Relawan Sahabat Gizi Indonesia 2016

Sekitar akhir Februari 2016 lalu, mendadak saya merasa begitu “kosong” dan bosan sehingga ingin mencari kegiatan dan pengalaman baru. Saat itulah, saya menemukan poster pencarian volunteer alias relawan untuk suatu acara bertajuk Sahabat Gizi Indonesia. Ini merupakan suatu kegiatan yang digagas oleh beberapa kelompok pemuda yang berada di bawah naungan Sahabat Guru Indonesia. Tujuan kegiatan ini adalah memberikan edukasi tentang kesehatan dan gizi kepada para siswa dan siswi di beberapa Sekolah Dasar di kawasan Kramat Jati, Jakarta Timur. Kegiatannya berupa senam sehat, sarapan bergizi, penyuluhan atau edukasi gizi, serta permainan atau games.

Senam pagi. Curi-curi kesempatan ambil foto sambil ikutan senam. Model: partner in crime kesayangan yang lagi mau diajakin normal :p

Senam pagi. Curi-curi kesempatan ambil foto sambil ikutan senam.
Model: partner in crime kesayangan yang lagi mau diajakin normal :p

Penyuluhan yang dilakukan tentu saja tidak jauh-jauh tentang gizi dan kesehatan. Secara umum, materinya adalah tentang pentingnya sarapan, perlunya aktivitas fisik, pentingnya cuci tangan, pengenalan jenis-jenis makanan, dan lain-lain. Adapun games yang dilakukan juga masih berkisar tentang isi penyuluhan tadi, seperti games jaring-jaring, lomba senam sehat, lomba menggiring bola, dan berbagai permainan yang lain. Tujuan games ini selain untuk menyenangkan anak-anak dan memicu mereka untuk melakukan aktivitas fisik, juga untuk memperdalam pemahaman mereka tentang materi penyuluhan yang telah diberikan karena beberapa games juga menyisipkan tanya-jawab atau kuis yang berhubungan dengan materi penyuluhan tadi.

Read the rest of this entry »

Advertisements

Hikmah Mangkuk Pecah

Ada salah satu mangkuk di lemari saya yang terbilang jarang digunakan. Mangkuk itu dibiarkan tersimpan bersih karena memang hanya digunakan sesekali. Namun suatu hari saya pun menggunakan mangkuk tersebut. Sayangnya, usai makan malam, saya justru tertidur kelelahan dan tidak sempat mencuci mangkuk yang baru saja digunakan itu. Parahnya, esok paginya saya malah keasyikan nyuci baju hingga lupa waktu, dan ujung-ujungnya malah lupa mencuci mangkuk tersebut. Saya biarkan dia kotor, sementara saya berangkat ke kantor. Meninggalkan dia seorang diri.

Sepulangnya dari kantor, barulah saya menyempatkan diri mencuci mangkuk tersebut. Seperti ritual mencuci peralatan makan pada umumnya, setelah diberi air dan dibiarkan basah sebentar, mangkuk itu pun dibersihkan dengan spons lembut yang sudah diberi cairan pencuci piring. Gosok-gosok sebentar, dan setelah merasa nggak ada lagi kotoran yang menempel, mangkuk itu pun siap dibilas. Namun, apa yang terjadi? Tiba-tiba mangkuk itu terlepas dari tangan dan… pecah.

Read the rest of this entry »

Semut Pemberi Hikmah

Suatu hari, saat berniat untuk membayar hutang puasa Ramadhan keesokan harinya, seperti biasa sore hari saya akan membeli lauk “kering” untuk sahur nanti. Lauk faforit untuk sahur adalah ayam goreng, dengan alasan selain bergizi (setidaknya mengandung protein sekaligus lemak yang cenderung lebih lama dicerna), juga karena lauk yang bersifat kering itu akan lebih tahan lama dan cenderung tidak mudah basi. Biasanya setelah membeli, ayam goreng tersebut akan saya amankan ke dalam tempat makan tertutup atau setidaknya diletakkan di meja kamar begitu saja tapi dalam kondisi bungkus lauk yang tertutup.

Namun, entah apa yang membuat saya begitu ceroboh. Hari itu sepulang kantor (dan membeli lauk tersebut), saya letakkan bungkusan ayam goreng tersebut begitu saja di atas meja, dalam kondisi bungkus yang terbuka. Bungkus ayam goreng yang biasa dipakai memang berupa kotak kardus mini tertutup sehingga meletakkannya begitu saja di meja setidaknya akan aman karena kondisi bungkusnya memang tertutup rapat. Namun, bungkus yang kali ini dipakai adalah bungkus kertas semacam bungkus Rotib*y dalam kondisi dibiarkan terbuka. Oh my God! Alumni gizi macam apa yang bertindak seteledor ini terhadap makanan!

Namun, malam itu keajaiban pun terjadi.

Read the rest of this entry »

Pekerjaan Hebat

Lebih berhasil dan sukses daripada dirinya adalah salah satu harapan semua orangtua di dunia ini kepada anaknya. Jika orangtua lulusan SD, setidaknya mereka ingin anak mereka berhasil menamatkan pendidikan dasar 9 tahun atau bahkan lebih. Jika orangtua lulusan SMA, mereka tentu ingin anaknya mengenyam bangku kuliah dan berhasil mengenakan toga. Namun, ternyata tidak hanya urusan pendidikan saja. Dalam hal materi, orangtua juga pasti ingin anaknya lebih mapan daripada dirinya. Buktinya mereka selalu saja mau menyediakan segala kebutuhan anaknya, mulai dari yang paling kecil, kebutuhan pokok sandang-pangan-papan, hingga kebutuhan lain seperti handphone-laptop-dsb.

Salah satu indikator kesuksesan bagi orangtua terhadap anaknya adalah pekerjaan anaknya kelak ketika dewasa. Pekerjaan anaknya (ketika ia sudah bekerja) hampir selalau ditanyakan pada setiap acara reuni atau obrolan orangtua dengan teman mereka. Orangtua yang mampu menjawab pertanyaan ini dengan bangga akan merasa telah berhasil membesarkan anaknya dengan baik. Obrolan pun berlanjut positif lantaran ada saja hal-hal menarik lain yang bisa dibanggakan mereka tentang pekerjaan dan keberhasilan anaknya. Namun, saat orangtua tidak bisa menjawab pertanyaan ini dengan bangga (mis., anaknya belum dapat kerja, anaknya kerja di tempat yang ‘kurang layak’, dsb.), bisa saja mereka kemudian akan merasa gagal mendidik mereka. Apalagi ketika kondisi orangtua lebih baik daripada anak. Pasti ada sedikit rasa prihatin atau bersalah terhadap anaknya. (Mungkin…)

Pemaparan di atas mungkin tidak sepenuhnya benar karena saya sendiri juga belum merasakan jadi orangtua. Namun, pada kesempatan ini saya ingin membahas masalah tersebut dari sudut pandang anak, khususnya saya sendiri.

Read the rest of this entry »

Sebuah Teguran Manis

Saat itu seperti biasa, pukul lima sore adalah waktu yang paling ditunggu rata-rata pekerja kantoran untuk segera kembali ke rumah. Dua orang gadis berjalan beriringan menuju tempat biasa mereka menunggu angkutan umum tujuan tempat tinggal masing-masing. Saat tengah berjalan, tiba-tiba sebuah truk besar berhenti beberapa meter di depan mereka, dan sukses menghalangi langkah mereka. Jalan besar tempat mereka berjalan adalah jalan satu arah dan mereka tengah berjalan melawan arus kendaraan yang berlalu-lalang. Truk yang berhenti tepat di depan mereka, membuat mereka sempat berpikir bagaimana mereka bisa lewat di tengah lalu lintas yang cukup lengang itu. Lalu lintas lengang tersebut, justru membuat sebagian besar pengendara kurang memperhatikan kecepatannya, sehingga perlu perhatian ekstra untuk berjalan agak ke tengah. Sementara itu, trotoar jalanan di sana juga sudah tidak berfungsi lagi, sehingga mau tidak mau, kedua gadis itu memang harus berjalan agak ke tengah untuk melalui truk tersebut.

Satu di antara gadis itu, merasa ketakutan dan memperlambat langkahnya. Sedangkan gadis yang lain, dengan sombongnya berjalan santai melalui truk itu. Gadis yang ketakutan sedikit berteriak memperingatkan gadis itu supaya hati-hati sambil kemudian malah berdecak kagum atas “keberanian” temannya itu.

Namun, pujian memang seperti bumerang. Dia bisa berbalik menyerangmu ketika kau lengah.

Read the rest of this entry »