pegang alat hitung tasbih gitu. Nyebut mulu. Dan dilihat dari cara dia bicara serta perlakuannya ke penumpang-penumpang lain, bikin kami berdua luluh dan percaya kalau mas ini orang baik-baik. Pada akhirnya, sepanjang perjalanan pas lagi sepi penumpang, saya jadi tertarik nanya-nanya dan ngajak ngobrol mas ini. Soulmate saya ini bahkan mulai memperlakukan mas baik hati ini sebagai guide. “Mas, itu gunung apa, sih? Kalau itu namanya apa, Mas? Ini namanya daerah apa, Mas?” Hihihi dan dijelasin pula dengan sabar sama si masnya #bukanmodus #bukangombal #kaminyaajayangkepo :p

Oh ya, akhirnya kesampaian juga nih, desak-desakan sama bakul sayur. Hihihi. Meskipun pada akhirnya “aroma khas pasar” itu juga ikut tercium (baca: bau matahari, amis, peluh), tapi seru juga kok. Hepi hepi aja😀

Akhirnya, saya dan si dia diturunkan juga di Mi Ongklok Longkrang yang terkenal itu. Dadaah, mas kernet baik hati… Alhamdulillah masih ada tempat kosong. Jam memang hampir menunjukkan pukul dua siang saat itu. Taraa! Pesanan mi pun datang. Oh ya, kami pesan seporsi sate sapi juga. Tadinya mau nggak pesen, tapi kata penjualnya udah “sepaket” gitu alias sayang banget kalau nggak coba satenya sekalian.

Mi Ongklok Longkrang. Salah satu makanan terenak yang pernah saya makan!

Mi Ongklok Longkrang. Salah satu makanan terenak yang pernah saya makan!

Daaaan… sungguh saya tidak pernah menyesal! Mi Ongkloknya enak banget! Mi ini jauh lebih enak dibanding mi ongklok yang kami makan semalam saat di Dieng. Selain itu, harganya juga terjangkau. Seporsi mi ongklok dan sate sapi, dihargai Rp 15.500 saja. Bener kata mas kernet baik hati. Ini emang mi legendaris yang sangat terkenal. Selain itu, sate sapinya juga nggak bikin nyesel. Enak banget! Bumbunya berasa, aromanya enak, dan dagingnya itu loh… empuk banget! Pokoknya joss banget deh! Lalu, saat itu kami berdua langsung sepakat: “Seandainya kami nggak lagi buru-buru mengejar bus ke Purwokerto, rasa-rasanya kami bakal nambah lagi satu porsi!”😀

Usai membayar sekalian kepo-kepo ke penjual mi ongklok tentang tempat nunggu bus tujuan Purwokerto, kami menyempatkan diri mampir ke toko oleh-oleh. Di sini kami membeli Carica, manisan buah khas Wonosobo yang terkenal itu. Sekotak isi 12 pcs, harganya Rp 35.000. Bentuk buahnya mirip seperti pepaya, dengan rasa yang menurut saya mirip-mirip seperti campuran timun suri, pepaya, dan melon. Hahaha, nggak jelas ya? Pokoknya begitu, deh xD

Namun, hal konyol memang nggak mudah lepas dari diri saya. Setelah membayar 2 kotak Carica punya saya dan si dia, saya malah syok begitu mengecek isi dompet yang ternyata jadi kosong! Sebenarnya sejak semalam uang teman saya ini memang sudah menipis dan kami sepakat untuk pakai uang saya dulu sejak pagi tadi untuk diganti kemudian. Konyolnya, seingat saya tuh saya masih punya uang lima puluh ribuan lagi di dompet. Tapi ternyata tanpa terasa sudah terpakai entah untuk apa T_T Tampaknya sejak awal kami memang keliru merancang budget akibat pengeluaran tak terduga dari sewa ojek di hari pertama ituuuu (dan itu memang pengeluaran yang paling besar dari semua pengeluaran yang ada). Ngenes banget nggak, sih? Saat itu duit saya bener-bener tinggal dua ribu rupiah (plus receh-receh koin gitu deh)! Duit si dia juga kalau tidak salah sudah tinggal ribuan-ribuan gitu. Kalau kaya gini kejadiannya, kami bener-bener jadi gembel deh nih T_T

Akhirnya, kami mulai cari-cari ATM sekitar sini. Jalan tak tentu arah sambil tanya-tanya orang, sebagian besar pertanyaan baliknya malah: “ATM apa, Mbak?” Duh, Dek, Pak, Mas, Mbak, Tante, kami nggak peduli ATM apa, yang penting ATM. Dan kami pikir pertanyaan kaya begitu bakal punya jawaban yang memuaskan. Tapi ternyata malah, “Kalau dari sini ATM jauh sih, Mbak.” Duh, Dek, Pak, Mas, Mbak, Tante, kalau gitu kenapa tadi harus nanya ATM apa? Kesannya ada banyak banget ATM gitu ==’

Lewat petunjuk salah satu mas-mas di jalanan, katanya ada ATM di pom bensin yang berada di beberapa ratus meter dari sini. Tapi kudu naik angkot dulu. Pasang muka memelas tanya ongkos angkotnya berapa, jawabannya melegakan banget: “Kasih aja dua ribu, Mbak.” Alhamdulillah ya Allah… Pas banget dengan sisa remah-remah uang hamba TOT

Alhamdulillah-nya juga, ternyata bus tujuan Purwokerto juga lewat pom bensin itu. Jadi kami bisa sekalian jalan. Agak horor juga, nih. Soalnya kereta balik kami kan jam 18.38, tapi sekitar jam 15.00 itu kami masih di jalanan. Dan kita nggak pernah tahu keadaan di jalanan menuju Purwokerto nanti, kan? Udah gitu, busnya juga berasa lama banget ditungguin. Nggak muncul-muncul. Ada pikiran alamat bakal nginep semalam lagi di Purwokerto kalau nanti beneran ketinggalaan kereta, tapi tetep harus terus optimis. Insya Allah bisa!

Setelah Alhamdulillah busnya datang juga, sepanjang perjalanan sebenernya pengen banget tidur dan istirahat. Tapi, rasa khawatir ketinggalan kereta jadi bikin otak nggak bisa rileks untuk istirahat alias tidur. (Walaupun pada akhirnya sempat ketiduran juga karena faktor lelah sih, hehe). Entah kami harus bersyukur ataukah ketakutan dengan cara supir mengemudikan bus ini. Ngebut banget, cyin! Dan lagi karena macet, supir busnya jadi pilih jalur lain gitu lewat kampung-kampung. Udah jalanan sempit, ngebut, aduduh, serem banget deh. Tapi mungkin hikmahnya adalah kami jadi sampai Purwokerto tepat pada waktunya.

Oh ya, dari bus tadi kami harus turun di terminal dulu sebelum akhirnya naik angkutan umum ke stasiun. Alhamdulillah, akhirnya kami sampai dengan selamat dan sentausa ke Stasiun Purwokerto. Di sini kami bahkan sempat membeli popmie dan makan dulu sebelum masuk ke peron.

Kalau kata teman saya, sepanjang perjalanan pulang saya ini molor mulu, hahaha… Udah gitu wajahnya kelihatan lelah banget gitu. Malahan, usut punya usut, ternyata saya tuh molor-nya sambil senderan di bahu dia gitu (dan dia jadi nggak tega bangunin), bahahaha kami so sweet banget kaaan xD Eh, tapi habis itu gantian sayanya yang jadi nggak enak. Kasihan juga dia jadi pegel-pegel. Duh, maaf banget ya, Sis😦

Sampai di Jakarta tepat tengah malam (udah kaya Cinderella), dia pun ikut menginap di kosan saya yang jaraknya emang nggak terlalu jauh dari Stasiun Pasar Senen. Asli deh, sejak berangkat, di sana, sampai kembali lagi ke Jakarta, saya tidak merasakan hal-hal yang aneh pada tubuh saya. Saya berasa sehat dan nggak sakit sama sekali. Pol-polan kedinginan doang. Namun, anehnya begitu esok siangnya teman saya itu pulang ke rumah, mendadak tubuh saya mulai nggak enak.

Sebenernya ingin nggak cerita-cerita tentang kejadian ini, tapi karena sudah berlalu dan mungkin bisa jadi pelajaran juga, saya coba tulis sedikit. Sejak hari Minggu siang itu, saya mulai merasa nggak enak badan. Biasanya sakit begini akan sembuh setelah makan, tidur, dan minum multivitamin atau tolak angin. Tapi, Senin pagi saya merasa keadaan saya justru semakin memburuk.

Ini adalah sakit terparah yang pernah saya rasakan. Kepala pusing yang benar-benar pusing sampai ke tahap yang buka mata aja pemandangan berasa berputar-putar (apalagi bangun dari kasur; nggak sanggup lagi kecuali pas shalat), mual-muntah, panas-dingin, dan nggak nafsu makan. Kalau mau bicara ekstrem, jujur lewat penyakit ini saya sempat merasa bahwa maut benar-benar dekat. Lebay, ya? Tapi emang bener. Selain itu, beberapa minggu setelah sembuh, saya justru mendengar kabar kalau ada salah satu kenalan yang meninggal dunia karena penyakit yang sama seperti saya waktu itu. Astaghfirullah…

Alhamdulillah masih dikasih umur. Tapi sebagai gantinya, teman saya itu jadi ikut ketakutan dan merasa bersalah banget kalau saya sakit gara-gara dia. (Enggak, lah. Hayati malah yang udah dapet banyak bantuan banget banget dari dirimuuu. Kalau bukan karena dirimu—yang ambilin dan bawa-bawa tas, yang menghangatkan di kala hati ini membeku, jadi pengemudi terhebat, jadi sandaran bahu yang so sweet—bisa jadi sakitnya malah lebih parah lagi dibandingkan ini, hihihi.)

Lalu saya pun jadi di-bully temen-temen kantor untuk nggak lagi diajak pergi-pergi #jahaaat T_T Pas beberapa teman ngajakin ke dataran tinggi atau daerah dingin seperti Puncak, Prau, Ijen, atau Bromo, saya langsung dikata-katain: “Habis dari Dieng aja langsung nggak masuk kantor seminggu, gimana kalau ke yang lain? Nggak masuk sebulan kali, ya?” Jangan gitu doooong😥

Selain itu, orangtua juga jadi agak parno kalau saya berkeliaran lagi (biasanya nggak pernah peduli [baca: nggak pernah banyak tanya atau khawatir] kalau saya ke mana-mana). Beberapa bulan setelah kejadian itu, percakapan unik yang sempat terjadi adalah: “Ma, aku mau ikut temenku ke X ya?” … “Iya.” … “Yes! Harus olahraga dulu nih.” … “Hah? Naik gunung, ya?! Nggak! Nggak boleh! Pokoknya nggak boleh naik lagi!” Hahaha, yang tadinya woles bisa langsung sensitif banget begitu tahu itu dataran tinggi xD Sebagai anak yang mencoba untuk berbakti (dan nggak mau buat mereka repot atau khawatir lagi), pada akhirnya memilih untuk tidak pergi-pergi berat lagi. Setidaknya untuk waktu dekat ini :p

Nah, kalau di ilmu gizi kan ada yang namanya diagnosis gizi alias coba dicari penyebab kasusnya itu kira-kira kenapa. Sebagai pelajaran, selelah saya ingat-ingat dan resapi, selain tentu saja karena kehendak Allah, saya sakit sepulang dari sana adalah karena:

  1. Persiapan nggak maksimal. Udah tahu mau ke tempat ekstrem (baca: udara dan keadaan yang jauh berbeda dengan Jakarta), tapi nggak disiapin dari jauh-jauh hari. Packing H minus beberapa jam, nggak persiapan baju hangat yang maksimal (nggak punya baju berbahan wool, cuma modal jaket dan baju tumpuk-tumpuk doang), nggak bawa syal atau sarung tangan tebal (bzzz adanya yang tipis semua), dan lain-lain yang entah apa lagi.
  2. Banyak skip makan dan nggak bijak pilih menu. Kalau diingat-ingat, selama di sana perut berasa sering kosong. Padahal di dataran tinggi begitu sebaiknya perut nggak kosong. Selain itu menu saya juga acak-acakan banget. Roti, gorengan, kentang, mi, kentang, mi, roti, mi lagi. Duuh, maafkan saya, duhai mister lambung dan usus😦
  3. Nggak minum multivitamin atau tolak angin. Biasanya sih, tiap nge-trip yang lebih dari sehari, saya selalu persiapan minum multivitamin atau tolak angin untuk daya tahan tubuh. Nah, selama di sana entah kenapa kelupaan nggak minum sama sekali.
  4. Kurang tidur dan divorsir perjalanan. Karena tragedi begadang pesan tiket kereta lebaran di tengah malam dan hanya tidur sekitar sejam padahal besoknya trekking, nggak heran kalau tubuh jadi kaget. Selain itu, dua minggu berturut-turut sebelum perjalanan ini, saya juga pergi keluar kota (dan perjalanan keluar kota itu nggak bisa dibilang santai juga). Mungkin tubuh jadi nggak punya waktu istirahat sehingga akhirnya drop.
  5. Stres dan lelah hati. Kalau ini sih, emang udah ada sejak awal perjalanan, kkk… Bahkan niat hati melakukan perjalanan ini kan karena ingin sekalian healing, tapi kayanya justru inilah yang justru semakin memperburuk imunitas tubuh. Setidaknya jadi ada hikmah dari sakit kemarin itu, yaitu saya jadi agak lupa sama sakit hati yang emang sempat buat hati Hayati ini lelah banget, hahaha…

.

Spesial buat Mba Puu, aku nggak pernah nyesel apalagi kapok jalan bareng dirimu, loh. (Malah perjalanan kita itu selalu seru, kaaaan? Hahaha). Dirimu aja yang sekarang ini malah pergi jauh meninggalkan diriku, hiks, hahaha. Mulai dari Jogja, Pacitan, Bogor, Gunung Kidul, Jogja lagi, Bandung, Lembang, Puncak, keliling Jakarta, sampai terakhir ke Dieng ini, selalu seru dan berkesan (meskipun penuh juga dengan kegalauan, kkk).

Kehilangan soulmate jalan seperti dirimu, buat semangat nge-trip Hayati jadi turun, nih. Udah nggak ada lagi orang yang sama-sama pelit eh hemat dan banyak makan tapi nggak jaim; yang sama-sama pake rok ke mana-mana tapi tetep aktif (mari buktikan pada dunia bahwa khimar dan rok bukan penghalang aktivitas kita!); yang dari luar kelihatan “akhwat banget” tapi di dalem justru super duper strong; yang nggak masalah jadi gembel dengan motto “bisa diajak susah yang nggak susah-susah banget”; dan yang terpenting, yang sepanjang perjalanannya bikin Hayati hampir selalu ingat sama Allah :*

Baik-baik di sana ya, Nak. Siapa yang menyangka, kalau perjalanan berat ke Dieng ini bakal jadi perjalanan ekstrem terakhir kita. (Dan kita jadi nggak kesampaian explore Bromo dan Sukabumi). Tapi, tak pernah ada kata sedih demi kebahagiaan sahabat sendiri. Fighting! Miss youuu :*

estEtika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: