Agar Tak Sekadar Sampai ke Tujuan

Kendaraan merupakan salah satu nikmat yang Allah SWT berikan kepada kita. Kendaraan memudahkan kita saat bepergian untuk mencapai tempat tujuan yang terbilang jauh atau sulit dicapai. Zaman dulu kala, manusia harus bepergian dengan berjalan kaki atau menunggang hewan. Selanjutnya, terciptalah kendaraan tradisional seperti gerobak, sampan, atau sepeda. Seiring kemajuan teknologi, kendaraan semakin berkembang lagi dan sudah menggunakan mesin, seperti sepeda motor, mobil, kapal laut, hingga pesawat terbang. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi bahkan terus mendukung perkembangan kendaraan menjadi jauh lebih modern, yaitu kendaraan dengan fasilitas yang nyaman untuk para penumpang, serta kendaraan super cepat dengan waktu tempuh yang relatif singkat.

Di zaman sekarang ini, kendaraan dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu kendaraan pribadi dan kendaraan umum. Kendaraan pribadi merupakan kendaraan yang menjadi milik pribadi (perorangan) dan hanya digunakan oleh dan untuk kepentingan si pemilik. Contohnya seperti sepeda, motor, atau mobil yang kita miliki sendiri. Sementara itu, kendaraan umum ialah kendaraan yang dapat disewa atau dimanfaatkan oleh orang banyak. Sebut saja angkutan umum, bus, kereta api, atau pesawat terbang.

Dan suatu tanda (kebesaran Allah) bagi mereka adalah Kami angkut keturunan mereka dalam bahtera yang penuh muatan, dan Kami ciptakan untuk mereka (angkutan lain) seperti apa yang mereka kendarai itu.” (QS. Yaasin: 41-42).

Bicara soal kendaraan umum, tiba-tiba saya teringat ucapan salah seorang teman yang merupakan akhwat taat dan dikenal sangat menjaga dirinya. Katanya, “Saya lebih memilih pergi ke mana-mana naik motor sendiri ketimbang naik kendaraan umum dan desak-desakan dengan laki-laki.” Jederr! (Langsung berasa ketampar kanan-kiri).

Terkadang, ada kalanya saya juga ingin hidup “mandiri”. Ke kampus, kantor, jalan-jalan, atau ke mana-mana tinggal siap kunci dan starter kendaraan pribadi. Modalnya “hanya” bensin yang bisa dibilang lebih murah ketimbang ongkos gonta-ganti angkutan umum. Namun, sambil duduk manis di dalam metromini saat berangkat atau pulang kantor, saya sering iseng menatap keluar jendela dan diam-diam bersyukur. Pengendara motor di bawah sana rupanya tidak hanya bermodalkan bensin, tetapi juga tenaga dan konsentrasi. Apalagi di tengah kemacetan ibukota, memutar gas dan menginjak rem tentu cukup menghabiskan banyak energi. Belum lagi buangan asap dari kendaraan di depan-belakang dan kanan-kiri. Sementara saya, di bangku ini bisa asyik duduk santai bahkan sesekali tertidur di tengah kemacetan.

Namun, kelemahannya adalah saya jadi mulai kaku saat harus berhadapan lagi dengan kendaraan pribadi setelah sekian lama asyik berkendara-umum ria. Sedikit cerita, saya jadi teringat saat pertama kali belajar motor. Waktu itu, motivasi awal belajar motor adalah agar bisa mengantar-jemput Papa saya yang waktu itu dipindahtugaskan di Pekalongan, ke pinggiran jalan raya Pantura tempatnya biasa naik dan turun bus antarkota. Saya ingat hanya belajar motor dua kali; sekali bersama Papa saya dan kami berdua terperosok jatuh ke semak-semak berduri sampai kaki Papa saya berdarah-darah (dan anehnya sang pengemudi alias saya sendiri malah baik-baik saja); yang kedua bersama Mama saya dan kami berdua nyaris tercebur ke selokan super duper besar di pinggiran GOR kalau tidak diteriaki orang-orang dan ditarik-tarik motornya sama bapak-bapak di sekitar TKP. Usai tragedi itu, entah bagaimana mereka berdua langsung berani mempercayakan saya naik motor dan bikin SIM :p

Pengalaman mengemudikan motor? Nggak ada. Paling-paling hanya muter sekitar komplek atau pergi ke sana ke mari di dalam kota. Yang paling ekstrem mungkin saat boncengin temen bawa instrumen, kuesioner, dan sovenir ini-itu, saat mengumpulkan data skripsi di 3 SMA di kota Tegal. Nyetir di kota lain mungkin hanya di sekitar Brebes, Purwokerto, Depok, atau dalam kota Yogyakarta saat jalan-jalan.

Namun, yang berkesan itu malah saat saya dan seorang teman jalan-jalan ke Purwokerto awal April 2015 lalu. Di sana kami meminjam motor bebek yang nggak bisa di-starter dan harus diengkol. Namun, tantangan terbesarnya adalah selain karena engkolnya yang berat, gas motor ini ternyata gampang banget mati kalau direm. Mengingat di Purwokerto banyak banget lampu merah, maka hampir setiap lampu merah, mesin motor kami bakalan mati. Belum lagi engkolnya yang nggak langsung berhasil dalam sekali coba. Udah nggak kehitung lagi nuntun motor, minggir di pinggiran lampu merah, sampai minta tolong bapak-bapak atau tukang parkir yang ada di sana. Sepanjang perjalanan, kami berasa udah kehabisan tenaga untuk ngedumel; yang ada malah jadi ketawa-tawa konyol. Pulang-pulang, betis langsung pegel-pegel dan berasa tambah besar karena kebanyakan ngengkol. (Berasa udah sama-sama terlatih mental motor mogok-mogokan sebelum tragedi di Dalat, Vietnam, nih, hahaha… Dan terkadang, kesulitan-kesulitan semacam ini yang justru jadi pengalaman berkesan di masa depan, hihihi).

Atau pengalaman lucu saat saya ke Yogyakarta akhir Juli 2016 lalu. Trauma dengan engkol motor, pilihan motor sewaan yang tersisa saat itu adalah motor matic. Meski bisa naik motor, saya sama sekali belum pernah mengendarai motor matic sebelumnya. “Gampang kok, Tik. Lebih gampang dari motor bebek. Tinggal digas doang!” ucap seseorang memberi semangat. Tapi, mungkin polos, bego, dan konyol hanya beda tipis. Saat pada akhirnya mengiyakan dan semua orang sudah siap dengan motornya masing-masing, saya malah kebingungan gimana cara nge-starter motor matic itu. Yang lebih kocak lagi, saat sudah di jalanan dan berniat mengerem, saya sempat panik dan kebingungan saat kaki sudah saya pijak-pijakkan ke bawah, tapi nih motor entah kenapa nggak berhenti-berhenti juga. Ya ampuuuun… kebiasaan pakai rem kaki motor bebek, sampai kelupaan kalau motor matic nggak ada rem kakinya!

Daripada saat pertama kali belajar motor, sebenarnya yang masih agak mendingan itu saat pertama kali belajar mobil. Di mobil ini insya Allah aman. Tapi, dilemanya malah bukan karena sayang sama diri sendiri, tapi sayang sama mobilnya. Lecet sedikit bisa brabe, kan? Dan yang lebih ngenes itu kisah saya ini. Setelah mencoba satu-dua kali mobil manual dengan kopling ini, Alhamdulillah sudah bisa jalan meski sempat ndut-ndutan kaya lagi naik odong-odong. Berhasil nyetir di jalanan kampung (dengan gemetaran dan keringat dingin), pelajaran yang lebih mengerikan adalah parkir dan tanjakan. Ngenes-nya adalah karena saya belajar mobil dengan menggunakan mobil yang pada akhirnya akan kami jual beberapa bulan kemudian. Saat test drive, mobilnya malah jadi nggak enak parah dan mesinnya berasa “kasar” gegara dipakai belajaran di lapangan yang tanahnya bolong sana-sini. Biaya service mobil sebelum dijual pun terpaksa jadi tambahan modal, dan saya pun kapok belajar mobil dan belum pernah berniat pegang setir lagi.

Oke, sudah cukup intermezo-nya, sekarang mari kita kembali ke bahasan awal.

Ada kalanya, kata-kata sang akhwat baik hati tadi sempat mengusik hati ini. Namun, sekarang-sekarang ini saya justru jadi bersyukur dengan keadaan saat ini. Ya, sekarang ini, fasilitas angkutan umum di Jakarta Alhamdulillah sudah jadi lebih baik. Katakanlah kereta commuter line dan bus Transjakarta yang sudah menyediakan gerbong khusus wanita atau area khusus wanita. Bahkan, sekarang ini saya pernah melihat bus Transjakarta berwarna pink yang hanya diperuntukkan khusus untuk semua penumpang wanita (meski jumlah armadanya masih sangat terbatas).

Kalau kata orang, penumpang cewek memang lebih egois dan sangar. Apalagi ibu-ibu alias emak-emak yang soal rebutan bangku sudah nggak kode-kodean lagi, tapi terang-terangan sampai sikut sana-sini. Bahkan pernah suatu ketika saat menaiki bus Transjakarta ketika saya sudah duduk cantik, seorang anak perempuan tiba-tiba berlari dan duduk di bangku kosong persis di sebelah saya. Anak itu kemudian menunjuk bangku prioritas di sisi yang lain, sambil berteriak ke ibunya yang entah seperti apa wujudnya tidak terlalu saya perhatikan, “Cepet, Ma! Duduk situ! Duduk situ!” Namun, yang mengejutkan adalah suara balasan sang ibu yang terdengar sangat kasar ketika bangku prioritas itu justru sudah ditempati orang yang masuk terlebih dulu, “Dudukin dulu! Teriak doang kalau nggak diduduki ya ditempatin orang, lah! Dasar bego!” Deg! Rasanya tuh sedih banget setiap denger seorang ibu membentak, memarahi, atau malah ngata-ngatain anaknya di depan umum. (Semoga di masa depan saya dan kita semua nggak jadi orangtua yang begitu, yaaa). Kalau saja si ibu itu nggak pergi dan saya tahu mukanya kaya apa, mungkin tempat duduk saya bakal saya kasih ke si ibu. Ibu ini bener-bener ninggalin anaknya entah ke mana, lho. Menghilang di antara kerumunan penumpang lain yang berbondong-bondong masuk dari halte transit itu. Untungnya si anak ini sudah cukup besar dan tahu harus turun di halte mana. Huft, sediiih…

Yang lebih ganas lagi itu di kereta commuter line gerbong wanita, terutama di stasiun-stasiun ekstrem seperti Pasar Senen, Tanah Abang, dan Manggarai. Karena sempat sering turun di Senen atau Manggarai, saya berasa sudah hapal betul muka-muka ambisius emak-emak yang mengincar tempat duduk. Kalau mau lebay, dari balik jendela saat kereta masih jalan dan nyaris berhenti, pemandangan di luar udah kaya zombie-zombie kelaparan yang siap melahap mangsanya #ups #lebaymodeon. Begitu pintu kereta terbuka, woaaaa berasa adegan akhir Finding Nemo saat ikan-ikan itu lolos dari jaring usai berhasil meneriakkan jargon “Swim down! Swim down!” Makanya kalau di Senen atau Manggarai, saya lebih suka ngumpet dulu di pojokan sebelum turun kereta. Secara teori, penumpang yang keluar memang harus didahulukan, tetapi demi keselamatan, sepertinya keluar belakangan setelah semua pada naik menjadi pilihan yang tepat.

Bicara soal naik kendaraan umum, rupanya ada adab-adab dan kebiasaan yang perlu kita lakukan. Secara umum, ini bukan hanya untuk yang berkendaraan umum saja, tetapi juga yang menggunakan kendaraan pribadi.

Mengenakan pakaian islami. Khususnya untuk para muslimah, tentu saja saat keluar rumah termasuk saat menaiki kendaraan umum, pakaian harus sesuai dengan syariat (menutup aurat, tidak ketat, tidak transparan). Selain sebagai simbol taqwa, pakaian ini juga berfungsi untuk menjaga kita dari gangguan, kejahatan, kemaksiatan, dan godaan-godaan lain dari luar.

Dzikir saat bepergian dan berkendara. Yang paling sederhana adalah doa keluar rumah, doa berkendara, baca basmalah, istighfar, tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir. Bisa juga baca Al-Matsurat dan dzikir lain, atau malah dengerin ceramah atau murotal Qur’an pakai earphone.

Didampingi mahram. Hiks, ini yang susah. Muslimah memang sebaiknya pergi ke mana-mana sama mahram, kan? Tapi kalau mahramnya jauh atau nggak ada? Hmmm… semoga segala niat baik masih Allah ampuni dan ridhoi.

Menghindari berdesak-desakan. Terlebih lagi desak-desakan dengan non-mahram seperti yang sudah dibahas di awal tadi. Solusinya tentu saja lebih memilih gerbong wanita atau area wanita bagi yang muslimah. Setidaknya desak-desakan dengan sesama wanita masih lebih tenang. Namun, tetap jaga diri dan jangan sampai lengah dengan barang-barang berharga.

Mahram masuk kendaraan lebih dulu dan keluar kendaraan lebih dulu. Kalau pergi sama mahram, mahram si wanita itu harus masuk dan keluar kendaraan lebih dulu. Fungsinya untuk melindungi muslimah di belakangnya agar si mahram itu memberi jalan dulu sehingga si wanita terhindar dari sentuhan laki-laki yang mungkin ada di sekitar pintu masuk atau keluar kendaraan.

Menghindari duduk di samping lawan jenis. Kalau naik angkutan umum seperti KWK, metromini, atau kopaja yang tidak punya area wanita, hal tersebut menjadi rentan terjadi. Solusinya, sebisa mungkin naik metromini atau kopaja lewat pintu depan karena biasanya perempuan bakal lewat pintu depan dan duduk di sekitar situ. Kalau nggak kepepet, pilih angkot yang agak kosong dan pilih tempat duduk yang di sebelahnya sudah diduduki perempuan. Kalau kepepet juga, mau nggak mau harus minta ampun dan perlindungan terus sama Allah. (Kalau dari pengalaman pribadi, saat-saat seperti ini saya jadi bersyukur banget punya badan mungil. Duduk jadi nggak makan banyak tempat dan bisa kasih beberapa milimeter celah sama orang yang duduk di sebelahnya).

Menghindari ngobrol yang tidak bermanfaat. Apalagi sama laki-laki, yang nggak dikenal pula. Hal ini dikhawatirkan akan menimbulkan fitnah atau pandangan negatif dari orang sekitar. Hmmm, kalau dari pengalaman pribadi, yang suka agak mengganggu adalah saat lagi terpaksa banget naik ojek. Terkadang si driver memang sekadar mencoba untuk ramah dengan membuka pembicaraan, tapi kalau kebanyakan ngajak ngobrol, kan, nggak enak juga, ya? Hehehe…

Menghindari tertawa dan menoleh sana-sini. Katanya, kalau siang kebanyakan ketawa, nanti malem bakal nangis, lho! Hihihi, karena itu, sebisa mungkin memang minimalisasikan tertawa, apalagi yang berlebihan sampai terbahak-bahak. Terkait menoleh sana-sini, lebih dikhawatirkan saat menoleh itu kita malah tanpa sengaja jadi melihat sesuatu yang seharusnya tidak kita lihat. Ah, kalau saya sih, lebih suka duduk di dekat jendela, lalu lihat langit atau senja di atas sana, hihihi atau malah tidur xD (Pembahasan lebih lengkap, silakan klik link-link referensi di bawah).

Ya, kendaraan memang salah satu nikmat yang Allah berikan untuk kita. Dengan kendaraan, kita bisa menyelesaikan urusan kita, bersilaturahim, menuntut ilmu, menambah pengalaman, mencari rizki, dan melakukan perjalanan guna mendapat ibroh dari alam dan lingkungan sekitar. Berkendara dengan mengikuti adab dan menyertainya dengan kebiasaan baik, diharapkan tidak sekadar mengantarkan kita ke tempat tujuan, tetapi juga menjadi ladang pahala dan kebaikan. Insya Allah.

estEtika

Referensi:

  1. Ummu Ubaidillah. 2014. “Nikmatnya Berkendaraan”. https://muslimah.or.id/5709-nikmatnya-berkendaraan.html. Diakses tanggal 3 November 2016.
  2. Arifin. 2015. “Adab Berkendaraan Umum”. http://dainusantara.com/adab-berkendaraan-umum/. (Dari Majalah GERIMIS Vol. 27, Maret 2014). Diakses tanggal 3 November 2016.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: