Pandangi Langit Sesuka Mauku

Percaya nggak, kalau saya bilang belakangan ini langit Jakarta indah banget? Bukan, ini bukan gombal, kok. Beneran indah. Kaya kamu, hihihi (yang ini baru gombal). Setiap pulang kantor, saya hampir selalu melewati jembatan penyeberangan untuk kembali ke peraduan. Di sana adalah salah satu spot favorit saya menatap langit ibukota, terlebih jam pulang kantor yang memang identik dengan waktu senja. Kalau sedang beruntung, senja ibukota juga nggak kalah indah. Termasuk kemarin, saat menatap senja sepulang kantor dari jembatan penyeberangan yang tak jauh dari kosan. Sinar jingga terang dari mentari yang malu-malu sembunyi di balik awan, ditambah siluet gedung-gedung tinggi Atrium Senen yang tampak dari jauh, agaknya sedikit menghipnotis dan merayu kaki ini untuk sejenak memperlambat langkah.

Sabtu pagi ini, langit Jakarta juga indah. Kali ini bukan karena senja, tetapi karena langit biru cerah dan awan putih berarak yang bagus banget. Di dalam bus Transjakarta yang sepi penumpang, sambil bersandar di bangku yang lowong, langit sepanjang Sarinah, Semanggi, sampai Blok M ini bisa banget bikin saya terpukau (kalau biasanya mah, baru nempel kursi berapa menit udah langsung pejamkan mata, hahaha). Yah, meskipun terkadang harus terpotong juga dengan gedung-gedung tinggi yang tetiba menghalangi pandangan. Hingga pada akhirnya, muncullah ide tulisan alay yang melahirkan tulisan ini.

Langit-langit terindah yang pernah saya lihat? Banyak! Tapi lewat tulisan alay ini, ada tiga tempat yang menurutku “the best”. Sebenarnya kenapa hanya di tiga tempat ini yang ditulis, jawabannya ialah karena hanya di tiga tempat ini yang gambarnya sempat terabadikan sehingga lebih mudah di-sharing. Hahaha… tapi percayalah, gambar di foto yang diambil dengan kamera buatan manusia ini, nggak akan seindah dan seberkesan gambar yang diambil langsung dengan mata kita yang merupakan “kamera” buatan Allah. Sepakat? 😉

Read the rest of this entry »