Laki-Laki Pendiam

Sebenarnya, salah satu alasan saya menulis ini adalah karena saya mendadak jadi kangen sama papa dan adik saya, dua laki-laki yang (dari saya lahir sampai sekarang) menurut saya paling hebat dan paling bisa saya percayai. Laki-laki pendiam itu adalah mereka. Yang sering kali tidak terlalu banyak komentar atau berbagi kisah, tetapi sekali bicara bisa bikin manggut-manggut, atau malah tertawa. Namun ternyata, ada kalanya laki-laki pendiam berlaku juga untuk semua laki-laki di dunia ini. Iya kah?

Sebagai perempuan yang sejak kuliah sampai kerja sekarang ini selalu didominasi oleh lingkungan bermayoritas kaum hawa, ada kalanya sempat merasa penasaran (atau malah takjub) dengan makhluk bernama laki-laki. Pernah suatu ketika ada salah satu teman yang curhat sesuatu, lalu dia merasa kagum dengan tanggapan saya tentang pria. Katanya, “Kok kamu bisa tahu? Kan, temen kamu cewek semua?” Ups, benar juga. Kok bisa tahu, ya? Lalu belakangan jadi kepikiran.

Jawabannya ternyata datang dari papa dan adik saya. Dua orang ini cukup mewakili dan memberi saya pelajaran penting, bagaimana sifat dan cara pandang laki-laki pada umumnya. Selain itu, pencerahan juga datang dari kejadian-kejadian di masa lalu, yaitu ketika saya masih ‘bebas’ bergaul dengan laki-laki akibat ketidaktahuan dan kejahiliyahan di masa itu. Tak lupa, terima kasih pula untuk berbagai kisah menarik yang sering saya dengar lewat curahan hati teman-teman engineer cewek yang cenderung ‘dikelilingi’ banyak pria, atau teman-teman lain yang kuliah dan bekerja di lingkungan bermayoritas pria.

Laki-laki pendiam. Yap, pendiam yang dimaksud di sini lebih kepada bagaimana reaksi mereka ketika mendapat suatu masalah. Dan jujur, ini adalah salah satu sifat yang membuat saya takjub dengan makhluk satu itu.

Saya pernah baca di buku Baarakallahu Laka: Bahagianya Merayakan Cinta karya Salim A. Fillah, atau di sinopsis dan ringkasan buku (belum baca utuh) Men Are from Mars, Women Are from Venus karya John Gray. Katanya sih, laki-laki itu kalau punya masalah, penyikapannya bakal beda sama wanita. Laki-laki bakal “diem” atau “mengasingkan diri” untuk mencoba memecahkan masalahnya sendiri. Dan terkadang, ketika ditawari bantuan, mereka bisa saja justru merasa lemah atau diremehkan karena dianggap tidak bisa memecahkan masalahnya sendiri. Iyakah?

Berhubung saat nulis bagian ini pas banget keputer lagunya Shinee (hahaha, antiklimaks banget ya), saya jadi teringat cerita dokter muda (maksudnya dokter yang masih muda) yang kikuk di drama Descendant of The Sun yang diperankan oleh Onew, leader Shinee.

Ceritanya, si Onew ini jadi dokter relawan di salah satu daerah berbencana gempa bumi dahsyat. Setiap korban bakal dipilih sesuai kondisinya, yaitu mana saja korban yang harus dapat pertolongan pertama (kritis) untuk ditangani dokter ahli, mana yang luka sedang atau bisa agak ditunda untuk ditangani dokter biasa, atau mana yang hanya luka-luka ringan dan masih bisa ditangani oleh perawat. Caranya dengan menyematkan pita-pita ke tangan si korban. Kalau tidak salah ingat, pita hitam untuk korban meninggal, pita merah untuk korban yang harus ditolong saat itu juga, kuning yang masih bisa ditunda, dan hijau yang termasuk korban luka ringan.

Saat itu, si Onew yang kikuk ini salah kasih pita. Harusnya merah alias harus operasi dan ditolong saat itu juga, tapi dia malah kasih kuning karena korbannya perdarahan dalam (atau apa gitu) yang agak luput dari diagnosis dia. Alhasil, si korban ini tiba-tiba batuk darah, kolaps, hingga akhirnya meninggal. Dan nggak usah ditanya lagi seberapa besar rasa bersalah dokter itu karena merasa lalai dan bikin orang meninggal. (Duuuh, bagian yang ini asli sedih beneeeeer…)

Nggak hanya itu, saat menolong korban wanita pun dia hampir saja kasih anestesi alias suntik obat bius untuk seorang ibu yang tengah hamil. Agak lupa gimana tepatnya (entah saat hendak mencabut pasak besi dari kaki si ibu atau ‘meluruskan’ tulang kaki si ibu yang patah) agar si ibu ini nggak sakit, dia berniat kasih obat bius, tapi si ibu ini menolak habis-habisan dengan bahasa yang dia nggak ngerti. Maklum, ceritanya mereka memang jadi relawan di negara antah berantah sana. Setelah si ibu nunjukin hasil USG, baru deh, dokter ini paham dan… lagi-lagi jadi merasa bodoh dan menyalahkan dirinya sendiri. Kejadian saat si ibu akhirnya diberi pertolongan tanpa anestesi dan memilih menahan sendiri rasa sakitnya demi melindungi si janin… asli, bikin terharu banget sama pengorbanan seorang ibu 😥

Nggak berhenti sampai di situ, dokter kikuk ini lagi-lagi diuji. Saat berniat menolong seorang korban selamat di dalam reruntuhan, tiba-tiba ada peringatan kalau reruntuhan itu bakal ambruk. Si korban selamat ini mohon-mohon untuk diselamatkan dulu karena tugas utama dokter adalah menolong dan menyelamatkan nyawa orang lain. Tapi, mendadak si Onew ini ketakutan. Dia merasa kalau: dia nggak boleh mati dan terkubur di tempat seperti ini karena ada orang-orang tercinta yang menunggunya di tanah air. Akhirnya, dokter ini pun lari dari reruntuhan itu dan meninggalkan korban selamat tersebut tertimbun reruntuhan.

Rasa bersalah telah ‘kabur dari tugas’ sudah cukup menghantuinya. Saat mendengar bahwa korban itu akhirnya selamat setelah ditolong oleh tim Alpha dari kemiliteran, dia agak lega, tapi… korban itu ujung-ujungnya jadi dendam dan marah sama si dokter yang dianggapnya pengecut. Setiap ketemu korban ini di unit perawatan, dokter ini jadi antara merasa bersalah, menyesal, takut, dan juga terintimidasi dengan dendam si korban selamat ini.

Nah, yang menarik adalah, si Onew ini jadi pendiam. Dia enggan menceritakan dan membagi semua masalah peliknya itu ke orang lain, bahkan ke keluarga, senior, atau rekan sesama dokter lainnya. Saat ditanya seniornya yang yakin banget kalau dia lagi ada masalah, dia malah bilang yang intinya, “Tolong, izinkan aku menyelesaikan masalahku sendiri. Nanti kalau butuh bantuan, aku pasti akan bilang dan minta tolong.”

Nah lho. Ini kok malah jadi nulis sinopsis, ya?

Nyatanya, sebagian besar laki-laki kayanya memang begitu, ya? Seperti misalnya papa saya kalau sedang banyak masalah di kantor, entah sibuk, lembur, atau malah kasus saat ada pegawai atau nasabah ‘bermasalah’, langsung deh berubah jadi pendiam. Adik saya juga begitu. Kalau mendadak diam, kemungkinan besar sedang ada sesuatu. Dan kalau sudah begitu, biasanya jadi nggak enak untuk sekadar tanya sampai akhirnya mereka sendiri yang cerita (atau baru tanya setelah masalahnya sudah agak reda).

Beberapa teman dan cerita teman juga begitu. Pernah suatu ketika salah satu cowok yang biasanya ‘cerewet’ tiba-tiba diam dan menghilang begitu saja tanpa kabar. Beberapa bulan kemudian barulah dia nongol dan mulai bisa nyengir sambil cerita masalahnya yang sempat buat depresi beberapa waktu lalu hingga akhirnya ‘menghilang’ sejenak. Ada juga yang tiba-tiba jadi ‘aneh’, tapi pas ditanya kenapa bilangnya nggak papa, padahal beberapa waktu kemudian setelah case closed barulah dia cerita kalau sebenarnya emang ada apa-apa. Dan biasanya sih, kalau pas lagi ada apa-apa terus malah dicecer pertanyaan mulu, “Kamu kenapa?” mereka-mereka ini nggak bakal mau cerita. Maka, lebih baik diemin aja dulu deh, yaa… Karena biasanya sih, nanti merekanya sendiri yang bakal cerita kalau emang percaya sama kita, hehehe…

Tapi ngomong-ngomong, di masa jahiliyah dulu sempat ada kejadian unik yang sempat kasih “pengetahuan baru” ke saya tentang relationship perempuan dan laki-laki.

Ceritanya (dengan agak sedikit dimodifikasi), dulu ada salah satu teman cowok yang boleh dikata cukup dekat dengan saya. Suatu ketika saat liburan sekolah, tiba-tiba dia ‘menghilang’ tanpa kabar padahal suka sesekali smsan nggak penting. Usut punya usut, ternyata doi ini kecelakaan motor cukup parah dan sempat operasi. Begitu tahu, saya langsung khawatir tanya kabar dia dan lain-lain, dengan nada yang mungkin terkesan ‘marah-marah’ ke dia kenapa dia nggak kasih tahu ke saya kalau dia habis kecelakaan. Tapi, tahukah apa tanggapan dia sambil balik (terkesan) ‘marah-marah’?

“Emangnya kamu siapanya aku?! Kenapa aku harus kasih tahu ke kamu?! Ibu bukan, pacar bukan!” Gubrak!

Ok, fine! Dan sejak saat itu, saya jadi sadar akan sesuatu. Untuk tahu dan care sama seorang laki-laki, kayanya perlu penegas status hubungan antara keduanya, ya? Kalau hanya sebatas teman, nggak boleh ikut khawatir atau care? Iya nggak, sih? Ah, tapi kayanya nggak kaya begitu juga, deh… (Dan sejak kejadian di masa lalu itu, secara alam bawah sadar saya jadi sering mikir-mikir dulu kalau mau care ke orang lain, especially teman cowok. Bahkan saat ada teman yang tiba-tiba ‘menghilang’, mau ikut khawatir malah jadi mikir-mikir dulu ==’).

Kembali ke topik awal, yang bikin saya jadi kagum sama tabiat cowok yang jadi pendiam jika ada masalah ini adalah, mereka jadi cenderung tidak mengeluarkan keluhan. Karena kalau kata Asma Nadia, “Mengeluh mungkin sedikit melegakan perasaan, tetapi tidak memperbaiki keadaan”. Widiih… sama-sama belajar tidak mengeluh, yuks!

Sebagai penutup, saya ingin sedikit cerita tentang satu hal yang paling membuat saya sangat kagum dengan dua orang laki-laki.

Laki-laki pertama, sejak balita dia nggak pernah nangis. Sampai suatu ketika, ibunya tanpa sengaja melihatnya tengah shalat dhuha sambil menangis sesenggukan, yang terdengar ditahan habis-habisan agar tak sampai ketahuan orang lain. Kayanya sih, saat itu dia sedang ada masalah.

Laki-laki kedua, suatu ketika punya masalah dan beban berat yang sebenarnya sudah diketahui keluarganya. Namun, dia enggan berbagi dan hanya diam karena ia sadar bahwa ia-lah pemimpin keluarga yang harus menguatkan keluarganya, bukan malah melemahkannya dengan beban berat miliknya. Sampai suatu ketika, di sepertiga malam tiba-tiba ia membangunkan putrinya seraya berkata, “Temenin papa sholat, yuk.”

Manis. Karena semua masalah seberat apa pun, memang akan terasa manis tatkala dikembalikan kepada Sang Maha Pemecah Masalah. Maha Pemberi Jalan Keluar.

estEtika

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: