Karena Aku Sibuk

Waktu ibarat pedang. Jika engkau tidak menebasnya, ialah yang akan menebasmu. Dan jiwa yang tidak kau sibukkan dalam kebenaran, maka ia akan menyibukkanmu dalam kebatilan. (Imam Syafi’i)

Hiks, makjleb banget, ya? Kalau kata Aa Gym yang juga agak-agak mirip dengan ucapan Imam Syafi’i di atas, “Orang yang tidak sibuk dengan kebaikan akan mudah sibuk dengan kesia-siaan bahkan keburukan”. Na’udzubillah.

Namun, sebenarnya ungkapan sibuk itu terasa kurang pas jika ditujukan untuk diri kita sendiri. Karena sejatinya, kita ini hanyalah sok sibuk. Allah-lah yang Maha Sibuk. Dikutip dari buku Tuhan, Maaf, Saya Sedang Sibuk karya Ahmad Rifa’i Rif’an, kita ini bukan hanya “sok sibuk”, tetapi malah merasa sok sibuk (lebih nggak tahu diri lagi). Kita sering terlambat menghadap Allah, padahal Allah tidak pernah sepersekon pun terlambat memberi kita rizki. Kita sering melalaikan kewajiban, padahal Allah tidak pernah lupa menerbitkan mentari. Setiap saat keburukan kita naik ke langit, tetapi setiap saat itu pula kebaikan Allah selalu tercurah kepada kita. Ya, Allah Maha Sibuk. Karena Allah senantiasa dalam keadaan menciptakan, menghidupkan, mematikan, memelihara, memberi rizki, dan lain-lain (yang semua itu mudah saja bagi Allah).

Semua yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan. (QS. Ar-Rahman [55]: 29)

Menyibukkan diri. Mungkin kata inilah yang lebih bijak kita gunakan untuk diri kita. Ada beberapa alasan mengapa seseorang jadi menyibukkan diri. Alasan yang paling TOP tentu saja untuk menyibukkan diri dengan kebaikan, seperti yang diungkapkan Imam Syafi’i di atas. Namun, ada juga sih, alasan konyol lain seperti menyibukkan diri untuk mengalihkan sesuatu atau bahkan melupakan sesuatu, eh, atau malah seseorang? Hahaha… (Maaf ya, semakin ke bawah kemungkinan besar kata-katanya bakal semakin kacau xD)

Kalau kata Tegar Karang dalam novel Sunset Bersama Rosie karya Tere Liye, menyibukkan diri adalah salah satu cara terampuh untuk mengobati hati yang terluka. Tegar yang sudah suka sama Rosie dua puluh tahun silam, terpaksa kalah sama Nathan, teman dekatnya yang baru dikenalkan ke Rosie dua bulan yang lalu. Dua puluh tahun versus dua bulan. Yang bikin ngilu, Tegar hanya terlambat beberapa menit saat akan mengungkapkan perasaannya ke Rosie di Puncak Rinjani di kala sunset (aaaakkk latar tempat di novelnya oke banget, deh!). Sejak itu, Tegar menghilang dari kehidupan Rosie dan Nathan. Kerja keras 10 jam per hari, yang pada akhirnya terbayar juga dengan prestasi pekerjaannya yang bikin pegawai-pegawai lain pada iri. Hingga akhirnya dia pun bisa menerima dengan lapang setelah bertahun-tahun lamanya, begitu menyaksikan keempat putri Rosie dan Nathan yang lucu-lucu. (Dan cerita ini tidak berakhir sampai di sini, karena pada akhirnya tokoh Tegar [dan juga Rosie] malah jadi yang saya benci di hampir setiap alur ceritanya; cuma naksir sama latar tempatnya doang nih, kayanya).

“Aku harus menyibukkan diri. Membunuh dengan tega setiap kali kerinduan itu muncul.” (Tegar Karang, Sunset Bersama Rosie)

Ada lagi kisah tentang Ishida Keiko dalam novel Winter In Tokyo karya Ilana Tan. Dia menyibukkan diri dengan bekerja di sebuah perpustakaan pusat di Jepang sembari melupakan cinta pertamanya, Kitano Akira. Ah, klise. Namun, yang bikin unik adalah karena ternyata dia ini salah orang. Keiko mengira bahwa cinta pertamanya adalah si Kitano Akira itu, padahal sebenarnya orang itu adalah Nishimura Kazuto, fotografer kece yang merupakan tetangganya sendiri. (Kisah romance model begini, kalau dibaca lagi sekarang ini entah mengapa malah jadi geli sendiri, hahaha).

Atau mungkin ala-ala drama Korea? Sebut saja salah satu faforit saya Spring Waltz dan Descendant of The Sun. Tokoh-tokohnya sukses menyibukkan diri dengan pekerjaan masing-masing. Park Eun Young alias Suh Eun Young (Han Hyo Jo) sebagai pembuat dan penjual pernak-pernik atau kerajinan dan Lee Su Ho alias Yoon Jae Ha (Seo Do Young) sebagai pianis profesional. Dan jangan lupakan juga duet Song Joong Ki dan Song Hye Kyo sebagai kapten pasukan Alpha dan dokter berbakat.

Namun, salah satu yang saya sukai (dan bikin baper) adalah kisah fiksi antara Lail dan Esok dalam novel Hujan karya Tere Liye. Di sini, Lail sukses menyibukkan diri untuk mengalihkannya dari rasa rindu dan penuh tanya akan sosok Esok. Sejak diangkat menjadi anak oleh Bapak Walikota dan memutuskan untuk kuliah di ibukota, Esok jadi super duper sibuk dan tidak sempat mengunjungi atau bahkan menghubungi Lail. Mereka hanya bisa bertemu (atau berbincang via telepon) selama beberapa jam atau menit setahun sekali. Dan itu pun dengan tanda tanya besar mengenai perasaan masing-masing (duuh).

Yang unik adalah bagaimana cara Lail menyibukkan diri. Mulai dari ikut bantu-bantu bikin kue di toko Ibu Esok, kuliah di bidang keperawatan, dan yang paling berkesan buat saya adalah dengan mendaftarkan diri menjadi tenaga relawan bencana alam. Menurut saya pribadi sih, kisah Lail dan Maryam, sahabatnya, selama menjadi relawan inilah yang paling heroik. Dua cewek ini jadi terkesan strong banget di tengah medan yang terbilang berat itu. Dan, satu-satunya momen ketika Lail lupa sama Esok ya pas jadi relawan ini. Sayangnya, begitu malam tiba atau waktunya istirahat dan berdiam diri, tetap saja deeeh, bayangan Esok kembali berputar-putar di kepala *emoticon nyengir*

Oh ya, dalam salah satu kajian, ada seorang ikhwan polos yang kocak, tetapi juga kasihan. Dia tanya ke Aa Gym, gimana caranya menghilangkan seorang akhwat yang ia sukai dari dalam pikirannya. Karena kasusnya si doi masih sekolah dan merasa belum siap nikah, jawaban Aa Gym pun cukup menentramkan hati. Katanya:

Ingat Allah. Setiap tiba-tiba keingat si Fulanah, langsung alihkan pikiranmu ke Allah! Dzikir, ambil wudhu, ngaji, sholat, atau kegiatan apapun yang berhubungan sama Allah. Jangan malah diikuti nafsunya (langsung sms atau telepon si dia). Jangan biarkan pikiranmu tertuju ke Fulanah yang belum tentu menjadi takdirmu. Karena, hal yang paling menyakitkan di dunia ini adalah ketika kita mengharapkan sesuatu yang tidak pernah menjadi takdir kita.”

Jleb! Bener juga. Coba bayangin kita mengharapkan banget-banget jadi ceweknya Won Bin (maaf, ini emang ngawur banget, wkwk). Nggak mungkin banget dong, sis! Jelas-jelas doi udah punya istri. Bukan takdir kita juga. Atau, kita mengharapkan menjadi burung, biar bisa terbang bebas tanpa beban menembus awan. Aduh, ini lebih nggak mungkin lagi. Bukan takdir kita. Dan, yang paling menentramkan itu adalah ketika kita menerima dengan lapang apa yang memang menjadi takdir kita.

Hmm… Sebenarnya, sih, menyibukkan diri juga menjadi yang akhir-akhir ini sedang saya coba lakukan. Rutinitas hari kerja adalah salah satu yang bisa mengalihkan. Di rumah, pengalih lain bisa dengan baca buku (lalu ketiduran), nyuci atau nyetrika (kayanya yang ini agak dusta), main game (lalu bosan), atau ngetik-ngetik nggak jelas kaya begini. Musuh besarnya adalah saat akhir pekan alias weekend. Meskipun Alhamdulillah, beberapa minggu ini selalu adaaaa saja yang berkenan membantu saya mengisi akhir pekan. Entah itu makan-makan, jalan, nonton, ikut kajian, silaturahim sambil reuni, dan terakhir pulang kampung saat Idul Adha kemarin.

Alhamdulillah-nya lagi, di rumah kemarin saya pun sukses menyibukkan diri (atau malah sok-sokan sibuk?). Setelah sempat santai-santai di hari Arofah, menjelang malam takbiran kami sekeluarga pergi berbelanja sampai malam. Esoknya, usai shalat Ied saya pun sok-sokan sibuk nyuci baju dan masak nasi dua panci (sambil nonton Bulan Terbelah di Langit Amerika yang kebetulan diputer di TV). Menjelang siang, saya mulai sok sibuk lagi dengan mengantarkan nasi yang sudah masak itu, ke salah satu rumah teman ibu saya yang menjadi lokasi pemotongan hewan qurban. Di sana jadi ikutan bantu-bantu ngumpulin dan ngepakin daging kambing, makan-makan, sekaligus muter-muter pakai mobil guna nganterin daging sampai sore (duuuh kangen banget udah lama nggak rempong-rempong kaya begini).

Sempat berpikir bahwa ini adalah akhir hari ini, ternyata Mbah Kakung malah menelepon dan meminta kami datang ke rumahnya karena hari ini hanya kami sekeluarga yang ditunggu-tunggu tidak datang juga (karena tahun lalu tidak ada acara kumpul-kumpul, jadi kami kira tahun ini pun tidak sehingga tanpa sadar malah jadi sibuk sendiri). Yang agak kocak, malamnya saya jadi agak geli sendiri saat iseng lihat last seen WhatsApp saya dari hape ibu. Yesterday alias kemarin sore. Hahaha… (Udah gitu ujung-ujungnya tetap nggak dibuka juga sampai entah kapan karena ngerasa yakin banget kalau nggak bakal ada yang ngehubungin xD). Lalu, lalu, sekembalinya saya ke kantor, saya malah langsung disuguhi deadline proyek pembuatan buku ajar yang harus sudah terbit awal tahun depan. Tiap hari harus setor berapa bab tuh rasanya… nikmat banget! Alhamdulillah! *tertawa miris* Belum lagi tugas terjemahan yang belom nambah-nambah padahal sebentar lagi progress report xD

Nggak usah ditanya saya menyibukkan diri kenapa, hahaha. Namun, ada kalanya menjadi sibuk itu cukup menyenangkan. Karena terkadang, saat kita tengah terdiam tanpa melakukan apapun, pikiran-pikiran aneh termasuk beban pikiran di hati jadi semakin mudah merasuk ke dalam sini.

Namun, ingat juga bahwa sibuk tidak boleh membuat kita jauh dari rasa tenang, apalagi sampai lupa sama Allah. Dalam buku Mencari Ketenangan di Tengah Kesibukan oleh Mohammad Fauzil Adhim, ada beberapa poin agar kesibukan tidak membuat kita justru terkesan grusa-grusu alias rusuh dan nggak tenang. Beberapa di antaranya adalah menjaga sholat tepat pada waktunya, berbakti kepada kedua orangtua, tidak sungkan untuk berbagi, berbuat baik kepada tetangga dan orang yang membutuhkan, zuhud terhadap dunia, dan lain sebagainya.

Jadi, please! Jangan sampai ada yang sibuknya banget-banget sampai malah jadi seperti lagunya Abdul and The Coffee Theory!

Aku tak ada waktu ‘tuk pikirkan diriku

Karena aku sibuk memikirkan kamu

Aku tak ada waktu ‘tuk diri sendiri

Karena aku sibuk menjagamu tetap milikku

(Abdul and The Coffee Theory, Sibuk)

Idih, geliiiiii!

estEtika

4 Comments

  1. Richi A Rusli said,

    16 September 2016 at 16:05

    Sungguh, kesibukan yang Paling Paling Paling mengasyikan adalah kesibukan dalam mengingat ALLAH SWT. 🙂

    • estEtika said,

      18 September 2016 at 06:35

      Eh, ada pak guruu. Maasya Allah, suuper sekali.. Insya Allah yaa, semoga bisa istiqomah 👍

  2. Richi A Rusli said,

    19 September 2016 at 13:26

    Tulisan mu bagus-bagus nak. Bapak bangga sama kamu.🙂

    • estEtika said,

      19 September 2016 at 14:14

      Alhamdulillah ya Pak, segala puji hanya milik Allah🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: