Kajian Tauhiid Bulan Oktober: Tingkatan Surga dan Bagaimana Menjadi Sabar

Kajian Tauhiid di Masjid Istiqlal Jakarta rutin diselenggarakan tiap hari Minggu kedua di setiap bulan. Bulan Oktober ini, Kajian Tauhiid dilaksanakan pada tanggal 9 Oktober 2016. Pematerinya adalah KH Tengku Zulkarnain dan KH Abdullah Gymnastiar. Berikut rangkuman materi yang dapat saya tuliskan kembali.

Pada materi sesi pertama oleh KH Tengku Zulkarnain, dibahas tentang tingkatan-tingkatan surga. Sebagai hamba Allah yang beriman, kabar baiknya adalah kita sama-sama (insya Allah) berkesempatan menginjakkan kaki di surga-Nya kelak. Namun, bukanlah amal-amal kita semata yang bisa membawa kita ke surga, melainkan karena rahmat dan ridho Allah SWT. Jadi, pada dasarnya tiada guna kita membanggakan amalan-amalan kita apalagi membandingkannya dengan orang lain. Meskipun percayalah, kabar baiknya lagi adalah rahmat dan ridho Allah kepada kita itulah yang pada hakikatnya mengantarkan kita kepada amalan-amalan yang kita lakukan. Kesempatan kita untuk beramal, beribadah, dan melakukan hal-hal baik lainnya, adalah salah satu rahmat dari Allah yang juga harus kita syukuri. Bukankah kita bisa beribadah karena kesehatan dan keimanan yang Allah anugerahkan kepada kita? Bukankah kita bisa bersedekah karena kesehatan dan limpahan rizki yang Allah berikan kepada kita?

Karena tidak terlalu utuh dan fokus menyimak isi ceramah di sesi pertama ini, saya coba mencari sendiri referensi lain terkait tingkatan-tingkatan surga ini. (Sumber diambil dari web RZ dan annida-online.com).

Surga Firdaus

Surga Firdaus adalah surga pertama sekaligus surga tertinggi. Surga ini dihuni oleh para nabi dan rasul Allah. Kabar baiknya, meskipun bukan nabi atau rasul, kita juga berkesempatan menghuni surga tertinggi ini sebagaimana yang tercantum dalam QS. Al-Mu’minun: 1–11, “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. (Yaitu) orang-orang yang khusyu dalam shalatnya. Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna. Dan orang-orang yang menunaikan zakat. Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya. Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. Dan orang-orang yang memelihara sholatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi. (Yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.

Termasuk pula orang-orang yang mencintai Rasulullah SAW, sebagaimana sabdanya bahwa seseorang akan dikumpulkan (dipersatukan) dengan orang-orang yang ia cintai. Adapun salah satu ciri kecintaan seseorang terhadap Rasulullah adalah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dengan mengikuti Al-Qur’an dan hadist, serta menjalankan dan menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah.

Surga ‘Adn

Mereka-mereka yang memasuki surga kedua ini adalah mereka yang bertaqwa dan diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat (QS. An-Nahl: 30–31), mereka yang beriman dan beramal sholeh (QS. Thaha: 75–76), mereka yang banyak berbuat baik (QS. Fathir: 32 –33), serta mereka yang sabar, mendirikan shalat, menginfakkan hartanya, dan membalas kejahatan dengan kebaikan (QS. Ar-Ra’d: 22 –23).

Surga Na’im

Penghuni surga ketiga ini adalah orang-orang yang bertaqwa (QS. Al-Qalam: 34), serta yang beriman dan mengerjakan amal sholeh (QS. Luqman: 8 dan QS. Al-Hajj: 56).

Surga Ma’wa

Mereka yang menjadikan surga keempat ini sebagai tempat kediaman adalah mereka yang beriman dan mengerjakan amal-amal sholeh (QS. As-Sajdah: 19) serta mereka yang menahan diri dari hawa nafsu yang buruk karena takut akan Tuhannya (QS. An-Nazi’at: 40–41).

Surga Darussalam

Mereka yang mengerjakan amal kebajikan akan disediakan tempat yang damai di Surga Darussalam yang merupakan surga tingkat kelima ini (QS. Al-An’am: 127).

Surga Darul Muqamah

Mereka yang dihilangkan duka citanya oleh Allah, yang selalu memohon ampunan dan bersyukur kepada Allah, akan ditempatkan di surga tingkat keenam ini. “Dan mereka berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami. Sesungguhnya Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. Yang menempatkan kami dalam tempat yang kekal (surga daarul muqamah) dari karunia-Nya; di dalamnya kami tiada merasa lelah dan tiada pula merasa lesu.” (QS. Fathir: 34–35).

Surga Al Maqamul Amin

Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa berada dalam tempat yang aman (maqamul amin).” (QS. Ad Dukhan: 51).

Surga Khuldi

Surga ini adalah bagi mereka yang taat menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.Katakanlah: “Apa (azab) yang demikian itukah yang baik, atau surga yang kekal yang telah dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa? Dia menjadi balasan dan tempat kembali bagi mereka.” (QS. Al Furqon: 15).

***

Sesi kedua adalah materi oleh KH Abdullah Gymnastiar, tentang sifat Allah “Al-Qadir” atau Maha Kuasa. Dasar ayatnya adalah QS. Ali Imron: 26 yang berbunyi, “Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Di dalam surah Ali Imron: 26 tersebut juga dijelaskan bahwa salah satu bukti kekuasaan Allah ialah Allah mampu memberikan kerajaan kepada orang yang Dia kehendaki, sekaligus mampu mencabut kerajaan dari orang yang Dia kehendaki. Allah berkuasa memuliakan orang yang Dia kehendaki, dan juga menghinakan orang yang Dia kehendaki. Namun, alangkah indah ayat ini yang kemudian dilanjutkan dengan kalimat, “Di tangan Engkaulah segala kebajikan.” Ya, karena Allah Maha Baik, bahkan mencabut kerajaan atau menghinakan seseorang boleh jadi merupakan suatu kebaikan bagi orang yang bersangkutan.

Contohnya adalah seorang pejabat atau petinggi yang tiba-tiba kehilangan kekuasaannya. Atau para koruptor atau penjahat yang tertangkap basah dengan cara yang sangat memalukan. Jika dilihat dari sisi duniawi, alangkah rugi dan menyedihkannya orang-orang tersebut. Namun, jika dilihat dari sisi lain, ada kebaikan yang tersimpan di dalam sana. Jabatan atau kekuasaan itu mungkin diambil karena tidak membuat hidupnya semakin berkah. Tindak korupsi atau kejahatannya ketahuan, mungkin agar pelakunya segera bertaubat dan kembali kepada Allah. Karena kalau tidak ketahuan, tidak menutup kemungkinan kejahatannya akan semakin parah lagi, bukan?

Salah satu sikap terbaik kita dalam menerima kuasa Allah adalah dengan bersabar. Hal ini sebagaimana termaktub dalam QS. Al-Baqarah: 155–157.

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan “Inna lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.

Hidup ini hakikatnya hanya terdiri dari dua hal, yaitu syukur dan sabar. Jika mendapat nikmat, bersyukur; jika mendapat musibah, bersabar. Namun, pada dasarnya musibah pun harus kita syukuri juga. Karena pada hakikatnya, musibah atau persoalan juga merupakan karunia dari Allah SWT.

(Sebagai tambahan, dari video yang baru saja saya tonton tadi siang, persoalan pun termasuk karunia juga, terlebih jika dapat disikapi dengan baik. Persoalan dan ujian, pada dasarnya membuat kita semakin kuat dan naik tingkat. Lalu ketika kita berhasil terlepas dari persoalan atau ujian tersebut, rasa bahagia dan lega yang kita dapatkan akan terasa begitu nikmat dan membuat kita lupa atas segala keresahan saat persoalan itu datang. Contoh nyata adalah saat berpuasa. Jika puasa dianalogikan dengan ujian, berbuka puasa adalah kenikmatan saat ujian itu berhasil kita selesaikan. Saat sudah berbuka, beratnya puasa (ujian) itu tidak akan terasa lagi.)

Bagaimana caranya untuk bersabar dalam menerima kuasa Allah?

Yang pertama adalah meyakini bahwa segala sesuatu pasti terjadi atas izin Allah. Kita lagi jalan tiba-tiba jatuh, itu izin Allah. Lagi jalan tiba-tiba terkena cipratan kubangan, itu izin Allah. Lagi jalan tiba-tiba diserobot motor, itu izin Allah. (Huft, kok malah jatohnya jadi curcol begini, ya :p) Pokoknya, ketika terjadi sesuatu, yakinlah bahwa itu memang izin Allah. Bukankah sehelai daun yang jatuh pun tidak luput dari izin Allah?

Yang kedua adalah meyakini bahwa segala yang terjadi pasti mengandung kebaikan. Dengan kata lain, bisa juga dikatakan bahwa segala sesuatu yang terjadi pasti mengandung hikmah. Ada pelajaran yang bisa dipetik. Bahkan untuk ujian sekali pun, bisa jadi mengandung kebaikan bagi kita karena lewat ujian itu, kita menjadi semakin dekat dengan Allah. Bukankah Allah adalah Maha Baik, pecinta kebaikan, dan hanya akan melimpahkan kebaikan?

Yang ketiga adalah meyakini bahwa segala yang terjadi pasti sudah diukur oleh Allah. Dalilnya adalah QS. Al-Baqarah: 286, yang menyebutkan bahwa “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”. Jadi, ketika ada orang yang tidak diberi ujian seperti kita, salah satu cara untuk menghibur diri adalah dengan meyakini bahwa ujian ini diberikan kepada kita karena kita pasti akan mampu melewatinya. Bukankah Allah SWT Maha Adil dan tidak akan pernah mendzolimi hamba-Nya?

Yang keempat adalah meyakini bahwa segala ujian yang menimpa kita, terjadi karena dosa dan kesalahan kita sendiri. Dalilnya adalah QS. An-Nisaa’: 79 yang berbunyi, “Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri”. Maka, jadikanlah ujian sebagai ajang untuk memohon ampunan kepada Allah. Karena bisa saja, ujian itu adalah salah satu cara Allah untuk membalas dosa-dosa dan kesalahan kita di dunia ini sehingga memperingan balasan di akhirat kelak (yang tentunya akan lebih mengerikan lagi, hiks). Dengan bersabar akan ujian, sembari terus memohon ampun atas dosa dan kesalahan yang pernah kita perbuat, insya Allah tidak hanya pahala dan kasih sayang Allah saja yang kita dapatkan, tetapi juga ampunan-Nya yang begitu luas. Bukankah Allah SWT Maha Pengampun dan Penyayang atas hamba-hamba-Nya yang senantiasa bertaubat kepada-Nya?

Yang kelima adalah meyakini bahwa hanya Allah-lah penolong kita. Dalilnya adalah QS. Yunus: 107 yang artinya, “Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Garis bawahi pernyataan tidak ada yang dapat menghilangkannya (kemudharatan) kecuali Dia. Ya, itu karena hanya Allah-lah yang dapat menolong kita. Hanya Allah yang dapat melepaskan kita dari ujian yang melanda. Karena itu, jangan pernah putus asa untuk berharap dan berdoa kepada-Nya. Bukankah Allah SWT akan merasa sangat malu saat mendapati hamba-Nya pulang dengan tangan hampa padahal ia telah memohon kepada-Nya dengan tulus dan penuh harap?

Ah… rasanya damai banget, kan, saat sudah belajar menerapkan kelima cara itu untuk bersabar menerima ketetapan Allah? Salah satu kalimat penyemangat favorit dari ibu saya adalah, “Sabar itu emang berat, Tik. Tapi buahnya maniiss!” Bismillah, sama-sama belajar sabar, yuuuuk!🙂

estEtika

Special thanks to duo Annisa, sahabat-sahabat shalilah terbaik semasa kuliah (sampai sekarang dan yang akan datang, insya Allah). Semoga bulan depan bisa sama-sama lagi, yaaa😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: