Rangkuman: Rediscovering The Fatihah by Nouman Ali Khan

Beberapa hari lalu salah satu teman mengirimkan sesuatu di grup WhatsApp. Tertarik, saya pun mencari videonya di Youtube. Judul videonya adalah “Nouman Ali Khan Rediscovering The Fatihah” yang terdiri dari part 1 sampai 3, dengan masing-masing video berdurasi sekitar 1 jam. Rupanya, materi yang disampaikan tersebut sudah terbilang cukup lama, yaitu disampaikan oleh Ustad Nouman Ali Khan pada salah satu acara bertajuk “Rediscovering The Fatihah”, yang diselenggarakan pada Sabtu, 7 September 2013 di Suntec Singapore.

Setelah menontonnya, insya Allah saya berani mengatakan bahwa isinya sangat bagus. Saya jadi merasa sayang jika hanya sekadar menonton, merenungi, membenarkan, tetapi kemudian malah melupakannya begitu saja. Lewat tulisan ini, saya berharap bisa lebih memahami lagi materi yang disampaikan, dan mungkin juga bisa bermanfaat kelak untuk pembaca, terkhusus bagi saya pribadi yang masih sesekali iseng membaca tulisan lama milik sendiri. Semoga apa yang tertulis ini sesuai dengan isi video sebenarnya, Insya Allah, (mengingat pembicara menyampaikannya dalam bahasa Inggris yang tidak tersedia subtitle terjemahannya dan kemampuan english saya yang bisa jadi masih serba kurang). Segala kesalahan mutlak berasal dari saya pribadi, dan mohon koreksi jika memang demikian. Video lengkap bisa klik di daftar tautan link yang ada pada bagian akhir tulisan ini.

Al-Fatihah. Surah tersebut ialah surah terbaik di dalam Al-Qur’an, yang merupakan surah pertama sekaligus surah yang terlengkap menurut kandungan isinya. Sesuai artinya, Al-Fatihah berarti pembukaan. QS. Al-Fatihah layaknya sebuah gerbang masuk. Dengan memahami isi dan kandungan Al-Fatihah, secara tidak langsung kita juga memahami isi dan kandungan seluruh Al-Qur’an. Jika gerbang Fatihah sudah terbuka, gerbang-gerbang lain yang ada dalam surah-surah lain juga insya Allah akan lebih mudah untuk dimasuki.

Ada perbedaan pendapat tentang ayat pertama Al-Fatihah, ada yang mengatakan “Bismillahirrahmanirrahiim” dan ada yang mengatakan “Alhamdulillahirabbil ‘alamiin”. Namun, pembahasan kali ini akan dimulai dari ayat “Alhamdulillahirabbil ‘alamiin”. Karena selain pembahasan tentang bacaan basmalah saja akan memakan banyak sekali waktu, salah satu hadist yang merangkan tentang kandungan surah Al-Fatihah ini justru dimulai dari penjelasan ayat yang kedua, yaitu “Alhamdulillahirabbil ‘alamiin”.

(2) Alhamdulillaahirabbil ‘alamiin

Ayat pertama surah Al-Fatihah diawali dengan bacaan yang sering sekali kita ucapkan. Terjemahan arti Alhamdulillah yang kita ketahui ialah “praised belonsg to Allah” atau “thanks to Allah” (segala puji bagi Allah). Pada kenyataannya, kata hamd dari kalimat Alhamdulillah, mengandung dua arti, yaitu praised dan thanked sekaligus, yang masing-masing mengandung dua arti yang sangat berbeda.

Ketika kita melihat mobil yang bagus, atau saat menjenguk bayi yang baru lahir, atau saat melihat atlet yang hebat, kita akan praised to them alias memuji mereka, bukan berterima kasih kepada mereka. Sebaliknya, thanks hanya dilakukan ketika seseorang telah melakukan sesuatu kepada kita. Dengan kata lain, ketika kita melihat sesuatu yang bagus atau mengagumkan, kita akan memuji mereka tanpa perlu berterima kasih kepada mereka. Hal yang sama, yaitu ketika seseorang melakukan sesuatu untuk kita, kita akan berterima kasih kepada mereka, tetapi kita juga tidak harus memuji mereka. Contohnya adalah Nabi Musa AS yang diasuh oleh Firaun; Nabi Musa berterima kasih kepadanya, tetapi tidak pernah dan tidak akan mau memujinya (segala puji hanya milik Allah SWT).

Allah memfirmankan “Alhamdulillah”, bukan Almadkhulillah yang artinya praised to Allah atau Assyukrulillaah yang artinya thanks to Allah, karena kita harus mengombinasikan keduanya, yaitu Alhamdulillah, puji dan juga syukur untuk Allah. Kesimpulannya: “Alhamdulillah” sekaligus mengandung dua arti yang tidak terpisahkan, yaitu praised and thanked to Allah.

Di sisi lain, saat kita memuji sesuatu, sifat pujian itu bisa saja tidak tulus atau bahkan palsu. Contohnya saat ngebut di jalanan dan dihentikan polisi, kita akan (basa-basi) memujinya, “Oh! What a nice hat, Officer!” (sambil pasang senyum palsu, kkk). atau saat dapat nilai jelek, pulang-pulang malah basa-basi ke ibu, “Mom, your cooking today is so delicious!” (padahal ibunya belum masak, hihihi). Atau pujian palsu untuk pimpinan, bos, raja, dan sebagainya. Pujian bisa bersifat basa-basi, tidak tulus, atau malah palsu.

Sebaliknya, terima kasih hanya akan diucapkan saat seseorang melakukan sesuatu untuk kita. Dengan kata lain, thank you adalah suatu reaksi (kegiatan yang timbul akibat suatu peristiwa—KBBI), bukan sesuatu yang kita awali tanpa sebab. (Kita nggak akan bilang “Thanks”, “Thank you”, “Hey, thanks!” sambil dadah-dadah ke sembarang orang yang secara acak kita temui di jalanan, kan? Hihihi). Allah menggunakan kata hamd pada kalimat Alhamdulillah, yang secara bahasa Arab hanya mengandung arti yang genuine alias tulus, tanpa mengandung sifat reaksi tersebut.

Selain itu, kalimat yang baik adalah yang sifatnya ringkas, pendek, dan mudah diucapkan. Kalimat Alhamdulillah tentu jauh lebih ringkas, efektif, sekaligus bermakna, ketimbang menggabungkan dua kalimat menjadi Almadkhu wa syukrulillah. Kesimpulannya: kalimat dalam Al-Qur’an itu ringkas, to the point dan langsung menuju sasaran, tetapi dengan makna yang jelas dan mendalam.

Bicara soal Almadkhu wa syukrulillah, ada kata wa alias “dan” di sana. Dari segi bahasa, kata “dan” berarti memisahkan antara kata sebelum dan setelahnya. Jika Al-Qur’an menggunakan kalimat Almadkhu wa syukrulillah, hal itu dapat berarti bahwa kita memuji Allah karena sesuatu dan kita berterima kasih kepada Allah karena sesuatu yang lain. Namun, Allah menggunakan kata Alhamdulillah, yang berarti dalam satu kesempatan itu, kita memuji Allah sekaligus berterima kasih kepada-Nya (dalam waktu yang bersamaan).

Beralih ke poin berikutnya. Dalam bahasa Arab, kita dapat menggunakan suatu kata sebagai nown (kata benda) dan verb (kata kerja). Dalam bahasa Inggris, ada istilah tense, seperti past tense, simple tense, atau future tense. Tense itu hanya akan melekat pada verb, bukan nown (baca: yang menentukan suatu kalimat termasuk jenis tense apa adalah verb-nya, bukan nown).

Dalam kata Alhamdulillah, Allah menempatkan kata praised dan thanked sebagai kata benda, bukan verb seperti dalam kalimat “Akhmadullah” (I praised to Allah) atau “Nakhmadullah” (we praised to Allah) yang sering ada dalam khutbah-khutbah: “Alhamdulillah, nakhmaduhu wa nasta’innuhu”. Penggunaan kata Alhamdulillah, menempatkan “praised” sebagai kata benda yang tidak terikat tense atau tidak terikat waktu. Artinya, saat kita mengucapkan Alhamdulillah, saat itu kita memang sedang memuji Allah, tetapi sifat “praised to Allah” itu akan tetap ada selama-lamanya (tanpa terikat waktu).

Selain itu, penggunaan kata kerja juga selalu terikat oleh pelaku atau subjek. Saat mengatakan “menghilang”, maka akan muncul pertanyaan “Siapa yang menghilang?” (Ups, ini kenapa contoh kata yang dipakai malah jadi bikin sedih, ya? Kkk). Kata kerja selalu membutuhkan subjek. Namun, kalimat Alhamdulillah menggunakan kata benda. Kata benda mampu berdiri sendiri tanpa terikat oleh apa pun. Artinya, sifat praised to Allah itu ada dengan sendirinya, tanpa peduli siapakah yang memujinya atau apakah yang memujinya. Kesimpulannya, kalimat “praised to Allah” ini tidak terbatas akan waktu atau subjek yang melakukan.

Selanjutnya, salah satu bentuk kalimat adalah kalimat perintah atau command. Dalam bahasa Arab, bentuk kalimatnya akan menjadi “Ikhmadullah!” (Praised Allah!). Pada kalimat perintah, ada dua kemungkinan yang akan dilakukan sebagai reaksi dari perintah tersebut, yaitu melakukannya atau mengabaikannya. Allah menggunakan kalimat Alhamdulillah bukan dalam bentuk kalimat perintah, berarti sifat “praised to Allah” itu tidak terikat apakah kita akan mau memujinya ataukah tidak. Tidak peduli kita mau memuji-Nya atau tidak, sifat “segala puji bagi Allah” itu akan tetap ada dan melekat pada diri Allah SWT.

Selain itu, dalam bahasa Arab dikenal sifat-sifat kalimat, antara lain kalimat yang bersifat informatif dan kalimat yang bersifat emosional (terkait perasaan). Saat guru menjelaskan materi misalnya, maka kalimat yang keluar itu bersifat informatif. Berbeda dengan kalimat Alhamdulillah yang biasa kita ucapkan, sifat kalimat itu adalah emosional atau yang berasal dari perasaan kita sendiri.

Dalam khutbah juga sering terdengar ucapan:“Innalhamdalillah”. Kata pertama ialah “inna” yang artinya “sesungguhnya”. Penggunaan kata “inna” ini bersifat penekanan atau penegasan. Mengapa Allah memfirmankan kalimat “Alhamdulillah” pada surah pertama Al-Fatihah, bukannya menambahkan kata “inna” hingga menjadi “Innalhamdalillah” yang jauh terkesan lebih tegas?

Ya, jawabannya karena kata “Innalhamdalillah” merupakan kalimat yang sifatnya informatif (menurut kaidah dan struktur bahasa Arab). Penggunaan kalimat ini terkesan hanya memberikan informasi kepada orang lain, bukan sebagai bentuk ekspresi perasaan kita sendiri. Kesimpulannya: tiap kata bahkan huruf di dalam Al-Qur’an itu sempurna, tidak perlu ditambah atau dikurangi.

Usai break shalat Maghrib, ternyata bahasannya masih di ayat Alhamdulillah ini, lho. (Fyi, durasi videonya baru sekitar 30 menit dari 3 jam, kkk). Masya Allah yaaa, kalimat Alhamdulillah saja sudah begitu bermakna seperti ini ^^

Kembali ke laptop.

Dalam sebuah kalimat, ada kalimat yang terdengar normal, ada yang terdengar asing. Misalnya kalimat “I eat lunch” dan “I went to school” akan jauh terdengar normal dibandingkan “Lunch, I eat” atau “To school, I went”. Pada kalimat kedua, terkesan ada penekanan khusus pada kalimat lunch dan school. Menurut kaidah bahasa, kalimat tersebut akan berarti: “aku hanya makan siang (nggak makan yang lain-lain)” dan “aku hanya pergi ke sekolah (nggak pergi ke yang lain-lain)”. Kata yang diletakkan di awal tersebut akan mengandung arti only atau hanya itu saja, tidak yang lain.

Pada saat Hari Raya, potongan kumandang takbir yang terdengar akan seperti ini: “Allaahu akbar wa lillaahilhamd”. Kata Lillaahilhamd ([hanya] kepada Allah segala pujian) secara bahasa memiliki makna yang sama dengan Alhamdulillah (segala puji bagi Allah). Dalam Al-Qur’an, Allah juga sering menggunakan kata Lillaahilhamd ini (kalau tidak salah tangkap ada di 45 Surah). Namun, dalam QS. Al-Fatihah, Allah menggunakan kata Alhamdulillah, bukan Lillaahilhamd.

Penjelasannya, karena penggunaan kata Lillaahilhamd yang ada di 45 Surah tadi, ditujukan untuk orang-orang lain, termasuk orang-orang musyrik (orang-orang yang tidak percaya pada Allah). Hal ini untuk menegaskan kepada mereka bahwa: “segala puji itu hanya milik Allah, bukan yang lain-lain” (analogi dengan kalimat lunch dan school di atas). Sementara bagi sesama Muslim, kalimat yang digunakan adalah Alhamdulillah karena tidak ada lagi keraguan di dalam hati mereka, bahwa segala puji tentu saja hanya milik Allah. Tidak perlu lagi ada penekanan atau penegasan.

Di dalam QS. AL-Fatihah ini, Allah bukan menyeru kepada kita seakan seperti: “Hey, praised was belongs to Allah!” tetapi lebih kepada diri kita sendiri yang sudah menyadari dan mengimani di dalam hati, bahwa segala puji memang hanya bagi Allah. Kesimpulannya: lewat ayat awal Al-Fatihah ini, Allah bukan sedang “menyeru” kita, umat muslim, melainkan sedang “menyapa” kita dengan lembut, lewat hati kita yang (Insya Allah) sudah beriman kepada-Nya.

Selain itu, di ayat tersebut juga dengan jelas menyebutkan asma Allah di dalamnya. Segala puji hanya bagi ALLAH, Tuhan semesta alam. Allah dengan jelas “memperkenalkan” diri-Nya, yaitu Allah, sebagai Tuhan semesta alam.

Sebagaimana yang kita ketahui, saat kita memperkenalkan diri ke khalayak ramai, yang kita sebut pertama kali adalah nama terlebih dahulu, bukan pekerjaan atau jabatan. Bukan “Hi, I’m a teacher”, tetapi “Hi, I’m Nouman”. Ayat tersebut tidak mengatakan “segala puji hanya milik Tuhan semesta alam”, melainkan dengan “perkenalan” yang jelas, yaitu “segala puji hanya milik ALLAH, Tuhan semesta alam”.

Hmm, panjang juga ya, bahasan tentang Alhamdulillah. Btw, ini baru “Alhamdulillah” lho, masih ada “Rabbil ‘alamiin”. Semoga nggak bosan bacanya, yaa ^^

Asmaul husna atau nama-nama Allah ada 99 sebagaimana yang kita ketahui. Namun, pada ayat awal surah pembukaan ini, Allah bukan menyebutkan diri-Nya “Al-Malik”, “Al-Hakiim”, “Al-Qoyyum”, atau asma yang lain, tetapi Allah memilih “Rabbil ‘aalamiin”. Rabb (Tuhan) bagi semesta alam.

Kata Rabb sendiri mengandung lima buah makna. Yang pertma adalah (1) Al-Malik atau pemilik. Seperti yang kita ketahui bahwa semua yang ada di alam semesta ini, termasuk diri kita sendiri adalah milik-Nya. Yang kedua adalah (2) Al-Murobbi atau pemelihara. Seorang pemilik pasti akan memelihara apa yang ia miliki. Contohnya, saat kita memiliki mobil, kita pasti akan merawatnya, mencucinya, dsb. Sama seperti Allah yang memelihara alam semesta. Yang ketiga adalah (3) Al-Mun’im atau pemberi. Pemilik juga akan memfasilitasi yang ia miliki. Mengisi bahan bakar mobil kita, misalnya, sama halnya dengan Allah yang melimpahkan rizki-Nya kepada kita. Yang keempat adalah (4) Al-Qayyim atau pengatur. Seperti mobil yang bisa kita atur sesuka hati, Allah juga yang mengatur kerja organ tubuh kita sedemikian detail hingga ke tingkat sel. Terakhir, (5) As-Sayyid atau penguasa. Mobil yang bisa kita kuasai (mau ke kanan atau kiri, pelan atau ngebut, dsb.) sama halnya dengan Allah yang Maha Berkuasa atas segala ciptaan-Nya (mau dibuat skenario seperti apa—terserah Allah).

Karena di awal surah pembukaan ini Allah sudah memperkenalkan diri-Nya sebagai Rabb, tentunya kita-kita ini adalah sebagai hamba-Nya (‘abd atau servant/slave). Seorang hamba sudah sepatutnya menuruti dan menaati perintah serta kemauan Rabb-nya. Kesimpulannya: lewat ayat ini, Allah hendak “memperkenalkan” diri-Nya sebagai Rabb, sekaligus “menyadarkan” kedudukan kita di hadapan Allah, yaitu sebagai hamba.

Masya Allah. Satu ayat saja penjelasannya sudah panjang lebar begini, ya? ^^ Biar nggak bosan, sembari menonton lagi lanjutan video dan menulisakannya kembali, mungkin butuh break dulu sejenak. Insya Allah lanjutannya akan segera diposting. Kalau punya kelebihan kuota atau ada akses Wifi, silakan langsung klik link-link berikut untuk menyimak langsung video lengkapnya🙂

Sumber video:

Part 1 https://www.youtube.com/watch?v=P1_OAQDcQXs&t=1398s

Part 2 https://www.youtube.com/watch?v=rtNeoi5DlUU

Part 3 https://www.youtube.com/watch?v=TYyVOivAuF0

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: