Sebuah Catatan Pengalih Kerinduan

“Sabar, ya…”

Belakangan ini, kalimat serupa atau sejenis itu sering terlontar dari orang-orang sekitar saya. Ucapan yang terkadang terkesan “basa-basi” belaka sebagai wujud tanda prihatin, tetapi tidak halnya dengan yang saya alami. Ada tatapan tulus yang saya tangkap setiap kali mereka menguatkan saya dengan kalimat klise tersebut.

Sekarang ini sudah sebulan lebih sejak tanggal 10 April 2017 setelah saya—yang orang-orang biasa sebut sebagai—menggenapkan separuh agama. Menukil kisah Uqail bin Abi Thalib dalam buku Baarakallahu Laka… Bahagianya Merayakan Cinta, ada kegundahan tatkala hari pernikahan mereka diisi dengan doa-doa seperti, “Semoga bahagia dan banyak anak”. Karena, yang Uqail bin Abi Thalib harapkan adalah doa yang sesuai dengan sunnah Rasulullah, yaitu “Baarakallahu laka, wa baaraka ‘alaika, wa jama’a bainakumaa fii khaiir” yang artinya semoga Allah karuniakan barakah kepadamu, limpahkan barakah atasmu, dan himpun kalian berdua dalam kebaikan”.

Karuniakan barakah kepadamu mengandung makna tersirat bahwa barakah yang diharapkan ialah yang berasal dari hal-hal yang disukai. Namun, limpahkan barakah atasmu juga mengandung makna tersirat bahwa barakah diharapkan pula tetap ada pada hal-hal yang tidak disukai. Terakhir, doa pun ditutup indah dengan himpun kalian berdua dalam kebaikan. Jadi, dari doa yang disunnahkan Rasulullah saja sudah mengandung sebuah perenungan bahwa menggenapkan separuh agama tidak hanya soal hal-hal yang disukai dan tidak hanya senang-senang saja, tetapi juga hal-hal yang tidak disukai dan tidak disenangi. Selanjutnya tinggal bagaimana semua tetap terhimpun dalam kebaikan yang diridhoi oleh Allah, baik saat suka maupun duka.

Kembali ke kalimat “Sabar, ya…”, saya jadi teringat kata-kata om kesayangannya mamas. Katanya, “Mbak Tika mimpi apa,” yang sempat saya respons dengan polos sambil seriusan mikir, semalem saya mimpi apaan ya? “Bisa terdampar sampai Salatiga?” Owalah, ternyata ada lanjutannya! Hahaha…

Dan pada akhirnya, bercandaan itu jadi membuat saya tersadar. Bener juga. Ini tempat macam apa, sih? Asing, nggak kenal siapa-siapa, nggak tahu apa-apa, nggak paham mana-mana… Bahkan awal-awal sempat roaming karena sebelumnya keseringan denger “gue-elo”, sekarang jadi muncul kata-kata seperti “sek”, “meh”, “nek”… Tapi yang paling bikin gini O_O atau gini –_– kalau sudah diajak ngomong pakai kromo karena sebelumnya sering terpapar sama yang ngapak-ngapak.

“Sabar, ya…”

Itu yang orang-orang katakan tatkala saya harus terpaksa menjaga diri sendiri di tempat asing ini. Itu juga yang mereka katakan ketika saya belum bisa ke mana-mana, terpaksa menunda atau menggagalkan liburan, atau hal-hal lain yang mereka sebut sebagai lawan katanya “matahari racun”.

Di sini, akses paling enak memang kendaraan pribadi. Karena nggak seperti Jakarta yang tersedia berbagai akses angkutan umum, angkutan beken di sini hanya bus jurusan Semarang–Solo yang tiap berapa menit sekali lewat di depan rumah. Lucunya, saya yang dulu di Jakarta berani ngapa-ngapain dan pergi sendiri, di sini langsung ciut. Salah satu alasan syar’i-nya bisa dibilang nggak berani ke mana-mana kalau belum izin atau minimal bilang. Alasan jahatnya sih males, hehe… Tapi hikmahnya, saya kan jadi dianterin atau malah digantiin pergi kalau mau ke mana-mana, kkk.

Di sini, temen deket ya cuma teman hidup. Maksudnya, jangankan sahabat dekat, siapa-siapa yang sebaya, senasib, dan sepenanggungan juga entah di mana rimbanya. Apalagi untuk orang introvert yang nggak mudah dekat dengan orang baru, urusan semacam ini cukup rumit. Jadi, kalau tiap hari ketemunya sama orang-orang itu saja ya cukup dinikmati. Kalau sepi ya tinggal main ke rumah mbah kakung. Atau kalau mau lebih variasi, tinggal main ke warnetnya mamas dan ketemu orang-orang yang entah siapa, lalu siap-siap seyumin aja setiap ditanya, “Mbak operator baru, ya?”

Rasulullah bilang, betapa indahnya urusan seorang mukmin; saat senang dia bersyukur dan itu baik baginya; saat susah dia pun bersabar dan itu pula baik baginya. Makanya biar seimbang, perlu juga mikir yang susah-susah saat senang. Supaya kita bisa sadar diri dan nggak kelewat batas di saat senang. Saat sedih pun perlu juga mikir yang senang-senang. Supaya kita nggak berlarut-larut dalam kesedihan dan juga sadar diri kalau kesedihan kita itu nggak ada apa-apanya alias cuma kaya gini doang.

Terus… Kalau orang lain pada prihatin ini mbak kok ditinggal-tinggal terus, ya sebenernya nggak juga. Karena secara teori kalau mau 24 jam terus sama-sama ya bisa. Ditinggal kerja ya tetap bisa lihat dari layar CCTV atau malah tinggal datengin aja tempat kerjanya yang berjarak hanya sepelemparan batu. Kalau orang lain prihatin ini mbak kok nggak lawan katanya matahari racun, ya sebenernya nggak juga. Karena secara teori ya setiap hari itu udah jadi lawan katanya matahari racun. Karena yang terpenting, intinya adalah dinikmati saja…

“Sabar, ya…”

Rasulullah bilang, manusia yang paling besar haknya kepada seorang istri ialah suaminya. Namun, yang paling berhak terhadap seorang suami ialah ibunya. Urusan semacam ini juga perlu disadari betul. Karena istri adalah milik suami sedangkan suami milik ibunya, secara tidak langsung istri juga milik ibu suaminya. Dalam memilih pria, bukan hanya pria tersebut yang jadi pertimbangan, tetapi juga ibunya. Apakah kita bisa dekat dengan beliau sebagaimana anaknya juga dekat dengan beliau? Apakah kita bisa mematuhi dan berbakti kepadanya sebagaimana anaknya juga patuh dan bakti kepadanya?

Urusan aku memilihmu karena agama yang ada padamu, juga tidak terlepas dari aku memilihmu karena bakti orangtua yang ada padamu. Ridho Allah ada pada ridho orangtua. Orangtua yang paling diutamakan ialah ibu. Maka tatkala pujaan hatimu memperlakukan ibunya bak ratu, bagaimana kelak menurutmu ia akan memperlakukanmu?

Ketika tetiba sang ibu meminta mamas segera datang dan ia pun langsung meminta izin meninggalkanku di kota asing ini, ada sedikit gurat kecewa. Tanpa perlu berdusta, orang macam mana yang senang ditinggal tiba-tiba? Namun, secuil kisah Nabi Ibrahim AS dan Siti Hajar sukses menjadi oase di tengah gersangnya padang pasir. Cambuk diri yang sekaligus meredakan kecewa menjadi bertumpuk-tumpuk rasa syukur.

Ketika Nabi Ibrahim AS meninggalkan Siti Hajar dan Ismail kecil di padang pasir yang panas dan gersang, bukan keluh kesah yang keluar dari mulut Siti Hajar. Wanita mulia itu bahkan berkata, “Kalau memang ini perintah Allah, maka pergilah. Sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya.” Astaghfirullah. Dari sini saja sudah terlihat jelas kualitas keimanan Siti Hajar jika dibandingkan dengan saya yang hanyalah remah-remah biskuit marie.

“Sabar, ya…”

Rasanya kalimat itu justru lebih tepat ditujukan kepadanya. Untuk dia yang begitu terkuras tenaga dan pikirannya. Untuk dia yang ingin membagi dirinya menjadi dua bak amuba. Untuk dia yang berjuang dan berkorban besar untuk siapa-siapa yang ia sebut sebagai ibu, bapak, keluarga… dan perempuan asing yang baru dikenalnya dalam hitungan bulan…

Mohon doa untuk bapak (mertua) yang masih terbaring sakit sejak hari-hari persiapan pernikahan kami, untuk ibu (mertua) yang begitu setia menemani, dan untuk anaknya yang begitu pandai berbakti. Semoga Allah kuatkan, Allah gugurkan dosa-dosanya, dan Allah angkat penyakitnya. Aaamiin…

estEtika

Advertisements

4 Comments

  1. iisafriyanti said,

    24 May 2017 at 22:44

    Semangat, Etika…

    • estEtika said,

      29 May 2017 at 19:41

      Insyaa Allah. Makasih, ischan… Semangat juga ^^

  2. Anonymous said,

    8 June 2017 at 14:13

    Semangat 🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: