Kajian Islam Tentang Qurban

Menjelang Hari Raya Idul Qurban, tidak ada salahnya kita sama-sama belajar lagi tentang Fiqih Qurban. Berikut adalah rangkuman dari dua kajian di waktu dan tempat yang berbeda, dengan tema yang sama-sama tentang qurban, yaitu (1) Kajian Tauhiid di Masjid Istiqlal Jakarta oleh Ustad Ahmad Sarwat, Lc. MA, dan (2) Kajian Muslimah di Masjid Daarut Tauhiid Jakarta oleh Ustadzah Sinta Santi, Lc. Saya coba rangkum dan paparkan kembali, semoga bermanfaat🙂

Ketentuan Umum Ibadah Qurban

Arti Qurban atau Al-Udhiyah menurut bahasa adalah kambing yang disembelih pada saat dhuha. Sedangkan arti Qurban atau Al-Udhiyah secara luas adalah sebutan bagi hewan ternak yang disembelih pada hari Idul Adha dan hari Tasyrik dalam rangka mendekatkan diri (taqorruban) kepada Allah SWT. Asal mula ibadah qurban adalah pada zaman Nabi Ibrahim AS seperti yang sudah kita semua ketahui kisahnya. Keutamaan berqurban terangkum dalam salah satu hadist Rasulullah SAW, “Tidaklah anak Adam melakukan suatu amalan pada hari Nahr (Idul Adha) yang lebih dicintai oleh Allah melebihi mengalirkan darah (qurban).” (HR. Tirmidzi).

Adapun hukum berqurban ini menurut jumhur ulama adalah Sunnah Muakkad alias sunnah yang paling dianjurkan (hingga mendekati hukum wajib), sedangkan menurut Abu Hanifah adalah wajib bagi yang lapang (mampu). Hadistnya adalah: “Barangsiapa yang berkelapangan (harta) namun tidak mau berqurban, maka jangan sekali-kali mendekati tempat shalat kami.” (HR. Ibnu Majah, Al Hakim, dan dihasankan oleh Syaikh Al Albani). Namun, ada pula pendapat menurut Imam Syafi’i  yaitu bahwa ibadah qurban hukumnya Sunnah Kifayah, atau dalam arti jika dalam satu keluarga sudah ada yang menyembelih, anggota keluarga yang lain sudah tidak wajib menyembelih lagi (bukan dihitung per orang melainkan per keluarga).

Jenis hewan yang diqurbankan adalah unta, sapi, kerbau, kambing, domba, atau yang sederajat. Dalilnya adalah QS. Al-Hajj: 34, “Dan bagi setiap umat Kami berikan tuntunan berqurban agar kalian mengingat nama Allah atas rizki yang dilimpahkan kepada kalian berupa hewan-hewan ternak (bahiimatul an’aam).” Adapun untuk ketentuan jumlahnya, dari Jabir ra: “Kami menyembelih bersama Nabi SAW di Hudaibiyah dengan unta atas nama tujuh orang, dan sapi atas nama tujuh orang.” (HR Muslim, Tirmidzi).

Sementara terkait hukum satu qurban untuk sekeluarga tadi, hadist-nya ada dari Abu Ayyub: “Pada masa Rasulullah SAW, seseorang menyembelih seekor kambing sebagai qurban atas dirinya dan keluarganya, lalu mereka makan dan memberikan pada yang lain, sampai (kondisi berubah) dan orang-orang berlomba sebagaimana engkau lihat saat ini.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah). Apalagi Rasulullah sendiri juga pernah berqurban dengan dua ekor hewan qurban; yang pertama qurban atas nama dirinya dan keluarganya, dan yang kedua atas nama dirinya dan umat-umatnya. (Masya Allah banget kaaaan, coba siapa yang bisa inget dan cinta banget sama kita kaya begini padahal belum pernah ketemu kalau bukan Rasulullah SAW?? T_T) Kesimpulannya: boleh satu keluarga satu qurban, tapi boleh juga (apalagi kalau mampu) satu keluarga lebih dari satu qurban atau satu orang satu qurban.

Hikmah qurban sendiri ada empat, yaitu (1) menghidupkan syiar dan sunnah, (2) mengenang perjuangan Nabi Ibrahim AS dan keluarganya, (3) berbagi kebahagiaan di hari raya, dan (4) mengingat kematian. Namun, perlu digarisbawahi di sini bahwa ibadah qurban ini merupakan ibadah jasadiyah. Artinya, inti dari ibadahnya terletak pada penyembelihannya, bukan pada bagi-bagi dagingnya. Inti ibadahnya terletak pada darah yang mengalir dari urat nadi hewan qurban tersebut, bukan pada kedermawanan si pemilik hewan qurban kepada fakir miskin.

Kenapa? Karena ibadah qurban ini (jika dilihat dari asal usulnya) merupakan ibadah ritual atau ibadah yang tidak menggunakan akal, alias semata-mata hanya karena “disuruh” sama Allah SWT. Seperti yang kita ketahui, asal usulnya adalah kisah Nabi Ibrahim AS yang diperintahkan Allah lewat mimpi untuk menyembelih anaknya sendiri, Nabi Ismail AS. Dalam kisah, pun tidak dikisahkan Nabi Ibrahim membagi-bagikan daging hewan qurban tersebut kepada fakir miskin. Jadi, inti dan nilai ibadahnya lebih terletak pada keikhlasan dan kesungguhan hati kita sebagai hamba Allah SWT. (Bagi-bagi daging dan segala macamnya ‘hanya’ sebagai hikmah qurban).

Sebagai contoh, ibadah ritual lain selain qurban (ibadah yang sudah kehendak atau perintah Allah seperti itu alias dari sananya emang disuruh begitu) adalah tayamum, shalat, dan lontar jumroh. Secara akal, ibadah tersebut bisa dibilang tidak masuk akal (nggak ada air buat wudhu, kok malah ‘disuruh’ pakai debu; kenapa gerakan shalat harus seperti itu; lontar jumroh yang katanya untuk ‘mengusir’ setan, tapi bukankah setan itu ‘nggak mempan’ sama lemparan batu). Namun, karena Allah memerintahkan demikian, kita sebagai hamba tentu saja harus mengikuti perintah-Nya. Adapun hal-hal positif yang sering dikaitkan dengan ibadah tersebut, seperti misalnya gerakan shalat itu membuat kita pintar, sehat, dan sebagainya, sifatnya (lagi-lagi) hanya sebagai hikmah saja. Meskipun percayalah, bahwa apa-apa yang diperintahkan Allah itu pasti memang terbaik untuk kita😉

Adab atau Etika Berqurban

Wah, Etika itu ternyata ada di mana-mana. Bukan hanya Etika Kedokteran atau Etika dan Hukum Kesehatan saja (mata kuliah ini yang paling jadi beban kalau sampai ikut remidial, kkk), tapi Etika Berqurban pun ada. Adabnya ada empat macam, yaitu (1) Ihsan dalam niat, (2) Ihsan dalam memilih hewan, (3) Ihsan dalam penyembelihan, dan (4) Ihsan dalam pembagian.

Ihsan dalam niat. Luruskan niat hanya karena Allah SWT saja. Bukan agar dipuji, bukan agar terlihat mampu, bukan agar terlihat keren, bukan agar terlihat dermawan, bukan agar terlihat baik. Pokoknya hanya karena Allah saja. Dalilnya sudah jelas. “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhoan) Allah, tetapi ketaqwaan kamulah yang dapat mencapainya.” (QS. Al-Hajj: 37).

Ihsan dalam memilih hewan. Yaitu memilih hewan qurban secara sungguh-sungguh, yang terbaik dari yang terbaik yang kita mampu. Adapun syarat hewan qurban adalah (1) sebaiknya dan dianjurkan sekali yang jantan; (2) minimal berusia 2 tahun yang ditandai dengan giginya yang sudah pernah tanggal; (3) tidak cacat (tidak buta dan tidak pincang), sakit, terpotong telinganya atau patah tanduknya; (4) gemuk; dan (5) bukan yang memakan makanan najis (jika perlu dikarantina dulu, diberi makanan yang enak-enak). Adapun hadist untuk memilih hewan qurban terbaik adalah dari Hasan As-Sabt, “Rasulullah SAW memerintahkan kami dalam dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha) untuk memakai pakaian terbaik, wangi-wangian terbaik, dan berqurban dengan hewan termahal yang kami mampu. (HR Hakim).

Ihsan dalam penyembelihan. Yaitu mencakup dua hal, (1) ihsan dalam hal si penyembelih atau si pemilik qurbannya dan (2) ihsan dalam hal perlakuannya terhadap hewan sembelihannya. Dalam menyembelih hewan qurban, orang yang berqurban dianjurkan untuk menyembelih hewan qurbannya tersebut dengan tangannya sendiri, atau minimal menyaksikan proses penyembelihan tersebut (sunnah qurban). Selain itu, proses menyembelihnya juga harus ihsan dan sesuai aturan. Adab penyembelihan: (1) si penyembelih harus laki-laki atau perempuan yang baligh dan berakal, (2) menggunakan alat sembelihan yang tajam, (3) tidak mendzalimi atau menyakiti hewan qurban, (4) tasmiyah atau menyebut asma Allah (Bismillaahi Allaahu Akbar), dan (5) memutus hulqum dan mari’ (jalur napas) dalam sekali potong atau sekali percobaan. Bahkan hewan qurban pun harus diperlakukan baik. Salah satunya adalah jangan membiarkan hewan yang lain melihat sesamanya ketika sedang disembelih, termasuk juga dilarang memperlihatkan mata pisau ke hewan yang akan disembelih.

Ihsan dalam pembagian. Biasanya, daging hewan qurban akan dibagi menjadi: sepertiga untuk fakir miskin, sepertiga untuk kenalan atau kerabat dekat, dan sepertiga sisanya untuk diri sendiri alias di pemilik hewan qurban tersebut. Ya, pemilik hewan qurban pun boleh menikmati hasil qurbannya. Hadist-nya: “(Adapun sekarang) Makanlah sebagian, sebagian lagi berikan kepada orang lain, dan sebagian lagi simpanlah.” (HR Bukhari dan Muslim). Oh ya, daging hewan qurban tidak boleh diperjualbelikan. Jadi, tidak boleh membayar tukang jagal dengan daging hewan qurban meskipun itu hanya kulitnya. Namun demikian, fakir miskin yang sudah menerima daging qurban tersebut (sudah jadi hak dia), diperbolehkan untuk menjual daging tersebut ke orang lain.

Sebagai tambahan, ada informasi tentang perbedaan Idul Fitri dan Idul Adha. (1) Takbir di Idul Adha lebih lama waktunya, yaitu dari shubuh hari Arofah hingga akhir hari Tasyrik menjelang Ashar. (2) Waktu dilaksanakannya shalat Ied Idul Adha dianjurkan lebih pagi agar segera dilanjutkan dengan prosesi penyembelihan. (3) Pada Idul Adha, sunnah hukumnya untuk tidak makan terlebih dahulu hingga selesai shalat Ied; beda dengan Idul Fitri yang harus makan atau minum dulu untuk menandakan bahwa kita sudah tidak puasa Ramadhan lagi🙂

Wallahu ‘alam.

.

Special thanks to Mbak Riska (dan Mbak Sela) yang sudah berkenan menjadi teman baru untuk mengisi akhir pekan, dan Mbak Dewi untuk kiriman email materi lengkapnya ^^

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: