Aku-Kamu Untuk Kemudian Kita

“Dua kepala tidak mungkin sama persis. Begitu pula keluarga,” katanya sore itu.

Hari, minggu, dan bulan pertama merajut kisah bersama selalu penuh dengan kejutan. Ada yang namanya tak-mengerti untuk kemudian memahami, ada yang namanya kecewa untuk kemudian memaklumi, ada yang namanya salah untuk kemudian memperbaiki, ada yang namanya was-was untuk kemudian mengantisipasi, dan ada yang namanya asing untuk akhirnya beradaptasi. Bisa dikata, ini merupakan suatu siklus hidup yang lazim dilalui.

Tak-mengerti untuk kemudian memahami.

Tak kenal maka tak sayang. Sudah menjadi rahasia umum untuk mengetahui dan mengenal seseorang terlebih dahulu untuk lebih memahaminya. Begitu pula dengan kisah ini. Jadi, bagaimana menurutmu ketika ada orang asing yang belum pernah ditemui sebelumnya tiba-tiba mengajakmu serius? “Serius?!” bisa jadi itu yang keluar dari dalam hatimu, dengan nada bicara ala-ala sinetron FTV. Maka, ketika rentang waktu antara awal komunikasi hingga pertemuan dan pengambilan keputusan terlalu sempit, tentu tidak banyak waktu yang dihabiskan untuk sekadar saling mengerti dan memahami. Bahasa kasarnya, boro-boro mengerti dan memahami, mengenal saja belum tentu 100%!

Read the rest of this entry »