Aku-Kamu Untuk Kemudian Kita

“Dua kepala tidak mungkin sama persis. Begitu pula keluarga,” katanya sore itu.

Hari, minggu, dan bulan pertama merajut kisah bersama selalu penuh dengan kejutan. Ada yang namanya tak-mengerti untuk kemudian memahami, ada yang namanya kecewa untuk kemudian memaklumi, ada yang namanya salah untuk kemudian memperbaiki, ada yang namanya was-was untuk kemudian mengantisipasi, dan ada yang namanya asing untuk akhirnya beradaptasi. Bisa dikata, ini merupakan suatu siklus hidup yang lazim dilalui.

Tak-mengerti untuk kemudian memahami.

Tak kenal maka tak sayang. Sudah menjadi rahasia umum untuk mengetahui dan mengenal seseorang terlebih dahulu untuk lebih memahaminya. Begitu pula dengan kisah ini. Jadi, bagaimana menurutmu ketika ada orang asing yang belum pernah ditemui sebelumnya tiba-tiba mengajakmu serius? “Serius?!” bisa jadi itu yang keluar dari dalam hatimu, dengan nada bicara ala-ala sinetron FTV. Maka, ketika rentang waktu antara awal komunikasi hingga pertemuan dan pengambilan keputusan terlalu sempit, tentu tidak banyak waktu yang dihabiskan untuk sekadar saling mengerti dan memahami. Bahasa kasarnya, boro-boro mengerti dan memahami, mengenal saja belum tentu 100%!

Ini mengingatkan saya akan kisah itu. Masa-masa ketika hanya ibunya saja yang saya ketahui dan kenal betul dari cerita Mama atau momen setiap kali berinteraksi langsung. Keturunan Jawa tulen yang halus, penuh perasaan dan perhatian, serta kebaikannya yang minta ampun. Sifat-sifat khas suku Jawa yang saya pikir akan menurun sepenuhnya pada anak pertama beliau. Lucunya, saya luput kalau bapaknya asli Minang. Banyak sifat dan kebiasaan Bapak yang tidak saya ketahui sebelumnya, yang ternyata cenderung lebih dominan menurun ke anaknya! Sifat pekerja keras, cuek tapi tegas, akal dan logika yang jauh mendominasi ketimbang perasaan (yang terus melatih saya untuk nggak baperan dan cengeng setiap kali difrontalin, hahaha), termasuk juga makanan favoritnya yang Padang banget (ini PR banget buat saya). Inilah yang namanya tidak mengerti untuk kemudian memahami.

Maka, seiring berlalunya waktu, usaha untuk saling mengenal pada akhirnya menimbulkan pemahaman bahwa, “Oh, ternyata dia orang yang seperti ini. Ini yang dia sukai, ini yang tidak dia sukai, ini yang masih bisa dia maklumi, ini yang tidak bisa dia toleransi,” hingga kemudian muncul kesimpulan, “Aku paham sekarang…

Kecewa untuk kemudian memaklumi.

Tidak bisa dipungkiri, setiap orang pasti memiliki impian masing-masing tentang seseorang yang akan selalu menemaninya nanti. Harus sholeh/sholehah, baik hati, ganteng/cantik, kaya raya, pintar, dan sifat-sifat muluk lain yang bahkan belum tentu ada pada diri kita sendiri. Meskipun banyak berseliweran dalil yang mengatakan bahwa laki-laki baik untuk perempuan baik dan begitu pula sebaliknya, tetap saja ada laki-laki atau perempuan tidak baik yang menginginkan pasangan yang baik. Orang-orang mungkin akan menyebutnya tidak tahu diri, tetapi yang bersangkutan justru akan berdalih: namanya juga usaha. Hehehe…

Maka, setiap manusia pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Tidak mungkin ada orang yang 100% mendapatkan apa yang diinginkannya secara persis. Pasti akan ada hal-hal yang membuatnya kecewa karena itu memang sifat dasar manusia. Namun, seiring waktu berjalan, rasa kecewa itu harus mampu terkalahkan oleh rasa syukur yang lebih dominan. Rasa syukur yang kemudian memunculkan pemakluman bahwa setiap orang memang memiliki kekurangan seperti halnya dengan diri saya sendiri. Maka, perasaan kecewa saat kita sempat berujar, “Ah, sebel! Ternyata dia begini, ternyata dia begitu, ternyata dia suka melakukan hal yang tidak kusukai, ternyata dia tidak suka melakukan hal yang kusukai,” akan berubah menjadi, “Maklumlah, namanya juga manusia. Pasti beda-beda…

Salah untuk kemudian memperbaiki.

Di dalam rasa kecewa tadi, tentu tidak serta merta semua harus dimaklumi. Ada hal-hal yang masih punya peluang untuk dicari solusi. Untuk itulah dibutuhkan komunikasi. Orang yang baik adalah yang bisa mengambil pelajaran dari setiap kesalahan, dan bersedia memperbaiki. Namun, perlu diketahui bahwa tidak setiap kesalahan memang mutlak kesalahan. Bisa jadi, ada faktor ketidaktahuan atau mungkin kelupaan meski hanya sepersekian mili. Komunikasi diperlukan untuk meluruskan dan mengingatkan ketidaktahuan dan kelupaan ini. Karena, orang salah belum tentu orang bodoh. Orang salah bisa jadi karena lupa atau tidak tahu, sedangkan orang bodoh ialah orang yang terus-terusan mengulang kesalahan saat ia sudah tahu kesalahannya.

Maka, mengomunikasikan apa-apa yang dianggap mengecewakan tidak sepenuhnya dilarang. Yaitu selama memperhatikan tiga hal dalam mengomunikasikannya: waktu, tempat, suasana. Karena komunikasi dan proses penerimaan kritik-saran tidak akan pernah sukses jika dilakukan pada waktu yang salah, tempat ramai saat banyak orang memperhatikan, serta suasana hati yang tengah gundah apalagi bersitegang. Maka, saat akhirnya kau sadar bahwa, “Oh iya, aku salah,” akan bisa kau perbaiki dengan tekad, “Baiklah, tidak akan kuulangi lagi…

Was-was untuk kemudian mengantisipasi.

Hidup dan perjalanan tidak pernah bisa ditebak. Seorang pejalan tidak akan tahu persis tempat seperti apa yang akan ia singgahi, orang seperti apa yang akan ia temui, kesulitan bagaimana yang akan ia hadapi, badai macam apa yang akan ia lalui, termasuk juga pelangi seindah apa yang akan ia nikmati. Maka, wajar ketika ketidaktahuan itu menimbulkan was-was.

Rasa was-was dapat diminimalisasi dengan melakukan antisipasi. Antisipasi yang paling konkret berupa pendidikan dan pengetahuan. Yaitu mencari berbagai informasi tentang apa-apa yang mungkin merisaukan hati. Seperti misalnya, pengetahuan untuk komunikasi, interaksi, termasuk juga cara untuk saling mendidik, membahagiakan, dan mencukupi. Dan pengetahuan yang paling penting ialah agama. Karena tentu saja, agama sudah mencakup segala aspek, termasuk bagaimana mencipta sakinah, mawadah, dan rahmah, serta bagaimana sekeluarga bisa bersatu di tempat yang tidak ada lagi rasa was-was,… di jannah. Maka, ketakutan akan, “Duuuh, gimana, nih?” semoga bisa diantisipasi dengan, “Aku harus seperti ini…

Asing untuk kemudian beradaptasi.

Seperti yang sudah dinukil di bagian awal, dua kepala tidak mungkin sama persis, begitu pula keluarga. Kebiasaan keluarga satu dan yang lain tidak akan sama persis. Hijrah ke keluarga lain tentu menimbulkan keterasingan tersendiri. Banyak yang seharusnya dilakukan tidak lagi dilakukan, banyak yang tidak pernah dilakukan justru terpaksa harus dilakukan.

Saya jadi teringat momen saat itu. Saat setiap kali saya harus berhadapan dengan ketidakpastian, termasuk juga ketetibaan. Karena boleh dibilang, sebelumnya saya cenderung terbiasa dengan lingkungan kantoran yang serba tertata dan terencana sesuai jadwal. Sementara dia, sudah cukup lama hidup di lingkungan wiraswasta yang serba “santai” dan “suka-suka dia”.

Misal, untuk pulang kampung, saya terbiasa jauh-jauh hari sudah memesan tiket kereta karena sudah memastikan betul kapan dan berapa lama tanggal merahnya. Sedangkan dia justru sebaliknya. Pulang suka-suka, balik suka-suka, dan yang paling ekstrem dengan kebiasaan saya, dia hampir selalu memesan tiket kereta satu jam sebelum keberangkatan atau malah on the spot di menit-menit terakhir keberangkatan! Alasan normalnya karena sikon yang tidak bisa diprediksi. Alasan kocaknya… biar dapat potongan harga untuk tiket kelas eksekutif! Hahaha, menyenangkan istri dengan ekonomis, katanya!

Kalau kata karyawan warnet, “Siap-siap dengan ketidakpastian, Mbak!” Saya tertawa. Karena setidaknya, ketidakpastiannya ini masih jauh lebih pasti ketimbang menanti dia yang tak kunjung datang ke rumah #eh. Pernah suatu ketika saya tanya kapan kita kembali lagi ke Salatiga saat kami sedang di Tegal, lalu dia menjawab belum tahu sehingga saya pun leyehleyeh seharian. Namun, sore harinya dia malah langsung menyuruh saya siap-siap bak tentara wamil untuk keberangkatan kereta malam itu juga!

Tidak hanya itu, yang lebih ekstrem lagi, karena saat itu tidak ada yang mengantar ke stasiun dan waktu keberangkatan yang sudah sangat mepet sehingga tidak mungkin naik becak, saya pun bertanya-tanya di dalam hati, naik apa kami ke stasiun. Sambil membonceng motornya, dia pun berkali-kali bilang ke saya, tenang saja, tenang saja. Dan ternyata, dia memarkir dan menitipkan kunci motornya ke salah satu warnetnya yang berlokasi paling dekat dengan stasiun, dan menyuruh saya lari-lari dari sana untuk sampai ke stasiun yang berjarak sekitar 500-an meter! Cewek yang resek (apalagi kalau lagi laper plus datang bulan) bisa saja ngomel-ngomel digituin, tapi saya malah geli sendiri. Daripada marah-marah, kayanya mending menghibur diri dengan membayangkan kalau adegan pakai wedges dan ransel besar sambil lari-lari gandengan tangan di jalanan itu… ternyata romantis juga! Hahahahaha 😀

Maka, adaptasi dan nikmati saja. Bukankah salah satu ciri makhluk hidup adalah kemampuannya dalam beradaptasi? Banyak hal-hal baru dan asing yang mungkin akan terjadi. Nikmati, hibur diri, dan ambil hikmahnya. Itulah cara adaptasi terbaik sambil terus melanjutkan hidup. Seperti saya yang pada awalnya hampir selalu nangis kejer setiap kali ditinggal pergi karena dia harus birrul walidain, kemarin ini malah bingung sendiri karena nggak nangis sama sekali. Mungkinkah itu yang namanya mati rasa? Bukan… Itu adaptasi 🙂

estEtika

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: