Makanan Halal: Was-was di Negara Sendiri

Dari segi ilmu gizi, makanan yang baik adalah makanan yang mengandung zat gizi yang mampu memenuhi kebutuhan tubuh; sehat (tidak berisiko menimbulkan atau memperparah penyakit); dan aman (bebas dari sumber kontaminan fisik [benda asing seperti batu, rambut, debu, dsb.], kimia [racun atau toksik], maupun biologis [mikroba patogen]). Namun, dari sisi akidah agama Islam, makanan yang baik adalah makanan yang halal. Halal di sini mencakup halal kandungan zatnya maupun halal dalam mendapatkannya. Adapun tulisan ini akan lebih berfokus tentang halal kandungan zatnya.

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. (QS. Al-Maidah [5]: 3)

Dari segi akidah, kita sebagai hamba sudah sepatutnya mengikuti dan menaati perintah Allah tersebut, tanpa perlu mencari tahu lebih lanjut alasan mengapa perintah dan larangan itu diturunkan. Namun, tabiat manusia modern saat ini cenderung selalu membutuhkan penjelasan logis. Oleh sebab itu, sisi kesehatan pun pada akhirnya mampu menyumbang sedikit jawaban, yaitu karena mereka itu buruk, tidak sehat, dan membahayakan bagi kita. Meskipun pada hakikatnya jawaban ini pun sudah ada di dalam Al-Qur’an, “…dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik serta mengharamkan bagi mereka segala yang buruk” (QS. Al-A’raf [7]: 157).

Jadi, segala yang haram sudah jelas PASTI buruk, sebab itulah diharamkan. Masihkah meragu?

Menurut ilmu kesehatan sendiri, bangkai merupakan sumber segala penyakit. Sekitar 70-80% tubuh manusia tersusun atas air, sementara air itu sendiri adalah tempat yang baik untuk pertumbuhan mikroorganisme. Belum lagi jika ditambah mikroorganisme dan penyakit-penyakit yang sudah berdiam diri di dalam darah dan organ dalam. Tak heran, darah pun diharamkan oleh-Nya karena juga bersifat membahayakan bagi kita. Bagaimana dengan hewan yang tercekik, terpukul, jatuh (dan mati), ditanduk, dan diterkam binatang buas? Ya, tak ubahnya mereka juga termasuk bangkai karena sudah mati sebelum disembelih.

Adapun cara penyembelihan dalam Islam pun sudah sangat sempurna. Yaitu dengan secara langsung memotong urat nadi hewan sembelihan menggunakan pisau yang tajam. Mengapa harus urat nadi (di bagian leher)? Karena begitu urat nadi terpotong, aliran darah akan terpusat mengalir ke sana (dan yang paling deras), sehingga tidak menyisakan darah di pembuluh darah. Seperti yang kita tahu, darah mudah sekali membeku. Menyembelih hewan bukan di urat nadi, atau ketika hewan itu mati sebelum disembelih, akan membuat darah membeku atau menggumpal di pembuluh darah hingga akhirnya tertinggal di sana dan menimbulkan penyakit bagi yang mengonsumsi dagingnya. Mengapa harus pisau yang tajam? Hikmahnya selain agar tidak menyiksa hewan sembelihan tersebut (karena cenderung membuatnya langsung mati seketika), juga berhubungan dengan proses pembekuan darah tadi (proses pengirisan yang lama karena pisau yang tumpul, membuat darah bisa membeku di sekitarnya). Cara penyembelihan Islami ini bahkan sempat dikagumi dan akhirnya dipraktikkan pula oleh kaum non-muslim.

Babi. Jika dilihat dari hewan ini sendiri ketika masih hidup, dapat dikatakan bahwa lingkungan dan cara hidupnya sangatlah kotor. Selain itu, dari sisi kesehatan pun babi merupakan salah satu inang atau agens pembawa beragam penyakit. Salah satu yang populer adalah cacing yang konon katanya begitu masuk ke dalam organ tubuh manusia, maka akan terus melekat di dalam sana dan bisa sangat membahayakan. Tak hanya itu, beberapa parasit yang tumbuh di dalam daging babi, konon katanya juga belum tentu mati setelah proses pemasakan.

Daging babi adalah salah satu yang banyak dikhawatirkan para penikmat makanan halal. Bagi orang awam (mungkin juga termasuk saya), bentuknya setelah diolah terkadang tampak tak jauh beda dengan daging sapi atau ayam pada umumnya. Belum lagi jika dioplos atau dicampur; semakin tidak terlihat jelas lagi. Menurut beberapa orang, daging babi ini berbau lebih tajam (beberapa teman yang sensitif bisa langsung mengenali dari baunya saja). Ada pula yang mengatakan bahwa serat daging babi akan membentuk pola seperti titik-titik berbentuk segitiga. Meskipun terkadang saya sendiri pun belum bisa dengan jelas membedakannya😦

Sayangnya, di negeri yang masyarakatnya mayoritas beragama Islam ini, daging babi masih menjadi kekhawatiran tersendiri. Di berita, masih sering terdengar penjual daging yang mengoplos daging sapi dengan daging babi. Yang mengerikan, ada lagi yang sudah dalam bentuk olahan, yaitu oplosan daging babi dan sapi menjadi kornet, abon, sosis, atau bakso (sudah semakin sulit dibedakan lagi). Padahal, sebagian besar masyarakatnya beragama muslim, yang jelas-jelas tahu persis bahwa babi adalah mutlak haram.

Selain daging babi, kekhawatiran lain adalah tentang alkohol. Dahulu, rasanya alkohol menjadi barang yang sangat tabu di masyarakat. Namun, sekarang ini beberapa mall atau duo xxxxmart dan sejenisnya mulai “berani” menjual minuman haram ini. Yang lebih menakutkan lagi adalah semakin maraknya resto-resto makanan internasional. Apalagi kalau bukan masalah bumbu yang digunakan. Seperti beberapa masakan oriental atau kontinental, misalnya. Mereka harus menambahkan beberapa milimeter alkohol atau turunannya (wine, sherry, dsb.) demi alasan yang katanya penting: cita rasa.

Tradisi dan gaya hidup pun turut serta berkontribusi. Dalam sebuah perhelatan atau jamuan makan, misalnya. Menolak atau tidak meminum wine yang disajikan sebelum hidangan utama adalah salah satu kesalahan fatal dan dianggap sangat tidak sopan. (Meskipun alasan agama atau kesehatan terkadang masih bisa ditoleransi). Selain itu, saya pun teringat salah satu teman yang pernah KKN di daerah pedalaman Kalimantan. Tradisi di sana adalah, tidak boleh pulang kalau tidak meminum arak yang mereka suguhkan. Ya Allah… rasanya bagai makan buah simalakama…

Was-was di negara sendiri. Itu yang sekarang ini tengah saya rasakan. Dahulu, ketika makan berat hanya sebatas warung nasi pinggir rumah, warteg, warung sunda, atau warung padang, rasanya jarang sekali mengkhawatirkan hal-hal semacam ini. Namun, sekarang ini ketika kampus deket mall, kantor deket mall, banyak resto dengan menu internasional, banyak ajakan makan ramai-ramai, perasaan was-was mulai sering muncul. Halalkah? Apa ada babinya? Apa ada alkoholnya?

Pernah suatu ketika saya makan-makan bersama teman kantor di suatu mall di Jakarta Utara. Saat pertama kali saya masuk ke mall ini, saya sempat merasa sedang berada di negara asing. Entah mengapa saat itu saya sama sekali tidak melihat perempuan berkerudung. Semua wajah juga tampak asing, seperti sedang berada di negara Asia Timur sana. Maka ketika kami makan-makan di sana, saya pun memilih menu dengan label Halal. Namun, kesalahan fatal saya waktu itu memang tetap didominasi oleh nafsu yang mengatakan: “aku ingin makan sesuatu yang berbeda dari biasanya”.

Akhirnya, dipilihlah menu Nasi Ayam Hainan (dengan label halal). Ini adalah salah satu masakan China, yaitu nasi yang dimasak dari beras dan kaldu ayam (bukan air biasa), kemudian disajikan dengan ayam kukus berbumbu dan kuah bening. Namun, karena lidah yang suka pedas, saya pun memilih varian pedas berbumbu merah.

Namun, sajian yang datang saat itu tampak berbeda dengan yang saya bayangkan. Warna ayamnya benar-benar merah sampai ke daging-daging bagian dalamnya. (Biasanya bumbu yang dibalurkan tidak meresap sesempurna ini sampai ke bagian dalam dagingnya saat dibelah). Selain itu, aroma bumbunya juga agak menyengat dan terasa asing. Saya langsung pucat. Jangan-jangan………?!

Kebetulan saat itu saya duduk bersebelahan dengan seorang mbak-mbak muallaf. Lalu, saya pun bertanya padanya perihal menu pesanan saya, setelah sebelumnya sempat basa-basi dulu bertanya tentang daging babi (maksudnya mau ngetes, ini mbak bisa bedain daging babi sama daging lain enggak, hehe). Hasilnya, mbak ini pun ragu ini sebenernya daging apaan T_T

Akhirnya, saya pun memberanikan diri mendatangi counter tersebut dan menanyakannya secara langsung. Pelayan di counter itu menjawab, “Halal, Mbak. Sumpah! Demi Allah!” seraya bersumpah memamerkan jari telunjuk dan jari tengahnya. Namun, jujur entah mengapa saat itu nafsu makan sudah telanjur menguap dan hilang entah ke mana…

Was-was seperti ini, mungkin akan logis jika terjadi di negara non-muslim. Salah satu pelajaran berharga dari perjalanan saya ke Vietnam beberapa bulan yang lalu, misalnya. Sepulangnya dari sana, saya jadi mendapat hikmah untuk menjadi lebih menghargai makanan halal. Betapa pentingnya pula memperhatikan apa-apa yang akan masuk ke dalam perut kita. Meskipun ironis, di negara yang mayoritas muslim ini, makanan haram semakin marak ditemukan.

Namun, selain daging babi dan alkohol tadi, salah satu kekhawatiran lain adalah tentang cara penyembelihan yang sempat dipaparkan sebelumnya. Selain dengan cara penyembelihan tersebut di atas, daging yang kita konsumsi akan bernilai halal jika disembelih atas nama Allah dan disebutkan asma Allah sebelumnya. Masalahnya, apakah semua daging yang ada di pasaran sudah yakin disembelih dengan menyebut asma Allah?

Di dalam riwayat Bukhori, dari Aisyah dikatakan bahwa suatu kaum pernah berkata kepada Rasulullah SAW: Sesungguhnya suatu kaum mendatangi kami dengan membawa daging sementara kami tidak mengetahuinya apakah mereka menyembelih dengan menyebut nama Allah atau tidak? Lalu Rasulullah SAW bersabda, “Sebutlah nama Allah (Bismillah) atasnya, lalu makanlah.”

Masya Allah, begitu sempurna dan mudahnya Islam mengatur segala kehidupan kita😀

Namun, perlu diingat pula bahwa hal ini tidak berlaku jika kita sudah jelas-jelas tahu bahwa daging yang akan kita konsumsi itu disembelih dengan cara yang tidak Islami. Contohnya ialah ketika kita memakan daging di negara non-muslim atau daging yang diimpor dari negara non-muslim (kecuali daging yang disembelih oleh Ahli Kitab [Yahudi dan Nasrani], yaitu masih halal kita makan sesuai firman Allah SWT dalam QS. Al-Maidah [5]: 5 yang berbunyi, “Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka.”). Penjelasan lebih lanjut bisa klik langsung pada daftar referensi di akhir tulisan ^^

Pengalaman ini pun yang sempat menimpa saya. Yaitu ketika berkunjung ke Malaysia, insya Allah masih “berani” makan ayam karena negara ini tergolong negara muslim. Namun, berbeda halnya ketika sudah masuk ke Vietnam. Di sini, makan ayam atau daging hanya “berani” saat di sekitaran masjid atau di restoran halal. Itu pun tetap harus dengan membaca Bismillah dulu sebelum makan. (Dan sepatutnya setiap sebelum makan memang harus baca Bismillah).

Namun, pengalaman unik juga sempat terjadi di Singapura, ketika saya khilaf memesan ayam goreng. Pucat pasi ketika sadar cuma saya yang pesan ayam sementara yang lain memesan ikan. Sepertinya waktu itu saya sempat mengalami sindrom konfusi mental: “Ini sebenernya ada di mana”. Sempat ragu dan menyingkirkan ayam itu ke pinggiran piring, tetapi jadi agak lega begitu diberi tahu kalau ibu koki penjualnya ternyata mengenakan khimar. Asumsi: Insya Allah halal. (Sambil terus baca Bismillah untuk setiap suapnya).

Dan terkadang, kesulitan-kesulitan semacam ini yang justru membuat kita malah jadi ingat sama Allah. Coba direnungi, seberapa sering kita lupa baca Basmalah sebelum makan? (menampar diri sendiri).

Intinya, makanan halal itu tidak hanya penting dari sisi kesehatan saja, tetapi juga dari sisi spiritual. Hal ini adalah salah satu bentuk penghambaan dan kepatuhan kita kepada Allah SWT. Selain itu, makanan haram juga berpotensi membuat amalan ibadah kita tidak diterima oleh-Nya. Dan lagi, darah dan daging kita yang tumbuh dari hasil makanan haram, akan menjadi darah dan daging yang haram pula. Sedangkan seperti yang kita ketahui, apa-apa yang haram tempatnya adalah di neraka. Na’udzubillah… Semoga Allah SWT selalu melindungi dan merahmati kita semua. Aaamiin…

Referensi:

  1. Alqur’annul Kariim.
  2. Asyraf, Nurul Mukhlisin. 2010. “Kriteria Binatang yang Haram Dimakan”. https://almanhaj.or.id/2934-kriteria-binatang-yang-haram-di-makan.html. Diakses tanggal 9 Agustus 2016.
  3. Handoko, Tri. 2015. “Hukum Daging Impor dari Negara Non-Muslim”. http://www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/hukum-daging-impor.htm#.V6l4RRLpZL5. Diakses tanggal 9 Agustus 2016.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: