Di Balik Layar Lost in Vietnam, Singapore I’m in Love!

Alhamdulillah. Akhirnya ada juga niat dan kesempatan untuk melanjutkan tulisan yang sempat tertunda ini. Postingan ini adalah tulisan terakhir edisi Lost in Vietnam. Hari terakhir perjalanan ini, nyatanya lebih banyak didominasi oleh pengalaman pribadi yang unik dan kocak.

Bandara Than Son Naht

Sekitar pukul 23.30 kami sampai di Bandara Than Son Naht. Agenda selanjutnya adalah menuju ke Singapura sebelum kembali berpulang ke tanah air. Jadwal penerbangan menuju Singapura adalah pukul 07.10 esok hari. Sesuai kesepakatan yang memang telah dibuat sebelumnya, kami berencana bermalam di bandara ini. Namun, bandara ini berbeda dengan KLIA yang punya mushola di dalamnya. Saya yang sudah super ngantuk dan lelah, berasanya udah nggak niat lagi untuk jalan-jalan atau sekadar berkeliling mencari informasi.

Nggak lama kemudian, teman-teman yang berkeliling datang memberi tahu kalau ada spot bagus di salah satu sudut bandara. Dan tempat itu memang oke! Ada beberapa deret kursi kosong yang bisa dipakai untuk berbaring. Bahkan ada dua deret kursi yang menghadap membelakangi jalan orang-orang lewat. Tempat yang cenderung lebih aman untuk cewek seperti saya dan Miss A. Ah, kawan-kawan ini pengertian sekali…

Catatan: Ini adalah tulisan tentang detail perjalanan dan pengalaman penulis yang diulas secara lengkap dan panjang lebar. Untuk referensi perjalanan secara lebih singkat, silakan kunjungi “Rangkuman Perjalanan Lost in Vietnam” 😉

Persiapan tidur di “emperan” bandara harus lebih oke, nih. Dikutip dan dilengkapi lagi dari tulisan sebelumnya saat kami tidur di kamar “dorm” saat di Dalat, berikut persiapan yang harus dilakukan sebelum tidur.

  • Tetap pakai kerudung yang nggak mudah lepas, kaos kaki, dan jaket untuk menghindari kalau-kalau pakaian tidak sengaja tersingkap saat tidur.
  • Pakai tudung jaket, masker, dan selimut atau pashmina untuk menutupi seluruh tubuh dan juga wajah. Seenggaknya agar tidak mencolok dan agar “orang lewat” nggak langsung sadar kalau kamu cewek.
  • Letakkan ransel atau barang bawaan besar lainnya di tempat yang aman (mis., dijadikan bantal, talinya kamu sematkan ke badan atau kursi tempatmu tidur, atau diletakkan di tempat yang nggak mudah terjamah orang lain). Seenggaknya kamu jadi berasa kalau ada yang mau macem-macem sama barang bawaan selagi kamu tidur.
  • Tas kecil atau barang berharga seperti dompet, paspor, handphone, dll., sebisa mungkin HARUS nempel terus di badan kamu; bisa kamu peluk, masukkan ke dalam jaket yang kamu pakai, dsb. Ini juga untuk menghindari tangan-tangan usil yang mungkin memanfaatkan kelengahan kamu saat tidur.
  • Jangan lupa berdoa sebelum tidur agar selalu dilindungi Allah.

Tips-tips di atas saya coba terapkan untuk diri saya pribadi. Kerudung, kaos kaki, dan jaket sudah oke, lalu ditambah dengan tudung jaket yang saya tutupkan sampai bagian mata, masker (bukan masker bengkoang lho ya, hahaha), plus kain palembang yang saya tutupin dari ujung kaki sampai ujung kepala. Hahaha, kalau ditambah kacamata hitam, saya udah sukses jadi Shino Aburame di serial Naruto, lho! xD Karena posisi kursi yang saya pakai untuk tidur nyempil banget dengan pojokan tembok dan tiang penyangga bangunan, beberapa tas ransel kawan-kawan diletakkan di tempat nyempil dekat kursi saya itu. Sedangkan tas kecil berisi barang berharga bener-bener saya pelukin sepanjang tidur. Secara refleks, tiap kebangun juga jadi sering ngeraba-raba kumpulan ransel di sekitar saya itu (ngecek kalau masih pada utuh, hahaha). Soalnya, baca di web berasa banyak kejadian kecopetan di negara ini. Jadi, secara nggak sadar ikut mawas diri juga, hehehe…

Oh ya, sebenarnya pernah baca kalau tidur di luar seperti ini bagusnya ada jadwal jaga gitu. Gantian jaga malam gitu istilahnya, biar nggak tidur semua dan ada yang jagain. Tapi, sebelum tidur kami nggak ada wacana itu dan sepanjang malam saya hampir selalu tidur terus. Kalaupun kebangun tiba-tiba, habis ngecek tas dan tengok-tengok bentar, terus langsung lanjut bobo lagi xD Meski begitu, saat kebangun itu sempet lihat juga ada yang masih terjaga atau duduk-duduk doang di kursi. Hmm, coba tebak, sebenarnya orang yang terjaga atau duduk-duduk ituuu emang berniat untuk jaga, atau karena insomnia nggak bisa tidur? Kkk.

Alhamdulillah, meski tidur di emperan bandara seperti ini, saya tetap merasa tidur nyenyak dan berkualitas. Bangun saat sudah masuk waktu shubuh, langsung ke toilet yang jaraknya nggak begitu jauh dari tempat kami tidur tadi. Sikat gigi, cuci muka, dan ambil air wudhu. Alhamdulillah wa syukurillah, ternyata qadarullah kiblatnya menghadap ke tembok yang membelakangi jalan orang-orang lewat. Jadi, kami lebih mudah mengambil posisi untuk shalat shubuh bergantian di sekitar tempat kami tidur tadi. Ah, entah kenapa saya suka banget dengan momen saat shalat di tempat yang nggak biasa seperti ini 🙂

Setelah sempat ba-bi-bu, sekitar pukul enam kami langsung siap-siap check in dan lalala untuk penerbangan ke Singapura pukul 07.10 ini. Di sini kami tidak sempat sarapan karena takut terlambat. Sambil menunggu, kami hanya sempat mengemil cokelat Kitkat halal yang kami beli di Mui Ne, serta kacang-kacangan yang kami dapatkan dari orang-orang Pakistan baik hati yang kami temui di depan Saigon Central Mosque kemarin. Kali ini kami naik maskapai Jetstar yang agak bagusan, hihihi.

Oh ya, saat menuju gate, ada suatu kejadian sederhana yang entah kenapa menurut saya lucu dan jadi berkesan. Ceritanya saat menuju gate, entah kenapa kawan-kawan ini terkesan jadi pemalas dan nggak bersemangat (eh, atau malah sayanya yang terlalu bersemangat?). Begitu ada moving walk alias eskalator datar, secara kompak mereka berempat langsung naik ke sana. Sementara itu, saya yang saat itu jalan agak di depan dan nggak memperhatikan mereka, ujung-ujungnya malah jadi jalan kaki sendirian. Mana kecepatan eskalatornya pelan banget. Saya yang jalan kaki sendiri malah jadi krik-krik juga mengimbangi kecepatan mereka semua yang naik eskalator.

Yang lucu, ternyata gate-nya itu ada di sisi seberang saat eskalator itu masih lanjut jalan. Ujung eskalatornya malah agak jauh lagi di depan sana. Hahaha, menurut saya itu lucu karena ujung-ujungnya mereka semua jadi jalan kaki balik arah lagi untuk menuju gate xD Tapi sambil nungguin mereka, saya yang duduk sendirian di kursi sana malah jadi krik-krik kaya anak ilang. Nggak berhenti sampai di situ, pas mau turun ke ruang tunggu, kawan-kawan ini malah secara naluri lagi-lagi memilih naik tangga berjalan! Saya yang lagi-lagi jalan agak ke depan, udah refleks milih tangga manual aja. Lalu ujung-ujugnya jadi dikomentarin juga sambil cekikikan, “Udalah, Tiik, pakai eskalator ajaaa…” Hahaha, mau sok-sokan aktivitas fisik, ujung-ujungnya saya jadi ikut pemalas juga dengan balik lagi pakai ekslator xD

Ada lagi kejadian konyol saat kami sudah berada di dalam pesawat. Saya yang waktu itu kedapetan nomor tiket di bangku tengah, tetiba pingin duduk di dekat jendela. Soalnya sejak pertama kali naik pesawat, saya belum pernah dapet tempat duduk di dekat jendela dan lihat langsung awan-awan. Akhirnya saya pun minta tuker sama Mister U yang kedapetan nomor tiket di pinggir jendela itu. Lalu krik… krik… Ternyata Miss A malah pilih kursi di paling pinggir biar gampang kalau mau ke toilet. Jadi, ujung-ujungnya Mister U malah jadi duduk di tengah-tengah kami. Aduuuh, ini kocak sih, soalnya saya telat nyadar gitu. Mau tuker lagi juga lucu; pun, pesawat udah mau take off. Kocak juga pas perjalanan, saya dan Miss A malah asyik ngobrol atau bantuin dia pasang masker. Lalu dengan muka keki, Mister U malah bilang, “Kayanya gue salah deh, duduk di sini.” Hahaha, maafin saya, yaaa xD

Changi International Airport

Alhamdulillah, akhirnya kami sampai juga di bandara Changi sekitar pukul 10.00. Oh ya, sebenarnya kami berniat cari shower room di bandara ini karena kami belum mandi. Tapi, sepertinya waktunya bakal mepet banget sehingga akhirnya kami pun urung. Namun, karena secara pribadi merasa sudah nggak nyaman banget dengan baju dan kerudung yang saya pakai (plus masih ada sisa satu baju yang belum kepakai), akhirnya saya pun memutuskan untuk ganti baju dan kerudung dulu di toilet.

Lucu deh, pas saya lagi bercermin sambil ngerapiin kerudung yang dipakai asal-asalan di dalam toilet, saya bertemu ibu-ibu berwajah khas Eropa (entah Jerman, Rusia, atau Belanda gitu). Beliau juga lagi bercermin, sampai akhirnya memperhatikan saya yang sedang merapikan kerudung. Waktu itu ngerasanya saya dilihatin gitu amat dari ujung kaki sampai ujung rambut, dengan tatapan aneh yang memandang naik-turun gitu. Ngerasa lagi dilihatin, saya senyumin aja deh, si ibu ini. Tahu nggak, respons si ibu ini adalah: melingkarkan tangannya di sepanjang sudut wajah dia (maksudnya mau ngasih kode kerudung yang sedang saya pakai), sambil tersenyum dan memamerkan jempol. Beliau juga sempat ngomong sesuatu sambil tersenyum, yang tentu saja saya nggak ngerti maksudnya apaan. Tapi, dari ekspresi wajahnya, saya menangkap kalau beliau sedang memuji penampilan dan cara berpakaian saya.

Ya Allah, tahu nggak, itu adalah pertama kalinya saya merasa bangga yang betul-betul bangga banget, dengan busana muslimah yang biasa saya kenakan sehari-hari ini. Lalu saya baru ngeh juga kalau selama di Vietnam, busana inilah yang juga secara tidak langsung telah mempermudah perjalanan kami. Salah satunya adalah saat kami mencari makanan halal. Saat cowok-cowok itu kebingungan menjelaskan kata “babi”, lantas begitu penjualnya melihat Miss A dan saya yang berkerudung, penjual ini langsung paham dan bilang yang intinya, “Kami menjual babi,” atau “Makanan ini ada babinya.” Masya Allah banget, kan? Bener-bener nggak salah kalau busana ini adalah sebagai identitas diri dan agar kami menjadi lebih mudah dikenali :’)

Kembali ke laptop 😉 Di Changi dan Singapura ini banyak ceritanya, lho! Cerita-cerita konyol dan lucu yang sebenernya terbilang bodoh dan nggak penting, tapi malah jadi berkesan menurut saya pribadi. Saya tulis di sini, semata-mata anggap saja sebagai kenang-kenangan pribadi agar kisah ini tidak hilang ditelan ingatan yang minim ini.

Kekonyolan pertama dimulai dari rencana kami menemukan locker room untuk menitipkan ransel. Karena kejadiannya sudah agak lama, saya lupa detail cerita dan posisi-posisinya. Yang jelas, di Changi itu ada 3 terminal yang masing-masingnya dihubungkan oleh skytrain (bisa jalan kaki juga sih, tapi jauh binggo!). Kalau tidak salah, saat baru turun pesawat itu kami ada di terminal 2. Saat itu kami berencana ikut tur seharian, yang menurut Mister U lokasi daftarnya ada di terminal 1 yang juga langsung terhubung ke stasiun MRT (di terminal 2 nggak bisa langsung ke stasiun, harus ke terminal 1 atau 3 dulu). Dari terminal 2, kami pun ke terminal 1 untuk sekalian mencari locker room yang ada di terminal 1 itu sekalian daftar tur, lalu sekalian keluar imigrasi, dan lain-lain. Sip. Dan perjalanan dari terminal 2 ke terminal 1 itu jelas nggak bisa dibilang dekat juga.

Kejadian kocak pertama. Sesampainya di locker room dan bertemu bapak petugasnya, ini bapak malah marah-marah. Dengan logat Melayu yang keras, nih bapak kasih peringatan begini ke kami semua: “Kalian JANGAN sekali-kali ke sini lagi! Ingat ya, JANGAN KE SINI LAGI!” Deg! Tahu nggak, pas bapak ini ngomong begitu, saya refleks mundur ke belakang karena takut! Hahaha xD Asli deh, waktu itu mikirnya nih bapak bener-bener marah. Sampai akhirnya, entah gimana kejadiannya, pas saya lagi ngomong ke Mister O kalau tuh bapak serem banget, tiba-tiba Mister I ikutan nimbrung dan malah ngikut-ngikutin cara ngomong dan logat si bapak. Hahaha, terus pas dia ngikutin malah jatohnya jadi lucu. Waktu itu saya belum begitu paham dengan maksud ucapan si bapak dan mikir kalau bapak itu bener-bener marah. Habiss, logat si bapak ini bikin saya seakan-akan jadi cowok yang mau ngapelin anak gadisnya, lalu diusir mentah-mentah sama si bapak: “KALIAN JANGAN KE SINI LAGI!” Hahaha, tapi setelah dipikir-pikir, kayanya logat dia saja yang memang seperti itu. Dan ternyata, sebenernya ada makna di balik ucapannya itu yang saat itu belum sepenuhnya saya pahami.

Kejadian kocak kedua, proses pencarian jasa tur keliling Singapore. Setelah muter-muter nggak jelas di bandara super besar dan mewah ini, akhirnya kami temukan juga stand yang menawarkan jasa tur. Kocak. Persyaratan tur ini adalah kami harus menyerahkan bukti boarding pass agar mereka yakin kalau jadwal pesawat kami berikutnya tidak “melanggar” jadwal tur yang sudah mereka tetapkan. Hohoho, tentu saja saat itu kami belum mencetak boarding pass karena pesawat kami baru berangkat malam nanti. Namun, karena berniat ikut tur ini, akhirnya kami tanya juga ke bagian informasi mengenai lokasi pengurusan tiket boarding pass.

Just make it simple,” kata mbak-mbak di bagian informasi. (Saya nggak bisa melupakan kata-kata itu plus ekspresi “prihatin” si mbak). Lanjutan kata-kata si mbak dalam terjemahan asal saya adalah: “Kalian tidak bisa ikut tur seharian manapun.” (Wuuush… lalu muncul efek hembusan angin musim dingin). Jadi, penyebabnya adalah karena maskapai yang kami pakai untuk pulang nanti adalah Lion Air. Apa hubungannya? Hubungannya adalah, tempat check in maskapai Lion Air hanya tersedia di bagian luar pemeriksaan imigrasi, sedangkan tempat pendaftaran tur ada di dalam imigrasi. Fufufu, skenario yang sangat sangat “indah”, bukan? Setelah berkeliling nggak jelas, kami hanya puas dengan kalimat, “Just make it simple…” dan senyum prihatin si mbak. Huft.

Pada akhirnya, kami pun memutuskan untuk jalan sendiri saja tanpa ikut tur, dengan berbekal peta dan pamflet yang kami punya. Namun, takdirnya ternyata tidak semudah itu.

Kejadian kocak ketiga, perjuangan keras lolos imigrasi dan keluar dari sini! Sepertinya sejak pertama kali menginjakkan kaki di Changi, saya sudah merasa menjadi orang paling udik sebandara. Tidak hanya karena belum mandi sejak kemarin (ups), tampang polos dan memelas ini pun terlihat begitu menyedihkan setiap kali ditolak bagian imigrasi. Bukan, bukan! Bukan karena kami imigran gelap atau bawa barang yang aneh-aneh, tapi karena kami salah terminal! Nah, lho. Kelihatan banget kan, udik-nya?

Karena terminalnya ada 3, pintu keluar imigrasi pun jadi ada banyak banget dan tersebar di mana-mana. Kocaknya, kami nggak tahu kalau pemeriksaan imigrasi untuk keluar, harus sesuai dengan pintu keluar saat kami baru turun pesawat pertama kali tadi. Seperti yang sudah disebutkan, kami sudah sempat berkeliling ke terminal mana-mana saat mencari locker room dan stand tur. Malahan, saya udah nggak inget lagi pertama kali turun pesawat tadi kami ada di pintu mana. Kalau nggak salah, udah 3 bagian imigrasi yang kami datangi, dan semuanya menolak karena data kami nggak tercantum di pintu imigrasi sana.

Yang bikin lucu banget itu adalah komentar Mister U yang mulai emosi karena ditolak sana-sini: “Kita di sini kayak sampah!” Hahaha, kocak banget tiap keinget quote ini xD Tapi kalau dipikir-pikir, kami ini emang kaya sampah di tengah-tengah berlian. Lihat saja para penumpang yang berkeliaran di sini pada rapi-rapi, cantik-cantik, ganteng-ganteng, wangi-wangi, lah kami??? Hahaha, mandi pun kagak! xD (Bahkan di sini saya kelupaan sama sekali nggak pakai pelembap, sunscreen, atau bedak. Ketinggalan semua di locker room dan cuma sempat minta sedikit bedak tipis usai shalat dhuhur. Hahaha, kebayang nggak tuh, seberapa hancurnya wajah-wajah nggak mandi yang bener-bener “natural” tanpa cover? Wkwk).

Lelah, akhirnya kami memutuskan untuk makan siang dulu di food court. Miris. Dengan menu nasi putih, ayam goreng, teri balado, dan perkedel, saya harus merogoh kocek 6,8 SGD. Kalau dirupiahkan dengan kurs sekitar 10.000, berasanya jadi ngenes banget. Dengan menu begitu, harganya hampir 70.000 rupiah. Bzzz… Belum lagi ditambah dengan berkurangnya nafsu dan kenikmatan makan saya karena tragedi khilaf pesen ayam goreng yang entah halal atau enggak. (Meskipun pada akhirnya agak terhibur juga saat lihat kokinya pakai kerudung. Insya Allah halal lah, yaa..) Etapi tetap harus bersyukur, dong! Alhamdulillah masih bisa makan di tengah prahara dan tragedi yang menguras emosi ini.

Yap, obat emosi adalah menentramkan hati dengan menghadap Ilahi. Hampir masuk waktu Dhuhur, kami pun memutuskan untuk shalat dulu. Sepanjang cari mushola juga banyak hal lucu dan unik yang kami temui selama berjalan mengitari bandara yang luasnya minta ampun. Mulai dari ketemu sama jasa “peluk aku” (wkwk, agak geli juga sih, pas lihat salah satu pengguna jasa itu berpelukan), sampai dapat sample kacang-kacangan gratis dari mbak-mbak SPG xD Bak “sampah” beneran, saking frustasinya, sembari menunggu waktu sholat kami berlima sempat duduk-duduk ndelosor di lorong mushola sambil ngemilin kacang. Mungkin ini adalah gembel yang sesungguhnya.

Merlion Park

Singkat cerita, (nggak singkat juga sih, ya) akhirnya kami baru saja BERHASIL keluar bandara dan naik MRT pada pukul dua siang. Iya, sejak landing pukul 10.00, kami baru berhasil keluar bandara pukul 14.00! Keren banget, kan? Nyasar dan nggak jelas di bandara selama 4 jam itu jarang-jarang, lho. Cuma kami-kami ini yang bisa. Pada akhirnya, tujuan kami adalah Merlion Park yang dianggap paling memungkinkan.

Widih, sepanjang jalan mendung, dong! Bahkan di beberapa titik sempat gerimis. Tapi bomat alias bodo amat, yang penting tetap hepi, hehehe… Setelah berjalan tak tentu arah dengan sok tahu usai turun di Stasiun Raffless Place, Alhamdulillah akhirnya kami sampai juga di Merlion Park!

Aduuuh, di sini juga nggak jauh-jauh dari hal konyol. Usai gantian foto-foto sendiri berlatar patung merlion itu, kami pun minta tolong salah satu bapak untuk memfotokan kami berlima. Maksud hati ambil background patung merlion, setelah kami lihat-lihat lagi tuh foto, patung merlionnya malah kepotong alias nggak kefoto! Hahaha, kocak banget deh xD

Terus, terus, selesai foto-foto itu, saya sendiri malah langsung jadi krik-krik. Sekarang apa? Sekarang kita ngapain? Udah? Gini doang? Hahaha, asli, entah kenapa saya merasa lucu kalau diingat-ingat. Tapi kayanya saya sendiri yang merasa seperti itu. Soalnya, yang lain terlihat masih menikmati dan asyik foto-foto dan jalan-jalan ke sana ke mari.

Entah bagaimana, saat itu saya malah jadi duduk-duduk di salah satu bangku yang menghadap ke arah danau. Oh ya, di sana ada Mister O juga yang sepertinya sudah pasang wajah lelah, hahaha. Sementara itu, Miss A dan Mister I asyik foto-foto, sedangkan Mister U seperti biasa selalu menghilang begitu saja entah ke mana. Sempat krik-krik, pada akhirnya saya pun memecah keheningan dengan minta bluetooth beberapa foto yang ada di hape Mister O. Tahu nggak, entah kenapa saya suka banget sama foto yang pertama kali kami ambil sejak perjalanan ini, yaitu foto saat kami baru saja tiba di bandara Than Son Naht yang ramai banget orang itu. Berasa artis banget gituuuuu xD

Oh ya, jauh di seberang danau itu kan, juga tampak komedi putar raksasa. Nah, kalau ingat pemandangan saat itu, saya jadi teringat salah satu video klip favorit saya yang berjudul Mencintai Kehilangan. Latarnya sama banget! Duuuh, terus kalau lihat latar tempat video klipnya yang memang sebagian besar di Changi dan Merlion Park ini, saya jadi ikutan nostalgia. Plus baper juga setiap kali terbayang akan liriknya yang sedih-sedih optimis menyayat hati itu, hihihi…

Tanpa terasa, jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Saatnya kembali ke bandara karena jadwal pesawat kami adalah pukul 19.00. Wah, pas banget gerimis mulai mengundang. Sempat lari-larian, akhirnya bener-bener hujan saat kami sudah berhasil masuk stasiun dan naik kereta.

Kejadian konyol berikutnya. Kali ini tokoh utamanya adalah saya. Saat naik MRT, Alhamdulillah saya dapat tempat duduk. Saat itu seingat saya Miss A juga dapat tempat duduk, tapi agak terpisah jauh dari saya, bersama dengan Mister I dan U yang ngobrol sambil berdiri karena yah anggap saja mereka bertiga kan memang dekat karena satu tempat kerja; sementara Mister O dapat tempat duduk di seberang saya.

Entah karena kebiasaan atau memang lelah banget, saat itu saya malah jadi ketiduran. Yang lucu itu pas pada akhirnya saya kebangun saat MRT berhenti. Begitu membuka mata, saya antara bingung dan kocak melihat dua orang berwajah sama sudah duduk tepat di seberang saya duduk. Hahaha, berasanya kaya orang lagi berkunang-kunang gitu terus lihat dua bayangan orang berwajah sama xD Ya, siapa lagi kalau bukan si kembar epic, Mister O dan I, yang sudah duduk bersebelahan. Yang bikin heran, nih dua orang entah kenapa malah senyum-senyum sambil ngelihatin saya. Ini orang kenapa, sih?

Eng-ing-eng! Begitu mas-mas yang duduk tepat di sebelah saya bangkit dan keluar kereta, si kembar epic barulah bercerita. Katanya, pas saya ketiduran, kepala saya tanpa sengaja terarah ke mas-mas itu sampai dia jadi miring-miring karena mencoba menghindar. Aaaaa rasanya malu bangeet… Terus saya langsung protes kenapa mereka berdua malah diam saja, bukannya membangunkan. Katanya sih, selain bingung gimana cara membangunkannya, mereka juga nggak enak karena saya terlihat lelap banget tidurnya. Hiiih! Tapi udah gitu mereka berdua malah terlihat begitu bahagia dan ketawa-ketawa menceritakan ulang penderitaan saya. Saya juga antara malu dan nggak enak sama mas-mas sebelah tadi, tapi juga mikir ya udalah yaaaa nggak kenal ini.

Sampai di bandara Changi, niat hati ingin beli oleh-oleh, tapi lihatlah! Harganya mahal-mahal binggo! Di Vietnam kami mungkin bisa sok kaya, tapi di sini kami berasa mendadak miskin! Bahkan untuk beli cokelat pun, kami sampai keluar-masuk toko guna mencari diskonan dengan memasang muka tembok. Ada yang kasih potongan harga, beli sekian gratis 1, tapi pada akhirnya nggak mempan juga buat kami, begitu tahu kalau harganya masih terbilang mahal saat kami kurs-kan ke rupiah. Huft.

Singkat cerita, kami pun langsung check in dan boarding. Sedih itu adalah ketika nomor bangku saya dan Miss A ternyata bukan bersebelahan. Padahal selama ini kami selalu sebelahan, lho. Sedihnya lagi, pas saya tanya nomor bangku Mister U dan I, nomor mereka juga beda sama saya dan deket-deketan sama Miss A. Tanpa bertanya lebih dulu, waktu itu langsung terpikir kalau Mister O yang beli tiket ini sendiri setelah sempat cancel karena tragedi nyaris batal ikut itu, pastinya jauh lebih beda lagi. Heh? Terus yang bener aja! Masa saya misah sendiri, sih?!

Yang bikin lebih nggak tenang lagi itu pas ternyata nomor saya ada di bangku tengah, sementara di bangku pinggir sudah ada bapak-bapak yang duduk di sana. Ha-ha, kalau orang yang duduk di deket jendela itu cowok, saya berasa sukses kena “karma” setelah tadi pagi membiarkan Mister U duduk di antara saya dan Miss A. Sempat deg-degan dan was-was, ternyata apaaa? Tiba-tiba datanglah Mister O yang bersiap masuk ke deretan kursi saya dan si bapak! xD Hahaha, terus langsung berasa lega gitu. Dengan muka memelas, saya pun meminta tukar duduk di pinggir dekat jendela biar nggak duduk di tengah-tengah. Hahaha, kok bisa pas gini, ya? Bukannya tiket dia udah di-cancel dan dia beli ulang tiketnya? Tapi whatever, lah! Yang penting Alhamdulillah banget sayanya jadi nggak perlu duduk di antara orang-orang asing, hehehe… Plus bisa lihat pemandangan langsung dari jendela meskipun sudah tidak terlihat lagi awan-awan karena hari sudah malam 😀

Bandara Internasional Soekarno-Hatta

Alhamdulillah wa syukurillah, akhirnya kami sampai juga dengan selamat sentausa di Bandara Soekarno-Hatta. Karena belum makan malam, kami pun memutuskan untuk makan malam dulu di CFC yang ada di kawasan bandara. Pesan menu paket lengkap beserta sup, Alhamdulillah akhirnya makan sayur juga setelah seharian di Singapore tadi nggak ada seratnya sama sekali. Yaaah, terus mendadak malah jadi sedih. Ini kami beneran udah mau pulang? Besok ngantor???

Usai makan, sekitar pukul 22.00 kami pun menuju agen bus Damri untuk kembali ke rumah. Karena saat awal berangkat saya adalah orang pertama yang sampai ke bandara, saya berharap saat itu saya juga orang pertama yang meninggalkan bandara. Apalagi saya cewek yang naik bus sendirian dengan tujuan Stasiun Gambir, sementara Miss A dan Mister I serta U ke Cilegon, sedangkan Mister O ke Bekasi. Sediiiih… karena pada akhirnya entah kenapa saya ini berasa selalu menjadi orang yang ditinggalkan T_T (baper mode on, wkwk). Usai bus Cilegon berangkat duluan, saya jadi berasa sedih gitu pas tiba-tiba denger teriakan “Bekasi, Bekasi!” Hahaha, alay banget, ya? Tapi qadarullah, Allah memang Maha Baik. Nggak lama setelah itu, tiba-tiba terdengarlah teriakan “Gambir, Gambir!” Aaaaak! Alhamdulillah 😀 Saya ngerasa agak alay juga sih, pas saya jadi lari-larian bahagia waktu lihat Mister O yang ternyata belum naik ke dalam bus malah nglambai-nglambaikan tangan ngasih tahu ke saya dari jauh kalau bus Gambir juga sudah datang. Hahaha, jadi berasa bocah TK yang dipanggil-panggil sama pak gurunya karena baru aja dijemput mamanya pulang sekolah xD

Overall, perjalanan ini begitu menyenangkan dan berkesan menurut saya pribadi. Soalnya, ini adalah pertama kalinya saya keluar negeri “sendirian”, di tempat yang orang-orang dan bahasanya asing pula. Dalam perjalanan ini, banyak sekali kejutan dan hal-hal yang baru pertama kali saya alami, sehingga pada akhirnya menjadi begitu berkesan untuk saya pribadi.

Saya juga bersyukur banget banget karena sudah dipertemukan dengan orang-orang baik yang selalu mempermudah langkah ini. Tentu saja, khususnya untuk kawan-kawan seperjalanan yang padahal sebagian besarnya belum saya kenal sama sekali sebelumnya, tetapi sudah mau membantu sangat banyak. Karena kalau dipikir-pikir, mungkin saya ini termasuk orang yang paling nggak berguna selama trip kemarin.

Thanks to Miss A untuk segalanya, mulai dari mau ngajakin saya, planning-nya, sampai ke detail-detail lain yang nggak mungkin bisa disebutin satu per satu, termasuk juga keahlian komunikasi Koreanya yang oke punya dan sangat sangat membantu! Thanks to kembar epic yang rukun banget, Mister O dan I, yang ahli dalam hitung-hitungan, mengambil keputusan, “mengambil hati” warga lokal lewat komunikasi interaktifnya, termasuk juga usahanya cari spot shalat, makanan halal, jagain cewek-cewek rapuh ini, dan lain-lain. Thanks to Mister U yang ahli di bidang IT dan pengetahuan-pengetahuan aneh lain, yang memecahkan segala solusi tentang IT (peta, informasi, video, termasuk juga kamera hapenya yang bagus banget buat selfie, hahaha), yang sering bikin lelucon dan quotes konyol, yang bikin suasana jadi kocak dan asyik, dan lain-lain.

Lalu, saya pun tanpa sengaja menemukan foto lama ini saat mereka bertiga sedang rapat terakhir di Cilegon.

Alhamdulillah, tiga dari empat yang tertulis itu insya Allah sudah dikabulkan sama Allah dan sesuai dengan rencana. Tinggal permintaan terakhir yang masih menjadi misteri. Ah, tapi kalau masalah nge-trip sih, bukankah selama ini kita semua memang sedang nge-trip bersama-sama di dunia ini? Bukankah di dunia ini kita semua sama-sama hanya sebagai pengembara? Semoga selama nge-trip di dunia ini, tujuan akhir kita semua bakal sama yaaa… Surganya Allah. Aaaamiin ^^

estEtika

Advertisements

2 Comments

  1. Richi A Rusli said,

    6 October 2016 at 08:20

    Maap ya atas kejadian di KRL, harusnya aku bangunin ya. 😦

    Oiya. Ending tulisannya bagus. 🙂

    • estEtika said,

      11 October 2016 at 08:42

      Kan udah dimaafin dari lama.. Yang namanya ending itu harus bagus dan bahagia. Kalau belum bahagia, kemungkinan belum ending, kkk..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: